Mujahidin Jabhah An-Nusrah Mengklaim Bertanggung Jawab atas Eksekusi 20 Tentara Suriah

Mujahidin Jabhah An-Nusrah Mengklaim Bertanggung Jawab atas Eksekusi 20 Tentara Suriah
Di antara rasa takut yang tercela adalah jika sampai rasa takut membuat seseorang lebih mendahulukan ridho manusia dalam keadaan membuat Allah murka. Artinya yang ia cari asal manusia senang dan ridho dengan dirinya walau ketika itu melanggar aturan Allah. Ia pun sudah tahu kalau itu salah. Rasa takut semacam ini juga mengurangi tauhid seseorang, di samping akan mendapatkan akibat buruk nantinya. Walau manusia awalnya suka, Allah bisa membolak-balikkan hati mereka menjadi benci nantinya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hadits ‘Aisyah berikut ini.

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.

Sebagaimana keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 82), maksud hadits “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya.

Beberapa faedah dari hadits ‘Aisyah di atas:

1- Wajib takut pada Allah dan mendahulukan ridho Allah daripada ridho manusia.

2- Hadits tersebut menunjukkan akibat dari orang yang mendahulukan mencari ridho manusia daripada ridho Allah.

3- Wajib tawakkal dan bersandar pada Allah.

4- Akibat yang baik bagi orang yang mendahulukan ridho Allah walau membuat manusia tidak suka dan akibat buruk bagi yang mendahulukan ridho manusia dan ketika itu Allah murka.

5- Hati setiap insan dalam genggaman, Allah yang dapat membolak-balikkan sekehendak Dia. (Lihat Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 267).

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk selalu mengedepankan ridho Allah daripada ridho manusia. Wallahul muwaffiq.

---

Faedah di sore hari @ Kamar 201, Mabna 27, Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 30 Shafar 1434 H

PENDAHULUAN

Setelah maraknya genosida terhadap Umat Islam di seluruh penjuru dunia setelah jatuhnya kekhalifahan Islam Turki Utsmani, kita menyadari bahwa bersahabat dengan para Kafir adalah persahabatan yng tidak diridhoi oleh Allah. selama lebih dari 500 tahun dihitung dari setelah jatuhnya khalifah terakhir umat Islam menjadi bulan - bulanan kekejaman para kafir. Situs ini akan mengulas bagaimana kita seharusnya bertindak menurut Alqur'an dan Sunnah untuk mendapatkan Ridho Allah.

Islam berada dibawah bayang - bayang Pedang walaupun kita tidak mengangkat pedang kita akan tetap berada dibawah bayang - bayang pedang, jadi lebih baik kalau kita mengangkat pedang.

orang kafir itu kejam - kejam, masochist politeist itu sangat kejam, ditambah lagi teknologi mereka yang sudah memasuki zaman keemasan, akibatnya kita Islam bisa menjadi bulan - bulananan kalau tidak melawan mereka.

gol kami para mujahid adalah surga yang abadi, kita jangan ikut - ikutan berdamai dengan kafir - kafir karena ingin dunia, yang pada akhirnya kita umat Islam digenosida setelah pembangunan bersama selesai, contohnya seperti di Poso, memang berkurban dengan menjauhi dan memerangi kafir - kafir sebagai cara berkurban tidak semudah membalikan telapak tangan, karena mereka sudah bercampur baur dengan kita, biarlah dunia yang tak abadi ini menjadi jatah mereka, setidaknya kami mujahid akan menggunakan bom.

LATAR BELAKANG

Setelah Allah SWT menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh – tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah SWT untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah SWT akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khawatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu, disebabkan kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah SWT : “Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, niscaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah berfirman, menghilangkan kekhawatiran para malaikat itu:
“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah SWT dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain, yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama dan lebih agung dari Adam, karena ia diciptakan dari unsur api, sedang Adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain, walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis : “Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?”
Iblis menjawab : “Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga hari kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan, tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam, sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat, dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi, maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya: “Cobalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu, jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata : “Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka : “Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulama Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya. ia ditanya oleh malaikat : “Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam : “Seorang perempuan.”Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya”. ” Siapa namanya? “ tanya malaikat lagi. “Hawa”, jawab Adam. “Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?” ,tanya malaikat lagi.

Adam menjawab : “Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam : “Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya, rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar, dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya. Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim. Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”

Pengertian istilah Iman

Iman secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i, iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan maksiat". Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama selainnya.[1]

Dengan demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan, dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.

“Agar bertambah keimanan mereka di atas keimanan mereka yang sudah ada.”
—QS. Al Fath [48] : 4

Imam Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan amal.”[2] Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.”[3]

Rukun Iman

  • Iman kepada Allah
Seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal: Mengimani adanya Allah. Mengimani rububiahAllah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah. Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala. Mengimani semuanama dan sifat Allah (al-Asma'ul Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Nabi-Nya tetapkan untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna, mempertanyakan, dan menyerupakanNya.
  • Iman kepada Malaikat-malaikat Allah
Mengimani adanya, setiap amalan dan tugas yang diberikan Allah kepada mereka.
  • Iman kepada Kitab-kitab Allah
Mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah ucapan-Nya dan bukanlah ciptaanNya. karena kalam (ucapan) merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk. Muslim wajib mengimani bahwa Al-Qur`an merupakan penghapus hukum dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.
  • Iman kepada Rasul-rasul Allah
Mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata. Wajib mengimani bahwa semua wahyu kepada nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Juga wajib mengakui setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya dan yang tidak kita ketahui namanya.[4]
  • Iman kepada Hari Akhir
Mengimani semua yang terjadi di alam barzakh (di antara dunia dan akhirat) berupa fitnah kubur (nikmat kubur atau siksa kubur). Mengimani tanda-tanda hari kiamat. Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar hingga berakhir di Surga atau Neraka.
  • Iman kepada Qada dan Qadar, yaitu takdir yang baik dan buruk
Mengimani kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Karena seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat dan sifat mereka begitupula perbuatan mereka adalah ciptaan Allah.

http://id.wikipedia.org/wiki/Rukun_Iman

Rukun Islam ada 5


" Adapun rukun - rukun Islam itu ada lima yaitu :

  1. bersyahadat bahwa tiada Tuhan kecuali Alloh, dan
  2. mendirikan sholat,
  3. mengeluarkan zakat,
  4. berpuasa di bulan Romadhon dan
  5. berhaji ke Baitulloh bagi orang yg mampu akan perjalanannya. "



PERUMUSAN MASALAH

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَز وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ. قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ. قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ. قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ. قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ. قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ. قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ


11. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud. 12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.” 16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, 17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). 18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS. Al-A’raaf: 11-18)

Kisah dengan Adam

Allah maha kuasa terhadap keinginan-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Dia telah menciptakan Adam ‘alaihis salam dari saripati tanah. Tanah yang dibentuk dengan sedemikian rupa sehingga sempurna bentuknya, lalu Allah meniupkan ruh padanya sehingga jadilah makhluk hidup yang bernyawa bernama Adllah memberinya segala macam ilmu yang membuatnya unggul atas malaikat. Maka Allah memerintahkan para malaikat penduduk langit untuk bersujud kepadanya. Semua malaikat bersujud menghormat kepada Adam ‘alaihissalam. Namun Iblis yang berada di sana tidak mau ikut bersujud dan lebih memilih durhaka terhadap perintah Allah.

Siapakah Iblis? Biarlah Allah sendiri yang menjelaskan. Allah berfirman: dia adalah dari golongan Jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya (QS. Al-Kahfi ayat 50). Jadi Iblis adalah salah satu makhluk dari kalangan Jin. Sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah Iblis itu termasuk Malaikat atau dari kalangan bangsa Jin. Namun pendapat yang kuat adalah yang menyatakan Iblis adalah dari kalangan Jin. Karena nash (teks) dalam Al-Quran jelas mengatakan seperti itu. Lalu ulama sepakat bahwa Iblis diciptakan dari api dan menurut Mujahid seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’inbahwa bapak moyang Jin adalah Jaan.

Mengapa Iblis tidak mau bersujud kepada Adam? Sesungguhnya ketidakmauan Iblis untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalam adalah karena dengki dan takabur. Hal ini jelas dari firman Allah di atas yaitu ketika Allah bertanya kepada Iblis: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis Menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dia dari tanah”.(QS. Al-A’raf 13). Dalam ayat lain Allah menyebutkan penyebab keengganan Iblis secara tegas yaitu karena ketaburannya, Allah berfirman: Ia enggan dan takabur dan ia golongan orang-orang yang kafir (QS. Al-Baqarah:34). Dalam dua ayat di atas jelas bahwa Iblis tidak mau bersujud lantaran merasa sombong alias takabur dan dia lebih memilih menjadi orang kafir dari pada menjadi orang beriman yang sami’na wa atho’na kepada perintah Allah.

Dari sinilah Akhlak buruk mulai menjelma dalam bentuk pembangkangan kepada Allah ta’ala, kesombongan yang membuat antipati untuk mengakui kelebihan orang lain, bangga dengan dosa dan menutup diri dari pemahaman.

Allah murka kepada Iblis dan Allahpun mengusirnya serta melaknatnya: “Turunlah kamu dari surga itu; tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina.” Dalam ayat yag lain dikatakan pula kepadanya: “Sesungguhnya mulai sekarang kamu terlaknat sampai hari kiamat.” Atau kalau dalam bahasa kita: “Iblis..! mulai detik ini pergi kau dari sini, kamu… Saya laknat sampai hari kiamat. Tidak boleh ada orang sombong dihadapan-Ku.”

Penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam ‘alahissalam terjadi karena sesuatu yang dikehendaki oleh Allah yaitu agar Adam dan istrinya kelak turun dari surga ke bumi untuk menjadi khalifah Allah yang memakmurkan bumi, Dan agar Iblis beserta keturunannya menjadi sarana penyesat manusia.

Setelah Iblis diusir dan dilaknat serta dihinakan, dia putus asa dari rahmat Allah, tidak bertobat dan memperbaiki kesalahan namun justru ingin balas dendam kepada Adam dan keturunannnya. Iblis berkata kepada Allah: Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” para ulama menafsirkan: maksud beri tangguhlah saya sampai hari kebangkitan adalah berikanlah saya kehidupan sampai hari kiamat, artinya Iblis minta supaya tidak matikan oleh Allah kecuali telah datang hari kiamat. Permintaan ini dikabulkan oleh Allah: Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.” Maka telah menjadi keputusan Allah bahwa Iblis akan terus hidup sampai hari kiamat, sebagaimana para malaikat. Dan kelak semuanya akan mati, kecuali Allah Rabbul Alamin. Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya Zadul Masir: Sebenarnya Iblis minta supaya menjadi makhluk terbebas dari kematian dan menjadi orang yang abadi namun Allah Tidak mengabulkan semuanya Allah hanya mengabulkan dia bisa terus hidup sampai hari yang dimaklumi yaitu hari kiamat. Hal ini bisa semakin jelas bila dilihat dalam surat Al-Hijr 38.

Setelah dikabulkan permintaannnya, Iblis menjelaskan alasannya yaitu supaya bisa menyesatkan anak keturunan Adam dari masa ke masa, sehingga setiap anak keturunan Adam pasti mendapat godaan dari Iblis atau bala tentaranya yaitu para dari kalangan Jin dan manusia.

Iblis berjanji di hadapan Allah bahwasannya dia akan menjerusmuskan manusia ke dalam maksiat dengan segala kemampuannya, dia akan mendatangi manusia dari arah depan, belakang, kanan dan kiri, dari atas dan bawah. Semua usaha penyesatan akan Iblis lakukan supaya anak keturuan adam tidak bersyukur kepada Allah, jauh dari shalat, tidak suka mengingat Allah, terjerumus ke dalam kesyirikan dan menjadi temannya di neraka Jahannam. Namun Iblis mengakui sendiri bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan hamba Allah yang Ikhlas, hamba-hamba yang yakin dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pelajaran dalam Kisah Permusuhan Iblis dengan Adam

  1. Iblis adalah dari kalangan Jin bukan kalangan malaikat, inilah pendapat yang paling kuat karena didukung oleh nash Al-Quran.
  2. Orang orentalis mengatakan Iblis adalah hamba Allah yang paling bertaqwa karena tidak mau sujud kepada makhluk, sehingga kita perlu mengikuti jejak Iblis. Perkataan seperti ini adalah batil karena sujud di sini adalah sujud penghormatan bukan sujud penyembahan dan Iblis menolak sujud penghormatan kepada Adam bukanlah karena keimanan namun karena ketakaburan (kesombongan).
  3. Takabur adalah pangkal segala macam dosa. Dengan takabur orang akan terhalangi untuk menerima kebenaran. Rasulullah bersabda yang namanya takabur adalah Bathrul haq wa ghomtunnas: menolak kebenaran (karena gengsi atau yang lainnya) dan meremehkan manusia.(HR Muslim). Dan yang lebih menakutkan lagi adalah ancaman Nabi, beliau bersabda: tidak akan masuk surga orang yang hatinya terdapat satu biji sawi ketakaburan (HR. Muslim)
  4. Iblis tidak akan mampu mengalahkan orang-orang yang ikhlas, yang yakin dan tawakal kepada Allah.
  5. Iblis beserta para syetan akan mudah menguasai orang-orang yang menyembahnya (berbuat syirik), orang-orang mengikuti jalan sesatnya.
  6. Sangat banyak cara Iblis dan bala tentaranya untuk menjerumuskan manusia kedalam kesesatan dan maksiat, maka seorang hamba hendaknya mempersenjatai diri dengan selalu menambah ilmu syar’i . karena orang yang paham dengan agama lebih sulit dijerumuskan oleh syetan kedalam kesesatan dan maksiat daripada orang yang bodoh yang tidak mengerti agama. Dan hendaknya pula seorang hamba selalu berdoa kepada Allah memohon perlindungan dari goadaan syetan lalu tawakkal serta ikhlas dalam beribadah hanya untuk mencari ridho Allah.

Sumber: Majalah Al-I’bar, Kisah Quran, Edisi IV.

Kisah Nabi Adam dan Iblis Bertanya Kepada Allah

Dalam sebuah kitab, dikisahkan bahwa Nabi Adam as bertanya kepada Allah swt, "Ya Allah, Engkau benar-benar telah menguasakannya atas aku, oleh itu tidak mungkin aku dapat menolaknya melainkan dengan pertolongan Engkau."

Lalu Allah swt berfirman, "Tidak akan dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan aku serahkan anak itu kepada malaikat yang selalu menjaganya."

Kemudian Nabi Adam as pun berkata lagi, "Ya Allah, tambahkanlah lagi untukku."

Maka Allah swt kembali berfirman, "Setiap kebaikan akan dapat sepuluh kali ganda."

Nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."

Allah swt berfirman, "Tidak akan aku cabut taubat dari mereka(manusia) selagi nyawa-nyawa mereka masih dalam tubuh mereka."

Nabi Adam as berkata lagi, "Ya Allah tambahkanlah lagi untukku."

Lalu Allah swt berfirman lagi yang bermaksud, "Aku akan mengampuni mereka dan aku tak peduli."

Nabi Adam as berkata lagi, "Sekarang cukuplah untukku."

Kemudian iblis juga bertanya kepada Allah swt, "Ya Tuhanku, Engkau jadikan di kalangan anak cucu Adam beberapa utusan dan Engkau turunkan kepada mereka beberapa kitab. Oleh itu, siapakah yang akan menjadi utusan-utusanku?"

Allah menjawab dengan firman-Nya, "Utusanmu itu ialah tukang-tukang nujum."

Iblis bertanya lagi, "Dan apa pula yang menjadi kitabku?"

Allah swt kembali berfirman, "Kitabmu ialah tahi lalat buatan."

Bertanya Iblis lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi hadisku?"

Firman Allah swt, "Hadismu ialah semua kata-kata dusta dan palsu."

Iblis bertanya lagi, “Ya Tuhanku, apakah quranku?"

"Quranmu ialah nyanyian." Jawab Allah swt

Iblis bertanya lagi, "Siapakah yang menjadi muazzinku?"

"Muazzinmu ialah seruling." Jawab Allah swt

Iblis bertanya lagi, "Dan apakah yang menjadi masjidku?"

"Masjidmu ialah pasar." Firman allah swt

Bertanya lagi Iblis, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi rumahku?"

Allah swt kembali berfirman, "Rumahmu ialah bilik air tempat permandian."

Iblis bertanya lagi, "Ya Tuhanku, apakah yang menjadi makananku?"

Firman Allah swt, "Makananmu ialah makanan yang tidak disebut nama asmaku."

Iblis bertanya lagi, "Apakah yang menjadi minumanku?"

Allah swt berfirman, "Minumanmu ialah sesuatu yang memabukkan."

Dan Iblis bertanya untuk terakhir kalinya kepada Allah swt., "Ya Tuhanku, apakah yang akan menjadi perangkapku?"

Kemudian Allah berfirman lagi, "Perangkapmu ialah perempuan."


Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini yaitu hendaklah kita berusaha menjauhkan diri dari perangkap-perangkap iblis. Iblis senantiasa menggoda manusia dengan perangkap-perangkapnya itu. Agar tidak terjebak dalam perangkap iblis, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

surat Al-A'raf ayat 17 tafsir ibu katsir

bahwa sesungguhnya setan itu menggoda dari 4 arah yaitu DEPAN, BELAKANG, KANAN,dan KIRI

Setan menggoda dari arah depan, Artinya Setan secara terus terang menghalangi manusia untuk berdakwah dan beribadah kepada Allah dengan kekuatan fisik. biasanya dilakukan pihak lawan Islam yaitu orang - orang kafir menghalangi tegaknya Syariat Islam.

Setan menggoda dari Belakang, artinya setan mencari orang - orang untuk dijadikan kaum munafiq, seperti contohnya Pancasila, Iluminati, Freemason sebagai emas palsu/dajjal.

Setan menggoda dari kanan, artinya setan menghalangi umat Islam untuk berjihad dengan Pedang, setan menggoda umat Islam untuk melindungi Kafir - kafir yang suatu hari akan menyiksa dan menggenosida generasi Islam berikutnya.

Setan menggoda dari kiri, artinya setan menggoda kita untuk berbuat maksiat, seperti dengan Miras, Zinah dan sebagainya.

Untuk menyelamatkan diri kita di dunia maupun akhirat dari kepungan 4 penjuru diatas, kita harus :

- memperhatikan bahwa tempat kita bergantung ada di atas kita Yaitu Allah yang Maha Kuasa dan untuk menaatinya, harus menaati Alquran dan Sunnah Rasul,dan yang terutama adalah berdoa dan beruaha.

- Memperhatikan dan menolong yang dibawah kita, seperti keadaan saudara muslim kita di tengah kepungan kejahatan orang - orang kafir, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, Berzakat, Infaq dan Sodaqoh.


PEMECAHAN MASALAH

Langkah 1 :

Berdoa setiap selesai Shalat Fardhu terutama setelah shalat Isya dengan doa sebagai berikut :

Doa Rasulullah SAW Tatkala Perang (Badar) Sedang Berlangsung

Semenjak usai meluruskan dan menata barisan pasukan Muslimin, Rasulullah SAW tak henti-hentinya memohon kemenangan kepada Allah seperti yang telah di janjikan-Nya, seraya bersabda,:

"Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesunggulmya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu, "

Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhimya mencapai puncaknya, maka beliau bersabda lagi,

"Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini."


Begitu mendalam doa yang beliau sampaikan kepada Allah, hingga tanpa disadari selendang beliau jatuh dari pundak. Maka Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”

Lalu Allah mewahyukan kepada para malaikat,:

"Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jaluhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir (Al-Anfal: 12)

Lalu Allah mewahyukan kepada Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut " (Al-Anfal: 9)

Artinya, para malaikat itu datang secara bergelombang, sebagian dalang lalu disusul sebagian yang Iain, tidak datang serentak dalam satu waktu.


Do'a Saat Perang Berkecamuk Mustajab

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Penguasa alam semesta. Apa yang Dia kehendaki terwujud; dan apa yang tidak dikehendaki olehnya tak pernah wujud. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Salah satu waktu yang mustajab dikabulkannya doa adalah saat perang berkecamuk. Maksud perang di sini adalah perang antara kaum mukminin dengan kafirin. Karenanya, bagi mujahidin agar memperbanyak doa di dalamnya, khususnya yang berkaitan dengan kemenangan mereka dan kehinaan musuh.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

ثنتان لاتردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا

"Doa doa yang tidak akan ditolak atau jarang sekali ditolak: doa saat adzan dan saat perang ketika sebagian mereka menggempur sebagian yang lain, (yakni saat berkecamuk perang di antara mereka,-terj)." (HR. Abu Dawud. Al-Hafidz dalam al-Najaij (1/378) berkata: adits hasan shahih. Imam Nawawi juga menshaihkannya dalam al-Adzkar-nya; sementara Syaikh al-Albani dalam menyatakan: Hasan Shahih)

Para mujahidin janganlah menyia-nyiakan kesempatan dalam perang mereka untuk memperbanyak doa kepada Allah. Ini tidak bisa muncul begitu saja, tapi harus dibiasakan sejak awal agar berdoa menjadi sebuah kebiasaan baik yang menyatu dalam dirinya.

Celaan Orang Tak Mau Berdoa Saat Mengalami Kesulitan

Peperangan adalah kondisi yang sulit. Penuh ancaman. Bahaya kematian ada di depan mata. Seseorang diliputi ketakutan. Sehingga hatinya membutuhkan tempat bergantung dan berharap agar dihindarkan dari ancaman-ancaman tadi. Karenanya tawakkal melalui doa sangat dibutuhkan untuk menanti pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah telah mencela kaum yang tertimpa musibah dan kesulitan lalu berpaling dari-Nya. Mereka tidak berdoa kepada Allah untuk menghilangkan musibah dan kesulitan tersebut. Akibatnya, Allah tidak berkenan menghilangkan musibah yang menimpa diri mereka tadi.

Allah Ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 42-43)

Dalam ayat lain,

وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri." (QS. Al-Mukminun: 76)

Doa bisa menjadi sarana mujarab untuk menghilangkan musibah dan kesulitan. Bahkan, doa bisa mencegahnya. Karenanya, doa sangat dibutuhkan siapa saja, tak terkecuali mujahidin yang larut dalam perangnya. Karena doa menjadi sebab kemenangan atas musuh, khususnya kalau ia dipanjatkan oleh hamba Allah yang lemah. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

إنما ينصر الله هذه الأمة بضعيفها بدعوتهم وصلاتهم وإخلاصهم

"Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang-orang lemahnya, yakni dengan doa, shalat dan keikhlasan mereka." (HR. Al-Tirmidzi dan al-Nasa'i. dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Nasai)

Al-Mundziri dalam Aunul Ma'bud menjelaskan tentang makna hadits, "bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlash untuk menyelamatkan hati mereka dari bergantung kepada perhiasan dunia dan menjadikan keinginan mereka satu, maka doa mereka diijabahi dan amal mereka lebih bersih." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Hadits Tirmidzi 3508

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ الْمُثَنَّى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا غَزَا قَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِي وَأَنْتَ نَصِيرِي وَبِكَ أُقَاتِلُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَمَعْنَى قَوْلِهِ عَضُدِي يَعْنِي عَوْنِي

ALLAHUMMA ANTA 'ADLUDII WA ANTA NASHIIRII WABIKA UQAATILU (Ya Allah, Sesungguhnya Engkau adl sandaranku & penolongku, dgn (kekuatan & pertolongan-Mu lah) aku berperang. Abu Isa berkata; Hadits ini adl hadis hasan gharib. Dan makna sandaranku adl penolongku. [HR. Tirmidzi No.3508].


Doa Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Saat Perang Uhud

Rabu, 17 Agustus 2011

Artikel Islam : Pendeta Rinaldy Damanik Dalang Kerusuhan Poso?

pengakuan Fabianus Tibo atas otak pelaku kerusuhan poso

Post paulus on Fri Jan 29, 2010 5:24 am
Paulus mengutip:

*FABIANUS TIBO: PENDETA DAMANIK TERLIBAT KONFLIK POSO*


Menjelang pelaksanaan eksekusi para terpidana mati kasus
kerusuhan Poso, VHR berusaha keras untuk wawancarai
Fabianus Tibo, salah seorang yang dirasa mengetahui
banyak duduk perkara "sebenarnya" kerusuhan berdarah
tersebut.

Kesaksian, kesan, ataupun pesan Fabianus Tibo terasa
penting mengingat dia dipandang oleh banyak kalangan
sebagai salah satu kunci yang dapat membuka
misteri kerusuhan Poso yang berdampak begitu hebat:
ribuan nyawa manusia melayang dan ribuan rumah
terpanggang.

Beruntung, salah seorang sumber VHR di Palu bisa
mewawancarai Fabianus Tibo di dalam sel isolasi, Kamis
sore 21 September 2006, menjelang kematian menjemputnya,
Jumat dini hari.
Dalam wawancara terakhir ini, Tibo menyampaikan informasi
yang telah lama disimpannya soal konflik Poso. Menurut dia,
ada keterlibatan Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi
Tengah Pendeta Rinaldy Damanik dalam konflik berkepanjangan
tersebut.
Berikut petikannya:

Tanya: Apa yang Om Tibo rasakan sekarang?

Jawab: Kalau sekarang ini saya merasakan, pemikiran saya tenang.

Hanya satu hal yang saya rasakan, mengapa pemerintah tidak mau

menangkap pelaku-pelaku itu. Itu yang saya rasakan. Saat mau

tidur saya selalu teringat: mengapa pemerintah Indonesia ini

tidak mau menangkap pelaku-pelaku itu?

T: Om Tibo benar pernah membunuh?

J: Saya tidak pernah membunuh. Kalau tangan saya membunuh,

Tuhan hukum saya. Sedangkan saya punya tangan ini hanya

(untuk) menolong orang. Itu benar Tuhan lihat.

T: Apa yang diharapkan sesudah ini?

J: Saya sesudah ini, kalau memang Tuhan sudah panggil saya,

saya bersuka cita. Tapi kalau seandainya Tuhan belum panggil,

saya mengharapkan supaya bisa kembali bersama-sama dengan

keluarga saya dan saya berjuang demi umat supaya kita semua

damai sejahtera.

T: Umat di sini itu apa hanya umat Katolik?

J: Seluruh umat, agama apa pun, saya akan bersama-sama kerja

yang baik dengan mereka supaya negara kita ini bisa aman dan

damai.

T: Om Tibo ingin menyapa saudara-saudara muslim?

J: Saya ingin supaya bicara dengan mereka, tapi apa daya

karena terbatas. Saya pesan kepada mereka, jika saya sudah

diambil Tuhan, semoga dari umat Islam supaya mereka rukun

damai kepada umat Katolik, Kristen, dan Hindu, supaya negara

kita ini damai sejahtera. Itu pesan saya. Supaya bersatu.

Semua manusia ciptaan Tuhan di bawah kolong langit ini.

Tuhan minta supaya bersatu. Tapi kalau mereka tidak mau

bersatu, itu bukan salah saya.

T: Apakah merasa ditindas?

J: Saya selama ini tidak merasa tertindas. Tetapi yang saya

rasa, kenapa mereka yang berbuat tidak ditangkap. Kami yang

hanya menolong harus dihukum mati. Bukan ditindas lagi, tapi

dihukum mati.

T: Om Tibo ingin bicara dengan Bapak Presiden?

J: Saya sebenarnya ingin bicara kepada Presiden. Jadi, saya

hanya sampaikan kepada Bapak Presiden, kalau ini toh Bapak

Presiden telah memutuskan harus kami ditembak mati, saya

mohon kepada Bapak Presiden, kami ucapkan terima kasih kepada

dia, dan semoga Tuhan memberkati dia, apa yang sudah dia

perbuat mudah-mudahan Tuhan memberkati. Tetapi kalau dia

melaksanakan eksekusi kami yang tidak benar, maka Tuhan akan

tegur dia.

T: Bagaimana dengan orang-orang yang menyusun rencana

pembunuhan itu?

J: Dengan orang-orang yang menyusun pembunuhan ini saya minta

kepada pengacara, khusus umat Katolik, harus tindak tegas,

supaya persoalan Poso itu, supaya tahu persis, karena Bapak

Presiden tidak mau urus itu.

T: Tidak kasihan pada mereka?

J: Saya kasihan pada mereka, tapi supaya mereka juga bertobat.

Kalau ini tidak, berarti mereka tidak bertobat. Tetapi kalau

memamg kami sudah dipanggil dan umat semua sepakat damai,

silakan, saya rela, asalkan mereka harus bertobat, takut akan

Allah.

T: Kalau malam bikin apa?

J: Saya kalau malam berdoa, makan, duduk, (kalau) belum

mengantuk, berdoa lagi. Satu malam itu bisa sampai empat kali.

T: Itu doa apa?

J: Baca firman. Kalau sudah capek saya baca firman. Saya

berdoa, sudah pakai firman, doa biasa, Bapak Kami, Salam

Maria. Saya buka buku, baru saya berdoa

T: Doa untuk apa?

J: Doa untuk semua orang supaya jangan mereka berbuat

kejahatan lagi. Supaya (sadar) semua kejahatan itu hanya

merugikan kita sendiri. Dan saya juga minta kepada Tuhan

supaya gerakkan hati mereka, supaya takut akan Tuhan.

T: Doa untuk diri sendiri?

J: Untuk diri sendiri juga berdoa supaya kalau memang

dipanggil Tuhan, terima saya. Jika Dia masih berikan

kehidupan, saya mohon Tuhan bimbing saya supaya betul-betul

bekerja sesuai dengan kehendaknya.

T: Juga doakan keluarga?

J: Keluarga juga saya doakan. Supaya Tuhan juga menuntun

mereka supaya sungguh-sungguh mengikuti Tuhan dan takut

akan Tuhan.

T: Sekarang apa yang Om Tibo rasa dengan keluarga?

J: Kalau saya rasa dengan keluarga sekarang ya saya rasa

sayang dengan keluarga Tapi apa boleh buat, apa boleh buat,

karena mungkin saatnya Tuhan panggil. Tapi kalau belum

saatnya, mungkin kita akan kembali dengan keluarga

sama-sama. Itu keyakinan saya.

T: Ada pesan-pesan lain?

J: Terakhir saya pesan seluruh umat Katolik di mana pun

berada supaya mereka sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan

sungguh-sungguh berdoa. Itu yang saya minta.

T: Om Tibo rasa memang akan terjadi eksekusi?

J: Saya memang merasa, kalau menurut diri saya, saya tidak

ada merasa takut, merasa ini, tidak ada.

T: Ada tanda-tanda nggak?

J: Tidak ada juga tanda-tanda. Kalau ada tanda-tanda...

tapi tidak ada. Biasa-biasa saja. Jadi, saya rasa hanya itu

yang bisa saya sampaikan.

Jadi, kalau Pak Damanik, saya mohon supaya jangan

memutar-balikkan fakta bersama Tungkanan.

Karena semuanya itu peranannya Damanik dengan Tungkanan.

T: Siapa?

J: Damanik dengan Pak Tungkanan dengan Limpadeli. Tiga itu yang

peranan di sana itu. Sesuai apa yang mereka rencanakan itu kan,

hanya Damanik, dia bersembunyi. Dia tidak nampak di lapangan.

Hanya Paulus Tungkanan dengan Limpadeli yang nampak di

lapangan. Dia hanya sembunyi di dalam, tapi semua dia yang atur.

Siapa lagi?

Tapi seperti kemarin saya sudah bilang, rapatnya itu lima

kali. Empat kali dengan saya, empat kali kemarin, di Tentena,

baru di Lembua.

T: Om Tibo nggak mau pakai peti dan sebagainya yang disediakan.

Bagaimana itu?

J: Ya, peti yang mereka sediakan memang kita tidak

mau. Kita maunya harus itu dari keluarga orang Katolik yang

siapkan itu. Biar hanya papan yang busuk-busuk itu saja,

supaya bisa bawa saya pulang ke kampung. Jadi, saya tidak

perlu mahal-mahal ongkos dari pemerintah ini itu. Saya tidak

perlu itu karena barang itu tidak halal. Uang yang mereka

pakai itu tidak halal. Kita tidak mau menerima itu. Jadi,

walaupun kita ini susah, yang penting ini dari umat Katolik

yang menyediakan itu untuk kami bertiga. Itu permintaan saya,

kalau seandainya kami sudah dipanggil Bapak. Tapi kalau belum,

ya terima kasih. Dipanggil juga terima kasih. Jadi, saya rasa

hanya itu. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh

umat. Amin

paulus
MUSLIM
MUSLIM

Male
Number of posts: 2489
Age: 30
Location: sekitar israel
Reputation: 40
Points: 3512
Registration date: 2010-01-11

http://murtadinkafirun.forumotion.net/t5870-pengakuan-fabianus-tibo-atas-otak-pelaku-kerusuhan-poso
Lihat Umat Islam, Rinaldy Damanik melenggang kangkung berjalan jalan berkeliaran dari kota ke kota tanpa dihukum. Sekuleris tidak bisa melindungi kita, Sekuleris hanya memanaje apa yang dekat terlihat oleh IPTEK yang terbatas kemampuannya.

dengan siapa saja damanik berkomunikasi?

dengan Pers :

Resiko Pluralisme:Tokoh Kristen Poso Remehkan UU Penodaan Agama

Palu (voa-islam.com) -Inilah sekelumit bukti suksesnya program pluralisme di Indonesia. Dengan logika Pluralisme seorang tokoh sentral Kristen Protestan dari Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) Pdt Rinaldy Damanik menganggap UU Penodaan Agama tidak dibutuhkan lagi. Renaldy mengatakan, undang-undang UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama tidak diperlukan jika semua umat sadar dalam beragama.

"Penodaan terhadap agama itu tidak akan terjadi kalau semua umat beragama sadar. Semua agama kan menganjurkan perdamaian," kata Rinaldy Damanik seusai Bedah Pemikiran KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam gerakan kebangsaan dan kultural, di Palu, Kamis.
Damanik mengatakan, UU penodaan agama yang sedang diujimaterikan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut hingga kini masih ngambang karena bagian mana saja yang akan direvisi belum tersosialisasi dengan baik.
...Penodaan terhadap agama itu tidak akan terjadi kalau semua umat beragama sadar. Semua agama kan menganjurkan perdamaian," kata Rinaldy...
"Substansi yang akan direvisi belum tersosialisasi dengan baik," kata Damanik. Mantan terpidana konflik kerusuhan Poso itu mengatakan, terjadinya kekacauan baik internal umat beragama maupun antarumat beragama karena masih lemahnya pemahaman terhadap substansi agama.

"Padahal kan semua agama menganjurkan kebaikan, perdamaian dan ketentraman," katanya. Ia mencontohkan, sering kali seseorang berpindah gereja, dari gereja satu ke gereja yang lain. Pengurus gereja yang ditinggalkan kadang marah.

"Mereka marah bukan karena dogma atau iman, tetapi gereja yang mereka tempati sebelumnya kehilangan sumber persembahan dalam bentuk uang. Ini contoh di agama saya, yang menunjukkan masih lemahnya pemahaman terhadap substansi agama," jelas Damanik.
(Moderator : perhatikan tulisan yang saya beri warna merah pada ucapan Damanik, Damanik menyembunyikan sesuatu yaitu Jumlah Warga Ambon yang menjadi mualaf sebelum terjadi kerusuhan Poso 1 tak terhitung jumlahnya dalam satu bulan. hal ini membuat pihak GKS marah dan mengkomando Damanik CS.)
Selama ini, kata dia, Indonesia ibarat rumah bocor yang penduduknya sibuk membersihkan air hujan yang masuk ke rumah tanpa ada usaha untuk menempel atap yang bocor itu.

"Yang kita perbaiki itu adalah umat. Saya misalnya dari Kristen, kalau umat saya salah dalam perilakunya maka yang salah itu juga saya, karena belum mampu menyadarkan umat," katanya.

Menurut dia, tugas negara saat ini adalah bagaimana memberikan dorongan, agar pembinaan agama berjalan baik dan berkualitas.

Ia mengatakan, energi bangsa ini sudah banyak terkuras oleh aturan perundang-undangan. Mulai dari undang-undang pornografi, undang-undang kebebasan pers, penyadapan, dan belakangan ini kembali mencuat undang-undang penodaan agama.

"Kita selalu buat isu yang tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Masyarakat kita saat ini masih susah. Kenapa bukan ini yang jadi fokus kita," katanya.

Terkait dengan persidangan UU Pencegahan Penodaan Agama di MK, berbagai tanggapan terus mengalir.
...Terjadinya kekacauan baik internal umat beragama maupun antarumat beragama karena masih lemahnya pemahaman terhadap substansi agama."Padahal kan semua agama menganjurkan kebaikan, perdamaian dan ketentraman," kata Rinaldy
Sebelumnya, Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, bila MK mengabulkan pencabutan UU tersebut maka berpotensi menimbulkan keresahan dan kekacauan di masyarakat.

"Jika hal terkait penodaan agama tidak diatur, maka dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik horizontal, memicu keresahan dan disintegrasi bangsa," kata Suryadharma Ali. (Ibnudzar/ant)

http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/02/12/3276/resiko-pluralismetokoh-kristen-poso-remehkan-uu-penodaan-agama/

Dengan Pasar Gelap :
Republika
Selasa, 10 September 2002 8:19:00

Sulap Status Tersangka Rinaldy Damanik Menjadi Saksi
Polisi Dianggap Abaikan Rasa Keadilan Rakyat Poso

Palu-RoL--Polisi dinilai telah mengabaikan rasa keadilan masyarakat dalam
menegakkan hukum di Kabupaten Poso. Itu menyusul perubahan status tersangka
menjadi saksi terhadap Deklarator Malino, Pendeta Rinaldy Damanik, yang
terkait kasus kepemilikan belasan senjata api dan ratusan amunisi.

"Sementara dalam kasus yang sama dua warga Poso lainnya, Taaju dan Ridwan
kini sudah dinyatakan tersangka dan menjadi tahanan Mapolda Sulawesi Tengah.
Rasa keadilannya di mana" kata pengamat hukum asal Universitas Tadulako
(Untad) Palu Mohammad Hatta Akhmad kepada ANTARA di Palu, Selasa.

Pendeta Renaldy Damanik yang juga Sekretaris Sinode GKST itu, dijadikan
tersangka oleh Polda Sulteng karena mobil yang dinedarainya terjaring
petugas membawa senjata api dan amunisi saat aparat keamanan melakukan
operasi penyisiran di Desa Mayumba (perbatasan Kabupaten Poso dan Morowali)
pada 17 Agustus lalu.

Ketika itu pasukan gabungan TNI dan Polri berhasil menyita 14 pucuk sejata
api jenis rakitan dan 144 butir amunisi berbagai jenis dari dalam mobil yang
ditumpangi Damanik.

Akan tetapi aparat yang jumlahnya sangat terbatas pada saat itu tidak
memaksakan diri membawa Damanik ke Mapolres Poso untuk menjalani pemeriksaan
sebab yang bersangkutan 'dilindungi' ratusan massa pendukungnya.

Kapolda Sulteng Brigjen Pol Zainal Abidin Ishak sudah dua kali melayangkan
surat pemanggilan kepada Pdt Damanik datang ke Mapolda setempat untuk
diperiksa dalam kapasitas sebagai tersangka, tapi tidak dipenuhi yang
bersangkutan.

Namun, Mabes Polri akhirnya melayangkan surat pemanggilan kepada Damanik
untuk diperiksa di Jakarta paling lambat 10 September 2002 (sesuai surat
Direktorat Pidana Umum Mabes Nopol S.D.pgl/889-sendak.S/IX-200/Pidum
tertanggal 4 September 2002) dengan status sebagai saksi.

Menurut Hatta Akhmad, ada dua hal mendasar yang mesti dijelaskan kepada
masyarakat Sulteng khususnya di Poso oleh pihak kepolisian atas kasus
Damanik, yakni dasar pemindahan tempat pemeriksaan dari Mapolda Sulteng ke
Mabes Polri dan perubahan status Damanik dari tersangka menjadi saksi.

Ia mengatakan sulit diterima jika faktor keamanan yang dijadikan alasan
untuk memindahkan tempat pemeriksaan sebab seluruh kasus Poso yang ditangani
Mapolda Sulteng tidak terkendala jaminan keamanan para saksi atau tersangka.

"Kasus Fabianus Tibo dan kawan-kawan dan kasus Mapane serta beberapa kasus
lainnya dapat diselesaikan di Mapolda Sulteng dan Polres Poso," ujarnya.

Dan yang paling sulit diterima, katanya, perubahan status Pendeta Damanik
yang menurut Polda setempat secara nyata tertangkap tangan membawa sejata
api dan amunisi.

Bahkan, dengan fakta hukum seperti itu yang bersangkutan seharusnya langsung
di tangkap tanpa perlu surat pemanggilan. "Semua ini harus dijelaskan oleh
pihak kepolisian," katanya.

Mengenai dugaan adanya unsur politis atau desakan dari pihak luar atas kasus
tersebut, Hatta Akhmad mengatakan akan melemahkan peneggakan hukum di Poso
jika hal tersebut sampai terjadi.

"Kita negara berdaulat dan hukum jangan dicampubaurkan dengan masalah
politik," demikian Hatta Akhmad.

Sementara itu, Kadispen Polda Sulteng AKBP Drs Agus Sugianto membantah
penilaian miring terhadap Kapolri Da'i Bachtiar beserta jajaran pimpinan di
Mabes Polri tersebut. "Tidak benar (penilaian) itu," katanya ketika
dihubungi secara terpisah.

Agus mengatakan, proses pemeriksaan Pendeta Damanik dalam kasus kepemilikan
14 pucuk senjata api dan lebih 100 butir amunisi ilegal oleh Mabes Polri
bukan merupakan diskriminasi. Sebelumnya sudah dikoordinasikan dengan Polda
Sulteng.

"Tidak ada istilah diskriminatif dalam kasus ini sebab polisi di Sulteng dan
Jakarta adalah polisi nasional," tuturnya, sembari memberi alasan bahwa
dalam tindakan polisi nasional tidak terikat ruang dan waktu, termasuk dalam
pengusutan kasus Damanik. Antara/pra

http://groups.yahoo.com/group/ambon/message/23296

Dengan Senator dan Congressman Amerika :

Wawancara CBSN dengan Pendeta Rinaldy Damanik

TRANSKRIF WAWANCARA EKSKLUSIF TENTANG MUJIZAT PENYEMBUHAN DI DESA MEKO KABUPATEN POSO SULAWESI TENGAH
OLEH CBSN DENGAN PENDETA RINALDY DAMANIK
CBSN : Selamat siang Pak Pendeta Damanik. Kami ingin wawancara dengan Bapak tentang peristiwa penyembuhan di Desa Meko. Bolehkah Bapak sebagai seorang tokoh dan pejuang kemanusiaan dan sebagai Pendeta memberikan pendapat tentang peristiwa tsb?
Pdt. Rinaldy Damanik (RD) : Boleh, tetapi saya bukan tokoh dan bukan pejuang. Saya hanya seorang pendeta biasa, hanya rakyat biasa, ya, tepatnya… saya hanya seorang hamba. Ok, saya harus mulai dari mana ya?
CBSN : Sejak kapan tepatnya peristiwa itu terjadi? Dan kami mendengar bahwa beberapa kali Bapak dipanggil langsung oleh anak yang melakukan mujizat itu, apa benar Pak?
RD : Peristiwa penyembuhan itu terjadi sejak tanggal 6 Januari 2007. Tapi saya baru melihat langsung pada tanggal 17 Pebruari 2007.
CBSN : Oh ya, kami dengar Bapak baru kembali dari Amerika tanggal 14 Pebruari 2007, apakah itu dalam rangka peristiwa di Meko atau …?
RD : Bukan, saya ke Washington DC diundang oleh 5 Senator dan 7 Congresman USA soal Teroris dan masalah-masalah di Poso. Tapi…. ok, maaf…lebih baik kita kembali ke substansi wawancara ini.
http://febrina.wordpress.com/wawancara-cbsn-dengan-pendeta-rinaldy-damanik/

Dengan Agen Mata - mata dan Clandester dari Legiun Christum Jerman bernama Karl Heins Reiche :

Jangan Lupakan Poso

30May2011 Uncategorized
Jangan Lupakan Poso
Oleh H. Rachmat Basuki Soeropranoto

Pengantar:
Tulisan berjudul JANGAN LUPAKAN POSO ini pernah dipublikasikan pada sebuah situs yang kini sudah tidak eksis. Penulisnya, saya kenal ketika bersama-sama menginap di LP Cipinang untuk kasus yang berbeda. Tulisan ini dipublikasikan kembali agar rakyat Indonesia tidak mudah melupakan kekerasan yang menimpa umat Islam. Termasuk kasus pembantaian di Pesantren Walisongo pada akhir Mei 2000, sebelas tahun lalu.
***
SINTUWU MAROSO adalah semboyan tanah Poso yang bermakna persatuan yang kokoh. Tapi makna itu beberapa tahun belakangan ini tak wujud. Di Poso terjadi konflik berkepanjangan selama beberapa tahun. Sejak Desember 1998 hingga kuartal pertama tahun 2007, persoalan Poso pasang surut menghiasi media massa.
Setelah tiga tahun konflik berlangsung, barulah pada Desember 2001, ditandatangani sebuah kesepakatan damai yang dinamai Deklarasi Malino. Jusuf Kalla yang saat itu menjabat sebagai Menkokesra bertindak sebagai mediator di antara dua kelompok yang diangap mewakili kelompok bertikai. Dinamakan Deklarasi Malino, karena kesepakatan yang dirancang dilaksanakan di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan.
Isi Deklarasi Malino tertuang di dalam 10 butir kesepakatan, intinya menghentikan konflik dan menegakkan hukum. Tanpa pandang bulu, kedua kelompok diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Sama sekali tidak ada upaya mendudukkan persoalan secara proporsional, mencari akar masalah, dan menyelesaikan konflik.
Pemerintahan Megawati yang kala itu diwakili Menko Kesra Jusuf Kalla, sama sekali tidak berminat mencari tahu siapa pemicu konflik, dan pihak mana yang menderita korban jiwa paling banyak. Pokoknya, dalam rangka mencapai damai di Poso, kedua kelompok harus mau menerima rumusan pemerintah. Bahwa keduanya bersalah dan harus mau berhenti bertikai.
Pemerintah sama sekali tidak menyadari, bahwa tokoh-tokoh Islam yang hadir dan tak hadir pada forum itu sama sekali tidak puas dengan rumusan tidak adil itu. Karena, umat Islam bukanlah pemicu konflik Poso, namun korban jiwa terbanyak justru dari kalangan Islam. Cobalah lihat kasus Poso III yang terjadi pada bulan MEI 2000, sekitar 1000 jiwa melayang, sebagian besar umat Islam. Beberapa ratus di antaranya adalah komunitas Pesantren Walisongo yang dibantai Tibo dkk.
Faktanya, beberapa bulan sejak Deklarasi Malino dikumandangkan, persisnya sejak April 2002, hampir setiap bulan terjadi konflik dan kerusuhan di Poso. Bahkan adakalanya dalam satu bulan terjadi beberapa kali konflik dan kerusuhan. Artinya, Deklarasi Malino tidak ada manfaatnya.
Apalagi pemerintah juga sama sekali tidak menyadari, bahwa harga diri umat Islam seperti diinjak-injak setiap ada upaya penyelesaian konflik horizontal. Padahal, umat Islam tidak pernah mencari gara-gara. Umat Islam berkuah darah melawan penjajah, ketika merdeka, justru dijadikan kambing hitam atas setiap konflik horizontal yang terjadi. Maka, sudah menjadi hukum alam bila dari ketidak adilan itu lahir sejumlah orang yang bergabung dalam sebuah komunitas ‘radikal’ atau ‘fundamentalis’ atau ‘teroris’ yang melakukan upaya ‘balas dendam’ sekaligus untuk menunjukkan bahwa umat Islam punya harga diri.
Kalau pemerintah mau dengan serius menyelesaikan konflik horizontal seperti di Poso, pertama-tama yang harus ditegakkan adalah keadilan. Tentu tidak adil bila pemicu konflik diperlakukan sama bahkan lebih lunak dari umat Islam yang justru menderita korban jiwa paling banyak.
Dalam banyak hal ditemukan ketidak adilan yang dilakukan aparat. Misalnya, dalam rangka memulihkan keamanan di Poso, digelar sejumlah operasi. Bila operasi pemulihan keamanan itu targetnya adalah pelaku teror dan pembantaian dari pihak Kristen, aparat menggunakan sandi Operasi Cinta Damai. Satgas yang diterjunkan juga bernama Satgas Cinta Damai. Sedangkan bila hal yang sama ditujukan kepada komunitas Islam, digunakan sebutan Operasi RAID yang bermakna SERBU atau BASMI. Apalagi, selama ini masyarakat awam lebih mengenal Raid sebagai salah satu merek pembasmi nyamuk. Jangan heran bila timbul persepsi, umat Islam disamakan dengan nyamuk sehingga perlu dibasmi. Apalagi pada kenyataannya, bila ditanya mengapa ‘teroris’ Kristen yang diduga kuat terlibat namun tidak juga menjalani proses hukum, maka aparat berdalih “penanganan hukum harus didukung oleh saksi dan alat bukti”. Tapi bila menyangkut ‘teroris’ Islam, langsung dibasmi, sebagaimana terjadi pada kasus penangkapan DPO pada 11 Januari 2007.
Berkenaan dengan keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama, aparat dan pemerintah juga jelas terlihat diskriminatif. Adnan Arsal dituding terlibat menyembunyikan DPO, sehingga ia pontang-panting mencari dukungan umat Islam yang lebih luas lagi. Tapi, aparat tidak pernah mempermasalahkan keterlibatan tokoh gereja, padahal, antara lain melalui pengakuan Tibo sudah bisa dijadikan landasan hukum menyeret mereka. Lebih mengecewakan, justru Brigjen Oegroseno yang saat itu menjabat Kapolda Sulawesi Tengah, dicopot dari jabatannya saat ia serius menelusuri keterlibatan tokoh-tokoh gereja seperti disebutkan Tibo.
Sebagaimana diberitakan TEMPO Interaktif edisi Kamis, 31 Agustus 2006, Oegroseno pernah mengatakan, konflik di Poso masih menjadi misteri. Ia meminta agar misteri dibalik konflik Poso dibuka. “Kalau dianggap sudah selesai tidak bisa, karena suatu saat akan meledak lagi.” Demikian pernyataan Oegroseno usai menyerahkan jabatan Kepala Polda Sulawesi Tengah kepada Badrudin Haiti di Mabes Polri. Oegroseno juga menilai, eksekusi terhadap Fabianus Tibo dan dua kawannya, tidak akan menyelesaikan konflik yang terjadi di Poso. Menurutnya, “pendekatan hukum itu pendekatan yang terakhir.” Oegroseno juga pernah mengatakan, “Sejarah jangan diputarbalikkan, mereka harus ceritakan apa adanya.”
Sebagian dari misteri Poso itu nampaknya berada di tangan para tokoh gereja yang kini ‘tiarap’ dan bebas dari jeratan hukum, juga berada di tangan para tokoh nasrani lainnya, termasuk Melly istri kedua konglomerat Eka Tjipta Wijaya.
Bila aparat begitu bersemangat dan serius mengaitkan kasus Poso dengan JI (Jamaah Islamiyah), namun aparat sama sekali tidak menyentuh Legiun Christum, salah satu milisi Kristen yang ikut memerangi umat Islam di Poso.
Pada saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden (26 Oktober 1999 – 24 Juli 2001) puncak kebiadaban terhadap umat Islam mencapai tingkatan tertinggi. Kasus Poso yang bermula Desember 1998, mencapai puncaknya Mei 2000. Kasus Ambon (Maluku) yang bermula Januari 1999 mencapai puncaknya pada kasus Halmahera sekitar Desember 1999. Menurut sejumlah media massa yang mengutip berbagai sumber, termasuk menurut laporan yang diterima Republika, sedikitnya 3.000 orang Islam tewas dalam pertikaian SARA yang terjadi sejak 26 Desember 1999 di Maluku Utara. Namun, menurut Gus Dur korbannya cuma lima. Begitu juga dengan kasus Sampit (pembantaian dan pengusiran suku Madura), terjadi pada pertengahan Februari 2001.
Nampaknya kaum nasrani kian berani membantai umat Islam karena sosok yang menjadi presiden RI saat itu adalah sahabat mereka. Lha, bagaimana nasib umat Islam bila yang menjadi presidennya adalah orang nasrani beneran.
Entah ada kaitan atau tidak, yang jelas, menurut Koran Tempo edisi 29 Januari 2006, pada tahun 2002 Abdurahman Wahid mantan presiden RI ke-4 diangkat sebagai anggota kehormatan Legiun Christum.
Aparat dan pemerintah selain menuding JI juga mencurigai para alumni Afghan. Faktanya, memang ada banyak alumni Afghan asal Indonesia yang memiliki keterampilan menggunakan berbagai jenis senjata dan merakit bom. Keterampilan itu mereka peroleh dari CIA. Namun, meski mereka memiliki keterampilan merakit bom, keterampilan itu tidak bisa begitu saja dipraktekkan karena bahan baku membuat bom tidak sembarangan bisa diperoleh. Kalau toh bisa diperoleh, harganya tidak murah. Pada umumnya para alumni Afghan bukan tergolong orang yang punya uang berlebih.
Para alumni Afghan adalah anak bangsa yang mempunyai jiwa pengorbanan tinggi terhahadap saudaranya, apalagi saudara sesama muslim meski berada jauh di Afghan. Mereka membebaskan saudara muslimnya dari cengkeraman pemerintahan komunis, dan berhasil. Bila untuk muslim Afghan yang nun jauh di sana, mereka mau berkorban nyawa, apalagi untuk muslim Indonesia.
Yang juga perlu diketahui, tidak semua alumni Afghan tergabung ke dalam JI. Dan perlu juga diketahui, tidak seluruh faksi JI yang ada terlibat di dalam aksi radikal seperti Bom Malam Natal (24 Des 2000), Bom Bali I (12 Okt 2002), Bom JW Marriott (05 Agustus 2003), Bom Kuningan (09 Sep 2004), dan Bom Bali II (01 Okt 2005), dan sebagainya.
Untuk mengenang tragedi pembantaian umat Islam di Poso, yang mencapai puncaknya Mei 2000, kronologi berikut ini yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga saja dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Termasuk, generasi muda Islam yang bermaksud menjadikannya sebagai salah satu data (primer maupun sekunder) bagi kegiatan penelitian yang ditekuninya.
25 Desember 1998 (Kasus Poso I)
Jum’at 25 Desember 1998, bertepatan dengan Ramadhan 1419 H, sekelompok pemuda kristen mengkonsumsi miras dan membuat keributan saat Sholat tarawih digelar. Pengurus masjid mencoba mengingatkan. Usaha itu berhasil, para pemuda kristen pergi meninggalkan area masjid. Lewat tengah malam kelompok pemuda kristen itu kembali. Salah seorang pengurus masjid (Ridwan) yang sebelumnya memperingatkan mereka untuk tidak mabuk-mabukan, dikejar oleh Roy Runtu yang dalam keadaan mabuk. Ketika itu, Ridwan tengah membangunkan warga Muslim di Kelurahan Sayo untuk makan sahur. Menghindari kejaran Roy, Ridwan melarikan diri ke sebuah masjid (dekat pesantren), namun di tempat itu pula ia dibacok. Ridwan sempat berteriak minta tolong dan lari dengan meningalkan percikan darah di plafon masjid.

Ridwan
Setelah kejadian itu, masyarakat muslim Poso yang mendengar berita ini segera berkumpul. Konsentrasi massa pada akhirnya bergerak menghancurkan setiap kedai/toko yang menjual miras. Masyarakat muslim meminta pemuda yang melakukan penganiayaan agar menyerahkan diri. Dan menuntut aparat untuk segera menangkap pelakunya. Bukannya minta maaf dan menyerahkan diri, salah seorang dari mereka justru mencari bantuan ke Tentena. Herman Parimo, tokoh kristen Tentena membawa massa bergerak ke Poso, membakar Pasar sentral Poso dan mengadakan pawai keliling Poso, menunjukkan kemenangannya. Kabar Poso sudah diduduki massa Tentena terdengar di Parigi dan Ampana (basis massa muslim). Dengan koordinasi ustadznya masing-masing bergeraklah massa kedua kota itu ke Poso. Poso kembali dalam kendali umat Islam. Dua pasukan, muslim dan kristen masih menggunakan alat tempur sederhana, parang dan batu, meski beberapa sniper terbukti telah melukai beberapa orang muslim.

Herman Parimo
Sebanyak 100 orang luka-luka, puluhan rumah dan kendaraan bermotor rusak berat.

Mesjid Darussalam tempat terjadinya pembacokan terhadap Ridwan

Gubernur H.B Paliudju mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen dirumah dinasnya

Kelompok Islam menunggu di luar

Kelompok Islam menginginkan Roy Runtu dan Herman Parimo diadili
16-19 April 2000 (Kasus Poso II)
Minggu 16 April 2000, di Terminal Poso dua pemuda pemabuk asal Desa Lambodia dan Lawanga (desa Islam dan Kristen) terlibat pertikaian. Warga kedua desa saling serang, aksi bentrok massa meluas ke daerah sekitar Poso, juga menyulut bentrokan antara Kelompok Merah dengan Kelompok Putih. Dari peristiwa ini sedikitnya tiga orang tewas, empat orang luka-luka, 267 rumah terbakar, enam mobil terbakar, lima motor hangus, tiga gereja hancur, lima rumah asrama polisi hancur, ruang Bhayangkari Polda terbakar.
16 Mei 2000
Selasa 16 Mei 2000, Dedy seorang pemuda dari desa Kayamanya (suku Gorontalo) tengah mengendarai motor Crystal pada malam hari, tiba-tiba dihadang sekelompok pemuda Kristen yang mabuk di Desa Lambogia. Dedy sempat melarikan diri dengan motornya, namun terjatuh sehingga tubuhnya mengalami luka-luka. Setelah diperban, kemudian Dedy melaporkan pada teman-temanya di desa Kayamanya, bahwa ia dibacok oleh pemuda kristen Lambogia.
17 Mei 2000
Rabu 17 Mei 2000, warga muslim Kayamanya (sekitar 20 orang beserta aparat) mendatangi Kelurahan Lambogia untuk mencari oknum pelakunya namun disambut dengan serbuan panah/peluncur dari warga Lambogia. Dan pada malamnya, warga Kayamanya membakar Desa Lambogia sekiitar 400 rumah serta sebuah gereja Beniel.
19 Mei 2000
Jum’at 19 Mei 2000, ditemukan mayat Muslim korban pembantaian di Jalan Maramis kelurahan Lambogia, dengan luka bacokan dan leher tertusuk panah. Kemudian warga muslim terpancing emosi dan bergerak kembali membakar gereja Advent dan sebuah gereja besar dekat terminal, gedung serba guna, SD, SMP dan SMA Kristen. Warga kristen mengungsi ke kelurahan Pamona Utara (Tentena) dan Tagolu yang merupakan basis Kristen.
Setelah kejadian tersebut, umat Islam di Kelurahan Kowua bersiaga penuh mengantisipasi serangan balasan. Seorang muallaf bernama Nicodemus yang kebetulan bekerja di Tentena ditugaskan untuk memantau perkembangan warga Kristen di Tentena. Setelah 2 minggu kemudian, Nico kembali ke Poso karena merasa dirinya sedang diintai. Namun dari situ muncul kesepakatan untuk menginformasikan melalui kata Sandi Pak Nasir (Nashara) datang berobat lanjut ke Poso berarti akan ada penyerangan kaum Nasrani.
22 Mei 2000
Senin 22 Mei 2000, Pak Maro (muallaf) dari kelurahan Lawanga, yang disusupkan di Kelurahan Kelei, datang ke kediaman Ust. Abdul Gani, membawa pesan akan ada penyerbuan pada shubuh hari. Pak Maro menyamar dengan memakai kalung salib dan mentato tubuhnya. Di Kelei yang merupakan basis kristen pernah diadakan latihan militer. Jam 5.30 sore ada interlokal dari Nicodemus di Tentena ke rumah pak Abdul Gani memberitakan, bahwa “Pak Nasir (Nashara) akan berkunjung obat ke Poso malam ini atau besok.”
Jam 7 malam, seorang pemuda bernama Heri Alfianto yang juga ketua Remaja Masjid Kowua memberikan informasi bahwa di rumahnya yang kebetulan terdapat TUT (Telepon Umum Tunggu), ada seorang Kristen yang diduga ingin menggunakan jasa telepon bercerita kepadanya bahwa pada jam 2 malam akan ada penyerangan dari masyarakat Flores (Kristen). Sekedar gambaran, Heri Alfianto dilihat dari raut wajahnya mirip orang Kristen karena ibunya berasal dari Manado yang muallaf, sehingga orang kristen mengira Heri juga orang Kristen. Penyerangan dilakukan per kelompok kecil dengan sasaran KBL (Kayamanya, Bonesompe, Lawanga) dan menculik tokoh-tokoh Islam Poso, antara lain Haji Nani, Ust. Adnan Arsal, dll.
Pada malam itu juga dikumpulkan para tokoh yang tergabung dalam “Forum Perjuangan Umat Islam” yang terbentuk sejak kerusuhan Poso jilid I di rumah Ust. Adnan Arsal dan langsung mengkoordinasikan pembagian tugas penjagaan di pos-pos yang telah ditentukan. Pertemuan itu selesai jam 21.30. Pada malam itu sudah tersebar isu penyerangan terutama di Kecamatan Poso Pesisir, sehingga setiap warga, baik Islam dan Kristen, berjaga-jaga mengamankan diri.
Pada jam 24.00 rombongan Muspida beserta Ketua DPRD Tk.II Akram Kamarudin, menenangkan warga, memberitahukan kepada warga Poso bahwa berdasarkan informasi Kapolsek Pamona Utara, Ramil Pamona Utara dan Camat Pamona Utara isu penyerangan itu tidak benar dan menyesatkan. Akhirnya warga yang tadinya berjaga di pos-pos bubar dan kembali ke rumah, kecuali warga di Kelurahan Kowua. Bahkan pemuda Kowua membantah berita dari Muspida tersebut karena yakin dengan info dari Nico di Tentena.
Setelah itu muncul tanda bahaya berupa kentungan pada tiang listrik dari desa seberang sungai, tepatnya di PDAM, Kelurahan Gebang Rejo. Kemudian dikonfirmasikan melalui telepon ke Ust. Adnan Arsal yang tinggal di Gebang Rejo, namun dijawab bahwa sampai saat ini belum ada tanda pengerahan massa yang melewati Desa Gebang Rejo. Tak berapa lama, Pak Adnan Arsal memberitakan memang ada penyerangan dilakukan hanya oleh kelompok kecil berpakaian ninja.
23 Mei 2000 (Kasus Poso III)
Selasa 23 Mei 2000 sekitar pukul 02.00 wita terjadi kerusuhan yang dipicu oleh 13 “pasukan ninja” bersenjatakan kelewang, senjata pelontar dan tombak. Salah satu dari tiga ninja yang berhasil ditangkap adalah perempuan berumur sekitar 25 tahun. Salah seorang lainnya mengaku warga trans Beteleme asal Nusa Tenggara. Pasukan ninja ini beraksi dengan mengintai warga yang melintas di poros jalan Kelurahan Kayamanya. Siapa pun yang melintas di poros jalan itu mereka bacok.
Kelompok ninja tersebut membawa sandera (Pak Alwi, pegawai BNI), dibawa ke Desa Kayamanya dengan tujuan mencari Haji Nani Lamusu. Dari pihak Polres, yakni Bapak Serma Kamaruddin Ali (47) yang ingin menyelamatkan sandera dan mencoba bernegosiasi, berkata: “Saya ini polisi”, sembari mencabut pistol. Namun Pak Kamarudin keburu tewas di tempat dibacok kelompok ninja itu. Sedangkan pak Alwi (sandera) selamat dan melarikan diri. Mereka berhasil membakar rumah Haji Nani Lamusu, dan terus maju ke desa Moengko Baru, di situ didapati seorang mantan lurah, Pak Abdul Syukur (40) yang ingin memukul tiang listrik tanda bahaya dibacok hingga tewas. Selain itu yang kena bacok dan langsung tewas Baba (62) warga kelurahan Moengko Baru. Sebagian dari “pasukan ninja” saat dikejar oleh masyarakat langsung bersembunyi di kompleks Gereja Katolik di Kelurahan Kayamanya.
Pada hari yang sama, beredar isu yang isinya semua rumah-rumah ibadah (Gereja) di sekitar Kota Poso akan dibakar dan sejumlah tokoh-tokoh kristen akan diculik. Berdasarkan isu itu, sejumlah umat kristen mengungsi ke asrama-asrama Kodim dan Polres Poso.
24 Mei 2000
Rabu dinihari 24 Mei 2000, terjadi penyerangan mendadak dari sekelompok orang berpakaian ala ninja ke beberapa pos pengamanan di beberapa kantong muslim. Berikutnya, warga Kelurahan Kayamanya (Islam) hendak melakukan penyerangan ke warga Kelurahan Lombogia dan kantong-kantong permukiman Kristen lainnya. Polisi menghalangi niat itu. Tapi kerusuhan tak bisa dibendung. Akibatnya, tiga orang tewas; salah satunya polisi (Serda Pol Rudy yang tertembak senjata rakitan) dan 15 orang luka-luka.
26 Mei 2000
Jumat 26 Mei 2000, Pasukan Merah yang berjumlah ribuan mengepung dan berusaha menguasai kota Poso. Tetapi di perbatasan kota mereka ditahan oleh Komando Jihad yang berjumlah sekitar 900 orang. Akibat kebiadaban Pasukan Merah, sekitar 1500 muslim tewas dan hilang.
Jumat 26 Mei 2000, puluhan warga muslim Kecamatan Lage berencana mengungsi ke Poso Kota dengan menumpang delapan buah mobil. Ketika rombongan tiba di Togolu, mobil-mobil mereka dicegat oleh Kapolsek dan Camat Lage. Kapolsek dan Camat menyuruh pengungsi kembali ke kampung dengan alasan Laskar Kristen sudah dipergikan. Akhirnya, rombongan mengungsi ke pingir kuala (Ahad, 28 Mei 2000), selanjutnya rombongan langsung lari ke Kayoe wilayah Lembomawo untuk menginap semalam. Di tempat ini, Laskar Kristen menemukan mereka dan langsung menggeledah. Wens Tanagiri menggiring rombongan dari Kayoe ke pinggir kuala kemudian ke Kayoe lagi, kemudian digiring lagi ke dalam hutan besar Tambora. Di sini, rombongan sempat tidur dua hari dua malam. Paginya, Pak Hamidun, Jumirin, Slamet, Pardono dan Suman bermaksud turun ke Kuala untuk mengambil air, mendadak mereka disergap oleh Laskar Kristen yang berjumlah sekitar 70 orang. Anggota rombongan lain sempat lari dan bersembunyi. Namun esoknya, Laskar Kristen berjumlah 75 orang sekitar jam 11 siang datang lagi, melakukan penyergapan. Pengungsi perempuan ditelanjangi, sedangkan pengungsi laki-laki diikat tangannya menjadi satu renteng, ditendang, disiksa, dan dibawa pergi entah ke mana. Hingga kini tak pernah kembali.
27 Mei 2000
Sabtu 27 Mei 2000 sekitar pukul 07.00 pagi, sekitar 300 orang Pasukan Merah yang bergerak di sebelah Timur memasuki desa Tokorondo dari Desa Masani. Begitu masuk desa, mereka dihadang oleh sekitar 400 orang pasukan putih. Tetapi begitu melihat persenjataan yang dibawa oleh pasukan merah, komandan pasukan putih memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Pasukan Merah bertindak ugal-ugalan. Mereka memberondongkan peluru secara membabi buta. TNI baru datang sekitar tanggal 6 Juni 2000. TNI terlambat datang karena mereka (Pasukan Merah) memutus jalan darat menuju Poso. Jadi disamping bergerak menghabisi dan membakar rumah-rumah kaum muslimin, mereka juga menebangi pohon-pohon dan membiarkannya melintang di jalanan.
Sabtu 27 Mei 2000 malam hari, Saleh (40) dikejutkan oleh orang-orang yang menyelinap ke dalam areal Ponpes Wali Songo, sehingga membuat warga Pondok terbangun dan berjaga-jaga sampai pukul 03.00 WITA.
28 Mei 2000
Minggu 28 Mei 2000 pagi hari, terjadi bentrokan antara massa Islam dan Kristen di Tokorando, sekitar 70 warga Kristen bersenjata api melawan 400 warga muslim bersenjata parang dan golok. Warga muslim terpukul mundur.
Minggu 28 Mei 2000, sekitar pukul 09.00 WITA tiba-tiba datang segerombolan orang yang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan senjata parang, golok, dan senjata khas organik. Beberapa di antaranya masuk ke masjid dan membunuh 3 orang santri yang berada di dalamnya. Asrama putra dan putri berhasil dikuasai perusuh, seluruh penghuninya disuruh keluar dan disandera mereka, kemudian diikat tangannya kemudian dibawa ke hutan didaerah Sintulemba. Jumlah santri putra 38 orang dan perempuan 28 orang beserta pimpinan dan gurunya. Di hutan santri putri disuruh pulang menuju tempat pengungsian. Santri, guru, pimpinan Ponpes berjalan masuk hutan dengan berkelompok (1 kelompok 5 orang) sampai daerah Lembanawa. Di Lembanawa para perusuh bertemu komandannya dan para santri dibawa ke Ronononcu dan ditempatkan di Baruga (balai desa). Di Baruga inilah (saksi hidup) menuturkan ia dan teman seluruh anggota badannya diiris-iris dengan parang, golok, pahanya diinjak-injak, dipukul dengan laras senjata bahkan muka santri-santri tidak berbentuk lagi (karena dihantam dengan benda-benda tumpul). Luka irisan tsb. lalu disiram pasir dan kemudian disiram air panas. “Saya (Ih) mengetahui bahkan mengenali wajah perusuh tersebut yang ternyata anggota TNI.”
Menurut saksi hidup (Ih), jumlah perusuh kurang lebih 50 orang dan bercadar ala ninja. Lalu santri tersebut dinaikkan ke dalam truk dan di bawa ke daerah Togolu, pinggir Koala (sungai) Poso. Disinilah pembataian terjadi, santri yang turun dari truk langsung disambut dengan tebasan golok/parang sampai kepalanya lepas dari badannya. Melihat hal ini, Ih langsung terjun ke sungai. Seketika itu ikatan tangannya terlepas. Empat orang santri yang berhasil lolos dari pembantaian tersebut, Ilham dengan luka bacokan, tusukan golok, berenang menyelusuri sungai Poso kurang lebih 5 km dan berhasil diselamatkan oleh pengungsi (Islam) dan dirawat di pengungsian (Kompi).
Beberapa hari kemudian ditemukan 60 mayat mengambang di Sangai Poso, dan 146 mayat lainnya ditemukan penduduk di tiga titik bentrokan, yakni Kelurahan Sayo, Kelurahan Mo’engko dan Desa Malei di pinggiran selatan kota Poso. Diperkirakan mayat-mayat yang ditemukan hanyut di Sungai Poso berasal dari Pesantren Walisongo, sebab lokasi pasantren tersebut berada di bagian hulu Sungai Poso. Seorang aparat keamanan setempat mengatakan lima dari puluhan mayat penuh bacokan sekujur tubuhnya dan terikat menjadi satu yang ditemukan mengapung di Sungai Poso.
Minggu 28 Mei 2000, Pendeta Donald ditahan petugas pos jaga desa Palawa kec. Parigi, dari saku pendeta ini ditemukan pula peta lokasi peyerangan. Juga, selebaran berisi daftar 63 nama oknum dari pihak Kristen yang terlibat sekaligus jadi penghubung dalam kerusuhan Poso. Dari ke 63 nama itu, di antaranya terdapat nama Mely, istri kedua konglomerat Taipan terkenal Eka Cipta Wijaya (bos Sinar Mas group) yang tercantum pada urutan ke-20 sebagai oknum yang turut melibatkan diri ke dalam konflik Poso.
Minggu 28 Mei 2000, kerusuhan Poso berupa kontak fisik antara Kelompok Merah dan Kelompok Putih semakin meluas, selain terjadi di Kelurahan Sayo (di dalam Kota Poso) juga merambat ke wilayah Kecamatan Lage dan Poso Pesisir. Bentrok fisik terbesar terjadi di Kelurahan Sayo dan di Kasiguncu, ibu kota Kecamatan Poso Pesisir, melibatkan ribuan massa dari kedua kelompok yang bertikai. Ketegangan kian meningkat karena ribuan massa Kelompok Merah dari Kecamatan Pamona Utara, Mori Atas, Lembo, dan Lore Utara terus berdatangan dan membantu rekan mereka di lokasi-lokasi kerusuhan. Massa kelompok merah memblokade semua ruas jalan masuk ke Kota Poso. Tokoh masyarakat dan pemuka agama di Palu mendesak Kapolri Letjen Rusdihardjo segera memberlakukan Siaga I di Kota Poso dan sekitarnya.
29 Mei 2000
Senin 29 Mei 2000, perang antar pasukan putih dan merah di Kabupaten Poso masih berlangsung. Setelah menguasai Kota Poso, pasukan merah menuju Desa Masani dan Takurondo (sekitar 25 km arah utara Kota Poso). Abdul Jihad (26) ditembak dari jarak lima meter, kepalanya hancur dan langsung tewas seketika, sebagaimana dilaporkan saksi mata Sudirman (23). Kelompok merah menggunakan senjata api yang dipasok dari Manado dengan Helikopter yang diturunkan di Tentena. Sementara, kelompok putih hanya menggunakan pelontar, senjata rakitan, parang dan tombak. Aparat perintis dari Polda Sulteng, lari kocar-kacir ketika pasukan merah mengarahkan senjatanya pada mereka. Saat itu, aparat yang diperbantukan untuk mengamankan Poso, terdiri dari 3 SSK Polda Sulteng, 1 SST masing-masing dari Polres Banggai dan Polres Tolitoli, 2 SST dari Korem 132/Tadulako. Di samping 3 SSK yang sudah ada di Poso.
Senin 29 Mei 2000 (kesaksian Abdurrahman, 32): Saya disandera di Tangkura, sekitar 18 KM dari Sangginora, Poso Pesisir. Saya ditodong dengan Tombak. Sebagai tawanan, kami diberi makan seperti makanan anjing, disedu dengan tempurung. Jam 12, saya bergabung dengan tawanan lain di SDN 2 Tangkura. Di tempat itu ratusan jumlahnya. Tengah malam, satu mobil kijang pasukan Kristen datang. Mereka mengambil dua tawanan, Muis dan Arifin. Sekitar 15 menit berlalu, terdengar bunyi suara tembakan: “…door!” Masing-masing pasukan Kristen diberi kesempatan mengambil sandera yang dia ingini. Lantas saya mencoba memberikan saran kepada pasukan Kristen supaya saya saja yang disandera dan yang lainnya dibebaskan, tapi tidak digubris. Esoknya giliran saya yang diciduk. Saat itu saya sedang tertidur. Saya disergap dan diikat. Kedua kaki, kedua tangan, dan mata saya diikat dengan kain hitam. Dipaksa naik mobil open cup merah sambil dipukul dengan senjata. Saat itu saya bilang sama mereka, kalau niat bunuh saya, bunuh saja. Nggak usah dibawa ke mana-mana. Sayapun dibawa. Sampai di pemberhentian jembatan Sangginora, saya dipindahkan ke mobil dump truck. Betapa kagetnya saya, di dalam truk itu sudah tergeletak tujuh tubuh manusia. Dalam perjalanan, tiga mayat dinaikkan pula ke truk itu. Tak lama kemudian truk berhenti. Ternyata sampai dipinggir jurang. Saya bersama tubuh-tubuh manusia tadi dicurahkan ke jurang. Mereka pikir, dengan membuang kami ke jurang seperti itu kami sudah mati. Ternyata, saya bersama dua lainnya masih bernyawa. Samar-samar saya mendengar suara salah seorang pasukan Kristen berkata dalam bahasa Poso yang artinya, “Biar mati sendiri di jurang.” Salah seorang dari kami, mencoba merangkak ke atas jurang. Sayang, dia terlihat oleh pasukan Kristen yang kebetulan masih berada di bibir jurang. Akhirnya dia tewas ditembak. Tinggallah kami berdua. Kami saling membuka ikatan. Kami bersembunyi di hutan satu minggu lamanya. Suatu hari kami diselamatkan seseorang. Kami menumpang mobil bermuatan kopra dan coklat menuju Tolai, hingga selamat sampai di Parigi.
30 Mei 2000
Selasa pagi 30 Mei 2000, Kadispen Polda Sulawesi Tengah Kapten Pol Rudi Suprapto di Palu mengatakan kerusuhan terjadi di Kelurahan Moengko, Gebang Rejo, Lawengko, dan Sayo. Sejak pagi, perusuh mencoba menekan dengan masuk ke kota, tetapi sampai pukul 11.00 WIT petugas kemanan berhasil mendorong mereka ke luar kota. Para perusuh menggunakan senjata tajam dan senjata rakitan. Sedikitnya dua orang meninggal, sepuluh orang luka berat, dan seorang luka ringan. Kadispen Polda menyatakan tiga orang yang diduga otak pelaku kerusuhan sudah ditahan. Perusuh itu transmigran asal Flores yang lahir di Palu.
31 Mei 2000
Rabu 31 Mei 2000, sebuah mobil Ambulance dicegat massa Muslim di Desa Palawa Parigi yang disinyalir membawa senjata untuk massa Kristen di Kota Poso.
02 Juni 2000
Jum’at pagi 02 Juni 2000 sekitar pukul 06.30 WIT di Kelurahan Kayamanya tiba-tiba warga pengungsi muslim yang berjumlah 50 orang dan sedang mengungsi di Masjid Nurusy Sya’adah Kayamanya, diserbu oleh sekitar 700 anggota Pasukan Merah yang datang dengan menumpang beberapa truk dan mobil bak di bawah pimpinan Panglima Advent L. Lateka serta Panglima Wanita Paulin Dai. Pasukan Merah yang datang dengan kesombongan sambil membawa bendera merah-putih dan berkoar-koar menyebut-nyebut nama Yesus si Juru Selamat, ternyata pulang dengan tunggang langgang setelah Panglimawati Paulin Dai terkena dum-dum di dada kirinya. Nyali Pasukan Merah pun kontan ciut. Mereka lari. Sayangnya Lateka yang sudah tua tidak cepat mengikuti langkag kaki pasukan merah yang masih muda. Lateka tertinggal, dan akhirnya tewas, padahal sebelumnya ia begitu perkasa dan kebal senjata.
Menurut Agus Dwikarna Ketua Kompak (Komite Penanggulangan Masalah Krisis) di Poso Sulteng, jumlah korban terbesar terjadi di Desa Sintu Temba, Kabupaten Poso, sekitar 150 KK tewas dibunuh atau sekitar 350 jiwa. Salah seorang saksi hidup yang selamat adalah Udin (18). Diceritakan Udin, penyerang datang dalam jumlah besar pada malam hari dan langsung membantai penduduk yang masih hidup. Sebagian penduduk, lanjut Udin disandera dan dinaikan truk. Udin sendiri lolos setelah melompat dari truk yang melaju. Selain di desa Sintu Temba, pembantaian juga terjadi di Tegalrejo terhadap sekitar 64 KK.
03 Juni 2000
Sabtu 03 Juni 2000, ribuan pengungsi Muslim ditampung di tempat darurat, antara lain Mess Pemda Tk. II Poso, di Kota Parigi, di Kota Ampana dan di perguruan Al-Khairat Palu serta pondok pesantren dan Masjid yang ada di Kota Palu dan Parigi. Massa Kristen telah menguasai kota Poso dan Poso Pesisir dan terus melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan oleh penduduk.
04 Juni 2000
Minggu 04 Juni 2000, Hendra sultan Haji Panyae dibunuh (dipotong) di Kelurahan Moengko Baru di Hotel Kartika. Korban tidur berempat dengan temannya.
05 Juni 2000
Senin 05 Juni 2000, diperkirakan sudah 5000 orang pengungsi meninggalkan Poso menuju Parigi yang berjarak sekitar 250 km dari Poso. Jalur transportasi Poso terputus, satu-satunya jalur yang bisa dilewati transportasi adalah laut. Namun aparat tidak berani menjamin keselamatan tim kemanusiaan termasuk tim medis dan wartawan. Ketika sampai di Parigi, kondisi pengungsi sangat memprihatinkan. Anak balita mereka terserang wabah diare karena sanitasi yang tidak mendukung. Setiap hari rata-rata ada 5 balita yang harus menjalani pengobatan.
Senin 05 Juni 2000, aparat terlibat baku tembak dengan massa perusuh yang mencoba masuk kota lewat Jembatan II. Mereka ditaksir tak kurang dari 60 orang. Karena gagal setelah dipukul mundur aparat mereka kemudian mengalihkan serangan ke Desa Lembomawo. Desa Lembomawo setelah masuk dalam kepungan kelompok merah, dikabarkan banyak penduduknya yang hilang. Juga dilaporkan bahwa Tsanawiyah Alkhairaat Sintuwu Lembo di KM 9 Poso dibakar dan Ustadz Siradjuddin, pimpinan Tsanawiyah itu dibantai oleh massa perusuh tadi.
06 Juni 2000
Selasa 06 Juni 2000 beredar “Buku Putih” Crisis Centre Majelis Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang ditandatangani oleh Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si dan Pdt M Papasi, MTH. Dokumen setebal 24 halaman ini disebarkan kepada berbagai kalangan seperti Presiden dan Wapres RI, pejabat tinggi/tertinggi negara, Komnas HAM, Panglima TNI, Kapolri, serta sejumlah kedutaan negara asing di Jakarta. Isinya sebagian besar menyudutkan umat Islam.

Pdt. Rinaldy Damanik, M.Si
Bentrokan kembali terjadi di Pinggiran Poso (Desa Maleilegi dan Desa Dojo) yang mengakibatkan Desa Maleilegi hangus terbakar, 66 orang tewas, 92 orang luka-luka (warga memperkirakan ada 150 kepala keluarga).
Selasa sore 6 Juni 2000, satu anggota TNI Kopda Pornis PD tewas ditembak Pasukan Merah.
07 Juni 2000
Rabu pagi 7 Juni 2000, di Desa Malei terjadi lagi pertempuran antara Pasukan Merah dengan aparat. Satu anggota Brimob Polda Sulteng Pratu Ratu Arfan tertembak dengan luka cukup parah. Komandan Korem 132/Tadulako Kolonel Hamdan Z. Maulani, mengatakan Kelompok Merah kian aktif menyerang aparat. Kelompok Merah berani melakukan penyerangan kepada aparat dan tampak arogan. Pernyatan ini disampaikan Hamdan di hadapan sejumlah tokoh agama dan masyarakat Sulteng, pada pertemuan dengan Gubernur Sulteng HB Paliudju di Wisma Haji Palu. Tokoh Islam diwakili oleh Sekretaris Jenderal PB Alkhairaat M. Lationo dan Prof. Tjatjo Taha. Sedangkan tokoh Kristen diwakili oleh Drs. Datlin Tamalagi dan Drs. FE. Bungkudapu.
11 Juni 2000
Minggu 11 Juni 2000 Karl Heins Reiche (35) warga negara Jerman yang diduga memprovokasi massa di sejumlah daerah sebelum kerusuhan Poso meletus, ditangkap petugas di salah satu hotel di Tana Toraja. Karl yang saat digerebek kepergok memiliki sejumlah peralatan elektronik canggih itu, tidak bisa memperlihatkan dokumen resmi (visa, paspor dan surat imigrasi lainnya), ia malah mengelabui petugas dengan berpura-pura mau mengambil dokumen imigrasi padahal melarikan diri. Petugas melakukan pengejaran ke Makale Kabupaten Tator, Karl berhasil dibekuk di perbatasan Luwu dengan Tator (12/6). Menurut Kapolwil Pare Pare Kolonel Pol Mardjito, saat diperiksa Karl mengaku sempat mondar-modir di Palopo dan Tator beberapa waktu lalu untuk memprovokasi massa. Karl juga mengaku menjadi provokator di Poso dan Tentena, basis utama kelompok Merah, sebelum kerusuhan Poso meletus. Selain Karl, aparat juga berhasil mengamankan satu dari 2 penduduk lokal yang selama ini bersama Karl memprovokasi massa. Keduanya kini meringkuk di tahanan Polwil Parepare untuk menjalani pemeriksaan intensif. Namun, sehari kemudian keberadaan Karl sulit diketahui, Polwil Parepare terkesan menutup-nutupi keberadaan Karl.
15 Juni 2000
Kamis 15 Juni 2000, sehubungan dengan beredar “Buku Putih” Crisis Centre Majelis Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah), sejumlah 36 Ormas dan OKP Islam mengeluarkan pernyataan bersama untuk meluruskan pernyataan-pernyataan yang termuat di dalam “Buku Putih” tersebut, karena dianggap memutarbalikkan fakta sebenarnya. Pernyatan bersama ini baru dipublikasikan media massa beberapa hari kemudian, yaitu 20 Juni 2000.
Kamis 15 Juni 2000 personil TNI yang tergabung dalam Operasi Cinta Damai di bawah BKO Polda Sulteng di sebuah gereja di Kelurahan Kasiguncu, menemukan 2 pistol rakitan dan 145 peluncur granat, beserta kelewang dan sejumlah tombak.
06 Juli 2000
Kamis 06 Juli 2000, Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro kepada wartawan di Makodam Wirabuana mengungkapkan, dari 29 aparat TNI Kodim Poso yang diperiksa dalam kasus kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah, 7 di antaranya terlibat langsung saat terjadi kerusuhan, antara lain berupa memberikan bahan pangan dan peluru ke kelompok perusuh yang mengakibatkan korban tewas semakin banyak. Menurut Komandan Pomdam Wirabuana Kol. Sudirman Panigoro, ketujuh anggota TNI tersebut terdiri dari 5 bintara dan 2 perwira. Pada kesempatan itu Mayjen TNI Slamet Kirbiantoro juga mengatakan, sampai 6 Juli 2000 data yang diterima sudah 211 korban tewas yang telah ditemukan melalui beberapa kuburan massal. Banyaknya korban yang tewas itu, menandakan benar-benar telah terjadi pembatantan. “Bayangkan, sepanjang 45 KM di Poso semua rumah dan gedung hancur terbakar,” ungkap Pangdam.
13 Juli 2000
Kamis 13 Juli 2000, terjadi pembakaran dan penjarahan secara sporadis di Kecamatan Poso Kota, Kecamatan Lage, dan Poso Pesisir, serta sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Morowali seperti Bungku, terutama pada sejumlah rumah atau bangunan yang ditinggal pemiliknya. Penjarahan juga terjadi di sejumlah kebun yang ditinggalkan pemiliknya, seperti kebun cokelat dan kelapa yang tidak dijaga.

25 Juli 2000
Selasa 25 Juli 2000 sekitar pukul 06.00 Wita, panglima perang kerusuhan Poso Fabianus Tibo ditangkap dalam sebuah operasi intelijen Satgas Cinta Damai yang dipimpin Komandan Batalyon II Kapten (Inf) Agus Firman Yusmono. Tibo diringkus di tempat persembunyiannya di rumah salah seorang warga di Desa Jamur Jaya Kecamatan Lembo (Beteleme), Kabupaten Morowali (Sulteng). Tibo dibawa ke Palu dengan dikawal langsung Komandan Satgas Cinta Damai Kolonel (Inf) Moch Slamet untuk diserahkan ke Polda Sulteng.
31 Juli 2000
Senin 31 Juli 2000, Dominggus Soares warga asal Timor Timur yang merupakan salah seorang dari 10 pimpinan pasukan Kelelawar Hitam (pasukan khusus kelompok merah) ditangkap pasukan Brimob yang dipimpin Kapolres Poso Superintendent Djasman Baso Opu dalam operasi khusus di Desa Beteleme, Kabupaten Morowali (400 km tenggara Palu). Sebelumnya aparat sudah menangkap Guntur (35), Fabianus Tibo (56), Very (34). Pimpinan utama pasukan kelelawar hitam adalah Ir. AL Lateka yang mati terbunuh pada peristiwa 02 Juni 2000.
24 Desember 2000
Minggu 24 Desember 2000, sejak pukul 02.00 dinihari terjadi kontak senjata antara sekelompok penyerang (berjumlah sekitar 20 orang) dengan aparat keamanan, di desa Seppe Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulteng. Kontak senjata yang berlangsung sampai pukul 08.00 itu, menewaskan Juli Tarumba (47) dan Hasan Basira (50) dan 2 orang lainnya mengalami luka berat.
05 Januari 2001
Jum’at 5 Januari 2001 terjadi serentetan penembakan oleh orang tak dikenal, terhadap kerumunan warga Muslim di Pandiri, kampung di sebelah timur Danau Poso.


03 April 2001 (Kasus Poso IV)
Selasa 3 April 2001 pukul 04.00 Subuh Pasukan Merah menyerang dengan kekuatan ratusan orang, masuk melalui kelurahan Sayo, 1 warga Muslim (Rina, 30) tewas dan 1 aparat Brimob Brigadir Dua Polisi Muslimin tewas. Pukul tujuh pagi mereka dipukul mundur oleh aparat dan para Mujahid.
05 April 2001
Kamis 05 April 2001, Tibo (56), Dominggus (45) dan Marinus Riwu (35) menerima vonis mati yang dijatuhkan hakim Soedarmo SH, Ferdinandus dan Ahmad Fauzi. Tibo dkk dituduh melanggar Pasal 340, 187, 351 juncto Pasal 55 dan 64 KUHP. Pada persidangan Tibo menyampaikan surat yang ditulis tangan kepada Majelis Hakim, berisikan tentang sejumlah 16 nama yang selama ini menjadi penyuplai logistik bagi pasukannya selama kerusuhan Poso berlangsung. Menurut Tibo, Yahya Pattiro SH yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah dan Drs Edi Bungkundapu yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulteng, menjadi aktor intelektual dalam rusuh Poso Mei hingga Juni 2000. Selain itu, Tibo juga menyebutkan Tungkanan, Limpadeli, Erik Rombot, Angki Tungkanan sebagai aktor yang berperan dalam kerusuhan Poso.
14 April 2001
Sabtu 14 April 2001, terjadi pembakaran sejumlah rumah ibadah di desa Ronoruncu, tempat ibadah yang dibakar tersebut sudah tidak lagi dihuni.
16 Mei 2001
Rabu 16 Mei 2001, kantor Camat Poso Pesisir dibakar kelompok tak dikenal dan menghanguskan seluruh bangunan serta isi kantor itu.
21 Mei 2001
Senin 21 Mei 2001, terjadi aksi penyerangan sekelompok massa Desa Kasiguncu Kecamatan Poso Pesisir yang mengakibatkan dua orang warga setempat tewas terkena senjata tajam dan lima orang lainnya menghilang.
10 Juni 2001
Minggu 10 Juni 2001, mobil box yang memuat alat-alat elektronik dan sejumlah uang hasil tagihan milik Toko Jaya Teknik Makassar yang diperkirakan ratusan juta rupiah dibakar massa tak dikenal. Akibatnya, Hendra (kernek) dan Ahmad (sales) tewas terpanggang.
20 Juni 2001
Rabu 20 Juni 2001, H. Anto (39) dan Sudirman (35), dua warga Desa Tokorondo, Poso Pesisir, ditembak kelompok berpakaian ninja di Desa Pinedapa, Poso Pesisir.
27 Juni 2001
Rabu 27 Juni 2001, sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan luka berat serta ringan, akibat kontak senjata yang terjadi di sekitar Desa Masani, Desa Tokorondo, Desa Sa’atu dan Desa Pinedapa, Kecamatan Poso Pesisir.
2 Juli 2001
Senin 2 Juli 2001, terjadi bentrokan massa di Malei Lage, Kecamatan Lage, Poso. Akibatnya, 85 rumah dibakar dan satu warga tewas, serta satu rumah ibadah (gereja) terbakar.
03 Juli 2001
Selasa Subuh 03 Juli 2001, pasukan merah membantai sekitar 14 korban terdiri dari kaum wanita dan anak-anak dengan sadis di Dusun Buyungkatedo.
18 Juli 2001
Rabu 18 Juli 2001, sedikitnya dua orang tewas dan delapan luka-luka akibat kontak senjata antara kelompok putih dan kelompok merah di sekitar Desa Pendolo dan Uwelene, Kecamatan Pamona Selatan, daerah perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
24 Juli 2001
Selasa 24 Juli 2001, ratusan warga muslim Poso berunjuk rasa di Markas Polda Sulteng. Unjuk rasa berakhir kacau, setelah bom meledak di samping ruangan Kaditserse Polda.
3 September 2001
Senin 3 September 2002, Rektor Universitas Sintuwu Maroso Poso, Drs Kogego ditembak oleh penembak misterius di Jembatan Poso. Korban mengalami pendarahan serius.
17 September 2001
Senin 17 September 2001, dua warga Desa Betania, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tertembak oleh kawanan penembak misterius: Matius Bejalemba (35), warga Desa Betania mengalami luka tembak di bagian kepala, pinggang sebelah kiri dan lengan sebelah kiri serta Kainuddin Lubangkila (45) yang hanya mengalami luka di bagian perut.
14 Oktober 2001
Minggu 14 Oktober 2001, bus angkutan milik PO Antariksa jurusan Palu-Tentena diberondong tembakan oleh sekelompok orang di ruas jalan di Kecamatan Sausu, Kabupaten Donggala, 150 kilometer arah timur Palu. Akibatnya, seorang perempuan berusia 24 tahun tewas dan sedikitnya enam orang lainnya mengalami luka tembak.
18 Oktober 2001
Kamis 18 Oktober 2001, bus angkutan umum milik Perusahaan Otobus (PO) Primadona, dibakar sekolompok massa tak dikenal di sekitar Kelurahan Kayamanya, Kota Poso. Rompa (34), warga Bungku Barat tewas akibat dianiaya dan tertusuk senjata tajam di bagian perutnya.
23 Oktober 2001
Selasa 23 Oktober 2001, ratusan warga muslim dari Desa Mapane, Kec. Poso Pesisir, membakar puluhan pos polisi. Aksi pembakaran itu dilatar-belakangi adanya penangkapan terhadap 42 warga Poso untuk menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.
31 Oktober 2001
Rabu 31 Oktober 2001, puluhan rumah dan satu gereja di bakar kelompok tak dikenal di Desa Pinedapa dan Kasiguncu, sekitar 20 kilometer arah Barat Kota Poso.
01 November 2001
Kamis 01 November 2001, warga Desa Malitu, Poso Pesisir, tiba-tiba diserang kelompok tak dikenal. Akibatnya, 129 rumah warga habis dibakar dan Nasa (45) terkena tembakan di bagian paha kiri. Selain ratusan rumah terbakar, fasilitas umum juga ikut dibakar, seperti kantor kepala desa, kantor koperasi, gedung taman kanak-kanak, rumah ibadah (gereja), kantor PKK, rumah dinas guru dan kepala sekolah.
08 November 2001
Kamis 08 November 2001, warga Sayo membakar truk bermuatan ikan cekalang basah. Belakangan diketahui mobil itu memang tujuan Tentena, dikawal seorang anggota Brimob. Di dalam mobil truk ditemukan bensin satu jirigen dan beberapa botol aqua berisi bensin.
09 November 2001
Jum’at 09 November 2001, kontak senjata terjadi di sekitar Jembatan Dua, perbatasan Kelurahan Lembomawo dan Sayo, Kecamatan Poso Kota. Akibatnya, seorang warga tewas dan dua lainnya luka-luka. Bersamaan dengan itu, di Kelurahan Sayo juga terjadi pembakaran enam rumah dan barak.
10 November 2001
Sabtu 10 November 2001, terjadi baku tembak antara massa bertikai di dalam kota dan massa dari luar kota Poso. Bentrokan itu menewaskan Yazet (40), dari pihak penyerang dan beberapa orang lainnya terluka.
26 November 2001
Senin 26 November 2001, sekitar pukul 01.00 wita Gereja Bethany Poso, di Jalan Pulau Kalimantan, Sulawesi Tengah, hancur akibat ledakan bom. Sebelum dibom, gereja terlebih dahulu dibakar dengan menggunakan bahan bakar bensin. Tidak ada korban jiwa, karena seluruh warga gereja sebelumnya sudah mengungsi ke Tentena, sekitar 100 kilometer dari Poso.
27 November 2001
Selasa 27 November 2001, terjadi kontak senjata antara dua kelompok bertikai di Desa Betalemba, Kecamatan Poso pesisir, Kabupaten Poso. Walau tidak ada korban jiwa, kontak senjata itu menjadikan Poso kembali tegang.
03 Desember 2001
Senin 03 Desember 2001, ratusan warga Kota Poso mendatangi Markas Kodim 1307, untuk meminta kejelasan keterlibatan anggota TNI dalam penculikan warga Toyado sehari sebelumnya. Menurut warga, anggota TNI menculik delapan warga yang sedang sahur di barak Toyado dan selanjutnya diserahkan ke kelompok merah. Sempat terjadi keributan dengan pihak kepolisian yang menjaga unjuk rasa itu, hingga kemudian terjadi penembakan yang menewaskan Sarifuddin (30), warga Kayamanya dan empat orang lainnya luka.
19 Desember 2001
Rabu 19 Desember 2001, delapan warga Buyung Katedo, Desa Sepe, Kecamatan Lage Poso, diserang orang tak dikenal. Untungnya, kedelapan petani yang sedang memetik buah coklat di kebunnya, itu berhasil menyelamatkan diri.
20 Desember 2001
Kamis 20 Desember 2001, Deklarasi Malino ditandatangani. Kelompok Islam dan Kristen yang bertikai di Poso, Sulawesi Tengah, sepakat untuk berdamai dan menghentikan konflik. Kesepakatan itu diperoleh setelah seluruh pimpinan lapangan dan perwakilan kedua kelompok menandatangani perjanjian damai di Malino, Gowa, Sulawesi Selatan. Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam Dekralasi Malino. Deklarasi dibacakan Menko Kesra Jusuf Kalla selaku mediator. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menandatangi kesepakatan yang terdiri dari sepuluh butir:
01. Menghentikan semua bentuk konflik dan perselisihan.
02. Menaati semua bentuk dan upaya penegakan hukum dan mendukung pemberian sanksi hukum bagi siapa saja yang melanggar.
03. Meminta aparat negara bertindak tegas dan adil untuk menjaga keamanan.
04. Untuk menjaga terciptanya suasana damai menolak memberlakukan keadaan darurat sipil serta campur tangan pihak asing.
05. Menghilangkan seluruh fitnah dan ketidakjujuran terhadap semua pihak dan menegakkan sikap saling menghormati dan memaafkan satu sama lain demi terciptanya kerukunan hidup bersama.
06. Tanah Poso adalah bagian integral dari Indonesia. Karena itu, setiap warga negara memiliki hak untuk hidup, datang dan tinggal secara damai dan menghormati adat istiadat setempat.
07. Semua hak-hak dan kepemilikan harus dikembalikan ke pemiliknya yang sah sebagaimana adanya sebelum konflik dan perselisihan berlangsung.
08. Mengembalikan seluruh pengungsi ke tempat asal masing-masing.
09. Bersama pemerintah melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana ekonomi secara menyeluruh.
10. Menjalankan syariat agama masing-masing dengan cara dan prinsip saling menghormati dan menaati segala aturan yang telah disetujui baik dalam bentuk UU maupun dalam peraturan pemerintah dan ketentuan lainnya.
04 April 2002
Kamis 04 April 2002, dua bom rakitan meledak di daerah Desa Ratulene, Kecamatan Poso Pesisir, tepatnya di Kantor Perusahaan Daerah Air Minum.
28 Mei 2002
Minggu 28 Mei 2002, bom rakitan meledak di tiga lokasi berbeda: di pantai penghibur di Jalan Ahmad Yani, dekat Hotel Wisata, di pasar sentral Poso yang mengakibatkan empat los terbakar dan di pertigaan bekas terminal Poso bom.
05 Juni 2002
Rabu 05 Juni 2002, bom yang diletakan di dalam bus PO Antariksa jurusan Palu-Tentena meledak di sekitar Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir (sekitar 10 kilometer arah Barat jantung Kota Poso). Akibatnya, empat penumpang tewas dan 16 penumpang lainya mengalami luka. Korban tewas adalah Dedy Makawimbang (30) dan Edy Ulin (25) yang tewas di tempat kejadian, sementara Gande Alimbuto (76) dan anaknya, Lastri Oktaffin Alimbuto (19) tewas di RSU Poso.
01 Juli 2002
Senin 01 Juli 2002, bom berkekuatan low explosive meledak di Desa Tagolu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Tidak ada korban akibat ledakan bom itu.
12 Juli 2002
Jum’at 12 Juli 2002, bom berdaya ledak cukup kuat menghantam bus Omega jurusan Palu-Tentena, di Desa Ronoruncu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso dan menewaskan seorang remaja putri, Elfa Suwita Dolia (17), warga Desa Tokilo, Kecamatan Pamona Selatan.
19 Juli 2002
Jum’at 19 Juli 2002, Nyoman Mandiri (26) dan Made Jabir (26), dua warga Kilo Trans, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tewas ditembak penembak misterius saat melintas di jalan raya di Desa Masani.
04 Agustus 2002
Minggu 04 Agustus 2002, kelompok tak dikenal menyerang Desa Matako, Kecamatan Tojo, Kabupaten Poso. Serangan mendadak itu menghanguskan 13 rumah penduduk, membakar dua rumah ibadah (gereja) dan melukai enam warga setempat.
08 Agustus 2002
Kamis 08 Agustus 2002, warga negara Italia, Lorenzo Taddei (34), tewas ditembak orang tak dikenal dalam perjalanan dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan menuju Sulawesi Tengah, di sekitar Desa Mayoa, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso. Penembakan itu juga melukai Heronimus Banculu, 36 tahun yang tertembak di bagian paha kiri, Timotoius Kemba, 52 tahun yang tertembak di bagian lengan kanan, Karingan, 21 tahun, yang tertembak di bagian paha kanan dan Berting, 45 tahun, yang tertembak di bagian kepala bagian kiri.
12 Agustus 2002
Senin 12 Agustus 2002, gerombolan bersenjata menyerang Desa Sepe Silanca dan Batu Gencu di Kecamatan Lage. Akibatnya, Sulaweno, Kania, Omritakada, Salangi dan satu orang lainnya yang belum teridentifikasi tewas dengan sekujur tubuh terbakar. Damai Pangkunah dan Simon Tangea mengalami luka berat tertembak di bagian dada dan paha. Selain itu, ratusan rumah hangus terbakar dan rata dengan tanah.
16 Agustus 2002
Jum’at 16 Agustus 2002, kerusuhan Poso merambah ke Kabupaten Morowali. Terjadi aksi penyerangan oleh kelompok tak dikenal di Desa Mayumba, Kecamatan Mori atas Kabupaten Morowali -138 kilometer dari Poso. Aksi itu menyebabkan 43 rumah warga terbakar dan delapan kios jualan warga ikut musnah. Selain itu, L Petra (67) mengalami luka tembak di bagian paha dan seorang balita, Erik meninggal di pelukan ibunya.
26 Agustus 2002
Senin 26 Agustus 2002, terjadi hampir bersamaan, dua bom meledak di dua tempat dan mengakibatkan seorang polisi, Bripda Pitriadi (21) dan satu warga sipil, nyonya Zainun (22) mengalami luka serius. Bom pertama meledak di Jalan Morotai, Kelurahan Gebang Rejo dan bom kedua meledak di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kasintuwu.
04 Desember 2002
Rabu 04 Desember 2002, Agustinus Baco (57) warga Desa Kawende, Kecamatan Poso Pesisir, meninggal di tempat akibat diterjal peluru.
05 Desember 2002
Kamis 05 Desember 2002, Toni Sango (23) pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Poso, dan Oeter (23) tewas akibat ditembak orang tak dikenal.
26 Desember 2002
Kamis 26 Desember 2002, Kepala Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, M Jabir (52), ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di Jalan Trans Sulawesi menghubungkan Gorontalo-Sulteng-Sulsel akibat tembakan.
02 Juni 2003
Senin 02 Juni 2003, Yefta Barumuju (37) penduduk dusun Kapompa, Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota tewas di tempat setelah ditembak orang tak dikenal. Ia diterjal peluru dibagian dada dan paha kanan. Kawan korban, Darma Kusuma (35) selamat walau rusuk dan lutut kanannya juga terkena timah panas.
07 Agustus 2003
Kamis 07 Agustus 2003, bom rakitan meledak di rumah Aisyah Ali, warga Jalan Pulau Sabang Kelurahan Raya Manya, Kota Poso. Akibatnya, menewaskan Bahtiar alias Manto (20) yang bekerja sebagai nelayan.
11 September 2003
Kamis 11 September 2003, bom berkekuatan cukup besar meledak di tengah kerumunan massa persis di depan kantor Lurah Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir. Lima warga luka-luka.
10 Oktober 2003
Jumat 10 Oktober 2003, bias rusuh Poso terjadi di Desa Beteleme, ibu kota Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali (sekitar 300 kilometer dari Kota Poso). Puluhan orang tak dikenal menyerang desa itu dengan memakai penutup muka ala cadar. Akibatnya, tiga warga sipil: Derina Mbai (48 tahun), Hengky Malito (36 tahun) dan Oster Tarioko (47 tahun) tewas, sementara satu warga lainnya dilarikan ke rumah sakit setempat karena terkena tembakan di bagian kaki. Selain itu, 27 unit rumah terbakar, tiga mobil terbaka dan tujuh sepeda motor terbakar, serta satu unit sepeda motor hilang.
11 Oktober 2003
Sabtu 11 Oktober 2003, sekelompok orang tak dikenal menyerang empat desa: Pantangolemba, Saatu, Pinedapa di Kecamatan Poso Pesisir dan Madale di Kecamatan Poso Kota. Akibatnya, satu warga Desa Pinedapa, Ayub (26) tewas seketika, sementara tujuh korban lainnya belum teridentifikasi. Penyerangan itu juga melukai 14 warga di empat desa itu.
14 Oktober 2003
Selasa 14 Oktober 2003, situasi Poso kembali tegang menyusul sebuah bom rakitan meledak Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, sekitar 12 kilometer dari Kota Poso.
17 Oktober 2003
Jum’at 17 Oktober 2003, kelompok penyerang Poso kembali beraksi. Kawasan Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo, Kecamatan Poso Kota diserang. Akibatnya, satu buah bangunan bengkel kerajinan souvenir kayu ebony ludes terbakar, dapur rumah milik Naufal dibakar, dan kaca depan rumah Anshori yang juga kantor Yayasan Amanah berhamburan di lantai. Tapi, kejadian itu tidak memakan korban jiwa.
11 November 2003
Selasa, 11 November 2003, bom rakitan jenis low explosive meledak di Kota Tentena, ibukota Kecamatan Pamona Utara, wilayah basis pengungsi Kriten Poso. Bom itu meledak di kantor agen Pengangkutan Oto (PO) Bus Omega yang melayani penumpang jurusan Palu-Tentena.
15 November 2003
Sabtu 15 November 2003, polisi menyerbu sebuah rumah yang diperkirakan tempat para tersangka pelaku penyerangan tanggal 11 Oktober 2003. Dari penyerbuan ini menewaskan Hamid.
16 November 2003
Minggu 16 November 2003, ribuan massa mengepung Markas Kepolisian Resor Poso lantaran tidak menerima kematian Hamid (18), warga Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir yang mati ditembak. Selain itu, polisi juga menangkap dua warga Tabalu dan Ratolene lainnya, yaitu Zukri yang kemudian dilepas dan Irwan Bin Rais yang masih ditahan.
17 November 2003
Senin 17 November 2003, tiga orang merusak bus dengan menggunakan linggis dan senjata api rakitan di Desa Kuku, Kecamatan Tamona Utara, Poso.
19 November 2003
Rabu 19 November 2003, belasan orang bersenjata menyerang pos penjagaan aparat di Dusun Taripa, Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir.
26 November 2003
Rabu 26 November 2003, bom rakitan yang berkekuatan rendah meledak di Jalan Pulau Irian, Tanah Runtuh, Poso.
29 November 2003
Sabtu, 29 November 2003, empat nyawa melayang dalam dua kejadian serangan kelompok tidak dikenal berbeda, di Poso. I Made Simson dan I Ketut Sarmon tertembak di Desa Kilo Trans Poso Pesisir, sementara Ruslan Terampi dan Ritin Bodel tewas di Desa Rompi, Ulu Bongka Pesisir Utara.
23 Desember 2003
Selasa 23 Desember 2003, bom berdaya ledak rendah meledak di depan kantor Lurah Lembomawo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso.
26 Desember 2003
Jum’at 26 Desember 2003, terjadi ledakan yang diperkirakan berada di perbatasan Kelurahan Gebang Rejo dan Lembomawo, Kecamatan Poso Kota.
04 Januari 2004
Minggu 04 Jnauari 2004, Kepolisian Resor Poso menemukan tiga bom aktif di Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir.
18 Januari 2004
Minggu 18 Januari 2004, satu bom aktif ditemukan di perbatasan Kelurahan Moengko Lama dan Kayamanya, pinggiran kota Poso.
24 Januari 2004
Sabtu 24 Januari 2004, aparat Kepolisian Resor Poso, Bharada Azis mengalami luka tembak di bagian betis kaki kirinya setelah diberondong tiga orang bercadar di Desa Masani, Kecamatan Poso pesisir.
27 Maret 2004
Selasa 27 Maret 2004, Christian Tanalida (37) tewas terkena aksi penembakan misterius di Kelurahan Kawua, Kota Poso.
30 Maret 2004
Selasa 30 Maret 2004, terjadi aksi penembakan misterius yang menewaskan Dekan Fakultas Hukum Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar) Poso, Rosio Pilongo SH.MH, di Kampus Universitas Sintuwu Maroso Poso.
13 April 2004
Selasa 13 April 2004, sehari menjelang hari Idul Fitri, terjadi ledakan bom yang mengguncang kawasan Pasar Sentral Poso, menewaskan enam warga, meledak di dalam angkutan kota jurusan Poso-Tentena sekitar pukul 09.20 Wita.
17 April 2004
Sabtu 17 April 2004, polisi menemukan 21 bom rakitan di Poso, tersebar di tiga kecamatan, dua diantaranya di kecamatan Poso kota dan Poso pesisir. Bom ditemukan di ditimbun perkebunan coklat yang sekitar rumah penduduk
18 Juli 2004
Minggu 18 Juli 2004, Pendeta Susianti Tinulele ditembak pria tidak dikenal ketika sedang memimpin ibadah di Gereja Efatha di Jalan Banteng, Palu Selatan. Pada kejadian itu, empat jemaat terkena luka akibat berondongan peluru, yakni Farid Melindo (15), Christianto (18), Listiani (15) dan Desri (17). Mereka terluka peluru di bagian lutut, pinggul, dan paha.
13 November 2004
Sabtu 13 November 2004, terjadi ledakan bom yang menewaskan enam orang dan mencederai tiga lainnya.
03 Januari 2005
Senin 03 Jnauari 2005, terjadi ledakan bom di dekat Asrama Brimob dan hanya menimbulkan kerusakan bangunan.
28 April 2005
Kamis 28 April 2005, terjadi ledakan dua bom di Kantor Pusat Rekonsiliasi Konflik dan Perdamaian Poso sekitar pukul 20.00 Wita. Bom kedua meledak di Kantor Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil pukul 22.00 Wita. Tidak ada korban jiwa.
28 Mei 2005
Sabtu pagi 28 Mei 2005, terjadi ledakan bom pada pukul 08.15 Wita di Pasar Tentena dan pukul 08.30 Wita di samping Kantor BRI Unit Tentena, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 70 orang lainnya. Bom rakitan berdaya ledak tinggi itu berisikan potongan paku, menggunakan timer sebagai pemicu, dan batu baterai 1,5 volt yang berfungsi sebagai arus listrik.
29 Oktober 2005
Sabtu 29 Oktober 2005, tiga siswi SMUK GKST Poso ditemukan tewas dengan tubuh dan kepala pisah.
8 November 2005
Dua siswi SMK ditembak orang tak dikenal di depan rumahnya.
30 Desember 2005
Bom meledak di Pasar Maesa, Palu Selatan. Korban tewas 7 orang dan 50 orang luka-luka.
08 Mei 2006
Senin 08 Mei 2006, selepas shubuh empat orang anggota Densus 88 diserang warga Poso, dua sepeda motor mereka dibakar. Keempat orang itu berhasil meloloskan diri dari amuk warga. Saat itu, anggota Densus 88 hendak menangkap seorang warga Kelurahan Lawanga, Kecamatan Poso Kota, Poso, bernama Taufik Bulaga (24 tahun). Penyerangan itu sebagai bentuk ketidaksukaan warga terhadap Densus 88 yang suka seenaknya menangkap orang.
03 Agustus 2006
Kamis 03 Agustus 2006, sekitar pukul 20.45 Wita terjadi ledakan cukup keras di sekitar Kompleks Gedung Olah Raga Poso, Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kasintuwu, Poso.
31 Agustus 2006
Kamis 31 Agustus 2006, Brigadir Jenderal Polisi Oegroseno menyerahkan jabatan Kepala Polda Sulawesi Tengah kepada Komisaris Besar Badrudin Haiti di Mabes Polri. Kepala Polri Jenderal Sutanto selanjutnya menempatkan Oegroseno sebagai Kepala Pusat Informasi dan Pengolahan Data Divisi Telematika Mabes Polri.
22 September 2006
Jum’at 22 September 2006, Tibo dkk dieksekusi mati.

29 September 2006
Jumat siang 29 September 2006, terjadi empat ledakan bom yang disusul pecahnya kerusuhan massa di Taripa, Kecamatan Pamona Timur. Sekitar 500 orang mengamuk dan merusak fasilitas polisi, membakar pos polisi, membakar truk dan mobil patroli aparat keamanan, membakar beberapa sepeda motor, dan melempari helikopter milik kepolisian. Kemarahan massa dipicu kekecewaan karena Kepala Polda Sulawesi Tengah menolak berdialog dengan mereka perihal eksekusi Tibo Cs.
30 September 2006
Sabtu 30 September 2006 sekitar pukul 22:00 WITA, bom meledak di dekat Gereja Maranatha, Kelurahan Kawua. Satu jam kemudian bom meledak di dekat Kantor Camat Poso Kota Selatan di Jalan Tabatoki. Juga terjadi pelemparan granat oleh dua orang tak dikenal terhadap kerumunan orang di Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota.
01 Oktober 2006
Minggu malam 01 Oktober 2006, kelompok berpenutup kepala ala ninja beraksi, menghadang mobil sewaan di rute Parigi-Makassar yang berhenti karena terhalang bangkai sepeda motor. Ninja membacok punggung dan menghantam kepala Jelin, 20 tahun, dengan benda keras dalam insiden di Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso, itu. Penghadangan juga dialami Ebiet, pekerja perusahaan pemasok tabung gas elpiji. Ebiet sempat diculik selama dua hari di Pamona Selatan, sekitar 60 kilometer dari Poso.
16 Oktober 2006
Senin 16 Oktober 2006, Pendeta Irianto Kongkoli Sekretaris Umum (Sekum) Sinode GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) ditembak mati oleh orang tak dikenal di kawasan Jalan Monginsidi, Kelurahan Lolo Selatan, sekitar pukul 08;15 Wita. Ketika itu, korban yang ditemani istri (Iptu Rita Kupa) dan anaknya Gemala Gita Evaria (4) hendak berbelanja bahan bangunan (tegel) di Toko Sinar Sakti. Korban langsung di larikan ke rumah sakit (RS) Bala Keselamatan sekitar 500 meter dari tempat kejadian perkara (TKP), namun jiwanya tidak berhasil diselamatkan. Sementara Ny Rita dan anaknya Gea berhasil lolos dari musibah berdarah itu. Pendeta Irianto Kongkoli direncanakan menggantikan Pendeta Rinaldy Damanik yang mengundurkan sebagai Ketua Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) setelah terpidana mati kasus Poso Tibo cs dieksekusi mati.

18 Oktober 2006
Rabu 18 Oktober 2006, jenazah Pendeta Irianto Kongkoli sekitar pukul 10.00 Wita disemayamkan di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GSKT) Anugerah Masomba yang terletak dibilangan Jln Tanjung Manimbaya. Acara pelepasan dan pemakaman dipimpin langsung oleh Pendeta Isak Pole Msi (Ketua I Majelis Sinode GKST).
21 Oktober 2006
Sabtu 21 Oktober 2006, kerja keras tim penyidik Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Polda Sulteng) dibantu Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri berhasil membawa 11 orang untuk diperiksa sehubungan dengan kasus penembakan Pendeta Irianto Kongkoli.
22-23 Oktober 2006
Minggu 22 Oktober 2006 dan Senin 23 Oktober 2006, terjadi bentrokan antara anggota Brigade Mobil (Brimob) dengan warga Kelurahan Gebangrejo, Kota Poso. Bentrokan pada malam Idul Fitri itu terjadi karena polisi tidak sensitif terhadap umat Islam. Akibatnya, seorang warga tewas, tiga lainnya luka-luka (termasuk seorang anak berusia empat tahun), sebuah mobil polisi dan beberapa sepeda motor terbakar.
27 Oktober 2006
Jum’at 27 Oktober 2006, SBY bertolak ke China melalui bandara Halim Perdana Kusumah.
08 November 2006
Senin 08 November 2006, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mulai mengadili Hasanuddin (34), salah seorang terdakwa pembunuh tiga siswi SMA di Poso yang terjadi 29 Oktober 2005. Tim jaksa yang diketuai Payaman mendakwa Hasanuddin sebagai perencana pembunuhan Alfita Poliwo, Theresia Morangki, dan Yarni Sambue.
14 November 2006
Selasa 14 November 2006, Andi Lalu alias Andi Bocor menyerahkan diri. Setelah diperiksa tiga hari, Andi dilepas.
28 November 2006
Selasa 28 November 2006, Iskandar alias Ateng Marjo dan Nasir, dua di antara 29 orang pada daftar pencarian orang Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, menyerahkan diri ke Kepolisian Resor Poso.
11 Januari 2007
Pada Kamis 11 Januari 2007, sekitar pukul Pukul 06.00 WITA, Densus 88 dan dua SSK Brimob Sulteng menggeledah rumah Basri (DPO) di Jl Pulau Jawa II Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Karena tak menemukan orang yang dicari, aparat melanjutkan pencarian ke rumah Yadit (DPO) yang terletak sekitar 50 meter meter dari rumah Basri. Di rumah Yadit, aparat menemukan Dedi Parshan (DPO) yang sedang tertidur.
Pukul 6.30 WITA, Dedi yang berusaha melarikan diri tewas dengan rentetan tembakan di bagian lengan kanan dan kiri dan terlihat luka tusukan di dada. Sekitar 300 m dari rumah Yadit, tepatnya di pesantren Al Amanah, Tanah Runtuh, ratusan polisi mengepung dan menembak mati ustadz Riansyah di bagian kepala. Sementara ustadz Ibnu yang juga pengajar pesantren Al Amanah, luka tertembak di bagian perut dan punggung.
Penyergapan melibatkan dua tim CRT (Cepat Reaksi Tanggap) Polres Poso, diperkuat dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) anggota Brimob Polda Sulteng. Hasilnya, lima dari 29 warga yang ditetapkan dalam DPO itu ditangkap. Mereka adalah Dedi Parshan (28), Anang Muhtadin alias Papa Enal (40), Upik alias Pagar (22), Paiman alias Sarjono (33), dan Abdul Muis (25). Anang, Upik dan Muis mengalami luka tembak di beberapa bagian tubuh mereka.
Kematian Ustadz Riansyah membuat warga marah. Bripda Dedy Hendra anggota Polmas (Polisi Masyarakat) di Kelurahan Tegal Rejo yang mengendarai sepeda motor seorang diri, melntas di TPU Lawanga saat prosesi pemakanan terhadap Ustadz Riansyah berlangsung. Puluhan pelayat yang masih tersulut emosi akibat kematian Ustadz Riansyah segera melakukan pencegatan. Dedi dihakimi hingga tewas di tempat. Jenazah Bripda Dedy Hendra setelah disemayamkan di Mapolres Poso, diterbangkan ke Bandung (Jawa Barat) pada Jumat pagi (12 Jan 2007) menggunakan pesawat khusus milik Polri.
Sebelumnya, November 2006 lalu, sudah ada tiga dari 29 DPO yang menyerahkan diri. Pada Selasa 14 Nov 2006, Andi Lalu alias Andi Bocor menyerahkan diri. Setelah diperiksa tiga hari, Andi dilepas. Dua pekan kemudian, Selasa 28 Nov 2006 Iskandar alias Ateng Marjo dan Nasir menyerahkan diri ke Kepolisian Resor Poso.
Dengan demikian, sejak November 2006 hingga 11 Januari 2007, sudah ada 8 dari 29 DPO yang berhasil diamankan aparat.
14-15 Januari 2007
Minggu malam (14 Jan 2007) hingga Senin dini hari (15 Jan 2007), terjadi ketegangan antara anggota polisi dengan sekelompok warga. Maka, pengamanan diperketat dengan menyebar pasukan dalam jumlah yang lebih banyak di titik-titik strategis. Belasan anggota polisi bersenjata lengkap disiagakan di ruas-ruas jalan utama dalam kota Poso, padahal pada hari biasanya jumlah anggota polisi yang disiagakan kurang dari lima orang. Selain itu, puluhan kendaraan taktis berisi pasukan bersenjata juga mengintensif patroli dalam kota Poso. Beberapa kendaraan taktis diparkir di ruas-ruas jalan yang dinilai rawan seperti di Jalan Pulau Bali, Pulau Serang, Pulau Irian dan Pulau Sumatera.
15 Januari 2007
Senin sore (15 Jan 2007), aparat keamanan di kota Poso kembali bersitegang dengan sekelompok warga di Jalan Pulau Irian Kelurahan Gebang Rejo. Warga Jalan Pulau Irian mulai terkonsentrasi sejak pukl 15:00 Wita, saat polisi meningkatkan pengamanan dengan mengerahkan beberapa kendaraan taktis ke kawasan tersebut. Sekitar pukul 18:15 Wita, mulai terdengar rentetan letusan senjata api disertai bunyi tiang listrik dipukul-pukul membuat sebahagian warga berlarian menuju arah Jalan Pulau Irian. Suara letusan senjata api dan dentuman tiang listrik terdengar hingga pukul 19:00 Wita, bahkan sesekali terdengar suara ledakan keras yang diduga kuat bersumber dari bom rakitan di sekitar Kelurahan Gebang Rejo dan Kelurahan Kayamanya. Aliran listrik di Jalan Pulau Sumatera sempat padam, sementara warga di Jalan Pulau Irian, Jalan Pulau Jawa dan Jalan Pulau Madura sengaja memadamkan aliran listrik. Sekelompok warga di ketiga jalan yang berada dalam wilayah Kelurahan Gebang Rejo ini juga membuat blokade di ruas jalan dengan menaruh benda-benda keras seperti batu, kayu dan drum. Hingga pukul 22.00 wita suara tembakan belum mereda. Tidak ada korban jiwa.
16 Januari 2007
Hingga Selasa siang (16 Jan 2007), situasi tegang dan mencekam masih terus dirasakan. Penyerangan atas Polres Poso oleh sekelompok waga berlangsung semalam suntuk, menggunakan berbagai jenis senjata api, termasuk bom.
Kapolda Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Drs Badrodin Haiti, mengeluarkan maklumat tertanggal 16 Januari 2007, berisi perintah antara lain melakukan tindakan tegas hingga tembak di tempat kepada siapa pun yang memiliki, menyimpan, atau membawa senpi dan bahan peledak tanpa otoritas yang sah. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP M Kilat, masyarakat yang memiliki, menguasai atau menyimpan senpi, amunisi, serta bahan peledak dengan tanpa hak juga diminta untuk segera menyerahkan kepada aparat berwajib secara sukarela. Dasar dikeluarkannya maklumat tersebut sudah jelas antara lain UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI, UU No 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, UU No 12 Tahun 1952 tentang senjata api dan bahan peledak, Peraturan Polda Sulteng Tahun 2006 tentang batas akhir penyerahan senpi, amunisi dan bahan peledak secara sukarela di wilayah Sulteng.
Maklumat tersebut mendapat kecaman dari Ketua BMMP (Barisan Muda Muslim Poso) Drs Zulkifli Kay, yang menilai maklumat itu terlalu berlebihan. Kay juga mengatakan, maklumat tembak di tempat memberi kesan telah terjadi konflik terbuka dengan eskalasi yang luas, sehingga membuat situasi keamanan di Poso tidak terkendali.
Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Sisno Adiwinoto, sehubungan dengan maklumat tersebut menyatakan, di dalam prosedur Polri tidak dikenal istilah tembak di tempat. Setiap anggota polisi, telah dibekali pengetahuan kapan saatnya dapat menggunakan senjata apinya. Tanpa perintah tembak di tempat, setiap anggota polisi harus tahu kapan tepatnya harus menarik pelatuk senjata apinya. Dengan keluarnya perintah itu, kalau terjadi sesuatu yang berakibat hukum dan harus berhadapan dengan divisi propam, merupakan risiko Kapolda Sulteng.
18 Januari 2007
Kamis pagi tanggal 18 Januari 2007, sebuah bom hampa berdaya ledak rendah meledak di Jalan Pulau Sumbawa Kelurahan Gebang Rejo kota Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Bom meledak sekitar pukul 09:20 Wita di dalam saluran air, tepatnya di belakang Kantor PT Bank Sulteng Cabang Poso atau sekitar 100 meter dari Mapolres Poso dan Pasar Sentral Poso yang terletak di Jalan Pulau Sumatera. Kapolres Poso AKBP Drs Rudi Sufahriadi mengatakan, bom jenis low explosive itu terbuat dari (casing) botol air mineral dengan bahan sulfur dan florat. Pelakunya diduga dari kelompok yang selama ini menjadi buron polisi dengan ciri-ciri rambut gondrong dan berpostur tinggi besar. Tidak ada korban jiwa, hanya sempat membuat kaget sebagian pedagang dan pengunjung di Pasar Sentral Poso. Aktivitas masyarakat secara umum berlangsung normal.
Kamis malam tanggal 18 Januari 2007, terjadi ledakan bom di dua tempat. Ledakan pertama terjadi di Jalan Pulau Aru, Kelurahan Gebangrejo sekitar pukul 18:00 Wita, tepatnya di belakang Gereja Eklesia Poso. Ledakan tersebut sempat membuat warga di sekitar gereja panik meski tidak ada korban jiwa. Ledakan kedua terjadi di Jalan Pulau Sumatera sekitar pukul 22:30 Wita yang berlokasi di depan Pasar Sentral Poso. Lokasi ledakan tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari Mapolres Poso. Ledakan kedua membuat aktivitas jual beli di pasar terganggu. Para penjual dan pembeli memutuskan pulang lebih awal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kedua ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa hanya sempat membuat panik beberapa warga di sekitar lokasi.
20 Januari 2007
Sabtu, 20 Januari 2007 sekitar pukul 13:30 Wita, ditemukan sebuah bom rakitan ukuran panjang sekitar 15 centimeter dengan diameter berkisar lima centimeter, di pinggiran jalan bagian depan Gereja Advent di Kelurahan Kasintuwu, Poso Kota, Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurut Kapolres Poso AKBP Drs Rudi Sufahriadi, bom aktif yang belum meledak dan berada dalam kantong plastik berwarna hitam itu berhasil diamankan petugas Jihandak, dan segera dibawa dengan mobil khusus ke Markas Brimob Polda Sulteng di Kelurahan Moengko untuk diledakkan.
22 Januari 2007
Senin 22 Januari 2007, situasi kota Poso memanas sejak sekitar pukul 08:30 Wita, terdengar suara rentetan tembakan di Jalan Pulau Irian Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Hasilnya, dua warga Poso bernama Paijo (40) dan Kusno (35) mengalami luka tembak karena peluru nyasar akibat peristiwa baku tembak antara pihak kepolisian dan para Daftar Pencarian Orang (DPO) Poso di Jalan Irian, Poso Kota. Paijo yang berprofesi sebagai tukang ojek menderita luka tembak di lengan kiri bagian atas sedangkan Kusno (penjual bakso) mederita luka tembak di kepala bagian atas, keduanya sempat mengalami perawatan di RSUD Poso. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng AKBP M Kilat SH MH, anggota kepolisian Ipda Maslikan menderita luka tembak di bagian paha, dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah.
Bentrokan antara aparat dengan warga yang terjadi 22 Januari 207 sekitar pukul 07.30 WITA hingga 16.00 WITA, berlangsung di beberapa lokasi, yaitu Jalan Pulau Nias, Jalan Pulau Sabang, Jalan Pulau Mentawai di Kelurahan Kayamanya. Di Kelurahan Gebang Rejo tersebar di Jalan Pulau Kalimantan, Pulau Irian, Pulau Seribu, Pulau Seram, dan Pulau Jawa. Serta di perbukitan hutan jati yang berada di perbatasan Kelurahan Gebangrejo dan Desa Lembomawo. Dari bentrokan ini jatuh korban tewas antara lain Ustadz Mahmud, Ustadz Yakub, Ustadz Idrus, dan seorang warga yang akrab disapa Om Gam.
Insiden bakutembak di Jalan Pulau Kalimantan Kelurahan Gebang Rejo mengakibatkan empat anggota Brimob terkena peluru senjata api, seorang di antaranya bernama Bripda Rony Iskandar tewas dengan luka tembak di bagian kepala. Pangkat Ronny dinaikkan menjadi Briptu anumerta. Sedangkan sedangkan korban luka selain Ipda Muslihan, juga Bripda I Wayan Panda (anggota Brimob), Bripda Wahid, Brigadir Dudung Adi (anggota Brimob), Brigadir Kosmas (anggota CRT Mabes Polri). Rony adalah anggota Brimob yang di-BKO di Densus 88 Anti Teror Polda Sulteng. Sedangkan Muslihan adalah anggota Densus 88, dan Bripda Wahid adalah anggota Brimob Sulteng. Menurut Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Muhammad Kilat, Selasa 23 Jan 2007, korban tewas dari kelompok bersenjata berjumlah 13 orang.
Identitas 13 korban tewas itu adalah Tengku Irsan alias Icang, Ridwan alias Duan, Firmansyah alias Firman (Siswa MTs Negeri Poso) luka tembak di bagian perut, Nurgam alias Om Gam (luka tembak di bagian kepala), Idrus Asapa, Toto, Yusuf, Muh Sapri alias Andreas, Aprianto alias Mumin, Hiban, Huma, Sudarsono, dan Ridwan Wahab alias Gunawan, Ustadz Mahmud (luka tembak di kepala).
Dari 13 anggota kelompok bersenjata yang tewas hanya satu orang yang masuk dalam DPO, yaitu Icang. Tengku Firsan alias Icang, diduga aparat sebagai perakit hampir semua bom yang diledakkan di Poso dan Palu. Icang juga diduga aparat terlibat peledakan bom di Pasar Sentral Poso, peledakan bom di Pasar Maesa, Palu, dan penembakan lima anggota Brimob di Ambon pada tahun 2005.
23 Januari 2007
Selasa 23 Januari 2007, menurut Kadiv Humas Polri Irjen Sisno Adiwinoto, tiga orang yang masuk dalam DPO menyerahkan diri. Mereka adalah Iswadi alias Is, Yasin alias Utomo, dan Faizul alias Takub. Sementara itu, sebanyak dua SSK (Satuan Setingkat Kompi) anggota Brimob Kelapa Dua Jakarta dikerahkan ke Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), untuk memperkuat pengamanan di wilayah yang sepekan terakhir kembali memanas. Pasukan elit Polri ini dipimpin Kompol Gatot selaku Kepala Detasemen serta AKP Muhammad Tedjo dan Iptu Iwan masing-masing sebagai Komandan Kompi. Sebelumnya sudah ada sembilan SSK pasukan Brimob kiriman yang di BKO (Bawah Kendali Operasi)-kan di Mapolres Poso. Dengan demikian total seluruh pasukan Brimob BKO di daerah konflik itu sebanyak 11 SSK atau sekitar 1.100 personil. Sedangkan jumlah personil Polisi dan TNI organik maupun nonorganik di Poso, termasuk di Kabupaten Tojo Unauna dan Morowali (daerah pemekaran Poso) berkisar 5.000 orang.
http://umarabduh.blog.com/2011/05/30/jangan-lupakan-poso/

Tungkanan,Boneka Klandester "Tak mau Tau" dengan dua Komandan. TNI sekaligus salibis.

  • Paulus Tungkanan: Saya Lupa Semuanya

    PAULUS Tungkanan seharihari menjabat kepala lingkungan, semacam ketua RT Pria purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir pembantu letnan satu ini kehilangan putranya saat konflik pecah pada April 2000. Rumahnya ikut terbakar ketika desanya, Lombogia, diserbu massa Kelompok Putih.
    Saat itu Paulus juga terkena bacokan di punggungnya. Sejak itu ia harus memakai tongkat jika berjalan. "Kalau jalan jauh, saya juga harus ditemani," ujarnya Kepada Maria Hasugian dari Tempo, yang mewawancarainya via telepon, Jumat pekan lalu.
    Setelah konflik Mei 2000 itu, namanya menghiasi media massa lokal. Panglima Kodam VII/Wirabuana Mayjen Slamet Kirbianto menyebut Paulus sebagai panglima perang Pasukan Merah, menggantikan Ir Advent Lateka yang tewas. Paulus pun masuk daftar 16 nama yang diungkap tiga terpidana mati, Fabianus Tibo, Marianus Riwu, dan Dominggus da Silva, sebagai dalang konflik dari Pasukan Merah. Namun Paulus tak ambil pusing. "Saya tidak menanggapinya. Itu hak mereka," ujarnya dengan suara meninggi. Berikut petikan wawancara itu.
    Sejauh mana keterlibatan Anda dalam konflik pertengahan Mei 2000?
    Saya tidak tahu ada konflik satu, dua. Waktu konflik ketiga nama saya baru disebut. Saya pernah ditangkap. Tapi saya jelaskan saya tidak terlibat. Begitu pensiun dari TNI, saya membuka kebun delapan kilometer dari Poso. Saya berkebun cokelat, kopi, dan kelapa. Saya bikin rumah di belakang kebun di Desa Lage.
    Tapi Anda masuk daftar 16 nama yang memimpin penyerbuan?
    Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Saya tidak kenal Tibo. Orang lain yang kasih daftar nama itu. Saya tidak pusing dengan itu semua. Saya kira itu bohong. Kemarin, Sabtu pekan lalu, saya diperiksa polisi. Sudah empat kali saya diperiksa.
    Apa saja yang Anda jelaskan dalam pemeriksaan?
    Saya tidak tahu soal konflik itu. Dulu sudah saya jelaskan. Saya sempat ditahan. Saya dulu disergap di sini, dipukul dan dibawa ke polisi. Saya sampai sakit waktu diperiksa dan dirawat di rumah sakit.
    Apakah dalam pemeriksaan kemarin Anda dikonfrontir dengan Tibo?
    Tidak pernah dipertemukan dengan Tibo. Lagi pula saya diperiksa di Tentena, di rumah saya, karena saya sakit. Saya juga stres karena anak saya tewas sewaktu konflik.
    Anda disebut sebagai panglima perang Pasukan Merah setelah Ir Advent Lateka tewas?
    Saya tidak tahu konflik sama sekali. Saya sebagai ketua lingkungan satu di Desa Lombogia. Jadi, saya diberi tahu ada rekonsiliasi. Saya pergi tapi saya tidak tahu waktu itu. Saya datang sudah ada Kapolres dan Camat. Tahutahu saya dikepung dan sudah masuk ke halaman Gereja Pniel. Lalu saya dibacok. Setelah itu saya lupa semua.
    Tapi itu terjadi pada April 2000. Sedangkan yang disebut Tibo soal penyerbuan ke kompleks Gereja Katolik Santa Theresia, Desa Kayamaya, dan Pesantren Wali Songo?
    Ya, ya. Tapi saya tidak tahu soal itu.
    Kalau begitu, bagaimana Anda bisa masuk daftar 16 nama itu?
    Saya tidak perlu tahu. Saya tidak butuh dengan itu. Kalau mau tahu, silakan ke polisi. Lihat berita acara pemeriksaan saya di situ.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-3916160
    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Scoop. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
  • Terima Kasih.

Back to top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yudi Mulyana Mantan Pendeta Militan Cirebon

Sejak memeluk Islam, ia ingin bertemu ketiga anaknya yang dibawa pergi keluarganya.

Suara azan Subuh menyayat-nyayat hati Yudi Mulyana, pendeta yang juga staf pengajar agama Kristen di sebuah sekolah dasar di Cirebon, pagi itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia limbung dan roboh.

''Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya pagi itu,'' ujarnya sambil menceritakan kejadian di pengujung Agustus 2008. Padahal, ia memang terbiasa bangun pagi, berbarengan Subuh. Melakukan doa pagi dan membaca Alkitab adalah aktivitas rutinnya membuka hari.

Namun pagi itu, ia seolah lumpuh. Meski panik, ia mencoba tenang. Yudi membuat banyak asumsi untuk menghibur diri. Namun, tak satu pun mampu menolongnya. Hatinya menjadi tenang setelah membuka saluran televisi menyaksikan acara zikir yang dipimpin oleh Ustaz Arifin Ilham. Ia berkomat-kamit mengikuti zikir yang dibacakan jamaah Arifin di layar televisi. ''Tuhan, apa yang terjadi dengan diri saya,'' tuturnya. Kalimat Thayyibah menenteramkannya hingga ia bisa bangkit dan kembali berjalan.

Yudi mencari permakluman bahwa fisiknya terlalu capek. Kuliah S-2 Teologi di sebuah perguruan tinggi di Bandung, sementara dia tinggal di Cirebon, menyita perhatian dan energinya. ''Besok juga sembuh,'' pikirnya kala itu.

Namun, kendati fisiknya sudah segar, ia kembali mengalami peristiwa yang sama keesokan harinya. Bahkan, setiap kali mendengar suara azan, tubuhnya bergetar. Di waktu lain, hatinya gelisah setiap kali menyentuh Alkitab.Pada pekan yang sama, ia menemui Ustaz Nudzom, putra ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Cirebon. Ia menceritakan pengalamannya. Komentar Nudzom saat itu, ''Anda mendapat hidayah.''Mendengar jawaban itu, hati Yudi berontak. ''Tuhan, saya tak ingin menjadi Muslim,'' ujarnya.

Bersyahadat

Pengalaman di ujung fajar itu selalu menghantui pikiran Yudi. Ia makin merasa tak nyaman berada di gereja. Anehnya, hatinya menjadi adem saat melintas di depan masjid atau secara diam-diam masuk ke area masjid. Puncaknya, tanggal 7 Agustus 2008 saat sedang mengajar, ia mendengar suara azan seolah berkumandang di telinganya. ''Timbul keinginan yang kuat dari dalam diri saya untuk membaca syahadat,'' ujarnya.

Ia segera menemui Dra Hj Sri Hayatun, kepala sekolah tempatnya mengajar. Sri keheranan dengan sikap Yudi. Di Cirebon, ia dikenal sebagai guru dan pendeta militan. Sepak terjangnya selama ini membuat ratusan Muslim sukses dimurtadkan (keluar dari Islam). Dia kemudian diantar ke Kantor Departemen Agama Kota Cirebon. Bahkan, salah seorang pejabat di kantor itu menyarankannya untuk pulang dan berpikir sungguh-sungguh. ''Berpindah keyakinan bukan perkara main-main,'' kata pejabat Depag tersebut sebagaimana ditirukan Yudi.

Namun, tekadnya sudah bulat. Bahkan, telepon mamanya yang meminta Yudi untuk mengurungkan niatnya, diabaikannya. ''Meski saya menjadi Muslim, saya tetap akan menjadi anak mama,'' jelasnya kepada perempuan yang melahirkannya di ujung telepon.

Maka siang itu, dibimbing oleh KH Mahfud, ia bersyahadat. Dan, berita pendeta menjadi Muslim segera tersebar ke seantero kota. Saat pulang, ia menjumpai rumahnya sudah kosong. Istrinya yang mendengar kabar itu segera mengungsikan diri dan anak-anaknya ke Indramayu. Surat cerai dilayangkan dua bulan kemudian.

Lima Hal

''Saya melakukan pencarian teologis setelah saya bersyahadat,'' kata Yudi. Ia memulai dengan pertanyaan, Apakah ajaran semua agama sama? Kalau sama, harus jelas di mana persamaannya dan pasti. Kalau ada yang berbeda, juga harus jelas perbedaannya.

Dari hasil penelusurannya, sedikitnya Yudi menemukan ada lima persamaan ajaran agama-agama besar, yaitu harus menyembah Tuhan; mengenal konsep dosa; hidup adalah mencari jalan ke surga; harus berbuat baik; dan ada kehidupan setelah kematian. Setelah diteliti lagi, kata dia, ternyata hanya temanya saja yang sama, tetapi ajaran dan konsepnya berbeda.

''Saya mulai bertanya, jadi Tuhan itu satu atau banyak?'' ujarnya. Maka, ia mempersempit persoalan, hanya tentang konsep keesaan Tuhan dan soal pengampunan dosa. Ajaran Islam dan Kristen tentang kedua hal itu pun dipersandingkan.Dalam Kristen, Adam dan Hawa yang terusir dari surga meninggalkan dosa warisan bagi anak cucunya. ''Berarti proses pengampunan Tuhan tidak tuntas,'' ujarnya. Padahal, Tuhan tentulah bukan pendendam seperti sifat makhluk-Nya.

Dalam Islam, ia menemukan hal yang beda. Manusia terlahir dalam kondisi fitrah. Dia menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.Ia juga dibuat terkagum-kagum dengan asmaul husna . ''Tuhan itu satu, tapi Dia mempunyai 99 nama yang melambangkan sifat-Nya,'' ujarnya.'Perilaku Tuhan' dalam Islam, kata dia, melambangkan nama-nama itu. '' Kenapa Allah menghukum, karena dia mempunyai sifat Adil. Namun, Dia juga pemaaf Ghafurjuga rahman dan rahim,'' tambahnya.Ia makin yakin dengan pilihannya. ''Hanya Islam yang konsep ketuhanannya bisa dipahami secara rasional,'' ujarnya.

Giat berdakwah

Kini, hari-hari Yudi Mulyana diwarnai dengan berbagai kesibukan dakwah. Dia memberi testimoni dalam dakwahnya ke berbagai kota di Indonesia. Saat Republika menemuinya di Jakarta, Yudi baru beberapa hari pulang umrah. Sebelumnya, ia selama seminggu berada di Provinsi Riau.''Saya ingin menebus dosa-dosa saya telah memurtadkan sekian banyak orang dengan menjadi pendakwah,'' ujarnya.

Ia menyebarkan pesan-pesan Islam kepada siapa saja yang ditemuinya. ''Saya selalu bilang, Anda semua beruntung menjadi Muslim sejak awal. Islam itu agama agung yang ajarannya sangat masuk akal.''Dia mencontohkan dirinya, yang harus kehilangan keluarga karena pilihannya menjadi Muslim. Bukan perkara mudah, karena selama lebih dari 10 tahun perkawinannya, tak pernah ada gejolak dalam rumah tangganya. ''Kami keluarga yang hangat,'' ujarnya.

Yudi selalu berkaca-kaca kalau menceritakan anak-anaknya. Dia dan anak-anaknya kini dipisahkan. Meski kini dia telah memiliki keluarga baruia menikah dengan seorang Muslimah asal Cirebonkerinduan pada buah hatinya tak pernah pupus.Ada satu mimpinya, Yudi ingin menjadi imam shalat bagi ketiga buah hatinya. ''Saya ingin sekali ketemu mereka dalam Islam,'' ujarnya terbata-bata.

Mengkristenkan Orang dalam 1,5 Jam

Yudi Mulyana termenung sejenak ketika ditanya orang Islam yang berhasil dimurtadkannya. ''Sudah tak terhitung jumlahnya,'' jelasnya. Apalagi, mereka yang berhasil dimurtadkan itu biasanya juga aktif melakukan pemurtadan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebelum menempuh pendidikan S-2, aku Yudi, metode yang dikembangkan untuk memurtadkan orang masih menggunakan metode konvensional. ''Bersahabat, membantu, lalu diajak masuk Kristen. Itu cara yang sudah sangat kuno,'' ujarnya.

Ia dan rekan-rekannya kemudian mengembangkan sistem baru untuk menarik jamaah. Caranya adalah dengan 'masuk' ke alam pikiran orang yang bersangkutan, mengguncangkan keimanannya, dan mengajaknya kepada cahaya, agama baru yang dibawanya.

Secara khusus, Yudi mendalami dan mengembangkan teori untuk menarik remaja dan anak-anak berpindah keyakinan. Untuk anak SD, misalnya, ada metode yang disebutnya 'Buku Tanpa Kata'. Dalam buku itu, hanya ada lima warna yang menyimbolkan keyakinan. Sampai di satu titik, sang anak akan dibimbing pada satu warna yang merujuk pada agama yang ditawarkannya. Dan, hanya dalam waktu singkat, ia berhasil memurtadkan anak-anak itu. ''Hanya dalam 1,5 jam saja, mereka sudah siap untuk meninggalkan agama lamanya,'' jelasnya.

Bersama komunitasnya, Yudi aktif mengembangkan metode-metode baru Kristenisasi. Motode ini lahir dari beragam praktik yang dilakukan di lapangan. ''Secara berkala kami berkumpul untuk melakukan evaluasi.''Demi mengemban misi 'menggarap' anak-anak pula, Yudi rela untuk menjadi pegawai negeri dan mengajar di sekolah dasar. ''Sungguh, awalnya saya stres mengajar anak-anak. Biasanya saya mengajar mahasiswa dan para misionaris dewasa,'' tambahnya.

Namun, Yudi dinilai sukses mengemban misi itu. Anak-anak yang berhasil dimurtadkannya, disiapkan untuk menjadi misionaris kecil. Biasanya, begitu masuk kelas 4 SD, mereka diberi materi-materi dasar. ''Begitu mereka kelas 5 dan 6 SD, mereka mulai militan. Mereka sudah bisa menarik teman-teman sebayanya untuk pindah agama,'' jelasnya.

Ia saat itu meyakini, tugas menyebarkan agama bukan hanya tugas rohaniawan, tapi juga seluruh jamaah. ''Jadi, yang awam pun harus dimobilisasi untuk menjadi penyebar agama,'' jelasnya.Dasar pemikirannya, kata Yudi, sederhana saja, yaitu bahwa seekor domba itu hanya akan lahir dari domba juga, bukan gajah atau yang lain. ''Jadi, yang bisa mengajak seseorang kepada iman yang kami yakini saat itu, ya orang dari komunitas itu,'' katanya.

Maka, selain anak-anak SD, ia juga mengader tukang becak, buruh pabrik, hingga karyawan. ''Merekalah yang nantinya akan menjadi penyeru di lingkungan mereka,'' tambahnya.Ia juga menemukan sendiri metode yang disebutnya 'aliran hidayah'. Intinya, setiap hari ia mewajibkan dirinya untuk bercerita tentang ajaran agamanya saat itu. Perkara orang yang diajak bercerita itu berpindah agama atau tidak, biarkan hidayah yang bicara. ''Dalam satu hari, saya harus menyiarkan syalom minimal pada satu orang,'' ujarnya.

Setiap Muslim itu dai

Kini, setelah menjadi Muslim, metode yang ditemukannya itu pun digunakannya. Dalam sehari, minimal ia berdakwah pada satu orang. ''Kata ajaran agama kita, sampaikan walau hanya satu ayat,'' ujarnya mengutip hadis Nabi SAW.Menurutnya, tak harus menjadi dai untuk bisa mendakwahkan Islam. Setiap Muslim, kata dia, bisa menjadi penyeru (dai). ''Setiap Muslim adalah misionaris bagi agamanya,'' ujarnya.

Ia mengkritik lemahnya umat Islam dalam soal ini. Semestinya, setiap Muslim menjadi public relation bagi agamanya, karena sesungguhnya hanya Islam-lah agama yang konsep ketuhanannya bisa dipertanggungjawabkan, bahkan secara rasional. ''Jangan hanya karena yang lain dan dengan alasan menegakkan toleransi, mereka justru mendangkalkan akidahnya sendiri,'' ujarnya.

www.mualaf.com
aku terbangun di pagi hari
aku mencium bau serigala
aku menengok kesana kemari
karena mungkin saja
ada hewan peliharaan tetannga masuk.
tapi ternyata hanya ada diriku
aku lalu bergegas ke kamar mandi
aku melepas bajuku
kucium bau masam
kulepas celana dalamku
kucium bau oli, kapur dan sedikit bau amis
kurasakan udara tanpa terhalangi kain
aku mengambil gayung kucium harum sabun dan air
kuambil handuk
bergegas ke kamar tidur
kukenakan bajuku
kucium bau kamper
lalu aku duduk di depan komputer
bermain internet
aku menemukan kisah nabi Musa meminta kepada Allah
supaya terlihat di gunung sinai
gunung sinaipun hancur
dan Nabi Musa Pingsan

Muallaf Poso

DIAWALI OLEH SATU ORANG, NABI ADAM A.S., DIAWALI OLEH SATU ORANG NABI MUHAMMAD S.A.W.
KAMI CEMBURU KAMI BEKERJA UNTUK MEMPERBAIKI AKHLAK,KAMI CEMBURU KAMI BEKERJA UNTUK MEMPERBAIKI AKHLAK,KAMI CEMBURU KAMI BEKERJA UNTUK MEMPERBAIKI AKHLAK.

TAK ADA SATUPUN YANG DAPAT MENGUBAH SESUATU KECUALI HIDAYAH DARI ALLAH.

Video film Kerusuhan Sampit

Jika Islam Berkuasa maka kedamaian yang terwujud, jika kafir yang berkuasa maka kita akan menjadi objek blood sport dan syahwat


Alhamdulillah, 130 Pasang Mualaf Suku Dayak Nikah Massal

Kamis, 21 Februari 2013, 13:50 WIB


onislam.net
Pernikahan yang dilakukan secara Islam.
Pernikahan yang dilakukan secara Islam.
REPUBLIKA.CO.ID, Ponpes As-Salam Kutai Barat pada Ahad (10/2) lalu menikahkan sekitar 130 pasang mualaf dari suku dayak. Menaungi para mualaf dan memberikan kondisi yang baik, menjadi manfaat acara tersebut.

Ustadz Fadlan Garamatan yang ikut diundang dalam acara tersebut menanggapi program tersebut dengan positif. Ustadz asal Papua ini memang selalu memperhatikan kondisi muallaf di Indonesia.

"Ini kerja sama karena berkaitan dengan perkembangan muallaf. Karakter Dayak mirip Irian, kita ingin menciptakan kondisi yang baik. Nikah massal banyk memberi manfaat karena itu kan mereka orang tidak punya," ujarnya saat dihubungi Republika Online.

Menurutnya, mualaf Dayak memiliki potensi yang besar. Namun sayangnya, mereka belum mendapat perhatian serius. "Banyak, tapi kita kurang mengurus. Jangankan di Dayak, di Jakarta saja kita tidak pernah mengurus," tuturnya.

Perhatian kepada mualaf, lanjut ustaz, sama halnya seperti kepada yatim piatu. Namun selama ini, zakat, infak, sedekah muslimin terfokus pada yatim piatu saja.

"Mualaf, ketika dia masuk Islam, diasingkan bahkan diancam keluarga, ini lebih dari yatim piatu. Mereka dihina, diusir. Padahal potensi mualaf di Indonesia itu banyak, apalagi muallaf biasanya lebih menguasai agama daripada muslimin biasa," ujarnya.

Kedepan, Ustaz Fadlan berencana membuat Himpunan Pembinaan Mualaf Indonesia. Saat ini tengah dirumuskan untuk segera menjalankan tugas menaungi para mualaf.


Video Film Klip Sekedar untuk melepaskan stress sebelum melanjutkan Topik Berikutnya -_-

Ayoo kita Pindah ke Dusun

Ayo kita bergabung bersama para Imam seperti JI, DI, FPI,LDII, Persis dan tetap menetap di kota anda tinggal sebelumnya. bagi yang ragu ragu terhadap semua kelompok diatas mari kita pindah menuju dusun.

Saya berlindung kepada Allah dari Godaan Setan yang terkutuk.

waktunya sudah dekat, coba pahami QS. Al Kahfi 10 ayat pertama dengan teliti. Alangkah baiknya jika keluarga pindah ke Desa/Dusun.

Iluminati hanya sanggup mengirimkan SMS saja jika anda pindah ke dusun, tetapi mereka tidak punya barang Real yang dapat menggoda anda kecuali anda berada di tengah kota. jika semuanya sudah pada tingkat yang parah di Kota kita bisa menyelamatkan setidaknya diri sendiri dan keluarga di Dusun.

bagi anda yang berada di Jabar anda bisa Pindah ke Dusun yang berada di gunung, atau Dusun AerDjeruk

bagi anda yang memiliki modal yang cukup, anda dan keluarga bisa Pindah ke Mekah atau Madinah.

AKAN MUNCUL DAI-DAI YANG MENYERU KE NERAKA JAHANNAM

Oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali


Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata : “Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku”
Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam,-pent) ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?”
Beliau berkata : “Ya”
Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?”
Beliau menjawab : “Ya, tetapi didalamnya ada asap”.
Aku bertanya : “Apa asapnya itu ?”
Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya”
Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?”
Beliau menjawab :”Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka”
Aku bertanya : “Ya Rasulullah, sebutkan cirri-ciri mereka kepada kami ?”
Beliau menjawab : “Mereka dari kulit-kulit/golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita”
Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini”
Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka”
Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak imam dan jama’ah kaum muslimin?”
Beliau menjawab :”Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya :

[1]. Dari jalan Walid bin Muslim (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Ibnu Jabir (dia berkata) : Menceritakan kepada kami Bisr bin Ubeidillah Al-Hadromy hanya dia pernah mendengar Abu Idris Al-Khaoulani dari Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu …….[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

[2]. Dari jalan Waki’ dari Sufyan dari ‘Atho’ bin Saib dari Abi Al-Bukhari dia berkata : Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata ….. [HR Ahmad dalam musnad 5/399]

[3]. Dari jalan Abi Mughiroh (dia berkata) menceritakan kepada kami Assafar bin Nusair Al-Azdi dan selainnya dari Hudzaifah bin Al-Yaman, beliau berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu dalam keburukan lalu Allah menghilangkannya dan mendatangkan kebaikan melalui anda. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?”. Beliau berkata : “Ya”. Hudzaifah bertanya lagi : “Apa kejelekan tersebut?” Beliau menjawab : “Akan muncul banyak fitnah seperti malam yang gelap gulita, sebagaimana mengikuti yang lainnya dan akan datang kepada kalian hal-hal yang samar-samar seperti wajah-wajah sapi yang kalian tak mengetahuinya” [HR Ahmad 5/391]

SYARH HADITS
[A]. Mengenal Jalan Orang-Orang Yang Tersesat Merupakan Kewajiban Dalam Syariat.
Ketahuilah -semoga Allah memberkahi anda- sesungguhnya metode Ar-Rabbani (Islam) yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menampilkan generasi pertama yaitu shabat dan para tabi’in (sesungguhnya bertujuan) untuk mejelaskan jalan kebenaran dan agar diikuti.

Allah berfirman.

“Artinya : Barangsiapa yang menyelisihi Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman maka kami palingkan dia kemana dia berpaling dan kami akan memasukkannya kedalam neraka jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa : 116]

Akan tetapi (metode Islam ini) tidak cukup hanya mejelaskan jalan kebenaran saja bahkan menyingkap kebatilan dan mengungkap kepalsuannya agar jelas dan terang jalan orang-orang yang tersesat (lalu dijauhi dan ditinggalkan,-pent).

Allah ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Qur’an, supaya jelas jalan orang-orang yang benar dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang tersesat” [Al-An’am : 55]

Seorang penyair berkata.

“Aku mengenal keburukan bukan untuk keburukan akan tetapi untuk menjauhinya”

“Dan barangsiapa yang tidak mengenal kebaikan dari keburukan dia akan terjerumus kedalam keburukan itu”.

[B]. Islam Terancam Dari Dalam
Sesungguhnya musuh-musuh Allah terus mengintai Islam hingga ketika mereka telah melihat penyakit whan (cinta dunia dan takut mati) telah menjalar dalam tubuh kaum muslimin dan penyakit-penyakit yang lain sudah menyebar mereka langsung menyerang dan menyumbat nafas kaum muslimin.

Sesungguhnya racun-racun berbisa yang membinasakan dan menghancurkan kekuatan kaum muslimin serta melemahkan gerak mereka bukanlah pedang-pedang orang-orang kafir yang berkumpul untuk membuat makar terhadap Islam. Akan tetapi kuman-kuman yang busuk yang menyelinap didalam tubuh kaum muslimin yang lambat tapi pasti (itulah yang menyebabkan kebinasaan). Itulah asap yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Hudzaifah diatas : “suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku dan memberikan petunjuk bukan dari petunjukku …..” Didalam ucapan beliau ini ada hal-hal penting diantaranya.

[1]. Sesungguhnya asap itu merupakan penyimpangan yang selalu membuat kabur ajaran Islam (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang terang benderang malamnya bagaikan siangnya.

[2]. Yang nampak pada saat terjadinya hal ini adalah kebaikan akan tetapi dalamnya terdapat hal-hal yang membinasakan. Bukanlah dalam riwayat Muslim Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan muncul manusia-manusia yang berhati setan”.

[3]. Asap ini terus tumbuh dan menguasai hingga kejelekan itu merajalela serta merupakan awal munculnya dai-dai penyesat dan kelompok-kelompok sempalan.

[4]. Sesungguhnya yang meniup asap tersebut adalah para dai-dai penyesat. Dan ini menunjukkan bahwa rencana busuk untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin telah mengakar kuat dalam sejarah Islam.

[5]. Sesungguhnya gembong-gembong kesesatan selain giat dalam menyesatkan. Akan tetapi (sebagian) pemegang kebenaran lalai dan tertidur hingga asap tersebut menguasai dan merajalela serta menutupi kebenaran. Dari sini kita ketahui bahwa asap yang menyelimuti kebenaran dan mengkotori kejernihannya adalah bid’ah-bid’ah yang ditebarkan oleh Mu’tazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Khowarij, Asy’ariyah, Murji’ah dan Syi’ah Rofidhoh sejak berabad-abd lamanya.

Oleh karena inilah umat Islam mejadi terbelakang dan menjadi santapan bagi setiap musuh serta menyebarnya kebatilan. Dan dengan sebab inilah setiap munafik berbicara dengan mengatas namakan Islam. Dari sini kita mengetahui bahwa bahaya bid’ah lebih besar daripada musuh-musuh yang lainnya (orang-orang kafir), karena bid’ah merusak hati dan badan tapi musuh-musuh tersebut hanya merusak badan. Para salaf telah bersepakat akan kewajiban memerangi ahli bid’ah dan menghajr (memboikot) mereka. Imam Dzahabi mengatakan : “Para salaf sering mentahdzir ahli bid’ah, mereka mengatakan : Sesungguhnya hati-hati ini lemah sedangkan syubhat (dari ahli bid’ah itu) cepat mencengkram”.

[C]. Hati-Hati Antek-Antek Yahudi !!!
Sesungguhnya para gembong-gembong kekafiran telah memproduksi antek-anteknya dalam negeri kaum muslimin dua cara.

[1]. Pengiriman para pelajar ke negeri kafir (seperti di Cihicago Univerity,-pent) yang disanalah para pelajar kaum muslimin di cuci otak-otak mereka lalu jika mereka pulang mereka sebarkan racun-racun itu kepada kaum muslimin.

[2. Dengan menyelinapnya para orientalis dibawah simbol-simbol penelitian ilmiah. Sesunggunya para orientalis-orientalis itu merupakan antek-antek/tangan-tangan Yahudi dan Nashrani.

Di dalam hadits Hudzaifah ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ciri mereka, beliau bersabda :

“Akan muncul dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam, barangsiapa yang menerima seruan mereka maka mereka akan menjerumuskannya ke dalam jahannam”. Hudzaifah bertanya : “Wahai Rasululah sebutkan cirri mereka ?” Rasulullah menjawab : “Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita”.

[a]. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fathul Baari 13/36 : “Yaitu dari kaum kita dan yang berbicara dengan bahasa kita serta dari agama kita. Didalamnya ada isyarat bahwa mereka itu dari Arab”.

[b]. Ad-Dawudi berkata : “Mereka itu dari keturunan Adam”.

[c]. Al-Qoobisy berkata : Maknanya, secara dhohir mereka itu dari agama kita tapi secara batin mereka menyelisihi (agama kita)”.

Mereka menampakkan kesungguhan dalam memberi solusi, dan maslahat bagi umat. Tapi mereka menipu umat dengan gaya bahasa mereka, dan hati-hati mereka menginginkan untuk menjalankan misi-misi tuan-tuan mereka dari kalangan Kristen dan Yahudi. Allah berfirman.

“Artinya : Tidak akan ridho orang-orang Yahudi dan Narani hingga kalian mengikuti agama mereka” [Al-Baqarah : 120]

Diantara mereka adalah Thoha Husein (dari Mesir, pent) yang dijuluki oleh tuan-tuannya sebagai pujangga Arab. Orang ini mengatakan bahwa syair orang-orang jahiliyah itu lebih baik kesasteraannya daripada Al-Qur’an. Inilah pemikiran Marjilius seorang orientalis Yahudi yang diadopsi oleh Thoha Husein dan dipropagandakannya. Contoh-contoh seperti ini banyak sekali, mereka turun temurun dari waktu ke waktu di setiap tempat.

[D]. Siapa Jama’ah Kaum Muslimin ?
Setelah melihat kenyataan yang pahit dan getir ini, mulailah sebagian kaum muslimin bangkit, setiap kelompok dari kaum muslimin melihat realita ini dari kaca mata tersendiri, kelompok yang lain juga demikian. Oleh karena itulah bisa dikatakan bahwa kelompok-kelompok yang ada sekarang ini yang katanya berjuang atau berdakwah, mereka itu saling berselisih dalam metode dan cara berdakwah. Dan perselisihan yang paling parah yang menghalangi persatuan mereka adalah dua hal :

[1]. Peselisihan mereka dalam pengambilan sumber ilmu dan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.
[2]. Ketidakmengertian mereka tentang diri mereka sendiri, sehingga pada saat ini kita sering menyaksikan bahwa hizbiyyah dan fanatik golongan ini masih menyumbat akal pikiran para dai-dai yang turun di medan dakwah. Mereka membanggakan diri mereka sendiri dan meremehkan yang lainnya. Sebagiannya menganggap bahwa kelompoknya itulah yang dinamakan jama’ah kaum muslimin dan pendirinya adalah imam kaum muslimin yang wajib di bai’at atau disumpah setia. Dan sebagiannya lagi mengkafirkan kaum muslimin. Sebenarnya mereka hanya jama’ah atau kelompok-kleompok kaum muslimin, karena kaum muslimin sekarang tidak memiliki jama’ah ataupun imam/pemimpin.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa jama’ah kaum muslimin adalah (Negara Islam) yang bersatu atau berkumpul didalamnya seluruh kaum muslimin. Mereka hanya punya satu imam/pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah dan wajib untuk di taati serta diba’iat.

[E] Tinggalkan Kelompok-Kelompok Sempalan Itu
Hadits Hudzaifah diatas memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan semua kelompok-kelompok sesat ketika terjadi fitnah dan kejelekan serta disaat tidak ada jama’ah kaum musilimin dan imam mereka.

Kelompok-kelompok sempalan ini yang menyeru manusia kepada kesesatan, bersatu diatas kemungkaran dan diatas hawa nafsu atau berkumpul diatas pemikiran-pemikiran kufur seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, demokrasi atau bersatu berdasarkan fanatik golongan dan lain sebagainya.

Inilah kelompok-kelompok sesat yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Hudziafah untuk ditinggalkan dan dijauhi karena menjerumuskan manusia ke dalam neraka jahanam dengan sebab ajaran mereka yang bukan dari Islam.

Adapun kelompok yang menyeru kepada Islam (yang benar), memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar maka inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti dan ditolong. Allah ta’ala berfirman.

“Artinya : Hendaklah ada diantara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali-Imran : 104]

[E]. Jalan Keluar Dari Problematika Umat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Hudzaifah untuk meninggalkan semua kelompok sempalan yang menyeru ke neraka jahannam meskipun sampai menggigit akar pohon hingga ajal menjemput. Adapun penjelasannya, maka sebagai berikut :

[1]. Ini adalah perintah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Dan barangsiapa yang hidup diantara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak sekali, maka berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama karena itu kesesatan. Dan barangsiapa diantara kalian yang mendapatkan hal ini maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa ‘ar-rasyidin, gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian”. [HR Abu Dawud (4607). Tirmidzi (2676) dan Ibnu Majah (440) dan selain mereka]

Didalam hadits Hudzaifah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menggigit akar pohon ketika terjadi perpecahan sambil menjauhi semua kelompok sesat. Dan didalam hadits Al-Irbadh beliau memerintahkan untuk berpegang teguh dengan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih radhiyallahu anhum, ketika munculnya kelompok-kelomok sesat dan ketika tidak adanya jama’ah kaum muslimin serta imam mereka.

[2]. Sesungguhnya perintah untuk menggigit akar pohon dalam hadits Hudzaifah maknanya adalah istiqomah atau tetap dalam sabar dalam memegang kebenaran dan dalam meninggalkan semua kelompok sesat yang menyelisihi kebenaran. Atau maknanya bahwa pohon Islam akan diguncang dengan angin kencang hingga merontokkan semua ranting dan cabangnya, tidak ada yang tersisa melainkan akarnya yang masih tegar. Karena itulah wajib bagi setiap muslim untuk memegang erat akar tersebut dan mengorbankan semua yang berharga dalam dirinya karena akar tersebut akan tumbuh dan tegar kembali.

[3]. Ketika itu juga wajib bagi setiap muslim untuk menolong dan membantu kelompok (yang berpegang teguh dengan sunnah tersebut, -pent) dari setiap fitnah yang mengancam. Karena kelompok ini yang selalu tampak diatas kebenaran hingga akhirnya mereka membunuh Dajjal.

[Ringkasan darp kitab Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin]

[Disalin dari majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi 13 Th. III Shafar 1426H/ April 2005M, hal. 22-26. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad. Jl. Sultan Iskandar Muda No. 45 Surabaya]

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/fimages/Kulub_Sampeu__Singkong.jpg

dan anda bisa menghindar dari kemudharatan seperti : Diskotik Bioskop, kekeringan, Hypermarket, Borjuisme, Miras dan propaganda deprograming Iluminati lainnya.



Who is the Begining?, Muhammad Nurrohmah!
Who is the Begining?, Muhammad Nurrohmah!
Who is the Begining?, Muhammad Nurrohmah!
We Are The Fifth Wold!
when the lower exist then the Highest exist, the highest cannot created by the lower.

when the lower exist then the Highest exist, the highest cannot created by the lower.

Video Film Mujahid sedang menyembelih Murtad. Allahu Akbar, Alllahu Akbar, Allahu Akbar.

Ajak anak - anak anda untuk Shaum Sunnah

Video Film penting untuk menanamkan Jiwa Militan kepada Muslim

Sebelum banyak terjadi Ethnic Cleansing terhadap umat Islam di seluruh belahan dunia, kami umat Islam sudah mengikuti apa yang diinginkan Sekuleris, lalu lihatlah imbalan karena mengikuti apa keinginan Sekuleris pada Video diatas. Percayalah Kepada Alqaeda, Taliban, FPI, dan NII. apakah anda masih percaya kepada "Ordo Secolrum" yang dipimpin oleh para Penyair yang tak tahu menahu apa itu tipuan, tetapi juga sering menipu?. saya lahir dan besar di Ibukota Para "Ordo Secolrum", saya tau siapa mereka.

Tak diragukan lagi Ordo Secolrum adalah Dajjal bermata Satu

Tak diragukan lagi Ordo Secolrum adalah Dajjal bermata Satu

Tidak seorangpun yang sanggup menjawab Debat Dajjal kecuali Oleh Nabi Muhammad sendiri.

Malu dan Cemburu dalam bingkai Islam

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه, وبعد

Di antara bukti kebaikan-kebaikan Dien kita ini adalah perhatiannya terhadap etika yang terpuji. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda:

إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق / رواه الإمام أحمد
"Aku telah diutus semata untuk menyempurnakan akhlaq yang baik" (HR.Ahmad)
Ketika Nabi diutus, beliau pun menetapkan perangai-perangai yang indah yang ada pada masyarakat jahiliah dan menghilangkan yang buruk, serta meluruskan yang perlu untuk diluruskan.

Dan di antara akhlaq mulia yang disifati oleh masyarakat jahiliah adalah: 'kecemburuan' lelaki terhadap mahramnya. Bahkan sebahagian dari mereka ada yang berlebihan dan melampaui batas, hingga ada yang sampai pada batas mengubur bayi perempuan mereka hanya karena rasa khawatir anaknya akan terjerumus pada perbuatan keji jika ia besar nanti.
Maka syariat pun melarang hal tersebut, kemudian meluruskan sifat cemburu itu dan menjadikannya di antara cabang keimanan.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallambersabda :

لا شيء أغير من الله / رواه الإمام أحمد والبخاري
"Tidak ada sesusatu pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR.Imam Ahmad dan al-Bukhari)
Beliu bersabda :
إن الله يغار, وإن المؤمن يغار, وغيرة الله أن يأتي المؤمن ما حرم الله عليه / رواه الإمام أحمد والبخاري ومسلم
"Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu'min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya" (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim)

Beliau bersabda dalam khutbahnya ketika terjadi gerhana matahari :

يا أمة محمد, ما أحد أغير من الله / رواه البخاري ومسلم
"Wahai ummat Muhammad, tak seorang pun yang lebih pecemburu dari Allah" (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

إن من الغيرة ما يحب الله.../ رواه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي
"Sesungguhnya ada di antara sifat cemburu yang Allah cintai…" (HR.Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa'i)

Dan ketika Saad bin Ubadah berkata :"Andai aku mendapati seorang lelaki bersama istriku, pasti ia akan kutebas dengan mata pedangku," Nabi pun bersabda, "Apakah kalian kagum dengan kecemburuan Saad?, sesungguhnya Aku lebih pecemburu darinya, dan Allah lebih pecemburu dariku."(HR. al-Bukhari dan Muslim)
[1]

Para sahabat telah menghiasi diri-diri mereka dengan etika nubuwah ini dan berpegang teguh dengannya, sama halnya dengan kewajiban-kewajiban beriman beserta cabang-cabangnya. Maka bukanlah hal yang aneh jika seseorang di antara mereka membunuh atau dibunuh lantaran menjaga perkara ini.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa seorang wanita dari bangsa Arab datang ke pasar untuk menjual barang dagangannya, ia menjualnya di pasar Bani Qainuqa' (salah satu kabilah yahudi), ia pun duduk di dekat tukang emas. Maka orang-orang yahudi menginginkan agar wajahnya tersingkap, akan tetapi ia menolak. Tukang emas itu pun sengaja mengikat kedua ujung kainnya ke punggungnya tanpa ia sadari, sehingga ketika wanita itu berdiri nampaklah auratnya. Mereka pun menertawakannya, maka wanita itu berteriak. Seorang lelaki dari kaum muslimin melompat dan lanngsung membunuh tukang emas yahudi itu, kemudian orang-orang yahudi pun membunuhnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka dan mengepungnya hingga mereka tunduk di bawah perintahnya, kemudian mengusir mereka ke negeri Syam.

Beginilah para salaf (pendahulu) ummat ini berlalu. Dan kaum muslimin tidak lemah dan atau berlebihan dalam mengaplikasikan akhlak ini meskipun pada masa-masa surut yang di lalui ummat Islam. Tatkala kaum Salibis menjajah sebagian kepingan wilayah kaum muslimin di negeri Syam -penjajahan yang berlangsung selama kurang lebih dua abad dan masa yang terkadang menumbuhkan kekhawatiran di hati bahwa mereka akan tatap menjajah hingga turunnya Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam- ahli sejarah mencatat bahwa kaum muslimin memandang orang-orang Salibis dengan tatapan hina dan rendah, dan bahwa mereka adalah 'Dayayits[2]'; seseorang di antara mereka berjalan bersama istrinya, kemudian bertemu dengan kawan lelaki istrinya, maka sang suami berdehem agar memberi kesempatan kepada sang istri untuk bercakap dengan kawannya semau mereka.

BEBERAPA GAMBARAN KURANGNYA SIFAT CEMBURU
Dan kita di negeri ini[3] – semoga Allah memakmurkannya dengan ketaatan- dalam perkara ini, masih lebih baik dari yang lainnya, meskipun ada sebahagian orang yang begitu jelas kelalaiannya.

Anda bisa melihat, di antara mereka ketika di atas mobil, istrinya turun dan bercakap panjang lebar padahal ia seharusnya menemaninya.

Ada yang istrinya bercampur baur dengan lelaki asing ; dengan sopir mobil, penjual di toko, dokter di klinik, atau selainnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersanda:


ألا لا يخلون رجل بامرأة إلا كان ثالثهما الشيطان / رواه الإمام أحمد والترمذي
"Ketahuilah, bahwa tidaklah berdua seorang lelaki dan perempuan kecuali pihak ketiganya adalah setan" (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Demikian pula seorang lelaki yang membiarkan istrinya -atau siapa yang saja yang merupakan tanggung jawabnya- keluar rumah dengan memakai pakaian yang menampakkan sebahagian anggota badan, atau lekuk tubuhnya dengan pakaian ketat atau tipis.
Demikian halnya gambaran kurangnya rasa cemburu adalah keluarnya para lelaki bersama istri-istri mereka atau dengan mahramnya yang lain ketempat-tempat umum yang memungkinkan terjadinya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan non mahram) dan saling memandang di antara mereka.

Dan seorang lelaki membiarkan istrinya bepergian tanpa ditemani mahram. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها محرم, ولا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم

"Tidaklah bercampur seorang lelaki dengan seorang wanita kecuali disertai mahram, dan tidak bepergian seorang wanita kecuali bersama mahram"
Seorang lelaki berdiri dan berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku berangkat untuk berhaji, dan aku telah tercatat dalam peperangan ini dan ini," maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

انطلق فحج مع امرأتك...
"Kembali dan berhajilah bersama istrimu" (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat ini adalah seorang mujahid (yang sedang berjihad) di jalan Allah Azza wa Jall, kemudian Nabi menyuruhnya meninggalkan medan jihad untuk kembali menemani istrinya yang tengah melaksanakan perjalanan mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Meski dengan kelembutannya, mereka adalah orang-orang yang paling suci dan bertaqwa, padahal sang istri pun telah berangkat dan berlalu, namun demikian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata "kembali dan berhajilah bersama istrimu."

PENYEBAB SEMUA ITU

Gambaran tersebut diatas adalah fakta yang telah terjadi dan disaksikan. Maka jelaslah bahwa hal yang sangat penting –wa lillahilhamd- adalah menjaga kehormatan dan cemburu atasnya. Dan apakah penyebab hilangnya pada sebagian orang sifat cemburu dan rasa malu?, sebelum membahas hal ini, kita akan berbicara tentang kedudukan dan posisi malu dalam ad-dien ini.

SIFAT MALU

Malu adalah salah satu cabang keimanan, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barang siapa yang kurang rasa malunya berarti bukti lemah imannya. Dalam as-Shahihain (kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

الحياء لا يأتي إلا بخير
"Tidaklah muncul rasa malu kecuali dengan kebaikan"

Pada riwayat Muslim :

الحياء خير كله
"Malu itu baik semuanya"

Diriwayatkan dari Salman al-Farisi radiallahu 'anhu bahwa Beliau berkata:

إن الله إذا أراد بعبد هلاكا نزع منه الحياء, فإذا نزع منه الحياء, لم تلقه إلا مقيتا ممقتا

"Sesungguhnya jika Allah menginginkan kehancuran terhadap seorang hamba, Ia akan mencabut sifat malu darinya, maka jika sifat malu itu telah diangkat darinya, kamu 'tak 'kan menemuinya kecuali (ia dalam keadaan) dibenci dan memuakkan"

Seorang penyair berkata:

فلا والله ما في العيش خير ولا الدنيا إذا ذهب الحياء
يعيش المرء ما استحيا بخير ويبقى العود ما بقي اللحاء

Sekali-kali tidak –demi Allah- tak ada kebaikan dalam hidup dan tidak pula Dunia, jika malu telah hilang.
Selama ada rasa malu, orang akan hidup baik, namun tidak bagi yang bermuka tebal
.

Penyair lain berkata :

إن كأني أرى من لا حياء له ولا أمانة وسط الناس عريانا

Sungguh aku melihat orang yang tak punya rasa malu dan tak amanah telanjang di tengah-tengah manusia

Dan kurangnya rasa malu -terlebih khusus bagi kaum wanita- memiliki sebab, di antaranya:
  • Kelalaian dalam mendidik di masa kecil. Bisa karena biasa, siapa yang terbiasa pada masa kecilnya, ia akan membawanya hingga ia beruban.
  • Banyak berinteraksi dan berbicara dengan laki-laki ajaanib (bukan mahram).
  • Bergaul dengan orang yang kurang rasa malunya, atau selalu menyaksikan mereka akibat seringnya bepergian, atau melihatnya di pasar-pasar, di tempat-tempat hiburan, atau karena menonton sinetron dan selain dari itu. Sebab, akhlaq –baik buruknya- adalah hasil pergaulan.
  • Dan mungkin penyebab utamanya adalah: terlalu seringnya seorang wanita keluar rumah, Allah 'Azza wa Jall berfirman :

وقرن في بيوتكن / الأحزاب : 33

"Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian…!" (QS.al-Ahzab :33)
At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


المرأة عورة وإنها إذا خرجت من بيتها استشرفها الشيطان, وإنها لا تكون أقرب إلى الله منها في قعر بيتها

"Wanita adalah aurat, jika ia keluar rumah syaitan akan menghiasinya, dan ia tidak lebih dekat kepada Allah dari luar rumah nya dari pada di dalam rumahnya"
Dalam hadits lain, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


لا تمنعوا نساءكم المساجد, وبيوتهن خير لهن / رواه الإمام أحمد وأبو داود

"Janganlah melarang wanita-wanita kalian untuk ke Masjid, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka" (HR. al-Imam Ahmad dan Abu daud)[4]


Berkata al-Hafidz ad-Dimyati rahimahullah: "Ibnu Khuzaimah dan sekelompok para 'ulama telah menerangkan dengan jelas bahwa shalat di rumahnya (bagi wanita) lebih afdhal dari shalat di masjid, walaupun di masjid Makkah, Madinah atau Bait al-Maqdis"
Maka hendaklah berhati-hati bagi yang berakal dan bijaksana, bahwa apa yang telah mewabah pada sebagian negeri kaum muslimin dari kerusakan dan hilangnya rasa malu tidaklah terjadi dalam satu ledakan, tetapi ia berawal dari sesuatu yang teramat sederhana kemudian terjadilah apa yang telah terjadi.


Selanjutnya – wahai muslim- aplikasikanlah persaksianmu bahwa Muhammad adalah Rasul Allah dengan membenarkan apa yang ia kabarkan, mentaati apa yang ia perintahkan dan menjauhi apa yang Ia larang dan Ia bentak. Janganlah menyelisihi perintahnya karena memperturutkan hawa nafsu atau karena kepentingan seseorang ataupun karena sebab-sebab lain. Sesungguhnya Allah telah berfirman:

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

(an-Nur : 63)


(Diterjemahkan dan diikhtisar dari sebuah tulisan di Qism 'Ilmi, Dar al-wathan Riyadh)





______________________________________________
[1] غير مصفح artinya menebas dengan mata pedang (membunuhnya) adapun memukul dengan punggung pedang artinya memberi pelajaran atau mendidik.
[2] Dayayits bentuk jamak dari dayyuts, adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap mahramnya. Dalam hadits disebutkan "
[3] Negeri yang dimaksud adalah Saudi Arabiah
[4] Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan sebua hadits yang beliau hasankan :
صلاة إحداكن في مخدعها أفضل من صلاتها في حجرتها وصلاتها في حجرتها أفضل من صلاتها في دارها وصلاتها في دارها أفضل من صلاتها في مسجد قومها وصلاتها في مسجد قومها أفضل من صلاتها معي

http://drantauan.blogspot.com/2009/05/malu-dan-cemburu-dalam-bingkai-islam.html

Cahaya Muhammad adalah asal pembentuk Alam Raya. hanya dia lebih mengetahui dan bisa memperlihatkan kenapa Atheis, Liberalis, Faithfreedom Gagal dan salah klik situs diatas. dan saya tidak bisa menjabarkan lebih jauh dengan lisan.

benar greenberg, pengamat politik

benar greenberg, pengamat politik
masalahnya untuk menentang lingkaran ini pastilah akan menentang ketiga Agama.

DAFTAR MAKANAN PENAMBAH LIBIDO

Jauh sebelum ditemukan obat penambah gairah, seperti viagra dan sejenisnya, sejarah manusia mencatat beberapa jenis bahan pangan dan minuman yang dipercaya mampu mendongkrak gairah seks, yakni asparagus, kopi, dan ginseng. Bahkan, ada camilan penambah gairah yang perlu dicoba.

Ritual bercinta merupakan saat-saat menyenangkan bagi semua pasangan. Sepintas kecupan bibir atau sedikit usapan di tengkuk sudah cukup membakar libido atau api gairah untuk bercinta. Namun, bila sudah menjadi rutinitas, bisa jadi akan muncul komentar,

“Wah, kok itu lagi, itu lagi…”

Jika sudah begitu, semua pasangan tentu perlu lebih kreatif untuk mengeksplorasi daya imajinasinya. Mencoba berbagai gaya bercinta ala kamasutra bisa sangat menantang dan menggairahkan. Mungkin itu solusi yang bisa dipilih, tetapi “gaya aneh” bukan tidak mungkin justru memicu masalah.

Ada cara yang lebih sederhana tetapi berefek tak kalah dahsyat, yakni memilih beberapa jenis bahan pangan atau minuman yang bisa mendongkrak gairah seksual. Asparagus, cabai merah, cokelat, kopi, ginkgo, ginseng, dan tiram dipercaya mampu menjadi viagra alami untuk meningkatkan laju gairah dan libido.

Berikut uraian lengkapnya:

Image
1. Asparagus
Sayuran istimewa ini terbukti sebagai pemasok vitamin E yang potensial. Vitamin E sering kali dihubungkan dengan peningkatan produksi hormon seksual. Selain lezat diolah menjadi beragam masakan, asparagus juga mempunyai kandungan gizi yang sangat baik. Selain vitamin E, asparagus juga mengandung mineral, kalsium, potasium, serta vitamin A dan D.

Sayuran ini rendah kalori, baik dikonsumsi bagi Anda yang sedang menjalani terapi diet. Kandungan seratnya sangat tinggi. Serat dalam asparagus mampu mengikat zat karsinogen penyebab kanker, juga membantu kelancaran proses pencernaan tubuh, sehingga Anda terbebas dari gangguan sembelit atau susah buang air besar.

Beberapa lembaga ilmiah telah melakukan uji klinis terhadap asparagus. Terbukti sayuran ini mampu meningkatkan kesuburan pria. Kandungan asam amino asparagines merangsang ginjal membuang sisa metabolisme tubuh. Zat aktif lainnya dipercaya meningkatkan sirkulasi darah dan membantu melepaskan deposit lemak dalam dinding pembuluh darah. Sangat baik dikonsumsi mereka yang berjerawat, menderita eksim, serta menderita gangguan ginjal dan prostat.

Cara terbaik memasak asparagus adalah dengan mengukusnya agar rasa dan vitaminnya tidak hilang. Hati-hati, jangan memasak terlalu lama agar rasanya tidak berubah menjadi pahit. Sebelum dimasak, cuci dahulu di bawah air yang mengalir, lalu patahkan bagian bawahnya yang keras.

Image

2. Cabai Merah
Bisa jadi rasa cabai merah adalah analogi yang pas untuk menggambarkan libido yang selalu menyala atau hot. Kaya dengan kandungan capsaicin, yakni senyawa kimia yang mempu memberikan rangsangan positif pada kerja saraf sehingga mampu meningkatkan kerja aliran darah dan meredam rasa sakit pada sendi.

Tahun 1997, Dr Michael Catherine, ilmuwan Amerika Serikat dari Jurusan Farmakologi Sel dan Molekul Universitas California, San Francisco, meneliti kandungan kimia cabai yang disebut sebagai capsaicin. Penelitan menghubungkan rasa pedas cabai dengan meningkatnya gairah karena stimulan capsaicin.

Meski bermanfaat mendongkrak libido, sebaiknya konsumsi cabai dibatasi, terlebih bagi mereka yang memiliki masalah dengan pencernaan, lambung, dan gangguan usus. Manfaatkan cabai dalam bentuk sambal yang dicampur lalapan atau tomat segar.

Image

3. Cokelat
Sudah sejak lama cokelat diidentikkan sebagai camilan yang mampu meningkatkan gairah dan libido, baik laki-laki maupun perempuan. Alasannya, karena cokelat mengandung phenylethylamine, senyawa alami antidepresi dan stimulan andrenalin yang sering disebut dengan “molekul cinta”.

Cokelat dikenal oleh penggemarnya lebih “asyik” daripada ciuman paling hot sekalipun. Studi yang dilakukan para peneliti Inggris ini meyakini satu hal, membiarkan cokelat meleleh di mulut terbukti mampu meningkatkan detak jantung dan lebih mendongkrak gairah daripada berciuman. Kesimpulan ini diungkapkan David Lewis, psikolog dari The Mind Lab Amerika.

Studi ini melibatkan 12 sukarelawan dengan kisaran usia 25-an. Mereka diminta mengenakan monitor jantung dan elektroda yang dipasang di kepala, untuk mengukur detak jantung dan aktivitas otak. Para peneliti kemudian menganalisis hasil rekaman aktivitas otak dan detak jantung sukarelawan.

Hasilnya, ciuman penuh nafsu sekalipun tak bisa menandingi gairah yang didapat saat cokelat meleleh di dalam mulut. Rangsangan yang diciptakan saat cokelat meleleh di dalam mulut terbukti bisa mengirim sensor ke semua wilayah otak jauh lebih intens dibandingkan dengan sensasi yang timbul saat berciuman.

Studi tentang cokelat hitam dan gairah seksual juga pernah dilakukan oleh Dr Andrea Salonia. Dalam pertemuan European Society for Sexual Medicine, akhir tahun lalu, peneliti berkebangsaan Italia ini menyatakan bahwa cokelat mampu membuat mood lebih terpenuhi karena diprediksi mengandung lebih dari 300 substansi kimia, termasuk kafein dalam jumlah kecil, terobomin, dan phenylethylamine (stimulan yang terkait dengan amfetamin), yang terbukti bisa menaikkan minat dan fungsi seksual.

8. Alpukat

Orang Aztec menyebut pohon alpukat sebagai Ahuacatl atau ‘pohon testis’. Selain bentuknya sexy alpukat mengadung asam folic yang membantu metabolisme dan memberi pasokan energi. Juga mengandung vitamin B 6 (yang memicu produksi horman pria) dan potassium (yang merangsang kelenjar thiroid wanita). Kedua zat ini sangat baik sebagai pemicu gairah sex pria dan wanita. Kandungan dalam buah alpukat telah terbukti dapat membuat peredaran darah menjadi lancar. Saat peredaran darah lancar, jantung pun menjadi sehat. Organ seksual pun menjadi sehat dan berfungsi dengan baik.

9. Almond http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTArY2MitS_6fwQ4Knv1rnFp6lVRinspShuNcUwWGVH7Q2_asLICg
Mineral yang terkandung dalam kacang almond adalah zinc dalam kadar tinggi. Zinc dapat memicu libido seseorang.

10. Strawberry http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS0LDEE57w8G3m29m40YTOahQ1lkotljWWb7zWU2U0TMjGFhD_0Wt5sbBPu
Stroberi dapat membuat jumlah sperma laki-laki menjadi meningkat. Kandungan folic acid di dalamnya juga bisa membantu wanita menjalankan persalinan.

11. Seafood http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQFsuM_THaDH7tZtf9AzZBE2HOLyvIcOz_4nqzSgVD8evpVOLTz
Sumber makanan dari laut juga merupakan pemicu libido terbaik. Kandungan omega 3 di dalamnya dapat membuat jantung dan peredaran darah lebih sehat.

arugula

12. Arugula
Dedaunan arugula sejak dulu dipercaya sebagai sebagai pemicu libido yang baik. Arugula memiliki antioksidan yang baik, sehingga dapat mencegah racun-raun yang mengakibatkan kerusakan pada organ seksual.

buah ara

13. Buah ara / fig / loa
Buah ara memiliki kandungan yang dapat membuat tubuh wanita terutama di bagian bokong menjadi lebih indah. Serat di dalam buah tersebut juga bermanfaat menyuburkan sistem reproduksi seseorang.

14. Jeruk sitrun http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTQADtSrqxMZUi8c7GTT5gexmF4BV4PjKEHwcLfElXNzkgPJMCTvw
Kandungan vitamin C di dalam sitrun sangat tinggi sehingga membuat kesehatan terjaga. Tak hanya itu, vitamin C dalam jeruk sitrun juga bisa membuat organ reproduksi pria makin sehat.

15. Purwoceng http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSl4G1Wb-KXQBAgCwCWS3uKPQoKpuki5R7e2yObISU-PODFSDt7
Purwoceng merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang dikenal berkhasiat sebagai obat perkasa kaum lelaki. Karena itu, Purwoceng juga mendapat sebutan ‘Viagra Jawa’.

Image

16. Seledri

Saat berpikir tentang sex, sayuran bernama seledri ini mungkin tak terlintas dalam benak Anda. Namun, seledri memiliki kemampuan hebat untuk merangsang gairah sex. Ini terutama disebabkan olah kandungan ndrosterone yaitu hormon tak berbaiuyang biasanya diproduksi pria dan mampu membuat wanita terangsang. Paling bagus jika seledri ini dimakan mentah atau segar sebagai lalp atau campuran salad.

Image

17. Mangga dan Peach

Kedua jenis buah ini memiliki bentuk yang indah dan sexy. Anda bisa mempermainkan buah-buahan ini (yang sudah dibersihkan dan dipotong) sebagai santapan pembuka atau perangsang sebelum berhubungan intim. Rasanya juga manis asam segar dan menggairahkan.

Image

18. Telur

Meskipun bukan makanan paling sensual, telur banyak mengandung vitamin B6 dan B5 yang bisa memicu produksi hormon dan mengurangi stress. Kedua hal tersebut sangat penting untuk libido yang sehat. Telur juga melambangkan kelahiran dan kehidupan baru.

Image

19. Pisang

Pisang mengandung enzim bromelain, yang dipercaya memicu libido dan menyembuhkan impotensi pria. Juga mengandung potassium dan vitamin B yang bisa memberikan pasokan energi.

Image

20. Hati

Hati sangat kaya akan glutamine yang sangat baik untuk sistem kekebalan tubuh. Hati bisa merangsang atau menurunkan libido.

Image

23. Bawang Putih

Meskipun baunya menyengat, bawang putih mengandung allicin yang berperan memperlancar aliran darah terutama pada oragn sex. Juga dikenal sebagai rempah dahsyat peningkat libido. Kalau terganggu dengan baunya minum saja kapsul bawang putih.

Daun Kemangi

salmon

5 Buah-buahan yang Dipercaya Bisa Tingkatkan Gairah Seks

Jakarta - Buah-buahan kaya akan manfaat, mulai dari bisa memperlancar pencernaan hingga meningkatkan sistem imun. Tak sampai di situ, beberapa buah-buahan ternyata juga dapat membuat kehidupan seks menjadi lebih baik. Bagi Anda yang tengah kehilangan gairah bercinta, berikut ini lima buah untuk meningkatkan libido:


img

Next :
1. Delima

1. Delima
Buah yang isinya berwarna merah kaya akan antioksidan, vitamin A, C, dan E serta asam folat. Seperti dikutip Daily Mirror, penelitian yang dilakukan para ilmuwan di Queen Margaret University, Edinburgh, mencoba membuktikan khasiat lainnya dari buah delima ini. Dalam penelitian yang melibatkan 58 responden berusia 21-64 tahun itu terungkap, buah delima dapat meningkatkan jumlah hormon testosteron baik pada pria maupun wanita. Saat diteliti, responden diminta meminum jus buah delima setiap hari selama dua minggu. Hasilnya, jumlah testosterone responden meningkat 16-30%.
Next :
2. Alpukat

img
2. Alpukat
Alpukat juga baik untuk meningkatkan gairah seks. Alpukat mengadung folic acid yang cukup banyak sehingga membantu metabolisme protein dan membuat tubuh lebih berenergi. Tak hanya itu saja, alpukat juga mengandung vitamin B6 yang dapat membantu Anda melawan stres dan produksi testosterone. Tingginya kandungan potassium di dalam alpukat juga baik untuk libido wanita.
Next :
3. Pisang
3. Pisang
Pisang dipercaya dapat meningkatkan libido pria karena mengandungan enzim bromelain. Kandungan kalium dan vitamin B pada pisang bermanfaat pula untuk meningkatkan energi. Hilda Hutcherson, M.D., penulis Pleasure, menyarankan konsumsi pisang beberapa jam sebelum aktivitas seks dilakukan.
Next :
4. Kurma

4. Kurma
Kurma yang kerap dikonsumsi sebagai makanan saat berbuka puasa ternyata juga bermanfaat untuk kehidupan pasangan suami-istri. Kurma mengandung asam amino yang dapat meningkatkan energi dan memperbaiki gairah seks Anda.
Next :
5. Ara atau Tin

img
5. Ara atau Tin
Mirip seperti kurma, kandungan asam amino dalam buah ara atau tin ini juga dapat meningkatkan libido baik pada pria maupun wanita. Asam amino memegang peranan penting dalam fungsi seksual dan membantu meningkatkan jumlah nitric oxide di dalam tubuh.

Teknik Bermain Jari Untuk Memuaskan Pasangan

The art of fingering
Close your eyes and place your finger the right place.
Aturan main dengan jari dalam hubungan seksual yang mungkin sering dilupakan.

Setiap manusia pasti dianugerahi kelengkapan tubuh dengan purpose yang dapat dimanfaatkan sedemikian rupa. Tidak heran, banyak kreatifitas dan inovasi dibuat dari jemari manusia hingga menjadi perangkat yang berguna bagi manusia lainnya. Tak terkecuali dengan hubungan seksual. Dr Kendrey Silvane, seorang seksolog dari lembaga kesehatan seksual Universitas George Washington di Amerika Serikat mengungkapkan jika teknik fingering ternyata mampu meningkatkan kehangatan saat berhubungan intim. Dari penelitian yang dilakukannya terhadap beberapa pasangan muda, terbukti sebanyak 89% pasangan mengakui puas dengan atraksi jari yang dilakukan pasangannya saat berhubungan.

Mencari double pleasure. Itu adalah prinsip yang harus Anda pegang saat melakukan teknik fingering ini. Untuk beberapa teknik, mungkin Anda telah mengetahuinya sejak lama. Tapi yang akan dibahas kali ini adalah sebuah trik yang berbeda dari biasanya, tentu saja dengan menggunakan kelima jari Anda. Yang membuat cara fingering ini berbeda karena Anda dituntut untuk lebih "kreatif" mengguncang sisi liar pasangan. Buat ia bergelinjang berkali-kali saat jemari Anda berpetualang menjelajah setiap lekuk tubuhnya. And trust me, it works, dude!

Kuasai beberapa teknik fingering yang akan membuat pasangan menyerah dalam kejantanan Anda.
Sumber: flickr.com

The Magic Thumb

Ibu jari tidak hanya berfungsi untuk menekan scanner absensi atau cap jari saat membuat surat penting. Saat berhubungan intim, jari yang bentuknya paling gemuk di antara yang lain ini mempunyai perannya sendiri. Selain jari tengah, ibu jari dapat dipakai untuk memberi pijatan halus pada bagian klitoris sebelum melakukan penetrasi. Buat pasangan Anda mendesah geli dengan menelusuri area sekitar pangkal Miss V sementara jari tengah bercengkerama dengan pusat klitorisnya. Untuk membuatnya semakin "gelisah", diamkan ketiga jari Anda yang lain dan biarkan kedua jari tadi beratraksi. Untuk posisi? Benamkan tubuhnya dalam rangkulan tangan yang satu dan biarkan dirinya pasrah dalam dekapan Anda.

Relaxing Pleasure

Sebagai jari yang paling sibuk, saat berhubungan telunjuk mempunyai tugas yang lebih santai kali ini. Sementara jemari pada lengan Anda yang satu sibuk bermain dengan area sensitifnya, gunakan telunjuk pada lengan yang satu untuk menggelitik wilayah leher atau payudara. Caranya pun terbilang cukup sederhana, gerakkan telunjuk di bagian leher belakang, tepatnya di bagian belakang kuping. Gerakkan jari secara memutar persis seperti saat Anda menyentuh bagian klitoris. Lakukan secara lembut dan lihat ekspresi pasangan Anda baik-baik. It's priceless!

Blowing Desire

Well, mungkin Anda pernah mengacungkan jari tengah saat sedang dilanda amarah. Itu adalah hal yang tidak sopan memang, tapi lain soal dalam hubungan seksual. Jari tengah dapat dikatakan memiliki peranan yang cukup signifikan untuk membuat pasangan Anda mengerang dalam kenikmatan. Saat ibu jari melakukan pijatan lembut di bagian atas Miss V, maka jari tengah bertugas untuk merangsang klitoris. Gerakan memutar dan berlawanan arah diakui sanggup membuncahkan gelora nafsu yang tidak tertahankan. Tapi ingat, saat melakukannya Anda jangan terburu-buru terbawa nafsu juga. Semakin tenang Anda melakukannya, semakin liar reaksi pasangan Anda.

The Fourth Erotism

Mendampingi tugas jari tengah saat beraksi adalah hal yang dapat dilakukan jari manis saat Anda merangsang pasangan. Esensi teknik fingering ini adalah bagaimana memaksimalkan kelima jari yang ada di tangan Anda untuk memanaskan hubungan intim. Saat Anda puas menggoda klitoris dengan jari tengah, cobalah untuk memberikan rangsangan pada Miss V dengan penetrasi jari. Bersama jari tengah, gunakan juga jari manis untuk membuka gerbang kenikmatannya. Lakukan secara perlahan, dan biarkan pasangan Anda mendesah menahan kegelian yang menjalari tubuhnya.

Chillaxing by The Lips

Lantas apakah tugas si jari bungsu? Karena bentuknya paling mungil di antara jari lainnya, gunakan jari kelingking untuk menggoda pasangan Anda dengan menyentuh bibirnya. Saat ia mendesah, biarkan dirinya tenggelam dalam hasrat dengan mengulum jari kelingking Anda. Selain itu, Anda juga dapat merangsang dirinya dengan mengusap bagian punggungnya dengan kelingking dan jari manis sembari jari yang lain memijat bagian sensitif lainnya. Jika semua teknik ini mampu Anda kuasai, dipastikan ia akan menyerah sepenuhnya dan berbisik "Baby, I'm all yours...".


Ada 7 Pemanasan Seks yang Paling Digemari Pria

LENSAINDONESIA.COM: Foreplay sangat penting untuk seks yang baik. Debby Herbenick, PhD, MPH, seorang pakar seks dari Indian University, Amerika Serikat, menyarankan agar pasangan meluangkan waktu untuk melakukan foreplay (pemanasan). Foreplay bermanfaat untuk mendapatkan rangsangan lebih.
“Ketika tubuh wanita menjadi sangat terangsang, otot-ototnya akan menarik rahim ke atas, sehingga akan memiliki banyak ruang di dalam vagina,” kata Dr. Herbenick seperti yang dikutip dari twodaymag.
Bagi wanita, foreplay penting untuk membantu Ms. V wanita menjadi ‘terlumasi’, meningkatkan gairah seksual dan membuat seks lebih nikmat. Bagi pria, foreplay dapat membantu mencapai ereksi yang lebih, terutama jika pasangan mengalami kesulitan untuk mencapai orgasme dikarenakan stress di kantor atau di rumah.
Seperti dikutip dari Red Book dan askdanandjennifer, dari berbagai macam variasi foreplay, tujuh teknik berikut ini, disukai oleh pasangan Anda:


1. Saling Menyentuh
Mabel Iam, pengarang buku ‘Sex and the Perfect Lover’ menyarankan Anda dan pasangan melakukan pemijatan sebelum bercinta. Sentuhan di kulit ini bisa menstimulasi tujuh pusat energi di tubuh. “Jadi mulailah memijat pasangan Anda mulai dari tangannya dan pergelangan tangannya,” ujar Iam. “Lalu lanjut ke lengan dan pundaknya, sebelum kemudian Anda menyentuh dadanya,” tambahnya.

Menurut Iam, tekanan-tekanan yang Anda berikan saat memijat membangkitkan energi seksual si dia. Saat Anda selesai memijat pasanga, minta dia melakukan hal yang sama. Dengan melakukan hal tersebut, energi Anda dan pasangan akan bergelora.

2. Sentuh Tubuh Si Dia Tanpa Tangan
Menyentuh tubuh pasangan dengan tangan adalah hal biasa. Kali ini, cobalah beri sentuhan dengan nafas dan bibir Anda. Sentuh dia di bagian telinga, leher, tengkuk, dada, hingga bagian erotisnya.
3. Tetaplah Pakai Baju Anda
Therapist seks Patti Britton memberi saran sedikit nakal untuk Anda dalam membuat hubungan seks semakin panas. Menurutnya tetaplah memakai baju saat bercinta. “Itu bisa jadi kegiatan yang menyenangkan karena bermain-main dengan pakaian dalam satu sama lain, menggodannya melalui bahan pakaian tersebut,” ujarnya. “Dengan cara itu juga Anda seperti mempersiapkan diri. Ketika akhirnya terjadi kulit menyentuh kulit, hal tersebut akan menjadi lebih dahsyat efeknya,” tambahnya.
4. Mencicipi Permen
Ada beberapa permainan yang bisa Anda dan si dia lakukan dengan permen yang dibentuk menjadi kalung. Pertama, taruh kalung permen itu di leher si dia. Lalu, perlahan-lahan mulailah gigit permen tersebut satu-persatu. Usahakan saat menggigit Anda juga menyentuh lehernya. Leher adalah salah satu titik sensitif pria.

Tak hanya mencium leher, saat menggigit permen satu-persatu, Anda juga bisa sambil bermain-main dengan bibir pasangan. Sesekali berikan si dia ciuman di bibir, sebelum Anda beralih lagi ke lehernya.
Selain di leher, kalung permen ini juga bisa Anda coba kalungkan di Mr Happy nya. Setelah itu, mulailah goda si dia dengan menggigit permen tersebut satu per satu. Saat melakukannya, Anda harus berhati-hati, jangan sampai membuat kulit Mr. Happy pasangan sakit karena tergigit.
5. Membaca cerita ‘nakal’
Hampir setiap wanita suka membaca novel dengan unsur erotis. Kombinasi cerita ‘nakal’ dengan suara berat pria tentu saja, dengan mudah meningkatkan mood bercinta wanita. Cobalah untuk membeli beberapa novel erotis, minta pasangan membacakannya untuk Anda atau sebaliknya. Dengan begitu, Anda dan pasangan bisa bebas mengimajinasikan susana bercinta seperti yang ditulis dalam buku dengan cara Anda berdua.
6. Bermain Peran
Setiap orang memiliki fantasi seksual sendiri. Salah satu ide foreplay terbaik adalah memerankan karakter yang pasangan sukai. Misalnya pasangan menyukai fantasi suster, Anda dengan memakai pakaian ala suster saat foreplay, pastinya Anda akan nampak seksi di mata pasangan.
7. Goda Si Dia
Cobalah memberikan ciuman yang panas pada pasangan sebelum bercinta. Setelah memberikan ciuman yang panas itu, goda si dia dengan menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Biarkan juga si dia melakukan penetrasi, namun jangan sampai terlalu jauh. Jauhkan lagi si dia dan beri dia ciuman. Dengan melakukan godaan-godaan ini, si dia akan menjadi semakin tergila-gila dan ingin menguasai Anda.

Namun saat menggoda ini, jangan lakukan terlalu lama. Kalau terlalu lama, bisa-bisa si dia akan kehilangan gairah dan ereksinya bisa hilang. Saat Anda yakin si dia benar-benar sudah tidak biasa menguasai diri, itulah saatnya Anda stop menggodanya dan biarkan dia melakukan penetrasi.

Enam Cara Wanita Menikmati Payudaranya (Bagian 1)

Rekan Wanita,

Artikel kali ini akan membuat anda semakin…seeerrrr…bersama pasangan. Hooo…langsung dech!! Mata tak berkedip, hehehe…!!!

Payudara wanita adalah penggoda lelaki. Mengintip dibalik bra berenda, ataupun bentuk utuh saat di tempat tidur bersama sang tercinta. Bikin lelaki klepek-klepek dan terengah-engah. Mau donk, sayang….!!!!

Sayangnya tidak semua wanita menyadari bahwa payudara mereka dapat memberikan kepuasan seksual yang teramat sangat bersama pasangan. “Banyak wanita tidak cukup pengetahuan tentang bagaimana menikmati payudara selama bermain seks bersama pasangannya,” demikian kata Debby Herbenick, Ph D., seorang pendidik kesehatan seksual-Institut Kinsey di Indiana University .

Yang benar adalah, payudara anda memainkan peran penting dalam menyenangkan anda berdua. Nah, berikut saya akan berikan enam langkah jitu yang akan membantu anda melipatgandakan kesenangan anda dalam menikmati payudara.

Wuuuiiihh….!!! Yok, kita kemon….

1. Duduk Diatas Pangkuan Pasangan

Ketika pasangan anda membelai payudara anda, otak akan melepaskan bahan kimia hangat ke dalam aliran darah yang disebut oksitosin, kata Beverly Whipple, Ph D., profesor Emeritus di Rutgers University. Oksitosin adalah hormon cinta yang kuat, yang juga dipicu oleh pelukan dan orgasme, menumbuhkan perasaan ikatan yang kuat antara anda dan pasangan anda.

Untuk memaksimalkan efeknya, saat anda berada di atas pangkuannya, dekap dia dengan posisi tangan anda melingkar di lehernya. Tekan payudara Anda ke dadanya. Kemudian buat gerakan tubuh anda naik turun sampai puting anda menggesek-gesek dadanya dan fokuslah pada sinkronisasi pernapasan anda. Gerakan naik-turun pada akan meningkatkan keintiman. Gairah seks akan meningkatkan aliran darah di payudara dan andapun akan terasa hangat, membuat anda semakin ingin dan ingin memeluknya lebih erat lagi. Hhhhssss…..gemeeesss…!!!

2. Goda Agar Ereksi

Sama dengan organ intim pria, payudara juga dapat ereksi jika mendapat sentuhan lembut. Sentuhan yang sensual akan membangkitkan syaraf-syaraf di puting bersamaan dengan rasa senang yang membuncah. Untuk “menghidupkan” payudara anda, tarik tangan pasangan anda, sentuhkan di belahan dada anda. Minta dia bikin sentuhan kecil dengan ujung jarinya di tulang dada anda, kemudian menari ke kedua payudara anda dengan gerakan melingkar, demikian jelas Jaiya, penulis buku Touch Red Hot. Sentuhan lembut akan merangsang syaraf di bawah permukaan kulit yang akan membuat anda merasa bahagia. Geli, maaasss….!!!

3. Cari Sensasi Baru

Pasangan anda mungkin mahir dalam memainkan tangannya di dada anda, namun kemampuan membawa sensasi baru yang tak terduga akan membuat acara seks anda menjadi lebih mendebarkan. Woww!! Main geli-gelian dengan bulu-bulu, body lotion dingin, atau juga kain sutra yang lembut, apalagi jika mata anda ditutup dengan kain sehingga benar-benar Surprise!! Pasti jantung anda semakin dag…dig…dug… :) “Kenalkan sensasi baru diluar sentuhan biasa,” demikian kata Ian Kerner, Ph. D., penulis buku She Comes First. Sebagai balasan untuknya, posisi anda di atas, bawa payudara anda menyusui wajahnya, hidungnya, pipinya, dan bibirnya… pasti…hap!! lalu ditangkap (pakai mulut…hehehe.. :) )

Bagaimana?? Mudah-mudahan dapat memberi kebahagiaan yang lebih lagi bersama pasangan anda… Tunggu tiga cara berikutnya… Sabar yaaa….. :)

Enam Cara Wanita Menikmati Payudaranya (Bagian 2)

Rekan Pembaca,

Senaaaaang sekali hati saya. :) Pssttt…sekedar informasi, bagian pertama artikel ini tiap harinya di-klik dan dibaca ribuan kali, lho..?! Memang, saya perhatikan kalau artikel saya berbau….hehehe…. selalu laris manis… :)

Bukan apa-apa, ini menandakan bahwa informasi seperti ini sangat dibutuhkan banyak rekan pembaca. Alhamdulillaah jika demikian, semoga hanya manfaat dan kebahagiaan yang dapat saya berikan kepada anda semua.

Nyook…lanjut ke bagian kedua ya….

4. Fokus di Areola
Kebanyakan dari kita tahunya puting payudara merupakan bagian paling sensitive terhadap rangsangan. Semua para suami lebih lama menikmati puting istrinya yang menggemaskan. Ternyata itu salaaah..!!!! Haaa…??? Waduh…!!!!

Ternyata puting bukan merupakan wilayah paling sensitif di dada wanita. Ternyata Areola-lah bintang pertunjukkannya…hehehe… Anda tahu, khan areola? Betul, bagian payudara dengan kulit berwarna lebih gelap yang mengelilingi puting

“Banyak pasangan menganggap puting sebagai zona erotis utama, mungkin karena putting bentuknya menonjol sehingga menjadi pusat pandangan,” kata Jaiya. “Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa wanita merasakan sensasi yang lebih menyenangkan di saat pasangan merangsang areolanya.”

Mintalah pasangan menggosok wilayah areola dengan arah jam 10 dan jam 2 dengan es batu, bbrrr…dingiiinn….setelah mengejang minta pasangan anda meniupkan hawa hangat dari bibirnya. Dijamin dech anda merinding disko…hehehe…. ;)

Atau dengan posisi pasangan di atas, mintalah dengan ujung lidahnya menjilat areola dengan lembut dengan gerakan melingkar kemudian…perlahan turun….ke puting…kemudian ke aerola bagian bawah.tekan lidah akan mengaktifkan otot-otot kecil di bawah permukaan kulit areola, dan andapun akan….hhhmmm….sssshhh…. :)

5. Basah, Basah, Basaaaahhh…..

Sesekali boleh donk, bermain seks di kamar mandi. Pakai pancuran air hangat, jangan terlalu panas, lho ya… Ntar malah rusak
acaranya…hehehhe…. Hangatnya air akan membawa darah ke permukaan kulit dan meningkatkan suhu tubuh, yang keduanya membuat kulit anda lebih sensitif terhadap sentuhan, kata Sandor Gardos, Ph D. ahli seksologi dari Amerika.

Aku nggak punya shower, mbak… Nggak bisa donk…???
Bisa….anda rebus air dan campur dengan air dingin di bak mandi atau di ember, lalu byur…byur…basah dech berdua…hehehe… :)

Mulailah minta pasangan anda memijat payudara anda dengan lembut. Boleh dengan sabun agar lebih licin dan gerakan tangan yang meluncur akan membuat perasaan anda senang. Kombinasikan gerakan tangan dengan tekanan besar dan kecil. Boleh sesekali main gelitikan. Aaahhh….mas nakaaalll….!!

Tidak mood untuk mandi?

Boleh dicoba, pijat payudara dengan handuk hangat juga akan memberikan sensasi yang sama… :)

6. Ukuran Bukan Masalah!!
“Banyak wanita ‘memilih’ tidak mengambil kesempatan menikmati payudara mereka saat bermain cinta karena terlalu risau dengan ukuran mereka,” jelas Kerner. Rekan wanita harus tahu, terlepas berapa ukuran payudara anda, anda memiliki syaraf dengan jumlah yang sama di payudara anda. Dan payudara anda akan menjaid 25 persen lebih besar saat terangsang. :)

Saat anda berada di atas, jika payudara anda besar, angkat payudara dengan kedua tangan, pegang erat dan mulai remaslah. Jika ukuran anda lebih kecil, caranya dengan menekan payudara dari arah samping sehingga menciptakan belahan dada, kemudian gerakkan tangan dengan gerakan meremas.

Nikmati saja, jangan terlalu risau dan berpikir tentang ukuran, okee…??!!

Naaah…genap sudah enam cara yang dapat anda lakukan bersama pasangan tercinta. Silakan dipraktikkan…Kalau sudah, lapor saya, ya….hehehe…. :)

Cara Agar Pria Kuat Tahan Lama Berhubungan Intim

priaromantis.com - Cara Agar Pria Kuat Tahan Lama Berhubungan Intim - Di perkirakan ada sekitar 80% pria pernah mengalami ejakulasi dini. Masalah ejakulasi dini atau disfungsi ereksi kerap terjadi pada pria, bukan saja pada pria berusia lanjut tetapi juga bisa di alami oleh pria yang secara usia belum lanjut usia. Meski demikian Ejakulasi dini atau disfungsi ereksi ini bukan termasuk gangguan karena faktor usia. Ada beberapa sebab mengapa pria mengalami ejakulasi dini.

Topik yang masih seputar seksualitas pria dewasa dari blog pria romantis kali ini tidak akan membahas mengenai faktor penyebab ejekalasi dini :) melainkan tentang cara agar tahan lama berhubungan seks untuk pria sehingga dapat Memuaskan Wanita Saat Bercinta seperti pada info berikut ini :)

1.Pentingnya Komunikasi
Hubungan seks yang adil adalah hubungan yang kedua belah pihak dapat merasakan kenikmatan dan kepuasan seksual. Komunikasi memiliki peran cukup penting agar keduanya tahu apa yang di inginkan pasangannya. Yang pertama yang bisa dilakukan ketika pasangan selalu mengalami Ejakulasi Dini adalah dengan mengobrol atau berkomunikasi. Masalah ini bisa mengganggu Anda karena pada waktu Anda belum mencapai orgasme, pasangan Anda justru sudah meraih klimaksnya. Dengan demikian “apabila tidak dibicarakan, pasangan Anda tentu tidak akan pernah tau ketidakpuasan istri selama ini.

2.Lakukan Pemanasan Lebih Lama
Kalau selama ini pasangan Anda hanya ingin langsung tancap gas :) dan terburu buru pada permainan inti, maka dengan melakukan pemanasan akan membantu pasangan agar lebih tahan lama. Sebagian pasangan mungkin lupa bahwa foreplay juga sangat penting dalam aktivitas seksual. Debby Herbenick, PhD, MPH, salah seorang pakar di bidang seks dari Indian University, Amerika Serikat, juga menyarankan agar pasangan meluangkan waktu untuk melakukan foreplay. Salah satu manfaat dari foreplay adalah agar mendapatkan rangsangan lebih.

3.Senam Otot Dasar Panggul
Senam kegel juga sangat bagus bagi pria, untuk itu coba ajari pasangan Anda agar bersedia melakukan senam pada bagian otot-otot dasar panggul. Caranya yaitu dengan mengkontraksikan pada bagian otot dasar panggul seperti pada saat menahan buang air kecil. Kontraksikan kurang lebih 3-5 detik dan upayakanlah agar tidak terjadi gerakan yang terlihat dari luar, sehingga yang bergerak adalah bagian otot dasar panggul. Lakukan cara ini berulang-ulang pada setiap harinya. Pada waktu otot dasar panggul sudah kuat, maka ketika pada waktu berhubungan hendak mengalami Ejakulasi, minta pasangan Anda untuk menahannya dengan cara kontraksi yang sama.

4.Ganti Posisi Bercinta
Posisi Hubungan Intim juga bisa jadi salah satu cara bagi pria untuk mengatasi ejakulasi dini. Cobalah posisi hubungan intim yang lebih merangsang pada bagian G-spot Anda. “G spot terletak pada bagian dinding depan vagina, kurang lebih sekitar sepertiga kedalaman vagina,” jelas dr. Vanda. Posisi tahan lama yang bisa Anda berdua lakukan adalah kedua paha Anda merapat atau dapat pula posisi pasangan Anda mendatangi dari arah belakang. Sebelum pasangan Anda mencapai orgasme, Anda juga dapat mencoba posisi seks yang juga menjadi salah satu posisi favorit wanita yaitu woman on top. Dengan posisi seks ini akan membuat wanita sangat mudah mencapai klimaks.

JAKARTA, muslimdaily.net - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program Pekan Kondom Nasional 2013. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan hari AIDS se-Dunia 1 Desember 2013 dengan cara membagi-bagikan kondom di area publik. Tujuannya untuk menekan angka penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia. Kondom diyakini efektif sebagai alat pencegah penularan infeksi virus HIV/AIDS. Data terbaru menunjukkan pada 2012 jumlah orang yang telah terinfeksi HIV sejumlah 10.362 orang, 5.686 terinfeksi AIDS dan 1.146 meninggal dunia.

Anggapan itu ditentang Prof. Dr. dr. Dadang Hawari. Dalam bukunya Global Effect HIV/AIDS, Dadang Hawari mengungkapkan bahwa secara ilmiah kondom 100% tidak aman cegah AIDS. Ia mengungkapkan sejumlah fakta yang tentang kondom yang justru tidak efektif cegah penularan HIV/AIDS. Berikut fakta-fakta seputar kondom menurut Prof. Dr. dr. Dadang Hawari:

1) Kondom terbuat dari bahan latex (karet), bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berati mempunyai serat dan berpori-pori. Di samping itu karena proses pembuatan pabrik kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau “pinholes”.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Lytle, et. al. (1992) dari Division of Life Sciencies, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh pertikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Cary, et. al (1992) dari Division of Pshysicial Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV/AIDS dapat menembus kondom. Kondom yang beredar di pasaran 30% bocor.

4) Direktur Jenderal WHO, Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektifitas kondom diragukan.

5) Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom (bebas bocor) hanya 70%.

6) Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa pengguna kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikro dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.

7) Laporan dari majalah Customer Report (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari virus HIV (Rep.1/11/95).

8) Pernyataan dari M. Potts (1995), Presiden Family Health Internasional, salah satu pencipta kondom mengakui antara lain bahwa, “Kami tidak dapat memberitahukan kepada kalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk kedalam kehidupan yang memiliki risiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini memakai kondom, sama saja artinya menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya” (Rep. 12/11/95).

9) Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor Psikologi dari Universitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainya, berarti mereka telah tersesat (Rep. 12/11/95).

10) Pernyataan pakar AIDS, R. Smith (1995), telah bertahun-tahun mengikuti ancaman AIDS dan pengguna kondom, mengancam mereka yang telah menyebarkan safe sex sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual diluar nikah (Rep.12/11/95)

11) Di Indonesia pada 1996 yang lalu kondom yang diimpor dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50% bocor.

12) Tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) di negara-negara berkembang rata-rata hanya 70%. Kondom terbuat dari latex yang peka terhadap sinar (matahari dan lampu), oksigen dan kelembaban. Umur pakai kondom hanya 5 tahun. Dikhawatirkan, banyak kondom yang diimpor dari luar negri yang melewati batas waktunya. Penyimpanan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kondom berjamur, robek bahkan copot sama sekali. Kalau diamati penyimpanan kondom diapotik-apotik yang sering diletakkan di bawah lampu neon. Keadaan bertambah gawat kalau penyimpanan di gudangnya kurang hati-hati atau kurang teliti misalnya diletakkan di lantai. Namun terdapat fakta yang lebih memprihatinkan, yaitu orang membeli kondom justru di pinggir jalan. Dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukan orang membeli kondom di penjual rokok atau jamu atau kios obat kaki lima. Dari 10 orang orang petualang seks 3 orang kemungkinan tidak aman dari serangan HIV/AIDS karena itu seks yang aman adalah hanya dilakukan dengan pasangan yang sah. (Lubis, F.,1996)

13) Gereja Katolik (Vatikan) menyerukan kepada masyarakat bahwa kondom tidak melindungi seorang dari ketularan virus HIV/AIDS. Selanjutnya sebagaimana dikemukakan oleh Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa cara terbaik agar terhindar dari virus HIV/AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak melakukan hubungan seks di luar nikah.

14) Alfonso Lopez Trujillo (2003) seorang kardinal senior dari Vatikan yang menyatakan virus HIV/AIDS dapat menembus dinding kondom, kecilnya virus HIV 1/450 lebih kecil dari sperma saja masih bisa menembus lapisan kondom, apalagi virus HIV.

15) Gordon Wambi (2003) seorang aktivis AIDS menyatakan ketidaksetujuan pemakaian kondom. Hal ini sesuai dengan Vatikan’s Pontifical Council for Familiy yang menyerukan kepada pemerintah agar tidak menganjurkan pemakaian kondom kepada rakyatnya: kampanye kondom sama saja kampanye rokok, bahanya sama.

16) Sejak kondom mudah diperoleh, penyebaran virus HIV/AIDS menjadi semakin melesat dengan pesat, disimpulkan bahwa kondom membantu penularan penyebaran HIV/AIDS, demikian dikemukakan oleh Archbishop of Nairobi (Raphael Ndingi Nzeki, 2003).

17) Selanjutnya gereja Katolik menganjurkan kepada salah satu pasangan suami istri yang terinfeksi untuk tidak menggunakan kondom, sebab virus HIV bisa menembus pada pasangan yang lain. Dewasa ini dunia sedang menghadapi global pandemic HIV/AIDS yang telah menewaskan lebih dari 20 juta orang dan menginfeksi 42 juta orang.

Sumber : Prof Dr dr Dadang Hawari, Psikiater (Global Effect HIV/AIDS; Dimensi Psikoreligi,2012/antiliberal)

Keluarga Berencana atau KB adalah gerakan untuk membatasi jumlah keluarga (yang sering kita dengar dengan istilah 2 anak cukup) yang dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi atau pencegahan kehamilan seperti spiral, IUD dan lain-lain.

Namun ternyata gerakan pembatasan keturunan ini jika kita perhatikan dari sisi agama, ternyata program Keluarga Berencana ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam. Sebab Allah subhanahuwata’ala dan Rasulullah SAW telah mensyariatkan kepada umatnya untuk mendapatkan keturunan sekaligus memperbanyaknya.


Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW bersabda:

تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة

”Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat (dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)".
[Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa'i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin -dengan ijin Allah-, dan Allah akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka.
hukum asal untuk membatasi keturunan adalah Haram, Kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu yang mengharuskannya untuk tidak melahirkan lagi, seperti dalam keadaan darurat.
Maka jika bersandar dari dalil diatas, maka hukum asal untuk membatasi keturunan adalah Haram. Namun pada kenyataannya timbul banyak sekali pernyataan-pernyataan tentang keadaan tertentu yang mengharuskan seseorang untuk berhenti dari memiliki keturunan. Seperti dalam keadaan darurat. Maka jika demikian keadaannya, baginya diberi keringanan, seperti:


-Pertama: Keadaan Istri yang sakit, yang tidak memungkinkan untuk hamil atau melahirkan lagi. Dan jika mengandung atau melahirkan lagi akan membahayakan kesehatan sang istri. Maka dibolehkan baginya untuk berhenti memiliki keturunan.



-Kedua: Keadaan seseorang yang sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka dalam keadaan seperti ini seorang istri dibolehkan untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilan sementara. Seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.

Kesimpulan Keluarga Berencana DIatas.
Dari urain singkat diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa:

A. Membatasi keturunan hukumnya Haram (Tahdid Nasl)
Termasuk disini:


1, Slogan 2 anak cukup yang dicanangkan pemerintah, padahal suami dan istri dalam keadaan mampu dan sehat


2, Alasan karena kemiskinan atau ketidakmampuan. Sebab Allah telah berfirman dalam Al Quran:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian. (Al Isra’ 31)


3, Alasan karir atau untuk hidup senang atau hal-hal lain yang serupa yang dilakukan para wanita zaman sekarang ini. Semua hal tersebut juga tidak boleh.



B. Mengatur waktu kehamilan disebabkan keadaan diatas, hukumnya mubah (Tandhim Nasl)
Pengaturan yang dimaksud bersifat sementara, dan tidak permanen seperti tubektomi dan fasektomi. sebab 2 cara tersebut dilarang (Haram) kecuali keadaan darurat.



Perlu diketahui, bahwa tidak ada seorangpun yang mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan dan kekuatan suatu umat, tidak seperti anggapan orang-orang yang memiliki prasangka yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan dan kelaparan. Wallahu’alam bish showab.

Penulis: Ust. Abu Syauqie Al Mujaddid (Dewan Pembina Solusi Islam)

Artikel: www.solusiislam.com

Keluarga Berencana Islami

Semua orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian wajib meyakini bahwa syariat Islam diturunkan oleh Allah ta’ala untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup Manusia. Karena Allah ta’ala mensyariatkan agama-Nya dengan ilmu-Nya yang maha tinggi dan hikmah-Nya yang maha sempurna, maka jadilah syariat Islam satu-satunya pedoman hidup yang bisa mendatangkan kebahagiaan hakiki bagi semua orang yang menjalankannya dengan baik.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan) hidup bagimu.” (Qs. al-Anfaal: 24). (Lihat “Tafsir Ibnu Katsir”, 4/34)

Imam Ibnul Qayyim -semoga Allah ta’ala merahmatinya- berkata: “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan, yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.” (Kitab al-Fawa-id, hal. 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)

Semakna dengan ayat di atas Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. an-Nahl: 97)

Para ulama salaf menafsirkan makna “kehidupan yang baik (di dunia)” dalam ayat di atas dengan “kebahagiaan hidup” atau “rezeki yang halal” dan kebaikan-kebaikan lainnya. (Lihat “Tafsir Ibnu Katsir”, 2/772)

Oleh karena itulah, jalan keluar dan solusi dari semua masalah yang kita hadapi, tidak terkecuali masalah dalam rumah tangga dan problema pendidikan anak, hanya akan dicapai dengan bertakwa kepada Allah ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Qs. ath-Thalaaq: 2-3).

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)

Artinya: Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya) (Tafsir Ibnu Katsir, 4/489).

Anjuran memperbanyak keturunan

Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak (boleh)”, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain (pada hari kiamat nanti).” Bagi seorang perempuan yang masih gadis. kesuburan ini diketahui dengan melihat keadaan keluarga (ibu dan saudara perempuan) atau kerabatnya, lihat kitab ‘Aunul Ma’buud, 6/33-34). (HR Abu Dawud (no. 2050), an-Nasa-i (6/65) dan al-Hakim (2/176), dishahihkan oleh Ibnu Hibban (no. 4056- al-Ihsan), juga oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya memperbanyak keturunan, yang ini termasuk tujuan utama pernikahan, dan dianjurkannya menikahi perempuan yang subur untuk tujuan tersebut. Lihat kitab Zaadul Ma’aad (4/228), Aadaabuz Zifaaf (hal. 60) dan Khataru Tahdiidin Nasl (8/16- Muallafaatusy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Ibuku (Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha) pernah berkata: (Wahai Rasulullah), berdoalah kepada Allah untuk (kebaikan) pelayan kecilmu ini (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). Anas berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa (meminta kepada Allah) segala kebaikan untukku, dan doa kebaikan untukku yang terakhir beliau ucapkan: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.” Anas berkata: Demi Allah, sungguh aku memiliki harta yang sangat banyak, dan sungguh anak dan cucuku saat ini (berjumlah) lebih dari seratus orang. (HSR. al-Bukhari (no. 6018) dan Muslim (no. 2481), lafazh ini yang terdapat dalam Shahih Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan memiliki banyak keturunan yang diberkahi Allah ta’ala, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mendoakan keburukan untuk sahabatnya, dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sendiri menyebutkan ini sebagai doa kebaikan. Oleh karena itulah, imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. (Lihat Syarah Shahih Muslim, 16/39-40)

Demikian pula keumuman hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan memiliki anak yang saleh, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah (pahala) amal (kebaikan)nya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya dengan diwakafkan), atau ilmu yang diambil manfaatnya (terus diamalkan), atau anak shaleh yang terus mendoakan kebaikan baginya.” (HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah, no. 1598)

Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (Kitab al-Maudhuuaat (2/281), al-’Ilal mutanaahiyah (2/636) keduanya tulisan imam Ibnul Jauzi, dan Silsilatul Ahaaditsidh Dha’iifah” (no. 3580))

Adapun hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan membatasi keturunan, seperti hadits “Sebaik-baik kalian setelah dua ratus tahun mendatang adalah semua orang yang ringan punggungnya (tanggungannya); (yaitu) yang tidak memiliki istri dan anak”, dan yang semakna dengannya, semua hadits tersebut adalah hadits yang lemah bahkan beberapa diantaranya batil (palsu).

Demikian pula hadits-hadits yang menunjukkan tercelanya memiliki keturunan, semuanya hadits palsu. Imam Ibnul Qayyim berkata: “Hadits-hadits (yang menunjukkan) tercelanya (memiliki) anak semuanya dusta (hadits palsu) dari awal sampai akhir.” (Kitab al-Manaarul Muniif, no. 206)

Banyak anak tidak berarti banyak masalah

Setelah jelas bagi kita bahwa agama Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, maka dengan ini kita mengetahui kelirunya anggapan kebanyakan orang awam yang jahil (tidak paham agama), yang mengatakan bahwa banyak anak berarti banyak masalah. Karena tidak mungkin agama Islam yang diturunkan untuk kebaikan hidup manusia, menganjurkan sesuatu yang justru menimbulkan masalah bagi mereka. Hal ini disebabkan agama Islam tidak hanya menganjurkan memperbanyak keturunan, tapi juga menekankan kewajiban untuk mendidik keturunan dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Qs. at-Tahriim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.” (Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 640)

Bahkan kalau kita amati dengan seksama, menerapkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini justru merupakan faktor utama -setelah taufik dari Allah ta’ala- yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak, sekaligus sebagai penjagaan bagi anak dari setan yang selalu berupaya untuk memalingkan manusia dari jalan yang lurus sejak mereka dilahirkan ke dunia ini. (Dalam hadits shahih riwayat Muslim (no. 2367) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan”)

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata: “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4). (Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin, 4/14)

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa:

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” Maksud Rezeki pada hadits ini termasuk anak dan yang lainnya, lihat kitab Faidhul Qadiir (5/306).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HSR al-Bukhari (no. 6025) dan Muslim, no. 1434)

Konsep Islam tentang Keluarga Berencana

Berdasarkan dalil-dalil yang tersebut di atas, maka hukum asal membatasi atau mengatur jumlah keturunan (baca: Keluarga Berencana) dalam Islam adalah diharamkan, karena menyelisihi petunjuk syariat Islam yang melarang keras perbuatan tabattul (hidup membujang selamanya) (Dalam hadits shahih Riwayat Ahmad (3/158 dan 3/245) dan Ibnu Hibban (no. 4028), dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil (6/195)), dan memerintahkan untuk menikahi perempuan yang subur (banyak anak). Oleh karena itu, mengonsumsi pil pencegah kehamilan atau obat-obatan lainnya untuk mencegah kehamilan tidak diperbolehkan (dalam agama Islam), kecuali dalam kondisi-kondisi darurat (terpaksa) yang jarang terjadi (Fatawa Lajnah Daaimah (19/319) no (1585) yang dipimpin oleh syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, dengan sedikit penyesuaian).

Ketika menjelaskan hikmah agung diharamkannya membatasi keturunan, imam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan keterangan yang telah kami sampaikan dan keterangan para ulama yang kami nukilkan (sebelumnya), dia akan mengetahui (dengan yakin) bahwa pendapat yang membolehkan untuk membatasi keturunan adalah pendapat yang berseberangan dengan syariat Islam yang sempurna, yang (selalu berusaha) mewujudkan dan menyempurnakan kemaslahatan (kebaikan bagi manusia), serta menolak dan memperkecil kemudharatan (keburukan/kerusakan bagi manusia). (Bahkan pendapat ini) bertentangan dengan fitrah manusia yang suci, karena Allah ta’ala menjadikan fitrah suci manusia untuk mencintai anak-anak dan mengusahakan sebab-sebab untuk memperbanyak keturunan. Sungguh Allah dalam al-Qur-an telah menjadikan banyaknya keturunan sebagai anugerah (bagi manusia) dan menjadikannya termasuk perhiasan (kehidupan) dunia. Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

“Allah menjadikan bagimu istri-istri dari jenismu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (Qs. an-Nahl: 72)

Allah ta’ala juga berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia.” (Qs. al-Kahfi: 46)

(Kemudian) barangsiapa yang memperhatikan pembahasan masalah ini (dengan seksama) dia akan mengetahui bahwa pendapat yang membolehkan untuk membatasi keturunan adalah pendapat yang bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) umat Islam (sendiri). Karena sungguh banyaknya keturunan (kaum muslimin) termasuk sebab kekuatan, kemuliaan, keperkasaan dan kewibawaan umat Islam (di hadapan umat-umat lain). Sedangkan membatasi keturunan bertentangan dengan semua (tujuan) tersebut, karena menjadikan sedikitnya (jumlah) dan lemahnya kaum muslimin, bahkan menjadikan musnah dan punahnya umat ini. Ini adalah perkara yang jelas bagi semua orang yang berakal dan tidak butuh argumentasi (untuk membuktikannya) (Majmu’u Fatawa wa Maqaalaat Syaikh Bin Baaz (3/19). Lihat juga tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Bahayanya Membatasi Keturunan dalam “Muallafaatusy syaikh Muhammad bin Jamil Zainu” (8/16)).

Oleh karena itulah, Syaikh Shaleh al-Fauzan menegaskan bahwa pembatasan jumlah keturunan adalah pemikiran buruk yang disusupkan musuh-musuh Islam ke dalam tubuh kaum muslimin, dengan tujuan untuk melemahkan dan memperkecil jumlah kaum muslimin (Al-Muntaqa Min fatawa al-Fauzan, 69/20).

Berbagai alasan mengapa ber-KB dalam tinjauan syariat Islam

Adapun alasan-alasan yang di kemukakan oleh kebanyakan orang yang melakukan KB, seperti kekhawatiran tidak cukupnya rezeki atau kesulitan mendidik anak, maka ini adalah alasan-alasan yang sangat bertentangan dengan petunjuk Islam, bahkan mengandung buruk sangka kepada Allah ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata: “…Kalau yang menjadi pendorong melakukan pembatasan keturunan adalah kekhawatiran akan kurangnya rezeki, maka ini (termasuk) berburuk sangka kepada Allah ta’ala. Karena Allah ta’ala Dialah yang menciptakan semua manusia, maka Dia pasti akan mencukupkan rezeki bagi mereka…

Allah berfirman:

وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-’Ankabuut: 60)

Adapun jika pendorong melakukannya adalah kekhawatiran akan susahnya mendidik anak, maka ini adalah (persangkaan) yang keliru, karena betapa banyak (kita dapati) anak yang sedikit jumlahnya tapi sangat menyusahkan (orang tua mereka) dalam mendidik mereka, dan (sebaliknya) betapa banyak (kita dapati) anak yang jumlahnya banyak tapi sangat mudah untuk dididik jauh melebihi anak yang berjumlah sedikit. Maka yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah ta’ala. Jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4) (Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin, 4/14).

Bahkan alasan membatasi keturunan seperti ini termasuk tindakan menyerupai orang-orang kafir di jaman Jahiliyah, yang membunuh anak-anak mereka karena takut miskin, hanya saja orang-orang di jaman sekarang mencegah kelahiran anak karena takut miskin, adapun orang-orang di jaman Jahiliyah membunuh anak-anak mereka yang sudah lahir karena takut miskin. (Lihat ucapan syaikh Shaleh al-Fauzan dalam al-Muntaqa Min Fatawa al-Fauzan (89/19), dan syaikh al-Albani dalam Aadaabuz Zifaaf (hal. 65)).

Allah ta’ala berfirman:

ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق نحن نرزقهم وإياكم إن قتلهم كان خِطْأ كبيراً

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Qs. al-Israa’: 31)

Dan masih banyak alasan-alasan lain yang di kemukakan khususnya oleh para pengekor musuh-musuh Islam, yang mempropagandakan seruan untuk membatasi jumlah keturunan. Semua alasan yang mereka kemukakan itu disebutkan dan dibantah secara terperinci oleh Lajnah Daimah yang dipimpin oleh imam syaikh Ibrahim bin Muhammad Alu Syaikh. (Lihat Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (5/115-125)).

Kesimpulannya, semua alasan yang mereka kemukakan sangat menyimpang jauh dari kebenaran dan petunjuk Islam, bahkan bertentangan dengan kenyataan dan tuntutan fitrah kemanusiaan, bahkan lebih dari pada itu, (upaya) untuk membatasi (jumlah keturunan) atau mencegah kehamilan dengan cara apapun akan menimbulkan banyak bahaya dan kerusakan, baik dari segi agama, ekonomi, politik, sosial, jasmani maupun rohani. (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah, (5/127), dengan sedikit penyesuaian)

Perbedaan antara membatasi (jumlah) keturunan dan mencegah kehamilan atau mengaturnya

Setelah kita mengetahui bahwa hukum asal Keluarga Berencana adalah diharamkan karena sebab-sebab tersebut di atas, kecuali dalam keadaan darurat dan dengan alasan yang benar menurut syariat, maka dalam hal ini para ulama membedakan antara membatasi keturunan dan mencegah kehamilan atau mengaturnya, sebagai berikut:

Membatasi (jumlah) keturunan: adalah menghentikan kelahiran (secara permanen) setelah keturunan mencapai jumlah tertentu, dengan menggunakan berbagai sarana yang diperkirakan bisa mencegah kehamilan. Tujuannya untuk memperkecil (membatasi) jumlah keturunan dengan menghentikannya setelah (mencapai) jumlah yang ditentukan. (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114, Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah). Lihat juga keterangan syaikh al-’Utsaimin dalam Silsilatu Liqa-aatil Baabil Maftuuh (31/133)).

Membatasi keturunan dengan tujuan seperti ini dalam agama Islam diharamkan secara mutlak, sebagaimana keterangan Lajnah daaimah yang dipimpin oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Fatawal Lajnatid Daaimah, (9/62) no (1584)), demikian juga Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin (Silsilatu Liqa-aatil Baabil Maftuuh, (31/133)), syaikh Shaleh al-Fauzan (Al-Muntaqa Min Fatawa al-Fauzan (69/20)) dan Keputusan majelis al Majma’ al Fiqhil Islami (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (30/286)). Karena ini bertentangan dengan tujuan-tujuan agung syariat Islam, seperti yang diterangkan di atas.

Mencegah kehamilan: adalah menggunakan berbagai sarana yang diperkirakan bisa menghalangi seorang perempuan dari kehamilan, seperti: al-’Azl (menumpahkan sperma laki-laki di luar vagina), mengonsumsi obat-obatan (pencegah kehamilan), memasang penghalang dalam vagina, menghindari hubungan suami istri ketika masa subur, dan yang semisalnya (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114 – Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah)).

Pencegahan kehamilan seperti ini juga diharamkan dalam Islam, kecuali jika ada sebab/alasan yang (dibenarkan) dalam syariat.

Syaikh Shaleh al-Fauzan berkata: “Aku tidak menyangka ada seorang ulama ahli fikih pun yang menghalalkan (membolehkan) mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, kecuali jika ada sebab (yang dibenarkan) dalam syariat, seperti jika seorang wanita tidak mampu menanggung kehamilan (karena penyakit), dan (dikhawatirkan) jika dia hamil akan membahayakan kelangsungan hidupnya. Maka dalam kondisi seperti ini dia (boleh) mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, disebabkan dia tidak (mampu) menanggung kehamilan, karena kehamilan (dikhawatirkan) akan membahayakan hidupnya, maka dalam kondisi seperti ini boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, karena darurat (terpaksa)… Adapun mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan tanpa ada sebab (yang dibenarkan) dalam syariat, maka ini tidak boleh (diharamkan), karena kehamilan dan keturunan (adalah perkara yang) diperintahkan dalam Islam (untuk memperbanyak jumlah kaum muslimin). Maka jika mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan itu (bertujuan untuk) menghindari (banyaknya) anak dan karena (ingin) membatasi (jumlah) keturunan, sebagaimana yang diserukan oleh musuh-musuh Islam, maka ini diharamkan (dalam Islam), dan tidak ada seorang pun dari ulama ahli fikih yang diperhitungkan membolehkan hal ini. Adapun para ahli kedokteran mungkin saja mereka membolehkannya, karena mereka tidak mengetahui hukum-hukum syariat Islam (al-Muntaqa min fatawa al-Fauzan (89/25)).

Dalam fatwa Lajnah Daimah: “…Berdasarkan semua itu, maka membatasi (jumlah keturunan) diharamkan secara mutlak (dalam Islam), (demikian juga) mencegah kehamilan diharamkan, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang jarang (terjadi) dan tidak umum, seperti dalam kondisi yang mengharuskan wanita yang hamil untuk melahirkan secara tidak wajar, dan kondisi yang memaksa wanita yang hamil melakukan operasi (caesar) untuk mengeluarkan bayi (dari kandungannya), atau kondisi yang jika seorang wanita hamil maka akan membahayakannya karena adanya penyakit atau (sebab) lainnya. Ini semua dikecualikan dalam rangka untuk menghindari mudharat (bahaya) dan menjaga kelangsungan hidup (bagi wanita tersebut), karena sesungguhnya syariat Islam datang untuk mewujudkan kemaslahatan (kebaikan) dan mencegah kerusakan… (Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (5/127)).

Mengatur kehamilan: adalah menggunakan berbagai sarana untuk mencegah kehamilan, tapi bukan dengan tujuan untuk menjadikan mandul atau mematikan fungsi alat reproduksi, tetapi tujuannya mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (bukan selamanya), karena adanya maslahat (kebutuhan yang dibenarkan dalam syariat) yang dipandang oleh kedua suami istri atau seorang ahli (dokter) yang mereka percaya (Fatwa Haiati Kibarul ‘Ulama’ (5/114) Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah). Lihat juga keterangan syaikh al-’Utsaimin dalam Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin (4/15)).

Mengatur kehamilan seperti ini -sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad al-’Utsaimin- boleh dilakukan dengan dua syarat:

1). Adanya kebutuhan (yang dibenarkan dalam syariat), seperti jika istri sakit (sehingga) tidak mampu menanggung kehamilan setiap tahun, atau (kondisi) tubuh istri yang kurus (lemah), atau penyakit-penyakit lain yang membahayakannya jika dia hamil setiap tahun.

2). Izin dari suami bagi istri (untuk mengatur kehamilan), karena suami mempunyai hak untuk mendapatkan dan (memperbanyak) keturunan (Al Fataawal Muhimmah (1/159-160) no. (2764)).

Syaikh Shaleh al-Fauzan berkata: “…Demikian pula (diperbolehkan) mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan, atau lebih tepatnya penunda kehamilan, untuk jangka waktu tertentu (bukan seterusnya), karena adanya suatu sebab (yang dibenarkan dalam syariat), seperti jika istri dalam kondisi sakit, atau kelahiran yang banyak berturut-turut yang membuat istri tidak mampu memberi makanan (ASI) yang cukup untuk bayinya, maka dia (boleh) mengonsumsi obat penunda kehamilan, supaya dia bisa berkonsentrasi (untuk mempersiapkan diri) menyambut kehamilan yang baru setelah selesai dari hamil yang pertama, maka dalam kondisi (seperti) ini diperbolehkan (Al-Muntaqa Min Fatawa al-Fauzan (89/24-25)).

Dalam fatwa Lajnah Daimah yang dipimpin oleh Syaikh Bin Baz: “…Adapun mengatur keturunan yaitu (dengan) menunda kehamilan karena alasan yang benar (sesuai syariat), seperti (kondisi) istri yang lemah (sehingga) tidak mampu (menanggung) kehamilan, atau kebutuhan untuk menyusui bayi yang sudah lahir, maka ini diperbolehkan untuk kebutuhan tersebut (Fatawal Lajnatid Daaimah (19/428) no (16013)).

Yang perlu diperhatikan di sini, bahwa kondisi lemah, payah dan sakit pada wanita hamil atau melahirkan yang dimaksud di sini adalah lemah/sakit yang melebihi apa yang biasa dialami oleh wanita-wanita hamil dan melahirkan pada umumnya, sebagaimana yang diterangkan dalam fatwa Lajnah Daimah (Fatawal Lajnatid Daaimah (19/319) no (1585)). Karena semua wanita yang hamil dan melahirkan mesti mengalami sakit dan payah, Allah berfirman:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً

“…Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (Qs. al-Ahqaaf: 15).

Penggunaan alat kontrasepsi dan obat pencegah hamil

Setelah kita mengetahui bahwa para ulama membolehkan penggunaan obat pencegah kehamilan dan alat kontrasepsi jika ada sebab yang dibenarkan dalam syariat, maka dalam menggunakannya harus memperhatikan beberapa hal berikut:

1) Sebelum menggunakan alat kontrasepsi/obat anti hamil hendaknya berkonsultasi dengan seorang dokter muslim yang dipercaya agamanya, sehingga dia tidak gampang membolehkan hal ini, karena hukum asalnya adalah haram, sebagaimana penjelasan yang lalu. Ini perlu ditekankan karena tidak semua dokter bisa dipercaya, dan banyak di antara mereka yang dengan mudah membolehkan pencegahan kehamilan (KB) karena ketidakpahaman terhadap hukum-hukum syariat Islam, sebagaimana ucapan syaikh Shaleh al-Fauzan di atas. (Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam Khataru Tahdiidin Nasl (8/16) Muallafaatusy syaikh Muhammad bin Jamil Zainu), dan keputusan Majelis al Majma’ al Fiqhil Islami dalam Majallatul Buhuutsil Islaamiyyah (30/286))

2) Pilihlah alat kontrasepsi yang tidak membahayakan kesehatan, atau minimal yang lebih ringan efek sampingnya terhadap kesehatan (Lihat keterangan Syaikh al-’Utsaimin dalam al-Fatawal Muhimmah (1/160) dan kitab Buhuutsun Liba’dhin Nawaazilil Fiqhiyyatil Mu’aashirah (28/6)).

3- Usahakanlah memilih alat kontrasepsi yang ketika memakai/memasangnya tidak mengharuskan terbukanya aurat besar (kemaluan dan dubur/anus) di hadapan orang yang tidak berhak melihatnya. Karena aurat besar wanita hukum asalnya hanya boleh dilihat oleh suaminya (Lihat Tafsir al-Qurthubi (12/205) dan keterangan syaikh al-’Utsaimin dalam Kutubu Wa Rasaa-ilu Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimiin (10/175)), adapun selain suaminya hanya diperbolehkan dalam kondisi yang sangat darurat (terpaksa) dan untuk keperluan pengobatan (Lihat kitab an-Nazhar Fi Ahkamin Nazhar (hal. 176) tulisan Imam Ibnul Qaththan al-Faasi, melalui perantaraan kitab Ahkaamul ‘Auraat Linnisaa’ (hal. 85)). Berdasarkan keumuman makna firman Allah ta’ala:

والذين هم لفروجهم حافظون، إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين

“…Dan mereka (orang-orang yang beriman) adalah orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (Qs. al-Mu’minuun: 5-6)

Penutup

Inilah keterangan yang dapat kami sampaikan tentang hukum KB, berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita dan bagi semua orang yang membaca dan merenungkannya. Dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kaum muslimin agar mereka selalu kembali kepada petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan mereka.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 4 Jumadal uula 1430 H

***

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A.
Artikel www.muslim.or.id


Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah

Agama Islam yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu” (QS. Al Maaidah:3).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat/anugerah Allah Ta’ala yang terbesar bagi umat Islam, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini bagi mereka, sehingga mereka tidak butuh kepada agama selain Islam, juga tidak kepada nabi selain nabi mereka (nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau kepada (seluruh umat) manusia dan jin, maka tidak sesuatu yang halal kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan (dengan wahyu dari Allah Ta’ala), tidak ada sesuatu yang haram kecuali yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Dan segala sesuatu yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah benar dan jujur, tidak ada kedustaan dan kebohongan padanya, Allah Ta’ala berfirman,

{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’aam:115). Yaitu: (kalimat) yang benar dalam semua beritanya serta adil dalam segala perintah dan larangannya.

Maka ketika Allah telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, maka (ini berarti) nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada mereka telah sempurna. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu”. Artinya: Terimalah dengan ridha agama (Islam) ini bagi dirimu, karena inilah (satu-satunya) agama yang dicintai dan diridhai-Nya, dan dengannya dia mengutus (kepadamu) rasul-Nya yang paling mulia (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menurunkan kitab-Nya yang paling agung (al-Qur’an)[1].

Sikap Seorang Mukmin terhadap Syariat Allah

Di antara ciri utama seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir adalah merasa ridha dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا}

Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36).

Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام ديناً وبمحمد رسولاً”

Akan merasakan kelezatan iman (kesempurnaan iman), orang yang ridha pada Allah Ta’ala sebagai Rabbnya dan islam sebagai agamanya serta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya[2].

Tidak terkecuali dalam hal ini, hukum-hukum Islam yang dirasakan tidak sesuai dengan kemauan/keinginan sebagian orang, seperti poligami, yang dengan mengingkari atau membenci hukum Allah Ta’ala tersebut, bisa menyebabkan pelakunya murtad/keluar dari agama Islam[3], na’uudzu billahi min dzaalik. Allah Ta’ala berfirman menceritakan sifat orang-orang kafir,

{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).

Oleh karena itu, dalam memahami dan melaksanakan syariat Islam hendaknya kita selalu waspada dan behati-hati dari dua senjata utama godaan setan untuk memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah Ta’ala:

Yang pertama: sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memahami dan menjalankan ketentuan syariat-Nya, terlebih lagi dalam menjalankan ketentuan syariat yang dirasakan cocok dengan kepentingan hawa nafsu.

Yang kedua: sikap meremehkan dan kurang dalam memahami dan melaksanakan ketentuan syariat Allah Ta’ala, yang ini sering terjadi pada sebagian hukum syariat Islam yang dirasakan oleh sebagian orang tidak sesuai dengan kemauan hawa nafsunya[4].

Salah seorang ulama salaf ada yang berkata, “Setiap Allah Ta’ala memerintahkan suatu perintah (dalam agama-Nya) maka setan mempunyai dua macam godaan (untuk memalingkan manusia dari perintah tersebut): [1] (yaitu godaan) untuk (bersikap) kurang dan meremehkan (perintah tersebut), dan [2] (godaan) untuk (bersikap) berlebih-lebihan dan melampaui batas (dalam melaksanakannya), dan dia tidak peduli dengan godaan mana saja (dari keduanya) yang berhasil (diterapkannya kepada manusia)”[5].

Hukum Poligami dalam Islam

Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara ibaahah (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab (dianjurkan)[6].

Adapun makna perintah dalam firman Allah Ta’ala,

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).

Perintah Allah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajibnya poligami, karena perintah tersebut dipalingkan dengan kelanjutan ayat ini, yaitu firman-Nya,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).

Maka dengan kelanjutan ayat ini, jelaslah bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya adalah larangan, yaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil[7], atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi kecuali wanita yang kamu senangi”.

Ini seperti makna yang ditunjukkan dalam firman-Nya,

{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ}

Dan katakanlah:”Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS al-Kahfi:29). Maka tentu saja makna ayat ini adalah larangan melakukan perbuatan kafir dan bukan perintah untuk melakukannya[8].

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin Baz ketika ditanya, “Apakah poligami dalam Islam hukumya mubah (boleh) atau dianjurkan?” Beliau menjawab rahimahullah, “Poligami (hukumnya) disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, karena firman Allah Ta’ala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan karena perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan (keberadaan) para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, dan ini (menikahi sembilan orang wanita) termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh menikahi lebih dari empat orang wanita[9]. Karena dalam poligami banyak terdapat kemslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun permpuan, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi laki-laki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan. Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), karena Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).

Semoga Allah (senantiasa) memberi taufik-Nya kepada semua kaum muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat[10].

Senada dengan ucapan di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “…Seorang laki-laki jika dia mampu dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama (baginya) untuk menikahi (dua) sampai empat (orang wanita) jika dia mampu. Dia mampu dengan badannya, karena dia enerjik, (sehingga) dia mampu menunaikan hak yang khusus bagi istri-istrinya. Dia (juga) mampu dengan hartanya (sehingga) dia bisa memberi nafkah (yang layak) bagi istri-istrinya. Dan dia mampu dengan hukumnya untuk (bersikap) adil di antara mereka. (Kalau dia mampu seperti ini) maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita), semakin banyak wanita (yang dinikahinya) maka itu lebih utama. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya[11]”…[12].

Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Adapun (hukum) asal (pernikahan) apakah poligami atau tidak, maka aku tidak mendapati ucapan para (ulama) ahli tafsir, yang telah aku baca kitab-kitab tafsir mereka yang membahas masalah ini. Ayat al-Qur’an yang mulia (surat an-Nisaa’:3) menunjukkan bahwa seorang yang memiliki kesiapan (kesanggupan) untuk menunaikan hak-hak para istri secara sempurna maka dia boleh untuk berpoligami (dengan menikahi dua) sampai empat orang wanita. Dan bagi yang tidak memiliki kesiapan (kesanggupan) cukup dia menikahi seorang wanita, atau memiliki budak. Wallahu a’lam[13].

Hikmah dan Manfaat Agung Poligami

Karena poligami disyariatkan oleh Allah Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim, artinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang maha adil dan hikmah[14] yang maha sempurna, maka hukum Allah Ta’ala yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faidah yang agung, di antaranya:

Pertama: Terkadang poligami harus dilakukan dalam kondisi tertentu. Misalnya jika istri sudah lanjut usia atau sakit, sehingga kalau suami tidak poligami dikhawatirkan dia tidak bisa menjaga kehormatan dirinya. Atau jika suami dan istri sudah dianugerahi banyak keturunan, sehingga kalau dia harus menceraikan istrinya, dia merasa berat untuk berpisah dengan anak-anaknya, sementara dia sendiri takut terjerumus dalam perbuatan zina jika tidak berpoligami. Maka masalah ini tidak akan bisa terselesaikan kecuali dengan poligami, insya Allah.

Kedua: Pernikahan merupakan sebab terjalinnya hubungan (kekeluargaan) dan keterikatan di antara sesama manusia, setelah hubungan nasab. Allah Ta’ala berfirman,

{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا}

Dan Dia-lah yang menciptakan manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan karena pernikahan), dan adalah Rabbmu Maha Kuasa” (QS al-Furqaan:54).

Maka poligami (adalah sebab) terjalinnya hubungan dan kedekatan (antara) banyak keluarga, dan ini salah satu sebab poligami yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[15].

Ketiga: Poligami merupakan sebab terjaganya (kehormatan) sejumlah besar wanita, dan terpenuhinya kebutuhan (hidup) mereka, yang berupa nafkah (biaya hidup), tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.

Keempat: Di antara kaum laki-laki ada yang memiliki nafsu syahwat yang tinggi (dari bawaannya), sehingga tidak cukup baginya hanya memiliki seorang istri, sedangkan dia orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Akan tetapi dia takut terjerumus dalam perzinahan, dan dia ingin menyalurkan kebutuhan (biologis)nya dalam hal yang dihalalkan (agama Islam), maka termasuk agungnya rahmat Allah Ta’ala terhadap manusia adalah dengan dibolehkan-Nya poligami yang sesuai dengan syariat-Nya[16].

Kelima: Terkadang setelah menikah ternyata istri mandul, sehingga suami berkeinginan untuk menceraikannya, maka dengan disyariatkannya poligami tentu lebih baik daripada suami menceraikan istrinya.

Keenam: Terkadang juga seorang suami sering bepergian, sehingga dia butuh untuk menjaga kehormatan dirinya ketika dia sedang bepergian.

Ketujuh: Banyaknya peperangan dan disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan banyak laki-laki yang terbunuh sedangkan jumlah perempuan semakin banyak, padahal mereka membutuhkan suami untuk melindungi mereka. Maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.

Kedelapan: Terkadang seorang lelaki tertarik/kagum terhadap seorang wanita atau sebaliknya, karena kebaikan agama atau akhlaknya, maka pernikahan merupakan cara terbaik untuk menyatukan mereka berdua.

Kesembilan: Kadang terjadi masalah besar antara suami-istri, yang menyebabkan terjadinya perceraian, kemudian sang suami menikah lagi dan setelah itu dia ingin kembali kepada istrinya yang pertama, maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.

Kesepuluh: Umat Islam sangat membutuhkan lahirnya banyak generasi muda, untuk mengokohkan barisan dan persiapan berjihad melawan orang-orang kafir, ini hanya akan terwujud dengan poligami dan tidak membatasi jumlah keturunan.

Kesebelas: Termasuk hikmah agung poligami, seorang istri memiliki kesempatan lebih besar untuk menuntut ilmu, membaca al-Qur’an dan mengurus rumahnya dengan baik, ketika suaminya sedang di rumah istrinya yang lain. Kesempatan seperti ini umumnya tidak didapatkan oleh istri yang suaminya tidak berpoligami.

Keduabelas: Dan termasuk hikmah agung poligami, semakin kuatnya ikatan cinta dan kasih sayang antara suami dengan istri-istrinya. Karena setiap kali tiba waktu giliran salah satu dari istri-istrinya, maka sang suami dalam keadaan sangat rindu pada istrinya tersebut, demikian pula sang istri sangat merindukan suaminya.

Masih banyak hikmah dan faedah agung lainnya, yang tentu saja orang yang beriman kepada Allah dan kebenaran agama-Nya tidak ragu sedikitpun terhadap kesempurnaan hikmah-Nya dalam setiap ketentuan yang disyariatkan-Nya. Cukuplah sebagai hikmah yang paling agung dari semua itu adalah menunaikan perintah Allah Ta’ala dan mentaati-Nya dalam semua ketentuan hukum yang disyariatkan-Nya[17].

Arti Sikap “Adil” dalam Poligami

Allah Ta’ala memerintahkan kepada semua manusia untuk selalu bersikap adil dalam semua keadaan, baik yang berhubungan dengan hak-Nya maupun hak-hak sesama manusia, yaitu dengan mengikuti ketentuan syariat Allah Ta’ala dalam semua itu, karena Allah Ta’ala mensyariatkan agamanya di atas keadilan yang sempurna[18]. Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS an-Nahl:90).

Termasuk dalam hal ini, sikap “adil” dalam poligami, yaitu adil (tidak berat sebelah) dalam mencukupi kebutuhan para istri dalam hal makanan, pakaian, tempat tinggal dan bermalam bersama mereka[19]. Dan ini tidak berarti harus adil dalam segala sesuatu, sampai dalam hal yang sekecil-kecilnya[20], yang ini jelas di luar kemampuan manusia[21].

Sebab timbulnya kesalahpahaman dalam masalah ini, di antaranya karena hawa nafsu dan ketidakpahaman terhadap agama, termasuk kerancuan dalam memahami firman Allah Ta’ala[22],

{وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (QS an-Nisaa’:129).

Marilah kita lihat bagaimana para ulama Ahlus sunnah memahami firman Allah yang mulia ini.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Sebagian dari para ulama ahli tafsir (menjelaskan makna firman Allah Ta’ala): “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu)…”, (artinya: berlaku adil) dalam perasaan yang ada dalam hati (rasa cinta dan kecenderungan hati), karena Allah Ta’ala mengampuni bagi hamba-hamaba-Nya terhadap apa yang terdapat dalam hati mereka. “…karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)…” artinya: janganlah kamu memperturutkan keinginan hawa nafsumu dengan melakukan perbuatan (yang menyimpang dari syariat). Dan penafsiran ini sangat sesuai/tepat. Wallahu a’lam[23].

Imam al-Bukhari membawakan firman Allah Ta’ala ini dalam bab: al-‘adlu bainan nisaa’ (bersikap adil di antara para istri)[24], dan Imam Ibnu Hajar menjelaskan makna ucapan imam al-Bukhari tersebut, beliau berkata, “Imam al-Bukhari mengisyaratkan dengan membawakan ayat tersebut bahwa (adil) yang dinafikan dalam ayat ini (adil yang tidak mampu dilakukan manusia) adalah adil di antara istri-istrinya dalam semua segi, dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang shahih) menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan adil (dalam poligami) adalah menyamakan semua istri (dalam kebutuhan mereka) dengan (pemberian) yang layak bagi masing-masing dari mereka. Jika seorang suami telah menunaikan bagi masing-masing dari para istrinya (kebutuhan mereka yang berupa) pakaian, nafkah (biaya hidup) dan bermalam dengannya (secara layak), maka dia tidak berdosa dengan apa yang melebihi semua itu, berupa kecenderungan dalam hati, atau memberi hadiah (kepada salah satu dari mereka)…Imam at-Tirmidzi berkata, “Artinya: kecintaan dan kecenderungan (dalam hati)”, demikianlah penafsiran para ulama (ahli tafsir)…Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Yaitu: kecintaan (dalam hati) dan jima’ (hubungan intim)…[25].

Imam al-Qurthubi berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memberitakan ketidakmampuan (manusia) untuk bersikap adil di antara istri-istrinya, yaitu (menyamakan) dalam kecenderungan hati dalam cinta, berhubungan intim dan ketertarikan dalam hati. (Dalam ayat ini) Allah menerangkan keadaan manusia bahwa mereka secara (asal) penciptaan tidak mampu menguasai kecenderungan hati mereka kepada sebagian dari istri-istrinya melebihi yang lainnya. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (dalam doa beliau), “Ya Allah, inilah pembagianku (terhadap istri-istriku) yang aku mampu (lakukan), maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang Engkau miliki dan tidak aku miliki[26]. Kemudian Allah melarang “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)”, Imam Mujahid berkata, “(Artinya): janganlah kamu sengaja berbuat buruk (aniaya terhadap istri-istrimu), akan tetapi tetaplah berlaku adil dalam pembagian (giliran) dan memberi nafkah (biaya hidup), karena ini termsuk perkara yang mampu (dilakukan manusia)”[27].

Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat di atas): Wahai manusia, kamu sekali-kali tidak akan dapat bersikap adil (menyamakan) di antara para istrimu dalam semua segi, karena meskipun kamu membagi giliran mereka secara lahir semalam-semalam, (akan tetapi) mesti ada perbedaan dalam kecintaan (dalam hati), keinginan syahwat dan hubungan intim, sebagaimana keterangan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Ubaidah as-Salmaani, Hasan al-Bashri, dan Dhahhak bin Muzahim”[28].

Kecemburuan dan Cara Mengatasinya

Cemburu adalah fitrah dan tabiat yang mesti ada dalam diri manusia, yang pada asalnya tidak tercela, selama tidak melampaui batas. Maka dalam hal ini, wajib bagi seorang muslim, terutama bagi seorang wanita muslimah yang dipoligami, untuk mengendalikan kecemburuannya. Karena kecemburuan yang melampaui batas bisa menjerumuskan seseorang ke dalam pelanggaran syariat Allah, seperti berburuk sangka, dusta, mencela[29], atau bahkan kekafiran, yaitu jika kecemburuan tersebut menyebabkannya membenci ketentuan hukum yang Allah syariatkan. Allah Ta’ala berfirman,

{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ}

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).

Demikian pula perlu diingatkan bagi kaum laki-laki untuk lebih bijaksana dalam menghadapi kecemburuan para wanita, karena hal ini juga terjadi pada diri wanita-wanita terbaik dalam Islam, yaitu para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi semua itu dengan sabar dan bijaksana, serta menyelesaikannya dengan cara yang baik[30].

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Asal sifat cemburu adalah merupakan watak bawaan bagi wanita, akan tetapi jika kecemburuan tersebut melampuai batas dalam hal ini sehingga melebihi (batas yang wajar), maka itulah yang tercela. Yang menjadi pedoman dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Atik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesunguhnya di antara sifat cemburu ada yang dicintai oleh Allah dan ada yang dibenci-Nya. Adapun kecemburuan yang dicintai-Nya adalah al-ghirah (kecemburuan) terhadap keburukan. Sedangkan kecemburuan yang dibenci-Nya adalah kecemburuan terhadap (perkara) yang bukan keburukan[31].[32]

Sebab-sebab yang mendorong timbulnya kecemburuan yang tercela (karena melampaui batas) adalah:

- Lemahnya iman dan lalai dari mengingat Allah Ta’ala.

- Godaan setan

- Hati yang berpenyakit

- Ketidakadilan suami dalam memperlakukan dan menunaikan hak sebagian dari istri-istrinya.

- Rasa minder dan kurang pada diri seorang istri.

- Suami yang menyebutkan kelebihan dan kebaikan seorang istrinya di hadapan istrinya yang lain[33].

Adapun cara mengatasi kecemburuan ini adalah:

- Bertakwa kepada Allah Ta’ala.

- Mengingat dan memperhitungkan pahala yang besar bagi wanita yang bersabar dalam mengendalikan dan mengarahkan kecemburuannya sesuai dengan batasan-batasan yang dibolehkan dalam syariat.

- Menjauhi pergaulan yang buruk.

- Bersangka baik.

- Bersikap qana’ah (menerima segala ketentuan Allah I dengan lapang dada).

- Selalu mengingat kematian dan hari akhirat

- Berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan kecemburuan tersebut[34].

Nasehat Bagi Yang Berpoligami dan Dipoligami[35]

1. Nasehat untuk suami yang berpoligami

- Bersikap adillah terhadap istri-istrimu dan hendaklah selalu bersikap adil dalam semua masalah, sampai pun dalam masalah yang tidak wajib hukumnya. Janganlah kamu bersikap berat sebelah terhadap salah satu dari istri-istrimu.

- Berlaku adillah terhadap semua anakmu dari semua istrimu. Usahakanlah untuk selalu mendekatkan hati mereka, misalnya dengan menganjurkan istri untuk menyusui anak dari istri yang lain. Pahamkanlah kepada mereka bahwa mereka semua adalah saudara. Jangan biarkan ada peluang bagi setan untuk merusak hubungan mereka.

- Sering-seringlah memuji dan menyebutkan kelebihan semua istri, dan tanamkanlah kepada mereka keyakinan bahwa tidak ada kecintaan dan kasih sayang yang (abadi) kecuali dengan mentaati Allah Ta’ala dan mencari keridhaan suami.

- Janganlah menceritakan ucapan salah seorang dari mereka kepada yang lain. Janganlah menceritakan sesuatu yang bersifat rahasia, karena rahasia itu akan cepat tersebar dan disampaikannya kepada istri yang lain, atau dia akan membanggakan diri bahwa dia mengetahui rahasia suami yang tidak diketahui istri-istri yang lain.

- Janganlah kamu memuji salah seorang dari mereka, baik dalam hal kecantikan, kepandaian memasak, atau akhlak, di hadapan istri yang lain. Karena ini semua akan merusak suasana dan menambah permusuhan serta kebencian di antara mereka, kecuali jika ada pertimbangan maslahat/kebaikan yang diharapkan.

- Janganlah kamu mendengarkan ucapan salah seorang dari mereka tentang istri yang lain, dan tegurlah/laranglah perbuatan tersebut, supaya mereka tidak terbiasa saling menejelek-jelekkan satu sama yang lain.

2. Nasehat untuk istri pertama

- Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, dan ketahuilah bahwa sikap menentang dan tidak menerima akan membahayakan bagi agama dan kehidupanmu.

- Benahilah semua kekuranganmu yang diingatkan oleh suamimu. Karena boleh jadi itu merupakan sebab dia berpoligami. Kalau kekurangan-kekurangan tersebut berhasil kamu benahi maka bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas petunjuk-Nya.

- Berikanlah perhatian besar kepada suamimu dan sering-seringlah memujinya, baik di hadapan atau di belakangnya, terutama di hadapan keluargamu atau teman-temanmu, karena ini termasuk hal yang bisa memperbaiki hati dan lisanmu, serta menyebabkan keridhaan suami padamu. Dengan itu kamu akan menjadi teladan yang baik bagi para wanita yang menentang dan mengingkari syariat poligami, atau mereka yang merasa disakiti ketika suaminya berpoligami.

- Janganlah kamu mendengarkan ucapan orang jahil yang punya niat buruk dan ingin menyulut permusuhan antara kamu dengan suamimu, atau dengan madumu. Janganlah kamu mudah menyimpulkan sesuatu yang kamu dengar sebelum kamu meneliti kebenaran berita tersebut.

- Janganlah kamu menanamkan kebencian dan permusuhan di hati anak-anakmu kepada istri-istri suamimu dan anak-anak mereka, karena mereka adalah saudara dan sandaran anak-anakmu. Ingatlah bahwa tipu daya yang buruk hanya akan menimpa pelakunya.

- Jangalah kamu merubah sikap dan perlakuanmu terhadap suamimu. Janganlah biarkan dirimu menjadi bahan permainan setan, serta mintalah pertolongan dan berdolah kepada Allah Ta’ala agar Dia menguatkan keimanan dan kecintaan dalam hatimu.

3. Nasehat untuk istri yang baru dinikahi

- Ketahuilah bahwa kerelaanmu dinikahi oleh seorang yang telah beristri adalah kebaikan yang besar dan menunjukkan kuatnya iman dan takwa dalam hatimu, insya Allah. Pahamilah ini semua dan harapkanlah ganjaran pahala dari Allah atas semua itu.

- Gunakanlah waktu luangmu ketika suamimu berada di rumah istrinya yang lain dengan membaca al-Qur’an, mendengarkan ceramah-ceramah agama yang bermanfaat, dan membaca buku-buku yang berfaedah, atau gunakanlah untuk membersihkan rumah dan merawat diri.

- Jadilah engkau sebagai da’i (penyeru) manusia ke jalan Allah Ta’ala dalam hukum-Nya yang mulia ini. Fahamkanlah mereka tentang hikmah-Nya yang agung dalam syariat poligami ini. Janganlah engkau menjadi penghalang bagi para wanita untuk menerima syariat poligami ini.

- Janganlah bersikap enggan untuk membantu/mengasuh istri-istri suami dan anak-anak mereka jika mereka membutuhkan pertolonganmu. Karena perbuatan baikmu kepada mereka bernilai pahala yang agung di sisi Allah dan menjadikan suami ridha kepadamu, serta akan menumbuhkan kasih sayang di antara kamu dan mereka.

- Janganlah kamu membeberkan kekurangan dan keburukan istri suami yang lain. Jangan pernah menceritakan kepada orang lain bahwa suami berpoligami karena tidak menyukai istrinya yang pertama, karena ini semua termasuk perangkap setan.

- Jangan kamu berusaha menyulut permusuhan antara suami dengan istrinya yang lain, agar dia semakin sayang padamu. Karena ini adalah perbuatan namiimah (mengadu domba) yang merupakan dosa besar. Berusahalah untuk selalu mengalah kepadanya, karena ini akan mendatangkan kebaikan yang besar bagi dirimu.

Penutup

Demikianlah keterangan tentang poligami yang menunjukkan sempurnanya keadilan dan hikmah dari hukum-hukum Allah Ta’ala. Semoga ini semua menjadikan kita semakin yakin akan keindahan dan kebaikan agama Islam, karena ditetapkan oleh Allah Ta’ala yang Maha Sempurna semua sifat-sifatnya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 26 Dzulqa’dah 1430 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1] Tafsir Ibnu Katsir (2/19).

[2] HSR Muslim (no. 34).

[3] Kitab “Fadhlu ta’addudiz zaujaat” (hal. 24).

[4] kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).

[5] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).

[6] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 18).

[7] Maksudnya adil yang sesuai dengan syariat, sebagaimana yang akan kami terangkan, insya Allah.

[8] Lihat keterangan imam Ibnu Jarir dalam tafsir beliau (4/238).

[9] Sebagaimana yang diterangkan dalam bebrapa hadits yang shahih, diantaranya HR at-Tirmidzi (3/435) dan Ibnu Majah (1/628), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[10] Dinukil dalam majalah “al-Balaagh” (edisi no. 1028, tgl 1 Rajab 1410 H/28 Januari 1990 M).

[11] Atsar yang shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 4787).

[12] Liqaa-il baabil maftuuh (12/83).

[13] Fataawal mar’atil muslimah (2/690).

[14] Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini bersumber dari kesempurnaan ilmu Allah Ta’ala, lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 131).

[15] Lihak keterangan imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani dalam “Fathul Baari” (9/143).

[16] Majmuu’ul fataawa syaikh al-‘Utsaimiin (4/12 – kitabuz zawaaj).

[17] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 31-32).

[18] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/596) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 447).

[19] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 69).

[20] Sebagaimana persangkaan keliru orang-orang yang tidak memahami pengertian adil yang sebenarnya.

[21] Sebagaimana penjelasan para ulama yang akan kami nukil setelah ini, insya Allah.

[22] Bahkan kesalahpahaman dalam memahami ayat ini menyebabkan sebagian orang beranggapan bahwa poligami tidak boleh dilakukan, karena orang yang berpoligami tidak mungkin bisa bersikap adil !!? Kita berlindung kepada Allah dari penyimpangan dalam memahami agama-Nya.

[23] Kitab “al-Umm” (5/158).

[24] Dalam kitab “shahihul Bukhari” (5/1999).

[25] Kitab “Fathul Baari” (9/313).

[26] Hadits ini adalah hadits yang lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2134), at-Tirmidzi (no. 1140), an-Nasa’i (no. 3943) dan Ibnu Majah (no. 1971), dinyatakan lemah oleh Abu Zur’ah, Abu Hatim, an-Nasa’i dan syaikh al-Albani dalam “Irwa-ul ghalil” (7/82).

[27] Kitab “Tafsiirul Qurthubi” (5/387).

[28] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/747).

[29] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 136).

[30] Ibid.

[31] HR an-Nasa’i (no. 2558) dan Ibnu Hibban (no. 295), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.

[32] Kitab “Fathul Baari” (9/326).

[33] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 140).

[34] Ibid (hal. 141).

[35] Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 143-145).

Kecemburuan Wanita dan Hikmah Ta’addud (Poligami)

Penulis: Ummu ‘Abdillâh Al-Wâdi’iyyah hafizhahallâh

Berkata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (9/320): “Telah bercerita kepada kami ‘Ali, ia berkata telah berbicara kepada kami Ibnu ‘Aliyah dari Humaid dari Anas, ia berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada di tempat sebagian istrinya. Lalu salah satu dari Ummul Mukminin mengirim piring yang berisi makanan, maka istri Nabi yang sedang berada di rumahnya memukul tangan pelayan itu, sehingga jatuhlah piring tersebut dan pecah. Kemudian Nabi memunguti pecahan piring dan makanan, sambil mengatakan: ((غَارَتْ أُمُّكُمْ)) “Ibu kalian cemburu.” Lalu beliau menahan pelayan tersebut sampai beliau menggantinya dengan piring milik istri yang beliau sedang di rumahnya. Lalu beliau memberikan piring yang utuh kepada istri yang piringnya pecah, dan menahan piring yang sudah pecah di rumah istri yang telah memecahkan piring tersebut.”"

Kata اَلْغِيْرَةُ (cemburu) adalah pecahan dari kata تَغَيُّرُ القَلْبُ (berubahnya hati/tidak suka) dan هَيْجَانُ الغَضَبُ (berkobarnya kemarahan), karena adanya persekutuan (persaingan) dalam hal-hal yang dikhususkan. Dan yang paling dahsyat adalah yang terjadi antara suami dan istri sebagaimana dalam Al-Fath (9/320).

Dan cemburu itu ada dua macam: yang terpuji dan yang tercela. Cemburu yang terpuji adalah cemburu yang tidak melewati batas syari’at. Sedang cemburu yang tercela adalah cemburu yang melewati batas syari’at. Maka jika kecemburuan itu melewati batas syari’at akan menjadi tercela karena ia akan mendorong pelakunya untuk menuduh orang lain, terutama tuduhan suami terhadap istrinya. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Dan di dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إِيَّكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيْثِ))

“Jauhi oleh kalian prasangka karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan.”

Demikian juga kecemburuan istri pada suaminya adalah terpuji selama tidak melewati syari’at. Di antara ujian bagi istri adalah hebatnya rasa cemburu jika suaminya hendak menikah lagi. Bahkan karena dahsyatnya kecemburuan seorang istri terhadap suaminya sering menyeretnya kepada perbuatan yang diharamkan Allah, misalnya dengan melakukan praktek sihir agar suaminya benci kepada madunya. Padahal sihir itu adalah kekufuran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُواْ واتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّه خَيْرٌ لَّوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ﴾

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak member manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102-103)

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan (5/393): “Telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah, ia berkata telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Tsaur bin Zaid Al-Madini dari ‘Abdul Ghaits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

((اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ)) قَلوا: يا رسول الله! وَمَا هنَّ؟ قال: (( الشِرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيْمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَات الغَافِلاتِ))

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa gerangan (yang tujuh) itu?” Beliau menjawab: “(Yaitu) menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang haq, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari peperangan, menuduh wanita baik-baik yang lengah lagi beriman (berbuat zina).”

Berkata Al-Hakim rahimahullah (4/217): “Telah bercerita kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdullah Az-Zahid Al-Ashbahani, ia berkata telah bercerita kepada kami ‘Ubaidillah bin Musa, ia berkata telah bercerita kepada kami Israil dari Maisarah bin Habib dari Al-Minhal bin Amir dari Qais bin As-Sakan Al-Asadi, ia berkata: “Masuklah ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ke tempat seorang wanita (salah satu keluarganya) dan dia melihatnya memakai jimat dari al-hamrah. Lalu ‘Abdullah bin Mas’ud memotongnya dengan keras dan mengatakan: “Sesungguhnya keluarga ‘Abdullah tidak butuh pada syirik. Dan mengatakan: ‘Termasuk perkara yang kami jaga dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (adalah sabdanya):

((أَنَّ الرُّقَى وَالتَّمَاإِمَ وَالتِّوَلَةَ مِنَ الشِرْكِ))

“Sesungguhnya mantera-mantera, dan tamaim/jimat dan tiwalah1 adalah syirik.” Hadits ini hasan sebagaimana dalam Ash-Shahihul Musnad (2/18).

Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kekufuran penyihir, bahwasanya diharamkan untuk melakukan apapun dari perbuatan tukang sihir, dan seorang tukang sihir tidak mungkin belajar sihir kecuali dengan perantaraan para setan. Kemudian mudharat (keburukan) dan manfaat datangnya dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah: ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.”

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

﴿وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلا ۖ كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ﴾ [الأنعام: ١٧]

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tipa-tiap sesuatu.” (Al-An’am: 17)

Dan dalam ayat lainnya:

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Fathir: 2)

Jadi, mudharat dan manfaat adalah di tangan Allah. Maka orang yang menggunakan sihir, jika dia berkeyakinan bahwa dia bisa menimbulkan mudharat atau mendatangkan manfaat di samping Allah maka diakafir, karena ia mendustakan Al-Qur’an. Dan jika tidak berkeyakinan seperti itu, akan tetapi menggunakannya sebagai sebab, maka itu adalah suatu bentuk kesesatan, karena yang boleh dijadikan sebab aalah perkara yang mubah. Dan jika engkau melakukan hal itu berarti engkau telah mendahulukan kehidupan dunia di atas kehidupan akhirat. Barangsiapa yang lebih menyukai kehidupan dunia di atas kehidupan akhirat maka ia sesat dengan kesesatan yang nyata. Dan ia rugi dunia serta akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (An-Nazi’at: 37-39)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keutungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Asy-Syura: 20)

Oleh sebab itu waspada dan berhati-hatilah dari kecelakaan besar ini, jangan sampai setan memperdayamu hanya karena ingin mendapatkan kelezatan dunia dan kesenangan yang bakal sirna yang akhirnya kamu terjerumus ke dalam kekufuran. Hanya Allah satu-satunya tempat berlindung.

Maka demi Allah wahai wanita, para hamba Allah, suamimu tidak akan memberi manfaat bagimu dan hisablah dirimu sendiri sebelum engkau dihisab. Dan tidak jarang hal itu mendorong sebagian wanita berangan-angan seandainya poligami (beristri lebih dari satu) tidak pernah disyari’atkan. Sedangkan yang lain, hal tersebut mungkin membuatnya benci kepada syari’at karena dibolehkannya poligami (bagi pria). Adapula yang barangkali mengharapkan suaminya mati saja, jika dia ingin beristri lagi. Dan berapa banyak yang seperti ini!!

Sebagian wanita lainnya tidak dapat berbuat apa-apa (tidak melakukan pertentangan ketika suaminya kawin lagi, -pent.), akan tetapi lisannya selalu menyerang madunya dengan cacian, ghibah, dan namimah, maka kepada Allah satu-satunya tempat bagi kita untuk minta pertolongan.

Adapun wanita yang beriman sikapnya terhadap masalah ini adalah mengakui dan menyadari bahwa apa yang ada, dan terjadi di alam ini adalah taqdir/ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَّقْدُورًا﴾

“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Al-Ahzab: 38)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Qamar: 49)

Betapapun kamu ditimpa suatu musibah di dunia ini, tidak ada artinya kalau disbanding dengan keselamatan dienmu (imanmu), hendaknya kamu banyak berdo’a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾

“Dan Rabbmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…’” (Ghaafir: 60)

Hendaknya kamu berusaha melawan perasaan yang muncul di hatimu untuk menyusahkan madumu, padahal ia seorang wanita seperti kamu juga maka untuk apa kamu engkau sampai pada perbuatan itu? Dan kalau kita mau berpikir wahai para wanita, tentulah kita tidak akan menyibukkan diri kita dengan hal itu. Padahal kecemburuan seperti ini juga muncul pada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dilebihkan oleh Allah melalui firman-Nya:

﴿يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ﴾

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa.” (Al-Ahzab: 32)

Sebagai contoh kecemburuan mereka adalah pada hadits yang telah lalu. Juga dalam Shahihain dari hadits ‘Aisyah, ia berkata:

“Tidaklah aku cemburu pada seseorang dari istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya sekalipun. Akan tetapi beliau sering sekali menyebutnya, dan sering kali beliau menyembelih kambing kemudian memotongnya sebagian dan diberikan kepada teman-teman Khadijah maka aku katakana: ‘Seolah-olah tidak ada di dunia ini kecuali Khadijah.’ Maka beliau jawab: ‘Sesungguhnya ia dahulu ada dan darinya aku mempunyai anak.’”

Berkata Al-Iman Bukhari rahimahullah (7/134): “Dan berkata Isma’il bin Khalil, ia berkata telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Musher dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Halah binti Khuwailid -saudaranya Khadijah- meminta izin menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau mengenal minta izin (saudaranya) Khadijah, maka beliau gembira karena itu dan mengatakan: ‘Ya Allah (ternyata) engkau Halah.’ Ia (‘Aisyah) berkata: ‘Maka aku menjadi cemburu, lalu aku katakan: ‘Engkau tidak menyebut seorang tua dari orang tua Quraisy yang merah kedua sudut mulutnya, sehingga Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik.””

Dan makna merah kedua sudut mulutnya adalah kinayah dari ompong gigi-giginya, ini dikatakan oleh Al-Hafizh dan juga An-Nawawi serta lainnya. Sedangkan perkataan ‘Aisyah pada hadits yang sebelumnya: “Tidaklah aku cemburu…”, berkata Al-Hafizh (7/136): “Padanya terdapat kepastian adanya sikap cemburu, dan itu bukan sesuatu yang diingkari bila terjadi pada wanita-wanita yang mulia, lebih-lebih selain mereka.”

Berkata Al-Imam Bukhari (9/310): “Telah bercerita kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata telah bercerita kepada kami ‘Abdul Wahid bin Aiman, ia berkata telah berkata kepadaku Ibnu Abi Mulaikah dari Al-Qasim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak safar beliau mengundi di antara istri-istrinya kemudian undian itu jatuh kepada ‘Aisyah dan Hafshah. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila tiba waktu malam beliau (biasa) berjalan bersama ‘Aisyah sambil berbincang-bincang, maka berkatalah Hafshah: ‘Maukah kamu malam ini naik tungganganku dan aku menaiki kendaraanmu, kamu melihat dan aku melihat (pemandangan yang berbeda -ed)?’ ‘Aisyah berkata: ‘Tentu.’ Maka naiklah ia dan datanglah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke onta ‘Aisyah yang di atasnya terdapat Hafshah, beliau memberinya salam, kemudian berjalan sehingga sampai ke suatu tempat dan ‘Aisyah kehilangan beliau. Ketika mereka turun, ‘Aisyah letakkan kedua kakinya di antara al-idzkhir, dan berkata: ‘Wahai Rabbku, aku mampu (menahan sakit disengat) kalajengking atau seekor ular, (tetapi) aku tidak mampu untuk mengatakan sesuatupun kepada beliau (karena cemburu).’

Demikian pula cemburu yang dijumpai pada wanita selain mereka dari kalangan shahabat yang mempunyai keutamaan. Berkata Al-Imam An-Nasai (6/69): “Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, ia berkata telah bercerita kepada kami An-Nadhr, ia berkata telah bercerita kepada kami Hammad bin Salamah dari Ishaq bin ‘Abdullah dari Anas mereka mengatakan:

يا رسول الله ألا تتزوَّج من نساء الأنصار. قال: ((إِنَّ فِيهِمْ لَغَيْرَةً شَدِيدَةً))

“Wahai Rasulullah tidakkah engkau menikahi wanita Anshar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya pada mereka ada kecemburuan yang sangat besar.” Hadits ini shahih.

Sedangkan terjadinya kecemburuan pada kita sangat lebih memungkinkan, maka yang wajib (bagi kita) adalah bersabar. Bahkan termasuk buah keimanan terhadap taqdir adalah sikap sabar sebagaimana dikatakan oleh Ayahanda dan syaikh (guru)-ku dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih fil Qadar. Dan perbuatan Allah ‘Azza wa Jalla semuanya mengandung hikmah, sedangkan hikmah itu kadang nampak dan terkadang tidak nampak.

Di antara hikmah beristri lebih dari satu (poligami):

1. Dengan banyaknya istri akan memperbanyak keturunan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا؛ فَإِنِّي مُبَاةٍ بِكُمُ الأُمَمَ))

“Menikahlah kalian dan buatlah keturunan karena aku berbangga dengan kalian di depan umat-umat yang lain.”

2. Terkadang wanita itu ada yang mandul tidak bisa beranak, maka manakah yang lebih utama? Apakah mencerainya atau tetap bersamanya menikah lagi, manakah yang lebih utama? Membiarkan suami tanpa keturunan atau dia menikah lagi? Jawabnya, yang lebih utama adalah tetap bersamanya dan membiarkannya menikah lagi.

3. Wanita pada saat nifas dan haidnya seringkali suami tidak bisa sabar menahan sehingga akan menyeretnya pada sesuatu yang haram, dan jalan keluar dari masalah ini adalah dengan suami menikah lagi.

4. Kadang pada wanita ada beberapa aib (kekurangan) maka yang lebih utama adalah suami menikah lagi dan tidak menceraikannya.

5. Bisa jadi wanita seringkali sakit, maka yang lebih utama adalah suami menikah lagi dan tidak menceraikannya, atau mungkin ia sabar atas istrinya akan tetapi dia tidak kasihan terhadap dirinya.

6. Banyaknya istri (poligami) akan mempererat hubungan beberapa keluarga. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan Allah (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah2 dan adalah Rabbmu Maha Kuasa.” (Al-Furqan: 54)

7. Seorang wanita itu harus ada orang yang memenuhi kebutuhan-kebutuhannya berupa nafkah dan lainnya, maka dengan poligami seorang suami yang akan melaksanakan hal itu. Dan ilmunya berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Footnote:

1 Tiwalah adalah guna-guna/sesuatu yang dibuat agar suami mencintai istrinya atau sebaliknya -penerbit.
2 Mushaharah artinya hubungan kekeluargaan yang terjalin karena sebab perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua, dan sebagainya -penerbit.

(Sumber: نصيحتي للنساء قضاياتهم المرأة فتاوى للنساء karya Ummu ‘Abdillâh Al-Wâdi’iyyah. Edisi Indonesia “Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku“; bab Kecemburuan Wanita, hal 187-196. Penerjemah: Abu Yahya Apri, Rusdi Abu Salamah, & Hannan Hoesin Bahanan. Editor & Muraja’ah: Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib. Penerbit: Pustaka Sumayyah Pekalongan. Dinukil untuk http://akhwat.web.id. Silakan mengcopy dan memperbanyak dengan menyertakan sumbernya)

Bahaya Kontrasepsi dan KB dalam Pandangan Islam
۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ


Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".
QS. Al-Baqarah [2] : 124



وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ


Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".
QS. Al-Baqarah [2] : 125

One form from life

One form  from life
is

Saudara Saudari pengunjung kami sarankan untuk membuat Blogspot Jihad serupa

Saudara Saudari pengunjung mari kita membuat Situs Jihad dan Islamisasi, dan mengajak yang lainnya membuat Situs Islamisasi dan jihad juga. bisa menggunakan Blogspot, Multiply ataupun Wordpress. kita bisa mencari referensi ataupun Sumber dari Google Search atau klik situs para sahabat pada pojok kanan di situs saya.

Dalil - dalil bahwa Imam Mahdi muncul dari kelompok Taliban

Video Film Imam Mahdi
Terjemah : "Dimana perang dunia dimulai, kemudian Allah Subhanna Wata ala akan membangkitkan pasukan dari yang bukan bangsa Arab yang memiliki pasukan dan senjata yang lebih hebat dari Arab". Allah SWT akan memberikan Din Islam kepada mereka" (Ibn Majah Hadith 971 vol 3) bangsa non Arab tersebut adalah : dibesarkan bersama senjata semenjak mereka masih anak - anak, Iman yang kuat, datang dari Timur Saudi Arabia. "Akan datang dari Timur dimana akan membuat berdirinya Khilafah sangat mudah untuk Imam Mahdi" (Hadith 4088 Ibn Majah) Bangsa Imam Mahdi tersebut akan datang dari arah Khurosan yang sekarang bernama Afghanistan. Bendera Hitam (Bendera Taliban) akan muncul dari Khurosan (Afghanistan), tidak ada kekuatan yang mungkin menghentikannya sampai kemudian mereka tiba di Elya (Yerusalem)(H.S. Tirmidzi) Khurosan artinya tempat dimana matahari terlihat terbit Khurosan adalah Afghanistan dimana suku Pashtun hidup. Pasukan Mahdi akan bangkit dari Timur (Afghanistan) diusir dari rumah - rumah mereka dan akan sampai di Mekkah dengan pengorbanan yang besar (Jihad). Pasukan Mahdi (Taliban) akan sangat menderita. mereka akan hidup sebagai pengungsi dan dibunuh dan disiksa di tanah air mereka sendiri. Dari para pengungsi inilah Imam Mahdi akan lahir. tersayang Rasulullah S.A.W. mengatakan : "orang - orang yang paling dicintai adalah bangsa Ghurba". ketika kami bertanya siapakah Ghurba?, Beliau menjawab : "Mereka yang berlari jauh dengan Din Islamnya. Allah akan mempertemukan mereka dengan seorang Nabi bernama Isa A.S. yang memiliki AYAH (Bin artinya AYAH)BERNAMA MARYAM A.S. Lihatlah keajaiban Hadits ini!. Siapakah Ibunya Nabi Isa A.S.? Maryam A.S. tentunya!. Siapakah Ayahnya Nabi Isa A.S? Maryam A.S. tentunya! Mengapa demikian? Karena Nabi Isa A.S. tercipta tanpa proses pembuahan dengan Sperma!. terjemahan bersambung....

Para Mujahid Kita

http://b.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/usamah(1).jpghttp://0.static.zurnal24.si/images/26/01/732601/rss.jpghttp://terrorisminvestigations.com/news/images/lofthumbs/400x300/images/stories/awlaki20101108.png
http://b.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/internasional/al-amriki.jpghttp://comops.org/journal/wp-content/uploads/2009/12/gadahn.jpghttp://infoteroristerkini.files.wordpress.com/2011/10/15.jpghttp://us.images.detik.com/content/2011/10/22/10/Umar-Patek-22.jpg

Dan masih banyak mujahid lainnya....

sudah tidak terasa pengabdian saya membuat situs ini hampir 3 tahun........

sementara itu Anwar Awalaki sangat dekat sekali dengan para Mujahid bahkan satu atap dengan mereka. sedangkan saya hanya masih sanggup berbeda atap dengan mereka......

Hidup para Mujahid ALLAHUAKBAR!

Keajaiban Qur'an

Loading...
http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/analisa/back-to-al-khilafah.jpghttp://prosyariah1924.files.wordpress.com/2010/03/bendera2.jpg Apakah Negara Nabi Adam manusia pertama? Khilafah.

Dalil - Dalil Islamisasi

Jamaah Tabligh (“Kelompok [1] Penyampai”) (Bahasa Arab: جماعة التبليغ , juga disebut Tabliq) adalah gerakan misionaris Islam dengan tujuan kembali ke ajaran Islam yang kaffah. (baik Iman,Politik,Ekonomi maupun Militer) Aktivitas mereka tidak hanya terbatas pada satu golongan Islam saja.[2], Tujuan utama dari gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim.

ud'u ilaa sabiili rabbika bialhikmati waalmaw'izhati alhasanati wajaadilhum biallatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wahuwa a'lamu bialmuhtadiina

[16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An - Nahl:125)

waalmu/minuuna waalmu/minaatu ba'dhuhum awliyaau ba'dhin ya/muruuna bialma'ruufi wayanhawna 'ani almunkari wayuqiimuuna alshshalaata wayu/tuuna alzzakaata wayuthii'uuna allaaha warasuulahu ulaa-ika sayarhamuhumu allaahu inna allaaha 'aziizun hakiimun

[9:71] Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(At Taubah : 71)

waman ahsanu qawlan mimman da'aa ilaa allaahi wa'amila shaalihan waqaala innanii mina almuslimiina

[41:33] Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(Al-Fushilat:33)

waittaquu fitnatan laa tushiibanna alladziina zhalamuu minkum khaassatan wai'lamuu anna allaaha syadiidu al'iqaabi

[8:25] Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.(Al-Anfaal:25)

Sesungguhnya manusia, bila melihat kemukaran sedangkan mereka tidak berupaya mencegahnya; maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan adzabnya secara menyeluruh...(HR. Abu Dawud)

Siapa saja yang bangun pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa -apa di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.
(HR. Thabrani dari Abu Dzar al Ghifari)

Video Film Musik Mujahid Muda

Video Film Musik Izzatul Islam
Video Film Musik Imam Samudra http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/s320x320/27691_128555320503581_119627091396404_284414_5772878_n.jpg http://farm1.static.flickr.com/35/101024448_582001bb7c.jpg

VIDEO FILM DARUL WULED PEKALONGAN: KA'BAH PUSAT JAGAD ATAU FITNAH BERHALA

Video Film Kabah
Jadi, barangsiapa yang menghina Ka'bah dan Muhammad Rasulullah sama saja dengan menghina seluruh materi di alam raya. termasuk diri sendiri. karena Nur Muhammad (Cahaya Alpha Omega) adalah yang pertama diciptakan Allah sebagai bahan pembuat Alam Raya, semua materi Alam Raya berbahan dasar Nur Muhammad. Cahaya Alpha Omega. Muhammad Rasulullah baik dia masih berbentuk Cahaya maupun sudah dilahirkan menjadi manusia dia hanyalah Makhluk biasa ciptaan Allah, Makhluk Ciptaan Allah sama seperti Makhluk Ciptaan Allah lainnya. Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah. Forum Kafir Faithfreedom mengatakan : "Bingkai Batu Hajar Aswad berbentuk Vagina. mengapa Muhammad menciumnya?". Jawaban dari Saya : Vagina juga adalah bagian dari bentuk tubuh manusia. itulah maksudnya mengapa bingkai Hajar Aswad berbentuk Vagina. sebenarnya bentuk bingkai tersebut dibuat oleh Pagan Quraisy, akan tetapi Allah memerintahkan Muhammad supaya tidak menghancurkannya dan menciumnya. karena banyak pendeta membuat aturan sendiri yang tidak ada di Taurat maupun Injil yaitu aturan tidak menikah ketika jadi pendeta. Dianalogikan seperti cerita berikut : Suatu hari di sebuah Lab ada 2 ruangan ruangan A dan B. di Ruangan A ada seorang ilmuwan sebut saja namanya Jhonson sedang membuat robot lengkap dengan kaki, tangan dan speaker di mulutnya. di ruangan B ada seorang ilmuwan sebut saja namanya David yang sedang memegang Remote Control dilengkapi dengan Microphone yang terhubung dengan Speaker pada mulut robot. ketika sedang bekerja Jhonson teringat ibunya lalu memegang dan memandang Photo ibunya, dan David lupa mematikan Microphone yang ada pada remote, lalu dia bermain Internet dan menemukan Gambar bingkai Hajar Aswad dan secara Spontan mengatakan :"Vagina yang menjijikan" sehingga terdengar oleh Jhonson yang sedang melihat foto ibunya, ucapan tersebut keluar dari Speaker yang ada pada mulut robot. Renungkanlah kita dilahirkan oleh Ibu kita.

SOLUSI ISLAM UNTUK MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL

SOLUSI ISLAM UNTUK MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL

Oleh : Ir. H. Budi Suherdiman Januardi, MM.

Islam sebagai satu-satunya ad-dien yang Alloh Swt ridloi dan pilih bagi umat manusia sejak era Nabi Adam As dan disempurnakan para era kerasulan Muhammad Saw dimaksudkan untuk meregulasi tatanan kehidupan manusia agar selamat baik di dunia maupun akhirat. Sebagai sebuah sistem, dienul-Islam yang mencakup aqidah, akhlaq dan syari’at merupakan undang-undang ilahiyah berisi berbagai aturan kehidupan.

Diantara keagungan sistem Islam adalah sistem perekonomian yang sering kita sebut dengan ekonomi syari’ah. Jika instrumen ekonomi syari’ah diimplementasikan, maka beberapa masalah krusial perekonomian bisa diantisipasi sehingga tidak menimbulkan krisis ekonomi maupun finansial sebagaimana yang saat ini tengah terjadi.

Beberapa instrumen ekonomi Islam diantaranya adalah zakat serta sistem mata uang dinar dan dirham yang telah terbukti mampu mengatasi berbagai gejolak perekonomian maupun finansial, sebagaimana telah dibuktikan dalam sejarah masa kejayaan Islam ketika institusi kepemimpinan Islam (khilafah) masih berdiri.

ZAKAT

Zakat sebagai salah satu pilar (rukun) Islam merupakan instrumen strategis dari sistem perekonomian Islam yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap penanganan problem kemiskinan serta problem sosial lainnya, karena zakat dalam pandangan Islam merupakan “hak fakir miskin yang tersimpan dalam kekayaan orang kaya’.

Sebagai sebuah kewajiban, maka zakat merupakan kewajiban minimal dari harta seorang muslim, yang menurut DR. Didin Hafidhuddin “zakat adalah batas kekikiran seorang muslim”.

Menurut DR. Yusuf Al-Qardhawi, zakat merupakan suatu sistem yang belum pernah ada pada agama selain Islam juga dalam peraturan-peraturan manusia. Zakat mencakup sistem keuangan, ekonomi, sosial, politik, moral dan agama sekaligus. Zakat adalah sistem keuangan dan ekonomi karena ia merupakan pajak harta yang ditentukan. Sebagai sistem sosial karena berusaha menyelamatkan masyarakat dari berbegai kelemahan. Sebagai sistem politik karena pada asalnya negaralah yang mengelola pemungutan dan pembagiannya. Sebagai sistem moral karena ia bertujuan membersihkan jiwa dari kekikiran orang kaya sekaligus jiwa hasud dan dengki orang yang tidak punya. Sebagai sistem keagamaan karena menunaikannya adalah salah satu tonggak keimanan dan ibadah tertinggi dalam mendekatkan diri kepada Alloh Swt.

Zakat tidak hanya difahami secara sempit yang hanya ditunaikan setahun sekali pada momentum bulan Ramadlan melalui pembayaran zakat fitrah, akan tetapi ruang lingkup zakat sangatlah luas. Selain zakat fitrah, seorang muslim yang telah masuk pada kategori ‘muzzaki’ yang kekayaannya telah mencapai ‘nishab’ (jumlah minimal yang harus dipenuhi sebelum mengeluarkan zakat yaitu senilai 85 gram emas) dan harus dibayarkan setiap tahun, juga wajib menunaikan zakat maal (zakat kekayaan) yang menurut DR. Yusuf Al-Qardhawi meliputi: Zakat binatang ternak; Zakat emas dan perak/zakat uang; Zakat kekayaan dagang; Zakat pertanian; Zakat madu dan produksi hewani; Zakat barang tambang dan hasil laut; Zakat investasi pabrik, gedung, dll; Zakat pencarian dan profesi; serta Zakat saham dan obligasi.

Secara teknis, pemungutan dan pendistribusian zakat akan sangat efektif jika dilakukan oleh sebuah lembaga yang mempunyai otorisasi serta kekuatan memaksa dalam sebuah pemerintahan. Bagian dari institusi pemerintah yang berkompeten melakukan pemungutan zakat yaitu Badan Amil Zakat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Alloh Swt dalam firman-Nya dalam Surat At-Taubah (9) ayat 103:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Sejarah mencatat, bahwa persoalan kesejahteraan masyarakat merupakan fokus utama kepedulian dari para pemimpin Islam. Betapa besarnya kepedulian para pemimpin Islam terhadap persoalan tersebut diantaranya diperlihatkan oleh sikap tegas Abu Bakr Shiddiq ra sebagaimana terlihat dari komitmennya melalui pidato sesaat setelah pengukuhan sebagai Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah Muhammad Saw, dimana beliau mengatakan:
“.......yang terlemah diantara kamu aku anggap terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya, yang terkuat diantara kamu aku anggap terlemah sampai aku mengembalikan hak si lemah dari tangannya....…”.
Komitmen serta sikap tegas Abu Bakr Shiddiq ra tersebut kemudian terlihat melalui implementasi salah satu programnya dalam penanganan zakat, dan beliau mengambil sikap tegas terhadap para pihak dari kalangan muslim yang masih enggan menunaikan kewajiban zakat. Secara konsisten kebijakan tersebut kemudian diteruskan secara estapeta oleh para khalifah sesudahnya.

Dalam implementasi sistem pemerintahan Islam, pengelolaan zakat ternyata tidak hanya mampu meminimalisir angka kemiskinan, bahkan sampai mampu mengeliminir tingkat kemiskinan dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Karena dengan zakat, status sosial warga negara yang semula merupakan pihak yang berhak menerima zakat (mustahik), berubah status menjadi pihak yang berkewajiban menunaikan zakat (muzzaki), dimana warga negara bersangkutan telah bergeser dari miskin menjadi kaya.

Sejarah monumental masa kepemimpinan Islam zaman kekhilafahan Daulat Umayyah yaitu saat Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) memimpin-yang walaupun singkat, selama 2,5 tahun (30 bulan) telah membuktikan bahwa kesejahteraan masyarakat secara merata benar-benar terwujud.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam buku “Umar bin Abdul Aziz Perombak Wajah Pemerintahan Islam”, tulisan Imaduddin Kholil yang diterbitkan oleh Pustaka Mantiq, Solo (1992) pada halaman 142-144:
“Pada masanya keamanan dirasakan oleh setiap penduduk dimanapun mereka berada di wilayah kedaulatan Islamiyah. Hampir semua warga negara menjadi kaya. Saat itu tidak lagi ditemukan fakir miskin yang berhak menerima zakat dan shadaqah. Keadaan ini membuat para orang kaya kesulitan untuk memecahkan persoalan, kewajiban yang harus ditunaikan. Kesejahteraan yang merata dapat dicerminkan lewat ucapan Yahya bin Said, amil zakat dari Khalifah untuk daerah Afrika, beliau berkata: ‘Aku diutus Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk mengelola zakat di Afrika. Setelah terkumpul semua, aku kebingungan mencari siapa yang harus kuberi. Di sana tiada seorangpun yang fakir dan yang mau menerima pemberian pembagian zakat. Itu disebabkan Umar telah membuat kaya penduduknya. Dan akhirnya zakat itupun kupakai untuk menebus para budak, membebaskan mereka dan menggabungkannya dengan para muslimin yang lain’.

Problem kemiskinan yang semakin hari semakin tak terkendali, sesungguhnya terletak pada besarnya ketimpangan (disparitas) kekayaan antara yang kaya dan miskin. Dalam pengimplementasian zakat, persoalan pendistribusiannya yang tepat sasaran sesuai dengan para fihak yang berhak menerimanya sesuai dengan yang telah ditetapkan Al Quran akan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya mendokrak tingkat kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat yang masih terbelit dengan belenggu kemiskinan harta.

Dalam pandangan Islam, sasaran zakat merupakan hal sangat penting, sehingga terdapat hadits yang menjelaskan bahwa untuk menentukan sasaran zakat seakan-akan Alloh tidak rela bila Rasulullah Saw sendiri yang menetapkannya, sehingga Alloh Swt menurunkan ayat ke-60 dalam Al-Quran Surat At-Taubah, dimana disebutkan 8 sasaran (asnaf) untuk pendistribusian zakat yaitu:
(1) Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya;
(2) Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, "Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap atau dua suap nasi, satu atau dua biji kurma, tapi orang miskin itu ialah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan kemudian diberi sedekah, dan merekapun tidak pergi meminta-minta pada orang".
Berkenaan dengan golongan fakir dan miskin, DR. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan beberapa hal:

  • Fakir miskin hendaklah diberikan harta zakat yang mencukupi kebutuhannya sampai dia bisa menghilangkan kefakirannya. Bagi yang mampu bekerja hendaknya diberikan peralatan dan lapangan pekerjaan. Sedangkan bagi yang tidak mampu lagi bekerja (orang jompo, cacat fisik), hendaknya disantuni seumur hidupnya dari harta zakat;
  • Dengan demikian jelas bahwa tujuan zakat bukanlah memberi orang miskin satu atau dua dirham, tapi dimaksudkan untuk memberikan tingkat hidup yang layak. Layak sebagai manusia yang didudukan Alloh Swt sebagai khalifah di muka bumi, dan layak sebagai muslim yang telah masuk ke dalam agama keadilan dan kebaikan, yang telah masuk ke dalam ummat pilihan dari kalangan manusia;
  • Tingkat hidup minimal bagi seseorang ialah dapat memenuhi makan dan minum yang layak untuk diri dan keluarganya, demikian pula pakaian untuk musim dingin dan musim panas, juga mencakup tempat tinggal dan keperluan-keperluan pokok lainnya baik untuk diri dan tanggungannya.

(3) Pengurus zakat (Amil zakat): adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, dimana Alloh Swt menyediakan upah bagi mereka dari harta zakat sebagai imbalan. Dimasukkannya amil sebagai ashnaf menunjukkan bahwa zakat dalam Islam bukanlah suatu tugas yang hanya diberikan kepada seseorang secara individu, tapi merupakan tugas jama’ah bahkan menjadi tugas negara.
(4) Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
(5) Memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
(6) Orang yang berhutang (gharimin): yaitu orang yang berhutang untuk kemaslahatan sendiri (seperti untuk nafkah keluarga, sakit, mendirikan rumah dsb). Termasuk didalamnya orang yang terkena bencana sehingga hartanya musnah. Juga orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang lain, seperti untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
(7) Untuk kepentingan sabilillah (pada jalan Allah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Diantara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain.
(8) Orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil) yang perjalannya tidak dimaksudkan untuk maksiat dan dia mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.
Pengimplementasian zakat yang profesional, transparan dan akuntabel akan berimplikasi terhadap lancarnya perputaran perekonomian, karena dengan memobilisasi potensi dana umat dari zakat tersebut harta tidak lagi hanya berputar di kalangan para pihak yang memiliki kekayaan saja, akan tetapi terdistribusi secara adil. Pendistribusian zakat secara tepat sasaran juga dapat memberikan akses produktif bagi orang-orang miskin.

Pada sisi ini kita dapat melihat bahwa betapa indahnya ajaran Islam yang sangat peduli terhadap persoalan sosial kemasyarakatan.



SISTEM MATA UANG DINAR DAN DIRHAM

Instrumen kedua yang sangat strategis dalam perekonomian Islam adalah sistem mata uang dinar dan dirham. Hal ini mengingat bahwa sistem moneter dalam Islam adalah berbasis emas dan perak. Diterapkannya sistem perdagangan dengan menggunakan emas dan perak dalam mata uang dinar (Gold dinar) dan dirham dalam kekhilafahan Islam telah membuktikan terkendalinya angka inflasi.

Inflasi sesungguhnya merupakan suatu kemudlaratan ekonomi yang sejatinya harus ditekan, karena dengan terjadinya inflasi berarti telah terjadi sebuah fenomena yang signifikan terhadap meningkatnya kemiskinan masyarakat. Dengan demikian, maka penerapan sistem mata uang dinar dan dirham secara luas, akan ikut mengurangi tingkat inflasi yang selama ini terus membayangi sistem perekonomian berbagai negara akibat penerapan sistem ekonomi konvensional (kapitalisme) yang menggunakan uang kertas (fiat money) yang tak terkendali. Sehingga berkurangnya angka inflasi sebagai dampak positif dari diterapkannya gold dinar, sesungguhnya merupakan upaya menghilangkan belenggu kemiskinan masyarakat.

Dengan demikian, maka jika stabilitas perekonomian suatu negara ingin terwujud, solusi jitunya adalah dengan “bergantinya penggunaan sistem keuangan dari uang kertas ke uang emas”. Kita yakin bahwa sejalan dengan akan kembalinya kejayaan Islam dan umatnya untuk kali ke dua, penerapan kembali dinar dan dirham juga merupakan suatu keniscayaan, karena penerapan dinar akan menciptakan kemashlahatan dan keadilan ekonomi.

Jika kita simak, ternyata dengan diterapkannya mata uang dinar dan dirham akan didapatkan beberapa keunggulan, baik secara mikro maupun makro ekonomi, diantaranya:

  • Gold dinar memiliki stabilitas tinggi yang nilainya tidak fluktuatif sehingga jika dikomparasi dengan mata uang lainnya tidak akan terdepresiasi bahkan terus terapresiasi. Sejarah telah membuktikan bahwa pada zaman Nabi Muhammad Saw, harga seekor ayam harganya satu dirham, dimana dengan uang yang sama (satu dirham saat ini setara dengan tiga gram perak), seekor ayam masih bisa kita dibeli. Hal ini membuktikan bahwa emas (dinar) dan perak (dirham) merupakan extra ordinary currency (anti inflasi). Sehingga pada masa kerasulan Muhammad Saw yang dilanjutkan oleh Khulafaur-Rasyidin dan para Khalifah sesudahnya dalam pengelolaan pemerintahannya sangat jarang terjadi resesi ekonomi.
  • Gold dinar merupakan mata uang yang berbasis komoditi (commodity money), karena adanya keseimbangan antara nilai instrinsik dengan nilai nominal yang terdapat pada gold dinar. Bahkan nilai instrinsik dari gold dinar merupakan garansi dan perlindungan jika terjadinya situasi eksternal yang tidak diinginkan.
  • Penerapan dinar dan dirham akan terhindarkan dari upaya menjadikan uang sebagai komoditas. Krisis ekonomi global saat ini diantaranya terjadi karena tidak difungsikannya secara penuh uang sebagaimana mestinya sebagai alat tukar, akan tetapi telah bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan sehingga sangat menguntungkan bagi para spekulan pada berbagai transaksi maya di pasar uang. Kondisi tersebut akan menguntungkan bagi para pihak yang memiliki dana banyak untuk mengendalikan pasar uang, sehingga terjadilah ketergantungan suatu negara yang labil dalam hal politik maupun ekonominya terhadap negara yang memiliki power. Secara politis, penerapan gold dinar dalam sistem keuangan suatu negara akan memandirikan suatu negara, sehingga tidak lagi tergantung pada dominasi negara luar. Karena penerapan sistem ekonomi dengan menggunakan keuangan gold dinar, berarti menerapkan sistem ekonomi berbasis keadilan (fairness), yang mana faktor keadilan ini tidak dimiliki oleh sistem manapun selain sistem Islam.
  • Tidak seperti halnya mata uang kertas yang sangat mudah untuk dipalsukan, maka penggunaan gold dinar dapat menghilangkan upaya pemalsuan uang dari pihak-pihak tertentu.

Tidak terjadinya jurang pemisah yang sangat lebar antara si kaya dan si miskin dengan terdistribusinya pendapatan melalui pengelolaan zakat yang tepat sasaran serta diberlakukannya mata uang dinar dan dirham akan menjadikan sebuah keseimbangan antara sektor finansial dengan sektor riil, karena jumlah uang yang beredar sama banyaknya dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian, sehingga perkembangan sektor keuangan tidak akan berjalan sendiri, tanpa terkait dengan sektor ril. Hal ini akan berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus terciptanya stabilitas ekonomi masyarakat.

Dalam ekonomi Islam, sektor finansial selalu mengikuti pertumbuhan sektor ril. Inilah perbedaan konsep ekonomi dalam Islam dengan konsep ekonomi konvensional yang kapitalistik, dimana dalam ekonomi kapital, pemisahan antara sektor finansial dengan sektor ril merupakan keniscayaan. Implikasi dari adanya pemisahan itu, maka ekonomi dunia sangat rawan terhadap gonjang-ganjing krisis. Hal ini disebabkan pelaku ekonomi menggunakan uang tidak untuk kepentingan sektor ril, tetapi untuk kepentingan spekulasi mata uang semata. Akibat adanya spekulasi tersebut, maka jumlah uang yang beredar sangat tidak seimbang dengan jumlah barang pada sektor ril.

Dengan diterapkannya sistem ekonomi syari’ah, maka kita akan terhindar dari gharar (spekulasi); maisyir maupun riba, sehingga keberkahan Alloh Swt akan dirasakan bersama, sebagaimana yang Alloh Swt ingatkan dalam Al Quran Surat Al A’raf ayat 96:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Dalam menghadapi berbagai malapetaka (fitnah) sekarang ini, terutama menghadapi krisis ekonomi global yang konstelasinya cenderung terus memburuk, beberapa peringatan dari lisan seorang yang suci, Muhammad Saw kiranya perlu kita renungkan bersama:

Peringatan Pertama : Hadits Riwayat Ibnu Majah; Al-Bazar; Al-Hakim; Al-Baihaqi dan Abu Nu’aim : “Wahai kaum muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Alloh agar kalian tidak mengalaminya:

  • Tidaklah perbuatan keji (zina) nampak pada suatu kaum hingga mereka terang-terangan melakukannya, melainkan mereka akan ditimpa berbagai macam wabah penyakit (tha’un) dan kelaparan yang belum pernah menimpa orang-orang sebelum mereka;
  • Tidaklah suatu kaum yang mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan ditimpa ‘as-sinin’ (paceklik, kemarau panjang), sulitnya mendapatkan makanan, dan jahatnya (sikap zhalim) penguasa terhadap mereka;
  • Tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta mereka, melainkan akan terhalang hujan dari langit, kalau saja bukan karena binatang, niscaya tidak diturunkan hujan atas mereka;
  • Tidaklah suatu kaum melanggar janji Alloh dan Rasul-Nya, melainkan Alloh menjadikan mereka dikuasai musuh-musuh yang bukan dari golongan mereka, kemudian musuh mereka itu akan mengambil harta yang mereka miliki;
  • Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak menerapkan hukum Alloh dan memilih-milih apa yang Alloh turunkan didalam kitab-Nya, niscaya Alloh akan menjadikan al-ba’s (bala bencana, kekerasan dan keributan) terjadi di tengah-tengah mereka”.

Peringatan Kedua : Hadits Riwayat Ibnu Najar (Dalam Kitab ‘Muntakhob Kanzu’l-Ummal):
“Tidaklah Alloh murka terhadap suatu umat, kecuali akan dinaikkannya harga-harga, hancurnya pasar (dimana angka inflasi tinggi sedangkan daya beli masyarakat rendah) serta akan lebih banyak berbagai bentuk kemungkaran, dan semakin hebatnya penyelewengan-penyelewengan di bidang hukum yang dilakukan oleh para penguasa. Maka sebagai akibat dari kondisi seperti itu orang-orang kaya tidak lagi menunaikan kewajiban berzakat; para penguasa tidak lagi memiliki harga diri (karena hilangnya rasa malu) serta orang-orang fakir (miskin) tidak lagi melaksanakan kewajiban shalat”.

Oleh karena itu, tiada jalan lain untuk dapat keluar dari berbagai persoalan hidup termasuk krisis ekonomi global sekarang ini yaitu dengan kembali pada penerapan sistem Islam dalam berbagai lapangan kehidupan. Tiada lagi yang diagungkan kecuali hanya Alloh Swt yang dengan kegagahan-Nya berada di atas ketinggian, di atas Arsy-Nya yang agung. Dia-lah yang mengetahui berbagai kelemahan dan persoalan hamba-Nya. Dengan kasih sayang-Nya, Alloh Swt telah memilih Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan untuk menuntun manusia agar terselamatkan.

Mengakhiri tulisan ini, sebuah ungkapan dari Umar bin Kaththab ra kiranya perlu kita simak bersama, dimana beliau pernah berujar: “Dahulu kami adalah kaum yang paling hina, lalu kami dimuliakan Alloh dengan Islam. Andaikan kami mencari kemuliaan dengan selain apa yang Alloh muliakan, tentu Alloh akan menghinakan kami”.

“It’s taken almost two centuries for bankers to pull the wool over Americans’ eyes, but today you and I are working for intrinsically worthless paper that can be created by bureaucrats – created without sweat, without creative ability, without work, without anything but a decision by the Federal Reserve. This is the disease at the base of today’s monetary system. And like a cancer, it will spread until the system ultimately falls apart. This is the tragedy

of the great lie. The great lie is that fiat paper represents a store of value, money of lasting wealth.”

-Richard Russell-

Setelah emas turun ke level terendahnya bulan ini di USD1,478.01/toz pada tanggal 1 Juli, harganya melejit sebesar USD131.50/toz atau 8,9% dan membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah di USD1,609.51/toz hari Selasa lalu (lihat grafik dibawah ini).

Dengan demikian emas mencatat rekor penguatan beruntun terpanjang dalam 11 sesi terakhir yang menyamai rekor pada 1975 silam. Sejauh ini emas juga telah menguat sebanyak 13% selama 2011 dan potensial menjadikannya rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak 1920.

Penguatan kinerja emas disokong oleh maraknya aksi beli investor pada instrumen investasi safe haven, terutama emas, seiring berkembangnya kekhawatiran bahwa tidak segeranya solusi dari permasalahan hutang Eropa dan AS dapat menyebabkan sebuah KRISIS GLOBAL. Harga emas bahkan terapresiasi bersamaan dengan penguatan dolar AS yang kemudian mendorong emas ke level tertingginya terhadap beberapa mata uang dunia termasuk euro, sterling, rand Afrika Selatan dan dolar Kanada.

Apakah ada potensi untuk pelonggaran moneter lanjutan?

“No bet in the centuries of the monetary history has been safer than the one that a gold coin, inaccessible to the inflationary policies of the governments, will maintain its purchase power better than a banknote.”

-Wilhelm Röpke-

Pada umumnya bulan Juni dan Juli merupakan sebuah periode dimana emas tidak terlalu kuat dan cenderung mengalami konsolidasi saja. Namun tahun ini harga emas malahan break out keatas, dan sekaligus mencatatkan all-time highs dalam hampir semua mata uang.

Maka boleh dikatakan bahwa emas sedang bertindak sepenuhnya sebagai sebuah currency of last resort. Artinya peranan sebagai suatu komoditas tidak terlalu signifikan pada saat ini, dan harganya terdorong naik karena permintaannya melonjak berdasarkan kehilangan kepercayaan dalam otoritas moneter dari negara maju.

Mengapa bisa sampai begitu? Alasannya cukup sederhana, yaitu program QUANTITATIVE EASING yang diterapkan oleh berbagai bank sentral di negara Barat. Misalnya untuk menanggulangi krisis hutang di Eropa, the European Central Bank atau ECB kemungkinan akan segera memulai program pelonggaran moneternya sendiri lewat pembelian obligasi dari negara PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol). Dan … apabila ECB memutuskan untuk menerapkan program tersebut agar zona Eropa selamat, bukan tidak mungkin the Bank of England akan mempertimbangkan QE2 dan the Fed akan memiliki suatu dalih untuk QE3.

Dalam hal itu, the TREND is your FRIEND dan uptrend logam mulia tetap akan didukung oleh kebijakan moneter yang ultra longgar (lihat grafik diatas ini). Kenyataan adalah bahwa hanya pencetakan uang dapat membiayai defisit anggaran yang besar dari banyak negara maju. Jadi jangan heran emas begitu kuat, dan makin banyak orang maupun investor institusi mulai melirik logam yang mengkilap.

Dolar AS, euro, atau … emas saja?

“There is NO basis for confidence in ANY sovereign debt paper because there is NOTHING behind any of it except the promises to pay of future governments. But how can they “pay” if they go on spending more than they take in. And if they do pay, what will the stuff they pay with be good for?”

-Bill Buckler, Gold This Week, 09 July 2011-

Sejak 2007, bank sentral di AS, Eropa dan Inggris telah memperluas neraca mereka dengan lebih dari 4,5 trilyun dolar AS. Disamping itu, suku bunga negatif secara riil (setelah disesuaikan untuk inflasi) dan kemungkinan besar akan tetap rendah karena suku bunga yang naik pasti akan mempunyai dampak yang fatal terhadap kondisi keuangan negara maju.

Biasanya positive real interest rates menekan harga emas, seperti pada tahun 1980an dan 1990an. Sebaliknya, negative real rates merupakan sebuah stimulans untuk emas. Maka sangat wajar jika investor memilih emas dibandingkan uang kertas mengingat logam mulia pada saat ini lebih mampu mempertahankan nilainya terhadap inflasi.

Sejarah juga membuktikan bahwa pada akhirnya semua mata uang mempunyai nasib yang sama: mereka menjadi tidak bernilai dan hilang sepenuhnya dari peredaran. Coba saja melihat gambar dibawah ini, yang menampilkan beberapa mata uang yang hancur berkat penyalahgunaannya dari pembuat kebijakan.

Sekarang Anda kemungkinan berpikir hal tersebut tidak mungkin dapat terjadi di AS, bukankah begitu? Jika demikian, perlu saya sampaikan bahwa justru HUTANG yang berlebihan dan DEFISIT ANGGARAN yang besar selalu mendahului kejatuhan dari setiap mata uang yang ditampilkan diatas ini.

Peter Bernholz, seorang ahli mengenai hyperinflation, menyatakan secara tegas bahwa “hyperinflation atau inflasi yang sangat tinggi disebabkan oleh defisit anggaran pemerintah.” Sebagai contohnya defisit anggaran AS untuk tahun ini akan berjumlah sekitar 1,5 trilyun dolar AS, dan diperkirakan tetap akan bertahan di atas USD1 trillion hingga tahun 2020.

Lalu sejak pendirian the Federal Reserve, dolar AS telah kehilangan 95% dari daya beli! Dengan kata lain, Kepala bank sentral di Amerika Serikat tidak tahu, tidak mau, atau tidak mampu untuk menjaga mata uangnya sendiri (lihat gambar dibawah ini).

Oleh karena itu, investor harus melindungi kekayaannya dengan satu-satunya uang yang tidak dapat dimanipulasi, yaitu EMAS!

Kondisi teknikal terkini

“Gold still represents the ultimate form of payment in the world… Fiat money, in extremis, is accepted by nobody. Gold is always accepted”

-Alan Greenspan-

Seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini, emas ternyata berhasil break out dari symmetrical triangle atau segitiga simetris setelah berkonsolidasi didalam pola tersebut selama 10 pekan. Namun kenaikan sebesar USD131.50/toz terjadi dalam waktu yang singkat sekali dan RSI atau Relative Strength Index sudah berada dalam daerah yang overbought, jadi mungkin saja terjadi sebuah koreksi terlebih dahulu dalam beberapa hari kedepan sebelum emas melanjutkan penguatannya.

Apabila harga emas turun dulu, entry point atau titik masuk yang bagus akan tercipta pada saat harganya mendekati MA-50, yang kini akan berlaku sebagai support, dan/atau RSI bertengger disekitar middle line-nya (50). Kejadian tersebut pun terlihat ketika emas terkoreksi pada pertengahan bulan Maret lalu, dimana harganya menyentuh MA-50 dan RSI turun hingga 49.15. Maka Anda sebaiknya mengamati kedua indikator ini dengan seksama agar tidak ketinggalan peluang untuk membeli emas di harga yang lebih murah.

Salah satu ukuran lainnya yang bisa digunakan untuk mencari entry point yang bagus adalah fibonacci retracements. Koreksi yang sehat pada umumnya akan berhenti antara 38.2% dan 50%, seperti dapat Anda lihat pada grafik dibawah ini.

Misalnya pada waktu emas melemah pada awal bulan Maret, fibonacci retracement sebesar 38.2% cukup kuat untuk menopang harganya. Jadi kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz kini merupakan buying zone yang ideal dalam 1-2 pekan kedepan.

Tetapi … perlu dicatat juga bahwa harga tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz kini berlaku sebagai support pertama. Makanya jangat terkejut harga emas pekan yang lalu terjebak antara USD1,581.78/toz dan USD1,609.51/toz maupun sekaligus membentuk sebuah flag atau bendera, yang merupakan suatu continuation pattern.

Trading plan dan target harga

“Currencies don’t float, they just sink at different rates”

-Clyde Harrison-

Kini ada dua kemungkinan:

  1. Apabila emas turun dibawah level tertinggi sebelumnya di USD1,575.79/toz, buy on weakness adalah tindakan yang paling bijaksana, dengan entry point dalam kisaran antara USD1,543.75/toz dan USD1,559.25/toz;
  2. Jika harga emas bertahan diatas USD1,580/toz dan hanya membentuk sebuah flag, suatu breakout diatas USD1,610/toz merupakan tanda untuk membeli emas.

Lalu berapa target harga dalam 2-3 bulan kedepan? Untuk perhitungan tersebut, saya berasumsi bahwa pergerakan sebelumnya adalah patokan yang bagus:

  1. Dari awal bulan Februari hingga akhir bulan Mei, emas mengalami kenaikan sebesar USD267.79/toz atau 20,47%. Jika harga emas sekarang naik dengan jumlah yang sama (dimulai dari USD1,478.01/toz), target harga terletak antara USD1,745.80/toz dan USD1,780.55/toz;
  2. Apabila emas ternyata hanya berkonsolidasi dalam jangka pendek dan membentuk sebuah bendera (yang biasanya terletak di tengah suatu gerakan naik atau turun), target harga adalah USD1,741.01/toz atau USD1,609.51/toz ditambah USD131.50/toz.

Maka secara garis besar TARGET HARGA selama 2-3 bulan kedepan adalah USD1,740/toz hingga USD1,780/toz.

Kesimpulan

“If you don’t trust gold, do you trust the logic of taking a pine tree, worth $4,000-$5,000, cutting it up, turning it into pulp, putting some ink on it and then calling it one billion dollars?”

-Kenneth J. Gerbino-

Selain berbagai faktor yang mendukung emas pada saat ini, secara musiman emas akan memasuki periode dimana permintaannya cenderung naik menyusul bulan suci Ramadan akan segera dimulai, yang diikuti oleh musim nikah dan festival Diwali di India maupun Natal dan Tahun Baru di Cina.

Akhirnya grafik dibawah ini membuktikan hal tersebut, dengan bulan Agustus dan September sebagai bulan dengan kenaikan yang paling konsisten.

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan investasi yang menguntungkan!

http://nicoomer.blog.kontan.co.id/2011/07/25/pilih-yang-mana-emas-atau-uang-kertas/



Wallohu a'lam

http://www.dudung.net/artikel-bebas/solusi-islam-untuk-mengatasi-krisis-ekonomi-global.html


Keutamaan Menahan Marah

Keutamaan Menahan Marah

http://bp0.blogger.com/_U67QDMLHRWE/RoIYwdbDFlI/AAAAAAAAAGY/a6cJUtV9wfo/s320/jangan_marah.jpg
Oleh Ust.Abdurrohim Diantara maksud dan tujuan disyariatkannya puasa adalah latihan menahan nafsu amarah (suka marah). Orang yang mampu menahan marah lebih baik dan lebih sempurna daripada orang yang suka marah (pemarah). Dan itulah yang disebut orang kuat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.� (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain, disebutkan hadits dari Ibnu Mas�ud Radliyallahu �anhu Rasulullah bersabda : �Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian ? Shahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.� (HR. Muslim) Al Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba�i , bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.� (HR. Ahmad dengan sanad hasan) Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta�ala, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta�ala.� (Hadits shahih riwayat Ahmad) Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Subhanahu wa Ta�ala kecuali Allah Subhanahu wa Ta�ala akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.� (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan) Hadits-hadits ini menerangkan keutamaan menahan marah dari pada orang yang mudah marah/pemarah. Dari itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat ketika datang pada beliau untuk meminta wasiat, beliau bersabda dengan diulang-ulang : �Jangan mudah marah..� Lengkap haditsnya adalah sebagai berikut : �Dari Abu Hurairah Radliyallahu �anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam : berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi seorang pemarah. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda : janganlah menjadi orang pemarah� (HR. Bukhari) Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : � Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan.� (HR. Imam Ahmad) Berkata Ibnu Ja�far bin Muhammad rahimahullah : �Marah itu pintu seluruh kejelekan.� Al Imam Ahmad menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : akhlak yang mulia itu dengan meninggalkan sifat pemarah. Al Imam Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan maksud hadits ini dengan mengatakan : sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam : �Jangan menjadi pemarah.� Ini mengandung dua kemungkinan maksud : 1.Hadits ini mengandung perintah melakukan sebab-sebab yang menjadikan akhlak yang mulia seperti bersikap lembut, pemalu, tidak suka mengganggu, pemaaf, tidak mudah marah. 2.Hadits ini mengandung larangan melakukan hal-hal yang menyebabkan kemarahan, mengandung perintah agar sekuat tenaga menahan marah ketika timbul/berhadapan dengan penyebabnya sehingga dengan demikian dia akan terhindar dari efek negatif sifat pemarah. Sehingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari efek negatifnya, diantaranya adalah: 1. Membaca ta�awudz ketika marah. Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu �anhu : �Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Shalallahu alaihi wasallam . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan : �Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.� 2. Dengan duduk Apabila dengan ta�awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri. Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu �anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.� Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri. 3. Tidak bicara Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain. Dalam hadits disebutkan :�Apabila diantara kalian marah maka diamlah.� Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad) 4. Berwudlu Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bias diredam dengan berwudlu. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.� (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan) Adapun pemicu kemarahan ada empat, barangsiapa yang mampu mengendalikan maka Allah Subhanahu wa Ta�ala akan dijaga dari syetan dan diselamatkan dari neraka. Berkata Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah : �Empat hal, barangsiapa yang mampu mengedalikannya maka Allah akan menjaga dari syetan dan diharomkan dari neraka : yaitu seseorang mampu menguasai nafsunya ketika berkeinginan, cemas, syahwat dan marah.� Empat hal ini yaitu keinginan, cemas, syahwat dan marah merupakan pemicu seluruh kejelekan dan kejahatan bagi orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya. 1. Keinginan, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini mendatangkan manfaat pada dirinya, seringnya orang yang tidak mampu menguasai nafsu akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keinginannya itu dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom, dan terkadang yang diinginkan juga berupa sesuatu yang haram. 2. Cemas, adalah rasa takut dari sesuatu. Orang yang cemas akan berupaya untuk menolaknya dengan segala cara walaupun harus dengan cara harom seperti meminta perlindungan kepada selain Allah. 3. Syahwat, adalah kecondongan nafsu pada sesuatu yang diyakini dapat memuaskan nafsunya. Seringnya orang yang kalah dengan nafsunya memuaskan nafsu syahwatnya itu pada sesuatu yang haram seperti zina, mencuri, minum khamer bahkan pada sesuatu yang menyebabkan kekufuran, kebid�ahan dan kemunafikan. 4. Marah, adalah gelagaknya darah hati untuk menolak gangguan sebelum terjadi atau untuk membalas gangguan yang sudah terjadi. Kemarahan seringnya dilakukan dalam bentuk perbuatan yang diharamkan seperti pembunuhan, pemukulan dan berbagai kejahatan yang melampaui batas. Terkadang dalam bentuk perkataan yang diharamkan seperti tuduhan palsu, mencela dan perkataan keji lainnya dan terkadang meningkat sampai pada perkataan kufur. Tetapi tidak semua kemarahan itu tercela, ada yang terpuji , bahkan sampai pada tingkatan harus marah yaitu ketika kita melihat agama Allah direndahkan dan dihinakan, maka kita harus marah karena Allah terhadap pelakunya. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan beliau sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah maka Beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara. Ketika Nabi Shalallahu alaihi wasallam melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda : �Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.� (HR. Bukhari Muslim) Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam shalat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah marah karena pribadinya. Al Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Anas radhiyallahu anhu : �Anas membantu rumah tangga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam selama 10 tahun, maka tidak pernah beliau berkata kepada Anas : �ah�, sama sekali. Beliau tidak berkata terhadap apa yang dikerjakan Anas : �mengapa kamu berbuat ini.� Dan terhadap apa yang tidak dikerjakan Anas,�Tidakkah kamu berbuat begini.� (HR. Bukhari dan Muslim) Begitulah keadaan beliau senantiasa berada diatas kebenaran baik ketika marah maupun ketika dalam keadaan ridha/tidak marah. Dan demikianlah semestinya setiap kita selalu diatas kebenaran ketika ridha dan ketika marah. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : artinya : �Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.� (Hadits shahih riwayat Nasa�i) Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas : �Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.� Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Subhanahu wa Ta�ala, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran. Kesempatan baik ini untuk melatih diri kita menuju sifat kesempurnaan dengan menghilangkan sifat pemarah dan berupaya menjadi orang yang tidak mudah marah. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : �Bukanlah puasa itu sekedar menahan makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu (adalah puasa) dari perbuatan keji dan sia-sia. Apabila ada orang yang mencelamu atau membodohimu maka katakanlah : sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.� (HR. Ibnu Huzaimah dengan sanad shahih) Wallahu a�lam bishawab. (Dikutip dari artikel Keutamaan Menahan Marah, ditulis oleh ustadz Abdurrahim, Malang. Dikirim via Email oleh Akhi Khudori, Malang dan edit oleh redaksi. Sumber www.darussalaf.or.id) JANGAN MUDAH MARAH عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : " لا تغضب " فردد مِرارا , قال : لا تغضب Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau mudah marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah”. [Bukhari no. 6116] Pengarang kitab Al Ifshah berkata : “Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah”. Sabda beliau : “Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah”. Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya” Tersebut pada Hadits lain : “Marah itu dari setan”. Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : “Sesungguhnya mengucapkan ‘a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim’ dapat menghilangkan rasa marah”. Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan “a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim” merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini. http://lizhadisku.blogspot.com/2009/07/marah.html
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Muhammad rasul yang terpercaya –shallallahu ‘alaihi wa salam-. Amma ba’du;

Dajjal Sang Garam Dunia Membawa Surga dan Neraka, Nerakanya sebenarnya adalah Surga

Dajjal Sang Garam Dunia  Membawa Surga dan Neraka, Nerakanya sebenarnya adalah Surga
Dengan garam luka terasa lebih pedih, Dengan Garam Masakan Terasa lebih tajam rasanya, Akan tetapi garam semakin diminum semakin haus, begitu pula dengan Surganya Dajjal bagaikan garam Dunia, Karena Garam dunia para Alim ulama lebih takut kehilangan pengikutnya daripada Takut ditinggalkan Allah, karena ingin menggarami kegiatan dunianya banyak orang yang melakukan penyimpangan Seksual untuk mendapatkan rasa dunia yang lebih tajam. mana yang lebih penting garam dunia atau garam Akhirat?

Hikmah Tarbawiyah

Hikmah adalah kata-kata bijak yang mengandung nilai pelajaran berharga hasil dari pengalaman hidup yang panjang, ia mengajak kepada keluhuran perilaku dan meninggalkan kerendahan tingkah laku. Barangsiapa diberi hikmah maka dia telah diberi kebaikan yang besar, ia adalah barang yang hilang dari seorang mukmin, siapa yang mendapatkannya maka dialah yang lebih berhak atasnya.

Karena generasi tua lebih lama menikmati dan mengarungi hidup, telah merasakan asam garam kehidupan, maka mereka lebih kaya akan hikmah, dari sini maka pada umumnya hikmah diwariskan oleh generasi tua kepada generasi sesudahnya, dan termasuk hikmah adalah menyampaikan hikmah dengan hikmah, sama halnya menyampaikan dakwah bil hikmah, salah satunya adalah dengan mengkaitkan hikmah dengan sesuatu yang riil lagi kongkrit, karena nilainya akan lebih membekas dan mengakar di benak orang yang menerimanya. Nabi saw telah mencontohkan hal ini ketika ada seorang wanita dari tawanan perang mencari-cari anaknya yang terpisah dari dirinya, setiap kali dia melihat seorang anak dia mendekapnya karena dikira anaknya, Nabi saw bertanya kepada para sahabat, “Apakah menurut kalian wanita tersebut tega melemparkan anaknya ke dalam api?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan, ya Rasulullah.” Nabi saw bersabda, “Allah lebih menyayangi hambaNya dari pada wanita itu menyayangi anaknya.”

Pada suatu hari seorang bapak yang bijak ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum dan buah-buahnya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin, ujungnya hampir menyentuh tanah.

Bapak bijak itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah pohon yang miring itu. Kembalikan ia kepada bentuk semula." Anaknya bangkit menuju pohon itu. Dengan usaha yang mudah dia berhasil meluruskannya. Seterusnya keduanya berjalan. Sekarang keduanya sampai pada sebuah pohon besar, batang-batangnya banyak yang bengkok.

Bapak itu berkata kepada anaknya, "Anakku lihatlah pohon ini… betapa ia sangat memerlukan orang yang mau berbuat baik kepadanya dengan meluruskannya, menghilangkan aib yang menodainya dan menurunkan harganya di depan orang-orang yang memandangnya. Ke sanalah, lakukanlah apa yang kamu lakukan dengan pohon sebelumnya."

Anaknya tersenyum keheranan, dia menjawab, "Aku bukan tidak mau berbuat baik. Hanya saja pohon itu tidak mungkin diluruskan karena usianya yang tua. Benar itu mungkin pada saat ia masih muda. Kalau sekarang, mana mungkin?"

Bapak bijak itu mengagumi anaknya. Dia berbahagia melihat anaknya yang cerdas dan menjawab dengan tepat. Dia berkata, "Kamu benar anakku. Siapa yang tumbuh di atas sesuatu maka ia menjadi tabiatnya. Beradablah sejak kecil niscaya adab itu selalu menemanimu sampai kamu dewasa."

Kemudian keduanya pulang dan bapak bijak itu mengulang-ulang dalam dirinya…



قَدْ يَنْفَعُ الأَدَبُ الأَحْدَاثَ فِي مَهَلٍ
وَلَيْسَ يَنْفَعُ بَعْدَ الكَبْرَةِ الأَدَبُ

إِنَّ الغُصُوْنَ اِذَا قَوَّمْتَهَا اعْتَدَلَتْ
وَلاَ تَلِيْنُ إِذَا قَوَّمْتَهَا الخُشُبُ



Budi pekerti itu berguna bagi seorang anak semasa kecilnya
adapun pada masa kepala telah beruban maka ia tidak berguna

Sesungguhnya jika kamu meluruskan ranting maka ia bisa lurus
sementara kayu, tidak mungkin kamu bisa meluruskannya.

Tidak berbeda dengannya adalah ucapan, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sementara belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air.”


Bapak kedua dengan beberapa orang anaknya yang berumur muda, pada saat tanda-tanda ajal telah mendatanginya, dia mengumpulkan anak-anaknya, dia hendak memberikan sebuah pelajaran kepada mereka.

Bapak memberikan sebilah kayu kepada masing-masing anak, dia berkata kepada mereka, “Patahkanlah kayu yang kalian pegang.” Dengan mudah masing-masing anak mematahkan kayu yang ada di tangan mereka.

Selanjutnya bapak memberi mereka kayu yang tidak berbeda dengan kayu yang pertama, lalu bapak berkata, “Satukanlah kayu-kayu yang kalian pegang.” Dengan segera mereka menyatukannya. Bapak berkata, “Berikanlah kayu yang telah disatukan itu kepada fulan.” Yakni anaknya yang tertua. Bapak berkata kepadanya, “Patahkanlah kayu itu.” Anak tertua berusaha mematahkannya, tetapi tidak berhasil, dia mengulang dengan mengerahkan tenaga lebih tetapi tetap tidak berhasil dan akhirnya dia menyerah. Bapak berkata, “Berikanlah kayu itu kepada fulan.” Yakni anaknya yang kedua. Bapak memintanya melakukan seperti yang dilakukan oleh kakaknya, dan anak kedua ini bernasib sama dengan kakaknya, dia gagal mematahkan kayu itu.

Bapak berkata, “Berikan kayu itu kepada fulan.” Yakni anaknya yang ketiga. Dan anak ketiga juga tidak mampu mematahkan kayu tersebut. Selanjutnya bapak berkata kepada mereka semua, “Anak-anakku, bersatulah karena dengan itu kalian akan menjadi kuat, jangan bercerai-berai karena dengan itu kalian akan menjadi lemah.”



كُوْنُوْا جَمِيْعًا يَا بَنِيَّ إِذَا اعْتَرَى
خَطْبٌ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا آحَادَا

تَأْبَى الرِمَاحُ إِذَا اجْتَمَعْنَ تَكَسُّرَا
وَإِذَا افْتَرَقْنَ تَكَسُّرَتْ أَفْرَادَا



Apabila persoalan besar datang maka bersatulah
wahai anak-anakku dan jangan terpecah sendiri-sendiri

Apabila kayu-kayu itu disatukan, ia tidak dipatahkan
akan tetapi jika ia dipisah, ia akan terpatahkan.

Allah Taala berfirman,
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al-Anfal: 46).

http://my.opera.com/hilal_arz09/blog/show.dml/1717458

Monolog saya dengan Lucifer (Setan) dari tahun ke tahun

saya Neo Cortex, saya pernah mendapat beberapa pengalaman dan perenungan dalam sepak terjang saya. diantaranya Tahun 2010

Neo Cortex : sekarang saya akan mempublikasikan untuk memerangi kaum Musyrik, yang artikelnya berasal dari Syarif Tambakoso.

Lucifer : Neo tunggu, tidak semua tetangga di kotamu sepaham denganmu, coba anda periksa di Search Engine......, lihatkan?, bahkan ada beberapa orang yang mempublikasikan fitnah bahwa Ideology yang sedang kamu perjuangkan adalah Musyrik, Jika tetangga kamu yang membaca tulisan kamu bahwa orang musyrik harus mereka perangi, karena keterbatasan Ilmu, maka bisa saja tetangga kamu yang terhasut oleh kami akan menyembelih kamu lebih dahulu karena keterbatasan ilmu mereka.

Neo Cortex : Saya tidak takut, tetangga saya bukanlah orang - orang bodoh, mereka suka Shaum, mereka suka memperhatikan kebiasaan dan gerak gerik pamong desa mereka, mereka suka mengumpulkan Informasi terlebih dahulu, dan walaupun mereka terkena hasutan dan terjadi miss komunikasi, dan saya yang terkena boomerang dari postingan saya sendiri, Hanya Allahlah yang menentukan Nasib saya. bukan mereka.

Lucifer : Neo, kamu memiliki Amygdala, otak untuk bertahan hidup, mengapa kamu menempatkan diri kamu kedalam resiko, saya tidak mengerti.

Neo Cortex : anda tidak akan mengerti, karena hanya manusialah yang mengerti ucapan saya.

ALLAHU AKBAR DUKUNG TALIBAN

ALLAHU AKBAR DUKUNG TALIBAN
jangan bertanya ada dimana Allah, tetapi bertanyalah ada dimana alam raya beserta isinya?, ada di dalam pikiran Allah tentunya. tetapi alam raya beserta isinya tidak berada didalam pikiran kita. Apakah agama yang dianut Elektron, Proton dan Neutron?, agama Islam tentunya. kecuali Iblis Laknatullah dan para pengikutnya.

INILAH JIHAD

JAWABAN TUNTAS ATAS SYUBHAT SEPUTAR JIHAD

قالوا فقل

Jika mereka mengatakan apa jihad itu? Maka katakanlah

Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, telah menjawab pertanyaan ini dengan tegas ketika ada sahabat yang bertanya:

َأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ؟ قَالَ : أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيْتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ قَالَ :مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ وَأُهْرِيْقَ دَمُهُ

” Apakah hijroh itu?” Beliau menjawab,”Engkau meninggalkan amalan jelek.” Orang tersebut bertanya lagi,”Lalu hijroh bagaimanakah yang paling utama itu?” Beliau menjawab,” Jihad.” Orang tersebut bertanya lagi,”Apakah jihad itu?” Beliau menjawab,” Engkau memerangi orang kafir jika kamu bertemu mereka.” Orang tersebut bertanya lagi,” Lalu bagaimanakah jihad yang paling utama itu?” Beliau menjawab,” Siapa saja yang terluka kudanya dan tertumpah darahnya”[1]

Hadits ini shohih diriwayatkan oleh Ahmad. Adapun lafadz yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud berbunyi – dan riwayat ini Hasan — :

أيُّ الجهاد أفضل؟ قال: من جاهد المشركين بماله ونفسه؟ قيل: فأي القتل أشرَفُ؟ قال: من أُهريق دمه وعُقر جوادُه

“Jihad apakah yang paling utama? Beliau menjawab: Orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik dengan harta dan jiwa raganya? Lalu beliau ditanya lagi: Mati yang bagaimana yang paling mulia? Beliau menjawab Orang yang tertumpah darahnya dan terbunuh kudanya.”

Dengan demikian maka harta yang banyak tidak bisa menggantikan kedudukan jihad dengan jiwa dan raga, lalu bagaimana dengan orang yang duduk belajar untuk mendapatkan harta atau membelah teluk ?.

Memang jihad itu bermacam-macam [Jihad dengan tombak, dengan harta, dengan lisan dan tangan] kalau anda mau silahkan katakan Perang Harta dan Perang Dakwah akan tetapi jika kata Perang jika diungkapkan secara lepas maka menurut ‘urf ((kebiasaan) salafush sholih adalah : Jihad itu Perang. Perhatikanlah ketika ibunda ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha bertanya:

يا رسول الله: هل على النساء من جهاد؟

“Wahai Rosululloh, apakah wanita itu wajib berjihad ?”

Maka Rosululloh menjawab:

عليهن جهاد لا قتال فيه، الحج والعمرة

“Kaum Wanita wajib berjihad yang tidak pakai perang, yaitu haji dan umroh.”

Hadits ini sanadnya Shohih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah. Sedangkan dalam riwayat Al-Bukhori berbunyi:

نرى الجهاد أفضلَ الأعمال أفلا نجاهد؟…

“Kami melihat bahwa jihad itu amalan yang paling utama .. Apakah kami tidak kami tidak berjihad ?…”

Dengan demikian ibunda ‘Aisyah memahami bahwa jihad itu perang

Dan apakah para sahabat ketika mengatakan:

نحن الذين بايعوا محمداً على الجهاد ما بقينا أبداً

Kamilah orang-orang yang berbai’at kepada Muhammad

Untuk berjihad selama kami masih hidup

Apakah yang mereka maksudkan bukan perang ?

Dan inilah yang difahami oleh para ulama’ sebagaimana yang disebutkan dalam buku “ ‘Ibar Wa Bashoo’ir” karangan Syaikh Dr. Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh hal. 9 dan seterusnya:

” Empat imam madzhab bersepakat bahwasanya jihad adalah perang dan tolong-menolong dalam berperang untuk menegakkan kalimatulloh:

1- Madzhab Hanafi:

Dalam kitab Fathul Qodir V/187 disebutkan: ” Jihad adalah mendakwahi orang kafir kepada Dien yang benar dan memerangi mereka jika mereka tidak mau.” Dan Imam Al-Kasani berkata dalam kitab Al-Bada’i’ VII/97: ,” Mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan dalam berperang di jalan Alloh dengan jiwa raga, harta dan lainnya.”

2- Madzhab Malikiy: Lihat kitab Aqrobul Masalik karangan Ad-Dardiir.

3- Madzhab Syafi’i:

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata,” Dan secara syar’i adalah mengerahkan tenaga dalam memerangi orang-orang kafir.” VI/77 Darul Fikri

4- Madzhab Hambali:

“Memerangi orang-orang kafir.” Matholibu Ulin Nuha II/497. Juga dalam kitab ‘Umdatul Fiqhi Wa Muntahal Irodah disebutkan: “Jihad adalah perang dengan mengerahkan segala kemampuan untuk meninggikan kalimatulloh.” Selesai penukilan dari Syaikh Abdulloh Azzam dengan sedikit perubahan.

Ibnu Rusyd berkata dalam kitabnya Muqoddimat I/369: ,” Dan Jihadus Saif adalah memerangi orang-orang musyrik berlandaskan Dien. Maka setiap orang yang berpayah-payah karena Allah berarti telah berjihad di jalan Allah. Namun sesungguhnya jihad fi sabilillah kalau diungkapkan secara lepas maka tidak ada maksud lain selain memerangi orang kafir dengan pedang sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah dalam keadaan hina.”

Dengan kasus lain: sesungguhnya orang yang meninggalkan perkara-perkara yang haram disebut sebagai “Sho’im” karena dia shoum[2] dari perkara-perkara yang diharamkan. Tapi apakah berarti dia dibebaskan dari shoum yang asli (menurut pengertian syar’ii- pent.) yaitu shoum Romadlon??!! Sedangkan Alloh telah mengatakan:

كُتب عليكم القتال

“Telah diwajibkan kepada kalian berperang.”

Sebagaimana Alloh juga telah mengatakan:

كُتب عليكم الصيام

“Telah diwajibkan kepada kalian shoum.”

أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض

Apakah kalian beriman dengan sebagian isi kitab dan kalian mengkafiri sebagian yang lain.?

Ada lagi golongan yang hanya ingi memalingkan makna jihad, mereka mengatakan: “Kami ini sedang berjihad.”!! Untuk membenarkan qu’uud mereka dari jihad. Namun setelah engkau lihat aktifitas kehidupan mereka, rupanya mereka adalah seorang pegawai yang bekerja untuk menghidupi keluarganya, yang lain lagi sebagai pedagang, yang lain lagi sebagai buruh, yang lain lagi sebagai petani, yang lain lagi sedang belajar di kuliyah syari’ah … atau kedokteran atau perekonomian atau ilmu politik .. semuanya memandang dirinya sebagai mujahid dan masing-masing boleh untuk qu’uud dari perang! .. Ya, sebagai mujahid ! sedangkan dia di negerinya makan, minum dan mengajar atau bekerja. Bahkan ada yang tidak tahu malu, ia menganggap bahwa yang sedang dia lakukan itu lebih baik dari pada perang itu sendiri! Orang-orang yang kacau pemikirannya dan menyelewengkan (makna jihad) itu harus diberikan tambahan penjelasan dari Al-Qur’an. As-Sunnah dan siroh Tabi’iin:

2- Jika mereka mengatakan: Kenapa kamu mengobarkan semangat untuk berperang sekarang … Untuk apa keluar berjihad, karena zaman kita lain dengan zaman mereka, dan setiap zaman itu ada fuqoha’nya sendiri. Cukup sebagai alasan kita adalah kebanyakan – kalau tidak kita katakan semua — para ulama’ dan para reformis yang mempunyai kesadaran tidak keluar untuk (berjihad). Apakah masuk akal mereka semuanya berdosa. Sedangkan kamu berada di medan (perang) sendirian! Karena jihad pada hari ini tidak menggunakan pedang dan pisau akan tetapi dengan kebudayaan; dan kita harus melakukan I’dad Imani dan belajar ilmu syar’ii serta mengajarkannya kepada manusia sebelum bertempur karena kebodohan dan lemahnya kesadaran sudah sangat merajalela dikalangan manusia; oleh karena itu kobarkanlah semangat pada manusia agar melakukan hal ini (I’dad imani-pent.) dan juga untuk berdakwah, tashfiyah, tarbiyah dan membantah syubhat-syubhat musuh, dan juga kobarkanlah semangat untuk belajar ilmu perekonomian, ilmu falsafat, ilmu sosial, ilmu politik, ilmu tentang media massa, ilmu komunikasi, ilmu pertanian, ilmu perdagangan, ilmu industri, ilmu kedokteran, ilmu arsitektur, ilmu perturisan, ilmu teknologi, ilmu ‘ashronah dan ilmu-ilmu semacam itu! Karena ini semua adalah jihad dan kita harus memiliki bangunan bawah tanah sebelum berperang!

Maka katakanlah kepada mereka:

1- Akan tetapi Al-Jabbaar (Alloh) memerintahkan dari atas langit yang ketujuh kepada NabiNya:

يا أيها النبي حَرِّض المؤمنين على القتال

“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat kaum muslimin untuk berperang.”

Pada waktu kamu malah melemahkan semangat untuk berperang, dan supaya kamu dapat menipu orang-orang yang lemah imannya kamu mengaku sedang menyiapkan perang, padahal kenyataannya kamu dusta!

Bukankah Robb kita telah mengatakan kepada kita:

فقاتل في سبيل الله لا تُكَلَّفُ إلا نفسَك وحرِّض المؤمنين …

“Maka berperanglah di jalan Alloh, kamu tidak dibebani (diperintah) kecuali (kewajibanmu) sendiri dan kobarkanlah semangat orang-orang beriman …”

Dan Alloh tidak mengatakan: Maka belajarlah kamu perekonomian atau arsitektur meskipun kamu sendirian!

Bukankah Robb kita telah memerintahkan kita:

فإذا لقيتم الذين كفروا فَضَرْبَ الرقاب

“Maka jika kalian bertemu dengan orang-orang kafir, penggallah leher mereka.” ??

Dan Alloh Tabaraka wa Ta’ala tidak mengatakan: maka adakanlah pengajian dan forum-forum untuk menolak syubhat-syubhat … atau kalian belum berjumpa dengan orang-orang kafir?!

فاقتلوا المشركين حيث وَجَدْتُموهم

“Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian jumpai mereka.”

2- Karena sekarang jihad hukumnya adalah fardlu ‘ain berdasarkan kesepakatan para ulama’, maka jihad itu seperti sholat dan shiyam bahkan jihad lebih didahulukan – pada saat bertabrakan – dari pada sholat menurut tiga imam madzhab kecuali al-hanabilah (madzhab hambali), dan jihad lebih didahulukan menurut semua (imam 4 madzhab) yang dengan demikian orang yang meninggalkannya adalah pelaku dosa besar, sebagaimana yang dikatakan oleh “Ibnu Hajar Al-Haitami”, dan “Al-Quroofiy” menyebutkan bahwa beberapa kewajiban atau hak itu jika saling berbenturan maka didahulukan yang mudloyyaq (waktunya terbatas sehingga tidak dapat diundur-pent.) dari pada yang muwassa’ (waktunya longgar –pent.) karena tadlyiq (keterbatasan waktu) itu menunjukkan bahwa syari’at itu lebih mementingkannya dari pada yang lain, maka yang dikhawatirkan tidak akan terlaksana karena akan berlalu, itu lebih didahulukan dari pada kewajiban yang tidak dikhawatirkan akan ketinggalan, meskipun kewajiban itu lebih tinggi kedudukannya.

Para fuqoha’ telah bersepakat bahwasanya jihad itu menjadi fardlu ‘ain terhadap seseorang jika kholifah itu menunjuk orang tersebut untuk berjihad; maka seandainya ada seseorang yang terpandang yang mempunyai aktifitas dakwah, dia orang besar dan tersohor , dan banyak perannya pada kaum muslimin, dan dia hidup pada zaman khilafah rosyidah, kemudian kholifah itu datang kepadanya dan mengatakan: “Keluarlah untuk berjihad – padahal ketika itu jihad fardlu kifayah – !” Apakah boleh seorang da’i yang terpandang dan seorang ‘alim cerdas tersebut untuk tidak taat atau mengatakan: Saya disini lebih bermanfaat – menurut pendapatnya – lalu dia tidak mau keluar (untuk berjihad-pent.) ?! Berdasarkan kesepakatan jawabannya : Tidak, sampai meskipun aktifis tersebut berpendapat bahwa keberadaannya lebih bermanfaat bagi kaum muslimin.

Maka lihatlah ! Ini apabila yang mengatakan kepadamu seorang kholifah: Keluarlah untuk berperang! Lalu bagaimana jika yang mengatakan kepada kamu adalah Robbnya kholifah dan utusan Robbnya kholifah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

انفروا خفافاً وثقالاً وجاهدوا بأموالكم وأنفسكم في سبيل الله ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون

“Keluarlah kalian baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat dan berjihadlah kalian dengan harta dan jiwa raga kalian di jalan Alloh. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Dan kemaslahatan itu terletak pada keluar pergi berperang, karena pada hari ini hukumnya adalah fardlu ‘ain, dan kewajiban itu harus dikerjakan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda. Dan ayat itu menyatakan dengan tegas bahwa kewajiban berperang itu dengan harta dan jiwa raga; tidak hanya dengan harta atau hanya dengan kata-kata dan do’a saja, lebih dari pada itu bahwa an-nafiir itu secara bahasa tidak mempunyai lebih dari satu arti – dalam pembahasan kita – , dan silahkan lihat buku-buku bahasa.

Jihad ketika fardlu ‘ain, seorang anak harus keluar tanpa ijin dengan kedua orang tuanya, maka apakah diperbolehkan bagi seorang pelajar filsafat atau perekonomian atau media massa atau … untuk keluar melaksanakan aktifitasnya tanpa ijin kedua orang tuanya sekarang?! Dan jika seorang ibu melarang anaknya agar tidak pergi mengikuti ujian “perekonomian” bukankan dia wajib mentaati ibunya?

Akan tetapi jika seorang ibu melarang meninggalkan jihad ketika hukumnya fardlu ‘ain, ia tidak boleh ditaati? Dengan demikian manakah yang lebih penting: Perang atau belajar perekonomian?! Apakah kamu tidak melihat sebagaimana yang saya lihat sekarang bahwa I’dad-I’dad di negerimu yang kamu katakan itu hanyalah angan-angan semu seperti kabut yang menghalangi pandangan!! Sesungguhnya I’dad yang benar itu adalah I’dad untuk perang, adapun yang lainnya hanya mengikuti, dan itu merupakan konsekuensi, akan tetapi kalajengking itu harus dipukul kepalanya bukan dibacakan sya’ir, buku, cerita atau periwayatan-periwayatan yang tersebar di pasaran para kalajengking itu supaya mereka meninggalkan kekejian mereka !!

Dan tidak tersisa lagi alasan kecuali mereka mengagetkan kami dengan mengatakan bahwa belajar di “Pondok Pesantren” juga I’dad fii sabiilillaah, dan kita semua masing-masing berada di dalah satu bidang dari bidang-bidang pertahanan Islam !!!!

Dan kamu jangan heran wahai sahabatku karena zaman kita ini adalah zaman yang penuh dengan keajaiban, dan hiburlah dirimu dengan hadits:

…وإعجابَ كل ذي رأيٍ برأيه

“…. dan setiap orang merasa bangga dengan pendapatnya.”

Meskipun hadits ini diperselisihkan ke shohih annya, dan At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan Ghoriib”.

Dan apabila jihad itu fardlu ‘ain seseorang itu (harus) keluar (untuk berjihad) walaupun tanpa seizin orang yang menghutanginya sebagaimana yang dinyatakan oleh para fuqoha’. Tapi apakah boleh kamu keluar untuk belajar di “Jerman” misalkan tanpa kamu membayar hutangmu dengan alasan bahwa belajarmu dan I’dad fikriy mu lebih baik dari pada I’dad qitaliy atau lebih utama dari pada perang itu sendiri!!? Atau hukum-hukum itu telah berubah bersamaan dengan perubahan zaman?!

Berikut ini saya sampaikan kepadamu perkataan para ulama’ tentang izin kepada orang yang menghutangi:

  1. Dalam kitab Al-Mughniy karangan Ibnu Qudamah IX/171 disebutkan: “Adapun jika jihad itu fardlu ‘ain maka tidak ada izin kepada ghorim (orang yang menghutangi) nya karena kewajiban itu tergantung pada dirinya sendiri, sehingga ia lebih didahulukan dari pada tanggungannya yang lain sebagai mana fardlu ‘ain-fardlu ‘ain yang lainnya, akan tetapi hendaknya dia jangan masuk ke tempat-tempat yang menurut perkiraannya dia akan terbunuh seperti perang tanding dan berdiri pada barisan depan, supaya dia tidak mengorbankan hak orang lain; meskipun dia telah meninggalkan harta untuk membayar hutang dia telah meninggalkan jaminan maka dia boleh berperang dengan tanpa izin. Ahmad telah menyatakan tentang orang yang telah meninggalkan harta untuk membayar ..” maksudnya dia boleh pergi ketika jihad fardlu kifayah. Wallohu a’lam.
  2. Ibnu Taimiyah: “Jika musuh memasuki nagara Islam maka tidak diragukan lagi atas wajibnya melawan bagi orang yang paling dekat kemudian orang yang berada di dekatnya, karena negara Islam itu ibarat satu negara, dan sesungguhnya wajib pergi ke daerah itu dengan tanpa izin irang tua atau ghorim.”

Dan ketika jihad itu fardlu ‘ain, ia lebih di dahulukan dari pada sholat menurut empat imam madzhab kecuali hanabilah (madzhab hambali) dan orang yang meninggalkannya berdosa sebagaimana orang yang meninggalkan shiyam. Lalu apakah aktifitas kalian seperti belajar, pesta dan forum-forum pertemuan … lebih di dahulukan dari pada sholat, zakat dan shiyam ketika saling berbenturan?! Apakah harapan kalian terhadap kemaslahatan kaum muslimin lebih besar dari pada Alloh dan RosulNya dan jumhur ulama’?!!!

Dan saya bertanya-tanya: Jika ada ujian yang lamanya 6 jam sejak adzan dzuhur sampai ‘isya’, dan kamu akan terlewatkan 3 sholat, apakah kalian akan membolehkan seseorang untuk meninggalkan sholat tersebut dengan alasan nanti pada masa yang akan datang yang masih lama ketika dia membuka praktek pengobatan akan menyisihkan 30 % dari pendapatannya untuk athfaalul hijaaroh (anak-anak Palestina yang berjuang dengan batu).?! Apakah kamu akan memperbolehkan seorang pelajar arsitektur untuk meninggalkan sholat jum’at jika waktu ujiannya melalui waktu sholat nya ?

Akan tetapi mujahid hakiki yang berada di medan jihad disyari’atkan baginya untuk meninggalkan sholat jika dia tidak mampu melaksanakannya ketika berperang sebagai mana yang terjadi pada perang Khondaq.

Dengan lebih jelasnya: Jika seseorang akan masuk sekolah di “Eropa” akan tetapi dia harus minum beberapa tetes air yang berfungsi untuk mendeteksi keadaan jasmaninya pada hari-hari di bulan romadlon, dan jika dia tidak mengikuti pemeriksaan akan ditolak untuk masuk kuliyah wahmiyah (kuliah yang hanya angan-angan) itu, apakah kalian memperbolehkannya mengikuti tes kesehatan itu?! Akan tetapi jihad jika fardlu ‘ain lebih didahulukan dari pada shoum berdasarkan kesepakan seluruh ulama’, maka dia boleh berbuka! Dengan demikian manakah yang lebih utama antara kuliyah dan jihad …..!

Dalam bentuk yang terakhir: Jika ujian itu mensyaratkan seseorang harus menanggalkan pakaiannya, supaya diperiksa didepan komputer dan para pengawas ahli dengan menggunakan sinar tertentu, apakah kalian memperbolehkannya dengan alasan dia akan masuk “fakultas atom” lalu dia akan belajar bagaimana membuat bom atom lalu dengan itu kita bisa mengalahkan Isra’il?!

Itu semua hanya angan-angan wahai manusia !

يُحِلُّون الحرام إذا أرادوا وقد بان الحلال من الحرام

Mereka menghalalkan yang haram jika mereka mau

Padahal telah jelas mana yang halal dan mana yang haram

Kita di hadapkan dengan dua permasalahan dan jangan sekali-kali kamu mencampur adaukkannya, pertama: Mengetahui hukum jihad pada hari ini, wajib apa tidak ? kedua : melaksanakan hukum ini; dan jauh berbeda antara orang yang mengingkari kewajibannya lalu dia tidak melaksanakannya dengan orang yang mengakui kewajibannya dan dia mengaku bersalah dan dosa!

Jihad itu menurut jumhur (mayoritas ulama’) fardlu kifayah, yang dilaksanakan satu tahun sekali, dan cukup sebagai dalil sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada pamannya Abu Tholib ketika menjelang kematiannya:

أريد منهم كلمة واحدةً تَدين لهم بها العرب وتُؤَدّي إليهم العجم الجزية، قال: كلمةٌ واحدة!! قال: كلمةٌ واحدة، …”لا إله إلا الله” فقالوا: إلهاً واحداً ما سمعْنا بهذا في المِلَّة الآخرة، إنْ هذا إلا اختلاق

“Aku menginginkan dari mereka satu kalimat saja yang akan menjadikan orang-orang Arab tunduk kepada mereka dan orang-orang ‘ajam (selain Arab) membayar jizyah.” Abu Tholib mengatakan: “Satu kalimat?!” Beliau bersabda: “Satu kalimat … “laa ilaaha illallooh” (tidak ada ilaah selain Alloh) maka mereka mengatakan; Satu ilaah, kami belum pernah mendengar hal ini pada millah (agama) yang terakhir, ini hanyalah mengada-ada.” Ahmad dan At-Tirmidziy dan ini hadits Hasan.

Akan tetapi jihad telah berubah menjadi fardlu ‘ain, dan meskipun pada hari ini jihad itu fardlu kifayah, maka kifayah itupun belum terlaksana pada hari ini. Oleh karena itu kami katakan bahwa jihad qitaaliy pada hari ini adalah kewajiban yang hilang. Dan berikut ini saya sampaikan kepadamu perkataan ahludz dzikri (ulama’) :

  1. Al-Qurthubiy berkatadalam tafsirnya VIII/152: “ …Fardlu juga terhadap imam mengirim satu kelompok kepada musuh setiap tahun sekali, ia keluar sendiri dengan kelompok tersebut atau dia mewakilkan kepada orang yang dia percayai untuk mengajak orang-orang kafir kepada Islam .. dan menahan gangguan mereka dan meng idzhar kan dien Alloh terhadap mereka sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah .. dan ia – seorang muslim — berperang dengan jiwaraganya jika dia mampu dan jika tidak dia memberikan perbekalan kepada orang yang berperang …”
  2. Muqoddimah Ibnu Kholdun I/230-231: “Al-Miilah Al-Islamiyah itu jihad disyari’atkan padanya untuk menyampaikan dakwah kepada semua manusia dan membawa seluruh manusia ke pada dienul Islam baik dengan suka rela maupun terpaksa, maka dibuatlah sistem khilafah dan kerajaan padanya, adapun selain Millah Islamiyah jihad padanya tidaklah untuk seluruh manusia, dan jihad padanya tidak disyari’atkan kecuali untuk mempertahankan diri saja, sehingga orang yang melaksanakan diin padanya tidak mesti mengatur kerajaan … dan sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, karena mereka tidak terkena taklif untuk berkuasa atas seluruh umat sebagaimana Al-Millah Al-Islamiyyah, sesungguhnya mereka hanya dituntun melaksanakan dien mereka pada pribadi-pribadi mereka, oleh karena itu Bani Israil sepeninggal Musa dan Yusya’ ‘alaihimas salam selama sekitar 400 tahun tidak memperhatikan masalah kekuasaan akan tetapi yang mereka perhatikan adalah melaksanakan dien mereka saja ..”
  3. Ibnu Katsir dalam tafsirnya II/402-403: : “Alloh memerintahkan orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang kafir secara berurutan dari yang paling dekat dengan wilayah Islam. Oleh karena itu Rosululloh memulai perang melawan orang-orang musyrik yang berada di jazirah Arab. Ketika Alloh telah menaklukkan Mekah, Madinah. Tho’if, Yaman, Yamamah, Hijr, Khoibar, Hadl-romaut dan negeri di jazirah Arab lainnya, dan manusia dari seluruh penjuru Arab masuk Islam dengan berbondong-bondong, maka beliau mulai memerangi Ahlul kitab. Maka beliaupun bersiap-siap untuk memerangi Romawi yang mana mereka itu bangsa yang paling dekat dengan jazirah Arab. – sampai beliau mengatakan – setelah itu kewajiban itu dilaksanakan oleh sahabat dan penggati beliau yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sungguh agama ini telah miring dan hampir saja runtuh, maka Alloh pun memperkokoh pondasinya, dan mengembalikan lagi orang yang lari dari agama meskipun ia tidak suka. Maka dikembalikanlah kembali orang yang murtad ke dalam Islam. Ia mengambil kembali zakat makanan dari orang yang tidak mau membayarkannya. Dan ia jelaskan kebenaran kepada orang yang tidak mengetahuinya. Ia laksanakan risalah rusululloh. Lalu ia mulai mempersiapkan pasukan Islam untuk memerangi Romawi, para penyembah salib. Dan memerangi Persi, para penyembah api. Maka lantaran berkah dari dutaNya, Alloh menaklukkan berbagai negeri. Ia bikin murka Kisro (gelar raja Persi) dan Qoishor (gelar raja Romawi) berseta orang-orang yang mentaati keduanya. Lalu ia belanjakan harta benda mereka dijalan Alloh, sebagai mana hal itu telah dikabarkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian kewajiban itu disempurnakan oleh orang yang ia wasiatkan untuk memerintah setelahnya. Yaitu Al-Faaruuqul Awwaab (pemisah antara kebenaran dan kebatilan lagi banyak bertaubat). Syahidul Mihrob (yang syahid di dalam mihrob). Abu Haf-sh, Umar bin Khothob ra. Maka Alloh membikin geram orang-orang kafir dengan melalui dirinya. Ia hancurkan para pemberontak dan orang-orang munafik. Lalu ia kuasai seluruh kerajaan dari timur sampai barat. – sampai beliau berkata – setiap kali mereka menguasai suatu kaum, mereka berpindah kepada kaum pendosa yang berada di dekatnya, sebagai realisasi firman Alloh Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنْ الْكُفَّارِ

Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu,” (QS. 9:123)

Dan firman Alloh Ta’ala:

ولْيَجِدوا فيكم غِلْظَة

“Dan hendaknya mereka mendapatkan sikap keras dari kalian”

Maksudnya; supaya orang-orang kafir itu mendapatkan kekerasan dari kalian dalam peperangan kalian melawan mereka. Karena sesungguhnya orang mukmin yang sempurna itu adalah orang yang lemah lembut kepada saudaranya yang beriman dan keras terhadap musuhnya yang kafir, sebagaimana firman Alloh:

أشداءُ على الكفار رحماء بينهم

“….keras terhadap orang-orang kafir dan kasih sayang kepada sesama mereka.”

Dan Alloh ta’ala berfirman:

يا أيها النبي جاهد الكفار والمنافقين واغلُظ عليهم ومأواهم جهنم وبئس المصير

“Wahai Nabi berjihadlah kamu terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dan bersikaplah keras kepada mereka, dan tempat kembali mereka adalah jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Dan dalam sebuah hadits Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bersabda:

أنا الضحوك القَتَّال

“Saya adalah orang yang suka tertawa dan pembunuh.”

Maksudnya adalah beliau suka tertawa kepada walinya dan pembunuh terhadap musuh-musuhnya .. dan beginilah keadaannya, ketika tiga generasi mulia yang mana mereka itu adalah generasi terbaik dari umat ini, ketika mereka pada puncak keistiqomahan dan melaksanakan ketaatan kepada Alloh, mereka senantiasa dzoohir terhadap musuh mereka, dan mereka senatiasa mendapatkan kemenangan yang banyak. Dan musuh-musuh senantiasa berada di bawah dan dalam kerugian, kemudian ketika terjadi fitan (kekacauan) dan ahwaa’ (hawa nafsu) serta perselisihan antar raja, musuh-musuh mulai mengincar daerah-daerah pinggiran negeri Islam dan mereka bergerak maju ke daerah-daerah tersebut, maka mereka tidak tertahankan karena para menguasa sibuk dengan sesama mereka, lalu mereka maju ke wilayah Islam, maka mereka mengambil banyak dari negara Islam dari pinggiran-pinggirannya, kemudian mereka terus maju sampai mereka menguasai banyak dari wilayah Islam … maka setiap kali ada seorang raja dari raja-raja Islam yang berdiri dan mentaati perintah-perintah Alloh ta’ala dan bertawakkal kepada Alloh Azza wa Jalla , Alloh ta’ala membukakan wilayah-wilayah tersebut dan merebut kembali dari musuh-musuh sesuai dengan kadar walaayah Alloh Ta’ala yang ada padanya …”

  1. Dan dalam kitab Ahkaamul Qur’aan karangan At-Tahaanuwiy II/330 cetakan Karachi disebutkan,: “Mereka (para ulama’-pent.) ber ijma’ bahwasanya apabila orang-orang kafir itu tetap tinggal di wilayah mereka dan tidak menyerang Daarul Islaam maka imam wajib untuk tidak melewatkan satu tahun berlalu tanpa peperangan, baik dia terjun langsung ikut berperang atau dia mengirim sariyah-sariyah (ekspedisi-ekspedisi) supaya jihad itu tidak terabaikan; karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam., dan padara Al-Khulafaa’ Ar-Roosyiduun tidak melalaikan jihad, maka apabila ada satu kelompok kaum muslimin yang telah melaksanakannya, sehingga dengan mereka tercapai penolakan kejahatan orang-orang kafir dan peninggian kalimatullooh, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lainnya, dan ketika itu seorang budak tidak boleh keluar (untuk berjihad) tanpa izin tuannya dan tidak boleh perempuan keluar tanpa izin suaminya, dan tidak boleh orang yang mempunyai hutang keluar tanpa izin orang yang menghutanginya, dan tidak boleh seorang anak keluar jika salah satu dari kedua orang tuanyamelarangnya, karena jihad dapat dicukupi oleh orang lain maka tidak ada alasan yang mendesak untuk menggugurkan hak manusia, namun jika tidak ada seorangpun yang melaksanakannya semua orang berdosa kecuali ulidh dhoror (orang buta, pincang dan sakit) di antara mereka, dan mereka ber ijma’ bahwasanya wajib atas penduduk sebuah daerah untuk memerangi orang-orang kafir yang berada di sekitar mereka, namun jika mereka tidak mampu orang yang paling dekat dengan mereka (harus) membantunya, dan begitu pula jika penduduk daerah tersebut malalaikan padahal mereka mampu, maka wajib orang yang berada paling dekat dengan mereka untuk melaksanakannya, kemudian kewajiban itu meluas sampai seluruh dunia (jika kewajiban itu tidak terlaksana-pent.) Begitulah disebutkan dalam kitab Al-Madzhari II/203 dan kepada Alloh–lah tempat mengadu tentang perbuatan para penguasa Islam pada zaman kita ini, karena mereka menihilkan jihad sama sekali, mereka hanya melaksanakannya untuk mempertahankan diri saja, padahal Abu Bakar Ash-Shiddiiq Radhiyallahu ‘anhu mengatakan pada khotbahnya yang pertama kali (ketika diangkat menjadi Kholifah-pent.) :

ما ترك قوم الجهاد إلاّ ذلوا

“Tidaklah sebuah kaum meninggalkan jihad kecuali mereka pasti hina.”

Dan demi Alloh sungguh dia benar.”

  1. Ibnu An-Nuhaas dalam kitab Tahdzibb Masyaari’ul Asywaq hal. 35, mengatakan: “Ketahuilah bahwa jihad (menyerang) orang-orang kafir di negeri mereka (hukumnya) fardlu kifayah berdasarkan kesepakatan ulama’ … dan paling minimal jihad (dilaksanakan) dalam satu tahun sekali … dan tidak boleh satu tahun berlalu tanpa perang dan jihad kecuali karena dhoruuroh …Dan Imam Al-Haroomain Al-Juwainiy mengatakan: Yang terpilih bagi saya adalah jalan yang ditempuh ushuuliyyiin (ahli ushul fiqih), yang mengatakan: Jihad itu adalah Da’wah Qohriyyah, oleh karena itu wajib untuk dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, sehingga tidak tersisah di atas muka bumi ini kecuali muslim atau musaalim (orang kafir yang berdamai, menyerah) dan jihad tidak hanya (dilaksanakan) dalam satu tahun sekali, dan tidak boleh ditinggalkan jika mungkin untuk dilakukan lebih dari pada satu kali … Dan Ibnu Qudamah mengatakan dalam kitab Al-Mughniy: Sedikitnya jihad (dilakukan) setiap tahun satu kali, kecuali jika ber’udzur untuk melakukannya, dan jika kebutuhan menuntut untuk melakukan jihad lebih dari satu kali dalam satu tahun, maka wajib dilaksanakan, karena jihad itu fardlu kifayah, dan fardlu kifayah itu wajib dilakukan ketika ada tuntutan kebutuhan.” Habis. Maka jika kaum muslimin lemah, yang menjadai kewajiban mereka adalah Al-I’daad Al-Qitaaliy, karena suatu kewajiban itu jika tidak sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan sebuah sarana, maka sarana itupun hukumnya wajib.
  2. I’aanatuth Thoolibiin [Syafi’iy] IV/180: “Kifayah itu tercapai dengan cara imam mengisi tsughur (perbatasan) dengan orang-orang yang mencukupi untuk (menghadapi) orang-orang kafir dengan memperkokoh benteng-benteng, khondaq-khondaq (transist) mengangkat para umaroo’ (untuk memimpin perang), atau imam atau wakilnya masuk daarul kufri dengan bala tentaranya untuk memerangi mereka.” Dan dalam IV181:” … fardlu kifayah pada setiap tahun jika orang-orang kafir tetap tinggal di dalam negeri mereka dan tidak berpindah dari nya.”
  3. Mughniy Al-Muhtaaj [Syaafi’iy] IV/209 sampai 220: “Adapun sepeninggal beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam., maka orang-orang kafir itu keadaannya ada dua: pertama; mereka diam di negara mereka tidak datang menyerang nageri kaum muslimin maka hukumnya fardlu kifayah sebagaimana yang ditunjukkan oleh sejarah Al-Khulafaa’ Ar-Roosyidiin, dan Al-Qodli Abdul Wahhaab mengatakan bahwa hal ini merupakan ijma’ … dan kifayah itu tercapai dengan cara imam mengisi tsughur (perbatasan) dengan orang-orang yang mencukupi untuk (menghadapi) orang-orang kafir dengan memperkokoh benteng-benteng, khondaq-khondaq (transist) mengangkat para umaroo’ (untuk memimpin perang), atau imam atau wakilnya masuk daarul kufri dengan bala tentaranya untuk memerangi mereka.”
  • Semua uraian di atas adalah berkenaan dengan Jihaddu Ath-Thilabi (offensif) adapun Jihaadu Ad-Daf’i maka berikut ini penjelasannya kami paparkan untuk anda:
  1. Al-Qurthubiy mengatakan dalam tafsirnya VIII/151, ketika manafsirkan ayat:

انفروا خفافاً وثقالاً

“Berangkatlah kalian (berperang) baik dalam keadaan ringan maupun dalam keadaan berat ..”

“ Kadang terjadi kondisi di mana nafiiru al-kull (mobilisasi umum) itu wajib …yaitu ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain lantaran menangnya musuh atas satu daerah dari daerah-daerah kaum muslimin … maka wajib bagi seluruh penduduk negeri itu untuk an-nafiir dan keluar ke daerah tersebut (untuk berperang) baik dalam keadaan berat maupun ringan, masih muda maupun sudah tua, masing-masing berdasar kemampuannya. Siapa mempunyai ayah tak perlu idzin ayahnya …. Dan tidak boleh ada yang tidak ikut keluar berperang baik ia muqill (miskin) maupun muktsir (kaya). Jika penduduk negeri itu tak mampu mengusir musuh, maka penduduk negara yang berdekatan dan bertetangga dengannya wajib sebagai mana wajibnya terhadap pendeduk daerah tersebut untuk keluar ikut mengusir musuh sampai mereka diketahui mampu menahan dan mengusir musuh. .. karena kaum muslimin itu satu sama lainnya harus saling membantu sampai apabila penduduk sebuah daerah yang diduduki orang-orang kafir itu mampu mengusir musuh gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya, dan jika musuh mendekati daarul Islaam dan mereka belum memasukinya, mereka juga wajib keluar (untuk melawannya) sampai dien Alloh itu dzohir dan walayah itu terjaga … dan tidak ada perselisihan dalam masalah ini, Jika ada yang mengatakan: Apa yang dilakukan oleh satu orang jika semua orang melalaikannya? … Maka dijawab: ia menebus seorang tawanan … dan ada yang mengatakan [yang mengatakan Ibnu Al-‘Arobiy]: Musuh telah menduduki daerah kita … pada tahun 527 mereka meraja lela di wilayah-wilayah kita [maksudnya Andalusia / Spanyol] menawan orang-orang baik kita dan memasuki wilayah kita dengan jumlah yang membikin manusia takut, jumlahnya banyak, maka saya katakan kepada al-waliy (penguasa daerah): … inilah musuh Alloh ta’ala telah masuk dalam asy-syaroki wa asy-syabakati (jaring dan jebakan/ maksudnya ke dalam wilayah Islam-pent.) maka hendaknya seluruh manusia keluar (untuk menghadapinya) sampai tidak tersisa lagi seorangpun diseluruh daerah lalu mengepung mereka sesungguhnya musuh itu pasti akan hancur jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala memudahkan; maka dosa dan maksiyat mendominasi, dan setiap orang bagaikan musang yang bersembunyi di sarangnya meskipun dia melihat perang di sampingnya. Maka innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.”

  1. Dan Ibnu Hajar Al-Haitamiy mengatakan dalam kitab Az-Zawaajir II/359 cetakan Daarul Hadiits: [Dosa Besar yang ke 90-91-92] : “Ke-90; Meninggalkan jihad ketika fardlu ‘ain, yaitu dengan masuknya al-harbiyyuun (musuh) ke Daarul Islaam atau mereka menawan seorang muslim dan memungkinkan untuk membebaskannya dari mereka. Ke-91; Meninggalkan jihad dari pokoknya (meninggalkan jihad secara total-pent.). Ke- 92; Penduduk sebuah daerah yang meninggalkan benteng di tsughur (perbatasan) mereka sehingga dikhawatirkan orang-orang kafir akan menguasainya karena benteng tersebut ditinggalkan.” Kemudian beliau mengatakan: “Perhatian; tiga masalah ini dzohir (jelas) – termasuk dosa besar – karena semuanya akan menyebabkan kerusakan pada Islam dan pemeluknya, selama tidak tertutupi celahnya, dan masalah inilah yang dimaksud dalam hadits-hadits yang bermuatan ancaman yang keras, maka perhatikanlah ini, karena sesungguhnya saya belum melihat seorangpun memperhatikan ini padahal ini sudah jelas.”
  2. Dalam Ahkaamul Qur’aan karangan At-Tahaanuwiy II/331 terbitan Karachi: “Apa orang-orang menyerang sebuah negeri dari negeri-negeri kaum muslimin maka jihad menjadi fardlu ‘ain atas semua mukallaf yang tidak mempunyai udzur. Dan mereka ber ijma’ bahwasanya jika musuh menyerang wilayah orang-orang beriman, wajib kepada setiap mukallaf dari kalangan laki-laki, yang merdeka atau budak, kaya atau miskin yang tidak mempunyai ‘udzur yang tinggal di wilayah itu, untuk keluar berjihad, dan ketika itu jihad menjadi bagian dari amalan-amalan yang fardlu ‘ain, maka tidak bisa dikalahkan oleh hak manusia, seperti tuan, orang yang menghutangi dan kedua orang tua sebagaimana sholat dan shoum, dan Abu Hanifah rohimahulloh berkata: Seorang perempuan keluar tanpa izin suaminya [karena tidak ada hak untuk suami dalam amalan-amalan yang fardlu ‘ain]; jika jumlah penduduk daerah tersebut mencukupi (untuk melawan musuh) maka kewajiban jihad gugur dari orang-orang yang di sekitarnya; namun jika jumlah mereka tidak mencukupi, maka orang yang berada disekitarnya harus membantu mereka, jika orang yang berada disekitarnya qu’uud (tidak mau berjihad) maka orang yang berada agak jauh setelah irang yang disekitarnya itu dan begitu seterusnya Wallohu a’lam. Dinukil dari Al-Madzhariy.”
  3. Dan dalam kitab Badaa’i’u Ash-Shona’i’ karangan Al-Kasaniy [madzhab hanafiy] VII/98: “Jika penduduk perbatasan itu merasa lemah untuk melawan orang-orang kafir, dan dikhawatirkan mereka akan dikalahkan musuh maka orang-orang muslim yang berada di dekatnya, kemudian yang terdekat dan kemudian yang terdekat lagi, wajib untuk pergi ke tempat mereka dan memberi bantuan senjata … dan harta, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan bahwa jihad menjadi kewajiban seluruh orang ahlul jihad (layak jihad), akan tetapi kewajiban jihad akan gugur ketika sebagian orang telah mencukupi …. Namun jika nafiir (seruan keluar untuk berjihad) itu berlaku umum, yaitu ketika musuh menyerang sebuah wilayah maka jihad fardlu ‘ain yang diwajibkan kepada semua orang dari kaum muslimin yang mampu melaksanakannya berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

انفروا خفافاً وثقالاً

“Berangkatlah kalian (untuk berperang) baik dalam keadaan berat maupun dalam keadaan ringan.”

……… keluar ….. tanpa seizin …… karena hak kedua orang tua itu tidak bisa mengalahkan amalan-amalan yang fardlu ‘ain seperti shoum dan sholat ….”

  1. Dikatakan dalam kitab Ad-durru Al-Mukhtaar: “Janganlah kamu diragukan bahwa kewajiban jihad itu [jihaadu ath-tholabi] gugur dari penduduk “India” karena penduduk “Romawi” misalkan telah melasanakan, akan tetapi kewajiban itu berlaku kepada orang yang paling dekat dari musuh kemudia yang terdekat setelahnya sampai orangnya mencukupi, maka jihad itu tidak dapat dicukupi kecuali oleh semua orang, maka jihad menjadi fardlu ‘ain seperti sholat dan shoum …”

Dan pensyarahnya Ibnu ‘Aabidiin III/219 menukil dari ulama’ madzhab hanafiy: “Jika penduduk perbatasan itu merasa lemah untuk melawan orang-orang kafir, dan mereka dikhawatirkan akan dikalahkan oleh musuh, maka kaum muslimin yang terdekat kemudian yang terdekat setelahnya untuk pergi ke tempat mereka dan memberikan bantuan senjata dan …dan harta …” Kemudian dia berkata: “Dan hasilnya; bahwasanya setiap tempat yang dikhawaatirkan akan diserang musuh maka wajib atas imam atau penduduk wilayah tersebut untuk menjaganya, dan jika mereka tidak mampu maka wajib bagi orang yang terdekat kepada mereka untuk membantu mereka sampau jumlah itu mencukupi untuk melawan musuh.”

Dan dalam halaman III/221: “Dan fardlu ‘ain jika musuh menyerang, maka semuanya harus keluar meskipun tanpa izin.” Dan Ibnu ‘Aabidiin menjelaskan: “Maksudnya adalah atas yang dekat dengan musuh, maka jika mereka merasa lemah atau bermalas-malasan maka atas orang yang terdekat setelahnya, dan diwajibkan secara berurutan seperti ini sampai kewajiban itu mencakup seluruh kaum muslimin yang di timur dan di barat … dan dalam Al-Bazaaziyyah: Jika ada muslimah di buni bagian timur ditawan oleh musuh maka wajib kepada penduduk bumi bagian barat untuk membebaskannya dari tawanan.”

  1. Syaikh Wahbiy Sulaiman Ghoowijiy berkata dalam ta’liqnya terhadap kitab Muntaqol Abhar [madzhab hanafiy] I/355: “Tidak diragukan lagi bahwa kewajiban jihad itu adalah fardlu ‘ain terhadap semua mukallaf dari kaum muslimin pada hari ini, dan tidak tersisa lagi bagi mereka kecuali an-nafiir al-‘aam (pergi seluruhnya) untuk berjihad:

وإذا استُنْفِرْتُم فانفروا

“Dan apabila kalian disuruh keluar (untuk berjihad) maka keluarlah.”

Dan mudah-mudahan hal itu sebentar lagi.”

  1. Dan dalam Ar-Roudloh karangan An-Nawawiy [madzhab Syafi’iy] X/214 sampai 216: “Keadaan yang kedua: jihad fardlu ‘ain, maka apabila orang-orang kafir menginjakkan kakinya di wilayah kaum muslimin atau mereka atau mendekatinya dan tinggal di depan pintu masuknya, mereka sedang menuju akan tetapi belum memasukinya, maka jihad fardlu ‘ain yang secara terperinci akan kami jelaskan insya Alloh ta’aalaa … dan tidak wajib dalam keadaan seperti ini untuk izin kepada kedua orang tua dan orang yang menghutangi …. Sampai apabila penduduk daerah tersebut tidak mencukupi, maka wajib kepada mereka (kaum muslimin-pent.) semuanya untuk terbang ke sana …. Dan inilah maksud dari perkataan Al-Baghowiy: Apabila orang-orang kafir masuk ke negara Islam maka jihad fardlu ‘ain atas orang yang dekat dengannya dan fardlu kifayah atas orang yang jauh …. Dan bagaimana diperbolehkan menjadikan orang-orang kafir menguasai negara Islam padahal mampu untuk dilawan?! Wallohu a’lam.”
  2. Ibnu An-Nuhaas dalam Tahdzib Masyaari’ul Asywaaq ketika berbicara tentang keutamaan Jihad halaman 369, beliau berkata: “Dan apabila musuh-musuh menyerang bilaadul muslimin, dan kaum muslimin (maksudnya penduduk negeri tersebut) tidak keluar untuk memerangi mereka, qu’uud mereka itu sama seperti firoor (lari) dari medan perang ; hal ini jika jumlah mereka lebih banyak dari pada musuh, adapun jika jumlah mereka lebih sedikit hal itu – tidak mau keluar untuk menghadapi musuh — bukanlah maksiyat dan mereka boleh membuat pertahanan dengan menunggu bantuan dari ikhwan-ikhwan mereka kaum muslimin.” Selesai. Maka berdosalah orang yang mampu menolong mereka namun tidak melakukannya; dan barang siap yang tidak mampu berperang maka wajib untuk melakukan I’daad haqiiqiy untuk berperang, dan bukan I’dad untuk menikah atau untuk ujian !!! dan ini jelas.

Dan dalah halaman 35: “Dan orang yang buta sebelah wajib untuk berjihad, orang yang pusing-pusing, sakit gigi, panas ringan dan orang yang sedikit pincang …. Dan apabila musuh menduduki sebuah daerah dari wilayah kaum muslimin, maka kaum muslimin yang tinggal di daerah-daerah lain wajib untuk membantu kaum muslimin yang tinggal di daerah tersebut … dan ketika orang-orang kafir menduduki sebuah negeri kaum muslimin, maka orang yang tinggal dalam jarak boleh meng-qoshor sholat wajib untuk membantu penduduk negeri tersebut jika jumlah mereka mencukupi, dan jika jumlah mereka tidak mencukupi maka kaum muslimin yang lebih jauh dari jarak itu wajib untuk nafiir (keluar), dan jika telah keluar jumlah yang mencukupi maka kewajiban itu gugur dari yang lain, akan tetapi mereka kehilangan pahala yang besar dan balasan yang banyak … dan apabila orang-orang kafir menguasai sebuah gunung atau lembah atau sebuah tempat di Daarul Islam yang jauh dari negara dan perkotaan, dan tempat yang mereka kuasai itu tidak ada penduduknya, maka sesungguhnya hukumnya sama dengan negara-negara yang dikuasai oleh orang-orang kafir, dan kaum muslimin wajib nafiir untuk membebaskan tempat tersebut! ….dan Al-Qurthubiy berkata: Seandainya orang-orang kafir mendekati Daarul Islaam dan mereka belum memasukinya, maka wajib bagi kaum muslimin untuk keluar menghadapi orang-orang kafir, sampai dien Alloh menjadi dzohir, dan terlindungi wilayah kaum muslimin dan terjaga wilayah-wilayah perbatasan.”

  1. Mughniy Al-Muhtaaj [madzhab Syafi’iy IV/209 sampai 220: “ … kemudian mushonnif (penulis kitab) memasuki pembahasan keadaan orang kafir yang kedua, yang terkandung dalam perkataannya yang (berbunyi); Mereka memasuki negeri kita atau menduduki kepulauan atau pegunungan di Daarul Islaam meskipun letaknya jauh negeri, maka penduduk negeri itu wajib untuk mempertahankannya dari orang-orang kafir itu semampuna, dan jihad ketika itu fardlu ‘ain .. dan jika penduduk negeri itu mengadakan persiapan untuk berperang maka mereka semua wajib melakukannya .. sesuai dengan kemampuan, sampai meskipun orang yang faqir sesuai dengan kemampuannya, seorang anak dan orang yang mempunyai tanggungan hutang, dan budak tanpa seizin kedua orang tuanya atau orang yang menghutangi atau tuan, dan ketidak mampuan tidak lagi dapat dijadikan alasan dalam keadaan seperti ini, karema masuknya orang-orang kafir ke Daarul Islam merupakan bencana yang sangat besar yang tidak boleh diremahkan, maka harus bersungguh-sungguh dalam melawannya dengan segala kemampuan, dan masuk kedalam pengertian masuknya-orang kafir kedalam negeri juga jika mereka melongok kepadanya …

Kemudian pembahasan di atas: adalah hukum (jihad) bagi penduduk sebuah negeri yang dimasuki oleh orang-orang kafir …, dan orang yang berada dalam jarak sholat boleh diqoshor dari daerah yang dimasuki oleh orang-orang kafir hukum (jihad) bagi mereka sam dengan hukum (jihad) bagi orang yang tinggal di daerah yang dimasuki orang-orang kafir, maka wajib atas mereka untuk berjalan ke sana jika mereka mempunyai bekal --- dan tidak adanya bekal tidak dianggap sebagai udzur --- dan kendaraan bagi orang yang mampu jalan kaki menurut pendapat yang paling shohih, hal ini jika jumlah penduduk negeri yang diserang itu tidak mencukupi (untuk melawan orang-orang kafir); Dan orang-orang yang tinggal dalan jarak qoshor dan yang lebih jauh lagi, mereka harus punya bekal dan kendaraan menurut pendapay yang paling shohih sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk mencukupi kekurangan jumlah untuk melawan orang-orang kafir jika penduduk negeri yang diserang dan penduduk yang berada di dekatnya belum mencukupi untuk melawan orang-orang kafir dan untuk menyelamatkan orang-orang Islam.

Peringatan: perkataannya yang berbunyi “sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk mencukupi (kekurangan jumlah untuk melawan orang-orang kafir)” mengisyaratkan kalau semua orang tidak wajib untuk keluar, … dan pendapat yang paling shohih adalah jika jumlah penduduknya mencukupi mereka tidak harus keluar semua; dan jika mereka --- orang-orang kafir --- menawan seorang muslim maka yang paling shohih adalah wajib untuk bangkit (memerangi) mereka, meskipun mereka belum masuk ke wilayah kita untuk membebaskannya (tawanan tersebut-pent.) jika kita perkirakan (bisa membebaskannya-pent.) lantaran mereka berada dekat (dengan wilayah kita-pent.), sebagaimana kita bangkit (memerangi mereka-pent.) jika mereka memasuki wilayah kita, bahkan (jihad ketika itu) lebih utama karena harga diri seorang muslim itu lebih besar dari pada nilah sebuah negara.”

  1. Ibnu Taimiyah (berkata): “Apabila musuh memasuki negeri Islam maka tidak diragukan lagi atas wajibnya melawan mereka atas orang yang berada paling dekat dengan mereka kemudia orang yang paling dekat setelah mereka, karena negeri-negeri kaum muslimin itu bagaikan satu negeri, dan sesungguhnya juga wajib untuk an-nafiir ke daerah tersebut tanpa seizin orang tua atau ghoriim (orang yang menghutangi).”
  2. Dan dalam kitab Kasy-syaafu Al-Qinaa’ karangan Al-Bahutiy [madzhab hambaliy] III/37 terbitan Daarul Fikriy: “Dan barang siapa yang hadir dalam barisan orang yang mempunyai kewajiban jihad — yaitu laki-laki, merdeka, mukallaf yang mampu dan muslim … — seperti jika musuh telah mendatanginya atau mendatangi sebuah negeri atau sebuah negeri yang jauh membutuhkannya untuk berjihad atau dua pasukan, pasukan kaum muslimin dan pasukan orang-orang kafir telah berhadap-hadapan atau telah diadakan istinfaar oleh orang yang berhak melakukan istinfaar — dan tidak ada udzur — maka jiha wajib waginya, artinya jihad menjadi fardlu ‘ain bagi dirinya.”
  • Pembahasan di atas sudah cukup, dan kamu hendaknya merealisasikannya pada dirimu agar kamu mengusir keragu-raguan dengan keyakinan, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang mukhodzdzil (melemahkan semangat untuk berjihad)

  1. Supaya kita tidak terkena sifat orang-orang munafiq, maka

من مات ولم يَغْزُ ولم ُيحَدِّث نفسه بالغزو مات على شُعبة من النفاق

“Barang siapa yang mati dan belum berperang dan belum membisikkan hatinya untuk berperang, ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” Muslim.

Ini dalam ketika (jihad) fardlu kifayah maka bagai mana jika ketika fardlu ‘ain?

إن المنافقين في الدَّرْك الأسفل من النار ولن تجد لهم نصيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu berada di kerak yang paling bawah dari neraka dan kamu tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka.” Surat An-Nisaa’

  1. Supaya Alloh tidak meng adzab kita dengan adzab yang pedih:

إلاّ تنفروا يُعَذِّبْكم عذاباً أليماً ويَستبدلْ قوماً غيركم ولا تَضُرُّوه شيئاً والله على كل شيء قدير

“Jika kalian tidak melakukan nafiir, niscaya Alloh mengadzab kalian dengan adzab yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum selain kalian dan kalian tidak akan membahayakan kaum tersebut sedikitpun. Dan Alloh mampu atas segala sesuatu.”

Dan nafiir itu sudah ma’ruuf dan di balik itu ada peperangan, dan Alloh tidak mengatakan “jika kalian tidak sekolah Alloh akan mengadzab kalian … maka kenapa kita balikkan timbangan ?

ـ ما ترك قوم الجهاد إلا عَمَّهم الله بالعذاب

“Dan tidaklah sebuah kaum itu meninggalkan jihad kecuali Alloh akan meratakan adzab kepada mereka.”

Al-Mundziriy mengatakan: (Hadits ini diriwayatkan oleh) Ath-Thobrooniy dengan sanad hasan; Maka apakah kamu berani mengatakan bahwa orang yang meninggalkan sekolah itu atau tidak belajar tajwid akan diratakan kepada mereka adzab?!

ـ من لم يَغْزُ أو يُجَهّز غازياً أو يَخلُف غازياً في أهله بخير أصابه الله بقارعة قبل يوم القيامة

“Barang siapa yang belum berperang atau menyiapkan orang yang berperang atau merawat dengan baik keluarga yang ditinggalkan orang yang berperang, Alloh pasti menimpakan kepadanya qoori’ah (bencana) sebelum hari qiyamat.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh) Abu Dawuud dengan sanad yang kuat, maka apakah kamu meyakini bahwasanya jika kamu meninggalkan belajar ekonomi atau arsitektur atau jika kamu meninggalkan pekerjaanmu sebagai seorang pedagang atau buruh di pabrik, Alloh akan menimpakan kepadamu qoori’ah sebagaimana Alloh akan menimpakannya kepadamu jika kamu meninggalkan perang fii sabiilillaah ?

ـ من تعلّم الرمي ثم تركه فليس منا أو فقد عصى

“Barang siapa telah belajar ar-romyu (memanah, menembak) kemudian dia meninggalkannya maka dia bukan dari golongan kami atau dia telah bermaksiyat.” Muslim.

Lalu bagaimana dengan orang yang belum pernah memanah / menembak selama hidupnya !,

Dan dalam riwayat Abu Dawud dan At-Tirmiidziy:

…ومن ترك الرمي بعدما عَلِمَه رغبةً عنه فإنها نعمة تركها، أو قال: كفرَها

“…dan barang siapa yang meninggalkan ar-romyu setelah dia bisa karena tidak menyukainya maka hal itu merupakan anugrah (yang Alloh berikan kepadanya-pent.), atau nikmat yang ia kufuri.” Hadits hasan.

Lalu bagaimana kamu lebih menyukai dan lebih mengutamakan sesuatu dari pada perang, kemudia kamu lebih menekankan hal itu?!

Syubhat tentang: Zaman kita bukan zaman mereka!

  1. Kenapa perang? Sepaya kita merealisasikan perintah Alloh untuk meng irhab musuh dan bersikap keras kepada mereka, lalu hilanglah kehinaan yang menimpa kita, dan kemuliaan kembali lagi kepada kita dan kita disegani oleh musuh-musuh kita, lalu kita hidup dengan kehidupan yang layak, lalu sirnaklah kerusakan yang terjadi karena meninggalkan jihad, maka jihad adalah jalan satu-satunya untuk meraih kekuasaan dan berikut ini dalilnya:

Bukankah Robb kita telah memerintahkan nabi kita Shallahu ‘alaihi wa Sallam :

يا أيها النبي جاهد الكفار والمنافقين …واغلُظ عليهم

“Wahai Nabi, berjihadlah kamu melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq … dan bersikap keraslah kepada mereka.”?

Bukankah Alloh Subhanahu wa ta’ala telah mengatakan kepada orang-orang yang beriman:

ولْيَجدوا فيكم غِلظة

“Dan hendaknya mereka mendapatkan kekerasan pada kalian.”

وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة ومن رباط الخيل تُرْهِبون به عدو الله وعدوكم

“Dan persiapkanlah semampu kalian dari kekuatan dan kuda yang ditambatkan yang kalian dengan akan meng irhab musuh Alloh dan musuh kalian.” ?

Bukankah Alloh menyebutkan para sahabat yang mulia dengan sebutan:

أشداءُ على الكفار

“Keras terhadap orang-orang kafir.”?!

Lalu manakah sikap keras kalian ? mana ?…. dalam tulisan-tulisan kalian, pelajaran kalian, sya’ir-sya’ir kalian, cerita-cerita kalian, forum-forum kalian dan semua I’dad kalian yang damai dan maz’uum (merupakan angan-angan)?!

Ataukah kalian memang benar-benar menyangka bahwa yang kalian perbuat itu merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk kekerasan dan irhaab terhadap musuh?! Manakah sikap kalian yang membikin marah orang-orang kafir dan manakah irhaab kalian terhadap musuh ?! Sesungguhnya kekerasan itu yang hakiki itu tidak akan terwujud kecuali dengan senapan ! dan apakah kalian benar-benar yakin bahwa musuh itu ter irhaab dengan buku yang kalian edarkan, yang kalian siarkan dan yang kalian bikin gaduh — ‘afwan : Kalian berjihad — dengan metode baru? Akan tetapi dia takut jika mendengar seorang muslim mengangkat senjata walupun sebilah pisau, bagaimana tidak? Sedangkan pedang itu pesannya lebih benar dari pada buku!

Dan manakah yang lebih besar kesannya pada hati musuh: antara seorang pemuda yang mengkoordinir amaliyah peledakan terhadap orang-orang Yahudi misalkan lalu ia berhasil melakukannya akan tetapi mereka menangkapnya dan membunuhnya atau seorang pemuda yang masuk “fakultas tehnik bangunan” dan dia selalu peringkat perama pada semua jenjang perkuliyahan? Dan apa manfaatnya “bangunan” dalam perang? Berapa banyak yang kita harapkan dari orang-orang ringking itu supaya manusia mau menerima manfaat Islam dan kejujuran para multazimin sehingga mnusia itu mau bergabung dengan mereka melawan pemerintah mereka yang menyeleweng? Apakah semua multazimin itu memiliki kecakapan untuk meraih kesuksesan seperti dia? Dan apakah waktu yang dihabiskan itu seimbang dengan kesuksesan yang dia raih yang tidak lebih — sebagaimana yang kami lihat — kalimat-kalimat pujian dan sanjungan, sampai apabila pemuda itu menunjukkan pemikiran Islamiy nya tentang prinsip saja [menolak pemisahan dien dan negara, hijab bagi wanita, menolak perdamaian abadi dengan Yahudi, ..] kamu akan melihat pujian mereka itu akan berubah menjadi cercaan? Maka apa artinya motifasi — secara tidak langsung — untk belajar ilmu yang tidak bermanfaat sama sekali di medan perang [ seperti sejarah partai yang berkuasa dan hasil-hasil produksinya, nama-nama ahli kimia di dunia dan …] kemudian “mujahid kita” (!) lulus dengan segudang ilmu akan tetapi sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana membuat bom yang dapat meng irhaab musuh dari bahan-bahan kimia yang berada di hadapannya!! Maka I’daad semacam apa ini wahai orang-orang yang berakal ?? !! kemudian mereka terus tetap mengatakan bahwa fakultas-fakultas itu akan membantu dalam pembebasan Palestina !!!! Walloohul Musta’aan (kepada Alloh kita memohon pertolongan).

Dan sifat Rosul kita adalah Adh-Dhohuuku Al-Qottaalu dan bukanlah yang dimaksud dengan Adh-Dhohuuk (suka tertawa) adalah orang yang suka pesta, cerita, riwayat, percetakan, pusat apa untuk kerjasama, organisasi studi ilmu Islam apa, sesungguhnya beliau itu adalah Qottaal (pembunuh) …Qottaal ya, Qottaal, dan dalam kitab siroh Al-Bidayah Wan Nihayah III/46 sesungguhya beliau mengatakan kepada orang-orang Quraisy — dan ini sebelum beliau diperintahkan untuk berperang —:

جئتكم بالذَّبح

“Aku datang kepada kalian untuk menyembelih.”

Dan beliau tidak mengatakan untuk berdiskusi! Memang disampaikan dakwah dahulu sebelum memulai perang, akan tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk menihilkan perang sehingga Islam menjadi tidak mempunyai puncak; akan tetapi seorang muslim itu adalah orang yang pertama kali melaksanakan ayat irhaab, dan sungguh beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

نُصِرْتُ بالرُّعب مسيرة شهر

“Saya diberikan kemenangan lantaran musuh gentar dalam jarak satu bulan perjalanan …” Hadist Shohih

Maka apakah I’daad kalian menggentarkan musuh?

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda di atas mimbar:

وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة، ألا إن القوة الرميُ ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي

“Dan persiapkanlah semampu kalian dari kekuatan, ingatlah sesungguhnya kekuatan itu ar-romyu (memanah, menembak) , ingatlah sesungguhnya kekuatan itu ar-romyu (memanah, menembak) , ingatlah sesungguhnya kekuatan itu ar-romyu (memanah, menembak).” Muslim dan Abu Dawud.

Dan dalam riwayat Al-Bazzaar:

عليكم بالرمي فإنه خيرُ أو مِنْ خيرِ لهوِكم

“Kalian harus me royu sesungguhnya ia sebaik-baik, atau dari sebaik-baik sendau gurau kalian.”

Dan dalam Ausath Ath-Thobrooniy:

فإنه من خير لَعِبِكم

“…sesungguhnya ia dari sebaik-baik permainan kalian.”

Dan isnaad keduanya jayyid qowiy (bagus lagi kuat).

Maka manakah kekuatan dalam I’daad kalian yang semu yang tidak menakutkan musuh?

Dan beliau Shallallhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

بُعِثْتُ بالسيف بين يدي الساعة حتى يُعبد الله وحده لا شريك له، وجُعل رزقي تحت ظل رمحي، وجُعل الذل والصَّغار على من خالف أمري، ومن تَشبّه بقوم فهو منهم

“Aku diutus dengan pedang menjelang hari qiyamat sehingga Alloh diibadahi sendirian dan tidak ada sekutu bagiNya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintahku, dan barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia dari golongan mereka…” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Shohih.

Dan beliau tidak mengatakan “aku diutus dengan diskusi, ‘aulamah dan minta belas kasihan kepada PBB?

Bukankah dokter umat ini Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah menentukan penyakitnya dan menjelaskan obatnya kepada kita ? bukankah beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan apa yang menyebabkabkan kita menjadi seperti buih, dan yang menjadi penyebab-penyebab al-wahnu (lemah) yang menimpa umat ini dan menjadikan tidak di segani:

حبُّ الدنيا وكراهيتكم القتال

“Cinta dunia dan tidak suka dengan perang.” Hadits shohih, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad.

Dan bukan tidak suka sekolah atau sukses dalam ujian atau mendapat nilai “mumtaaz” (cumlaude) dalam kuliah, lalu kenapa kita tidak mengambil obat ini dan kembali untuk berperang?! Kenapa kita memejamkan mata kita dan menutup kelopak mata kita dari penyakit yang pertama: meninggalkan perang?! Sesungguhnya dokter kita ini tidak mengatakan (penyakitnya adalah) krisis tarbiyah atau ekonomi atau masyarakat atau media massa! Atau karena tidak unggul di universitas-universitas atau karena meninggalkan komputer! Atau karena minimnya arsitek bangunan!

إني لأفتح عيني حين أفتحها على كثير ولكن لا أرى أحداً!!

Sesungguhnya saya membuka mataku untuk melihat banyak orang akan tetapi ketika aku buka aku tidak melihat seorangpun !!!

إذا تبايعتم بالعِينة وأخذتم أذناب البقر، ورضيتم بالزرع، وتركتم الجهاد سلّط الله عليكم ذلاً لا يَنْزِعُه حتى ترجعوا إلى دينكم

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-‘ienah, mengikuti ekor-ekor sapi, rela dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad Alloh pasti menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan di angkat dari kalian sampai kalian kembali kepada dien kalian.” Abu Dawud dengan isnaad hasan dan Syaikh Syakir mengatakan; shohih.

Dan dalam riwayat yang lain:

إذا ضنَّ الناس بالدينار والدرهم … أنزل الله بهم بلاء…

Jika menusia telah pelit dengan dinar dan dirham … Alloh pasti turunkan kepada mereka bala’ (bencana) …” Ad-Daarimiy dan Al-Baihaqi dan ini hadits shohih.

Maka kehinaan itu disebabkan karena kesibukan mereka dengan harta, perekonomian dan meninggalkan qitaal, lalu bagaimana kamu mengerjakan dan mengutamakan I’daad iqtishoodiy dari pada I’daad qitaaliy? Sesungguhnya yang adil itu adalh kamu mengambil harta yang cukup untuk berperang kemudian kamu berangkat, dan senjata di pasar-pasar gelap ada maka manakah I’daad askariy itu ? manakah tadriib dan tamriin itu wahai para mujahid !?

ولو أرادوا الخروج لأعدوا له عُدّة

“Dan seandainya mereka mau keluar (untuk berperang) pasti mereka mempersiapkannya persiapan-persiapannya.”

Maka dalam peperangan kita membutuhkan kemampuan harta untuk membeli senjata, dan kemampuan manusia yang digunakan untuk berperang, maka semua yang dapat merealisasikan keduanya dengan cepat itulah I’daad qitaaliy, kalau tidak maka kita telah mengkaburkan maksud I’daad agar mencakup sya’ir – sya’ir, cerita-cerita kepahlawanan dan riwayat-riwayat …, ini adalah tipu daya syetan, padahal apabila musuh menyerah sebuah negeri Islam yang lemah secara media massa maka wajib — berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal dan orang-orang gila — untuk keluar berperang dengan senjata [RPG] bukan dengan membaca sya’ir, menghamburkan pembicaraan dan menyusun cerita, maka jika tidak mampu penduduk negeri tersebut kewajibannya berpindah ke I’daad untuk mengeluarkan musuh — dengan tank dan …— bukan I’daad untuk mengeluarkan jaringan propaganda yang luas atau menyiarkan suara kaum muslimin atau untuk membantah syubhat-syubhat orang-orang orientalis atau untuk menulis majalah atau menyebarkan kaset, memang benar sesungguhnya kita tidak akan keluar untuk memerangi mereka dengan pedang dan golok akan tetapi kita juga — secara pasti — tidak akan keluar memerangi mereka dengan menyiarkan suara kaum muslimin atau dengan perekonomian yang besar atau dengan doctor sosiolog yang mahir atau seorang arsitektur yang cerdas … apakah mereka semua bermanfaat di hadapan roket dan RPG …?

Maka kehinaan kita yang pertama adalah karena meninggalkan jihad bukan karena kita meninggalkan perekonomian atau politik atau I’laam (media massa) atau teknologi meskipun ketertinggalan kita dalam hal ini merupakan musibah!dan berbicaralah tentang lautan tidak apa-apa, dan kita berlindung kepada Alloh dari mengatakan kita tidak membutuhkan I’laam atau kita tidak membutuhkan orang-orang yang unggul di universitas akan tetapi kebutuhan kita untuk berperang lebih besar lagi! Sama persis dengan orang yang tenggelam dan tidak makan selama dua pekan, apakah kamu akan memberikannya makanan atau kamu selamatkan dia dari tenggelam?! Sedangkan dia lapar dan hampir mati karena lapar; dan barangsiapa yang digigit nyamuk atau disengat kalajengking apakah dia membunuh nyamuk dan membiarkan kala jengking?! Ya, kalau bisa kita tolak keduanya itu lebih baik!! Dan kalau tidak kita lebih dahulukan yang lebih penting!

Kalian jawab: Apakah krisis ekonomi kita akan dapat diatasi dengan riba, suap dan pencurian, apakah akan dapat diatasi dengan mengarang buku atau belajar perekonomian atau dengan kekuatan yang menggentarkan mereka …? Maka yang mana?

Jika kita tanya orang-orang yang melemahkan (semangat jihad): berapa banyak ekonom yang kita butuhkan supaya umat kita dapat menarik nafas panjang?! Sesungguhnya jumlah itu tidak ada akhirnya?! Dan syetan akan terus menyelewengkan dari masa ke masa, maka setiap kali umat itu mengumpulkan harta dia mengatakan: Ini tidak cukup untuk perang, maka dia terus mengumpulkannya untuk membeli senjata; dan begitulah umumur itu habis.

Inilah Rosul kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam — dan beliau bagi kita adalah uswah yang baik — ketika jihad itu wajib beliau keluar meskipun dalam keadaan susah dan lemah perekonomiannya, beliau keluar bersama para sahabatnya, samapai perang itu disebut dengan “ghozwatu al-‘usroh” (peperangan yang sulit / perang Tabuk), padahal semua perkiraan pilitik dan militer — pada waktu itu !!— menunjukkan bahwa daulah Islam akan berakhir, akan tetapi Rosul kita yang bijaksana yang memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang tidak ada seorangpun yang berani mengatakan beliau itu ngawur, beliau tidak duduk mempersiapkan ekonomi atau I’laam (media) dan …., akan tetapi beliau mengambil persiapan yang beliau mampu dan berangkat, lain dengan orang-orang yang pendusta pada zaman kita !! yang akan terus mempersiapkan — pengakuan mereka — sampai mereka masuk kuburan! Aduhai seandainya mereka benar-benar mempersiapkan ! dan apakah orang yang benar-benar mempersiapkan (untuk perang) memenuhi rumahnya dengan perabotan yang mewah! Semoga Alloh merahmati para sahabat Rosul kita Shallallahu’alaihi wa Sallam pada ghozwatu al-‘usroh ketika mereka menyiapkan dengan sebenar-benarnya sebelum perang! Dan mereka mengorbankan an-nafsu (jiwa raga) dan harta yang mahal.

Bahkan sesungguhnya rizki Rosul kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan umatnya dijadikan dibawah naungan tombaknya, maka bukan perekonomian yang kuat sebagai syarat keberhasilan pertempuran dan jika tidak kita akan terjerumus ke dalam “masalah peran” : kamu selamanya tidak akan berperang sampai umat mempunyai harta [dengan segala macamnya] dan Rosul kita r menyebutkan bahwa kita akan memiliki harta dengan perang, maka kapan kita akan berperang?.

Dan siapakah yang mengatakan I’daad iqtishoodiy tidak bisa bersama dengan I’daad ‘askariy?!!! Dan apakah kamu akan meninggalkan sholat karena tidak mampu shoum?! Apakah kamu akan meninggalkan perang karena lemahnya I’laam?

Dan siapakah yang mengatakan bahwa perang itu tidak mungkin dilakukan tanpa I’daad ilaamiy dan iitishoodiy!? Bukankah perang melawan komunis di Afghanistan dimulai dengan 30 orang, dan sebelumnya kita di Hunain sangat banyak jumlah kita akan tetapi malah kekalahan yang kita dapatkan! Maka apa yang menghalangimu untuk berperang dan berusaha — dengan apa yang Alloh mudahkan untukmu — menyiarkan hak kamu?!

Apakah kita tidak malu memberikan semangat orang untuk bertani dengan alasan bangkit dibidang ekonomi supaya kita mampu berperang padahal Rosul kita Shallallhu ‘alaihi wa Sallam orang yang berpengalaman, terjaga dari kesalahan, bijaksana dan seimbang beliau mengatakan ketika beliau melihat alat pembajak Shallallahu ‘alaihi wa Sallamah berada di depan pintu seorang anshor:

لا يَدخل هذا بيتَ قوم إلا أدخله الله الذل

“Alat ini tidak memasuki rumah suatu kaum kecuali pasti Alloh memasukkan kedalamnya kehinaan.” Al-Bukhoriy

Perhatikan ! ketika beliau melihatnya beliau mengatakan seperti itu, padahal jihad ketika itu fardlu kifayah, dan kifayah ketika itu tercukupi, namun demikian beliau mengingatkan ! dan para ulama’ mengatakan: Sesungguhnya menyibukkan diri dengan pertanian ketika jihad itu fardlu ‘ain adalah penyebab kehinaan, padahal menurut istilah para mujaddid (pembaharu) pada zaman kita ini orang yang bekerja dalam pertanian itu mujahid — model baru — jika dia berniat I’daad, meskipun Robb kita telah memperingatkan kepada anshoor yang meninggalkan jihad dan menyibukkan diri dengan pertanian dengan firmannya:

ولا تُلقوا بأيديكم إلى التَّهْلُكَة وأحسنوا عن الله يحب المحسنين

“Dan janganlah kalian campakkan tangan kalian ke dalam kehancuran dan berbuatlah ihsan sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

Dan kajilah kitab-kitab tafsir untuk meluruskan pemahaman ayat ini yang mengingatkan dan mengancam.

Dan bukankah generasi pertama yang tidak beralaskan kaki dan telanjang itu orang-orang yang kemajuannya tinggi — dengan arti modern —?! Sesungguhnya mereka dalam padangan orang-orang yang maju pada hari itu — Persia — adalah orang-orang gembel lagi bodoh yang keluar seperti binatang buas untuk mencari sesuap kehidupan, akan tetapi lantaran mereka berpegang dengan perintah Rosul r mereka untuk berperang dan berjihad mereka berjalan meskipun mereka kehilangan kemajuan menurut pandangan orang-orang pada zaman mereka, maka kemajuan itu bukanlah hiasan-hiasan, orang-orang umawiyyun (Bani Umayah) yang menyeleweng — secara umum — dari petunjuk salaf yang sholih, papakah kita akan padang mereka lantaran mereka sangat maju — sesuai dengan pemahaman modern — apakah kita akan memandang mereka lebih baik dari pada para pendahulunya? Dan apakah Al-Ma’mun yang seorang mu’tazilah itu lantaran kemajuannya dan keemasannya — sebagaimana yang disebutkan dalam buku-buku sejarah di sekolahan-sekolahan — apakah Ma’mun yang menyiksa pada ulama’ sunnah lantaran pemikirannya yang sesat itu lebih baik dari pada para pendahulunya? Dan apakah fathimiyyuun setelah mereka yang sangat maju di sisi keindahan dan seni Islam — sebagaimana istilah mereka— bukankah mereka itu orang-orang zindiq yang keluar dari Dienul Islam!! Begitulah mereka menurutpara ulama’ Islam yang ahli sejarah seperti Adz-Dzahabiy, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, As-Sakhoowiy dan orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan ulamaa’us sunnah.

Bukankah al-hunuudu al-humru (orang-orang India yang merah-pent.) bangsa yang maju? Lalu bagaimana dia ketika menghadapi serangan-serangan Portugis dan Sepanyol? Bukankah orang-orang India bangsa yang maju, lalu apa manfaat kemajuannya dalam menghadapi Inggris ? kalau logika kekuatan menguasai maka akan bisu kekuatan logika, dan apabila hadoorotul quwwah (kemajuan kekuatan) tinggi maka akan musnah quwwatul hadlooroh (kekuatan kemajuan) ? dan apakah yang akan membebaskan negeri itu 50 orang dokter atau 50 orang askariy ?!

Dan jika kalian jujur apakah kalian telah memberi motifasi kepada generasi baru untuk belajar Khoth Arab dengan segala bentuk seninya karena itu termasuk keindahan dan:

“Sesungguhnya Alloh itu indah mencintai keindahan.”

Ataukah kalian kalian arahkan mereka -dengan kuat – ke semua arah yang membantu permasalah kekuatan yang menendang orang-orang yang menyerang dari luar daerah? Sendainya mereka jujur mereka pasti mengkonsentrasikan semua bidang kedokteran untuk hal-hal yang bermanfaat bagi mujahidin seperti luka yang besardan … bukan persalinan dan KB!

Dan saya lontarkan pertanyaan kepada para penyembah kemajuan: Jika musuh menyerang daerahmu, apakah kamu akan keluar untuk memeranginya dengan kemampuan yang kamu miliki atau kamu lari untuk memnyiapkan kemajuan dan menyelesaikan sekolahmu? Dan adakah dalam Islam itu fanatisme daerah? Sesungguhnya negara Islam itu satu ! dan apakah akan kita katakan kepada athfaalu al-hijaaroh (anak-anak Palestina yang berperang dengan batu): Keluarlah kalian dan belajarlah perekonomian dan sosioligi karena peperangan kita adalah perang peradaban bukan perang senjata?!!

Dan seandainya Jepang melanggar perbatasannya, apa yang akan dia alami? ! meskipun kemajuannya yang pesat dan perekonomiannya yang tinggi, maka apa yang akan dia dapatkan jika dia sampai sekarang mengikuti yang lain?

Bahkan keadaan kita sebagaimana keadaan pendahulu-pendahulu kita sejak runtuhnya Andalusia yaitu jihaad qitaaliy hukumnya wajib terlebih lagi jihad-jihad yang lainnya, dan telah berlalu perkataan Syaikh Wahbiy Sulaiman Ghowijiy, dan beliau adalh seorang ulama’ mu’ashiriin dan dihadapan kalian ada dalil-dalil dan factor-faktor hukum, akan tetapi mereka itulah yang sebagai mana dikatakan : setiap zaman itu ada orang-orang bodoh yang menyelewengkan pengertian nash-nash, maka seandainya seorang muslim ahli atom yang murtad tidak akan dibunuh — mungkin— menurut mereka karena adanya perubahan kesibukan pada zaman kita dari pada zaman sahabat! Alasan mereka ini sama saja dengan alasan “zaman kita lain dengan zaman mereka”! dan hukum itu berubah sesuai perubahan zaman” dan seolah-olah Robb kita lain dengan Robb salaf yang sholih!, sungguh Maha Tinggi Alloh dari orang-orang yang menebar kebohongan dengan Setinggi-tingginya.

Apakah orang-orang yang minum bir, memakai emas dan kawin mut’ah itu punya hujjah selain: “zaman kita lain dengan zaman mereka?!”

Maka kapankah kalian berlepas diri dari al-awwaliin (para pendahulu kita)?! Dan kalau bukan karena ulama’ kita yang terdahulu dan dan tulisan-tulisan mereka kita tidak dapat memahami Al-Qur’an dan Sunnah!

Apakah sikap Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terhadap orang-orang murtad dan terhadap pasukan Usamah Radhiyallahu ‘anhu merupakan sikap fanatik yang dibenci atau teguh pendirian?! Ketika beliau mengatakan: “Demi Alloh! Seandainya mereka tidak menunaikan kepadaku ‘inaaq (seekor kambing betina sebagai zakat ternak-pent.) dan dalam riwayat lain ‘iqool (zakat unta dan kambing-pent.) yang pernah mereka tunaikan kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pasti aku perangi mereka lantaran mereka tidak menunaikannya ….” Al-Bukhoriy.

Dan ketika beliau berkata: “Demi (dzat) yang tidak ada ilaah selainNya, seandainya anjing-anjing membawa lari kaki-kaki istri-istri Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam aku tidak akan menarik kembali pasukan Usamah yang telah disiapkan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan tidak akan aku turunkan bendera yang telah ditegakkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam .” Seandainya terjadi pada kalian apa yang telah terjadi pada pada beliau maka apakah kalian akan tetap tegus sebagaimana beliau atau kah “setiap zaman itu mempunyai rijaal (pelaku-pelakunya sendiri-pent)?” apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki sedangkan nas-nas kalian selewengkan?!

Bukankah Islam itu: kamu serahkan ketundukanmu kepada Robbul ‘Alamiin!? Dialah yang menentukan kemaslahatan, bukan kamu, demi Alloh alangkah baiknya Roofi’ Ibnu Khojiij, seorang sahabat yang mempunyai pandangan yang tajam keteka beliau mengatakan: “…. Suatu hari datang kepada kami seorang dari pamanku lalu dia mengatakan: “Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang sesuatu yang bermanfaat bagi kami, dan ketaatan kepada Alloh dan RosulNya itu lebih bermanfaat bagi kami, kami dilarang muhaaqolah pada (hasil) bumi….” Al-Muhaaqolah adalah jual beli tanaman sebelum ia layak (dipanen).

Dan apakah kamu menyangka dalam keadaan yang merata di negara-negaraa Arab seperti ini kamu akan dibiarkan meskipun satu kata Islam yang menimbulkan amalan nyata, padahal berapa banyak perkataan yang terbang bersama awan!!

Dan alangkah bijaksananya sebuah kalimat -seandainya kita memahaminya- yang mengatakan: “Sesungguhnya beban-beban Qu’uud (duduk) dari jihad yang berupa kerugian dan darah itu berlipat ganda dari pada beban-beban melaksanakan jihad.” Dan sungguh benar Syaikh Abdulloh Azzam rohimahulloh.

Dan apakah kamu mendapatkan dalam kitabulloh bahwa; dokter , insinyur, da’I, orang yang sudah nikah dan mahasiswa itu tidak apa-apa (meninggalkan jihad)?!

Maka,

يا أيها الذين آمنوا ما لكم إذا قيل لكم انفروا في سبيل الله اثاقلتم إلى الأرض

“Wahai orang-orang yang beriman kenapa jika dikatakan kepada kalian keluarlah (berjihad) dijalah Alloh kalian cenderung ke bumi.”

Kemudian sesungguhnya orang yang adil yang mencermati kondisi dunia, dan persekongkolan orang-orang kafir dan antek-anteknya dari bangsa Arab yang bersekongkol (memusuhi) dienul Islam ia akan yakin — tanpa ragu-ragu — bahwa tidak ada penyelesaian tepat kecuali senapan dan tank — meskipun (kalau kita pandang) dari sisi; obat yang terakhir itu kaiy (membakar dengan api) — karena kita sudah bosan dengan perjalanan dan musyawarah, maka mustahil kekuatan logika dapat mengalahkan logika kekuatan;

ـ الـغرب مَقْبَـرَةُ العدالة كلمــا رُفِعَت يدٌ أبـدى لـها السكينــا

Dan barat adalah kuburan keadilan, setiap kali

Ada tangan yang diangkat ia memperlihatkan pisau

الغرب يَكْفُـر بالـسلام، وإنمـا بسلامه الَمزعـومِ يَسْتَهْوِينـــا

Barat mengingkari Islam, dan sesungguhnya

Hanya dengan perdamaiannya yang semu ia menghinakan kita

كُفْـرٌ وإسلام فـأنى يلتـقــي هـذا بـذاكَ أيُّهـا الـلاهـونـا؟

Bagaimana kafir dengan Islam bisa bertemu

Antara keduanya wahai orang-orang yang terlena?

أنا لا ألوم الغرب في تخطيطـه لكـن ألـوم الـمسلم المـفتونـا

Aku tidak menyayangkan rencana barat

Akan tetapi aku menyayangkan muslim yang tertipu

وألومُ أُمَّتَنا التـي رحلت علـى درب الـخُضُوع تـُرافق التِّنِّينـا

Dan aku menyayangkan umat kita yang telah menapaki

Jalan kehinaan yang diiringi kebusukan

يا مجلس الأمن المخيف إلى متى تبقـى لِتُجَّــار الحـروب رهيناً؟

Wahai dewan keamanan yang menakutkan, sampai kapan

Kamu jadi taruhan para pedagang perang

وإلى متى ترضى بِسَلْبِ حُقُوقِنـا مِـنَّا وتطلُبُــنا ولا تُـعـطيـنا؟

Sampai kapan kamu rela hak-hak kita dirampas

Dari kita, barat menuntut kita dan tidak memberikan kepada kita

يا مجلساً في جـسم عالمنـا غدا مـرضاً خفيـاً يُشْبِهُ الطـاعونـا

Wahai dewan yang berada di dunia kita, menjadi

Penyakit yang mesterius seperti tipes yang mewabah

تشكو و خوفك من قضايانا التـي لـم تَلْقَ فيك الـحقـوقُ أمـينـاً

Ketakutanmu mengadukan permasalahan kita yang

Tidak mendapatkan hak-hak darimu secara aman

يا سالبَ الطفلِ الأمانَ إلى متـى تسقيه من بعد الأنـيـن أنينـاً؟

Wahai perampas keamanan anak-anak, sampai kapan

Kamu akan menimpakan kepadanya rintihan demi rintihan

وإلى متى يبقى الهَـوَى لك سَيِّداً وتَـظَلُّ للظلم الرهيـبِ قَرينـاً؟

Samapai kapan engkau mempertuan hawa nafsumu

Dan menjadi kawan bagi kedzoliman yang mencekam

يا مجـلس الأمـن انتظِرْ إسلامنا سيُريك ميزان الهُـدى، ويـُرينـا

Wahai dewan keamanan, tunggulah Islam kami

Ia akan menampakkan kepadamu dan kepada kita semua timbangan petunjuk

إني أراك على شَفِـيـرِ نـهايـةٍ سَتَصِيرُ تحت رُكَامِها مدفــونـا

Sesungguhnya aku melihatmu diambang kehancuran

Kamu akan terkubur di bawah reruntuhannya

إن كنتَ في شَكِّ فَسَلْ فرعون عن غَـرَقٍ وسَلْ عن خَـسْـفِه قارونا!

Jika kamu ragu-ragu maka tanyakan kepada Fir’aun tentang

Tenggelamnya dalam lautan dan tanyakan tentang tenggelamnya Qorun dalam bumi!

ـ حُبِكت فصول المسرحـية حَبْكـة يَعْيـى بـها المُتَمَرِّس الفنَّــان

Aku dipintal dalam silsilah pertunjukan

Pemainnya yang seniman tidak cakap memainkannya

هذا يَكِرُّ وذا يَــِفـرُّ وذا بـهـذا يستـجـير ويـبـدأ الـغـليـان

Yang ini menyerang dan lain lari, dan yang ini

Meminta perlindungan dan memulai pergulatan

حتى إذا انقشع الـدخـان مضـى لـنا جُـرْح ٌ وحَلَّ مَحَلَّـه سَرَطان

Sehingga apabila asap itu sirna, berlalulah

Luka kita dan diganti dengan penyakit kangker

وإذا ذئـاب الغرب راعيــةٌ لنـا وإذا جـمـيع رجـالـنا خِرفـان!

Dan apabila srigala barat menjadi pemimpin kita

Dan apabila semua rijal (kaum laki-laki) kita telah kacau pemikirannya!

وإذا بأصنامٍ أجانـبَ قد رَبَــتْ وبـلادنـا ورجــالها القُربـان

6- Sebagai perisai dari fitnah menjelang hari qiyamat:

Ketika Rosul menyebutkan fitnah yang hampir terjadi, beliau ditanya: Siapakah sebaik-baik orang ketika itu? Maka beliau menyebutkan bahwa orang yang terbaik adalah orang yang bersama dengan ternaknya dan menjauhi manusia kecuali dari kebaikan, dan…

رجل آخذ برأس فرسه يُخيف العدو ويُخيفونه

Orang yang memegang kepala kudanya ia menggentarkan musuh dan musuh menggentarkannya.” At-Tirmiidziy dan ia menghasankannya.

Hadits ini jelas bahwa yang dimaksud adalah perang dengan sesungguhnya dan bukan sekolah; dan Maha benar Robb kita yang mengatakan tentang al-mutakhollifiin (orang-orang yang tertinggal) dari jihad dengan alasan mereka takut terhadap fitnah (bencana-pent.)

ألا في الفتنة سَقَطوا وإن جهنم لَمُحيطة بالكافرين

“Ingatlah sebenarnya mereka itu terjerumus kedalam fitnah dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang kafir.”

Maksudnya karena mereka meninggalkan jihad.

7- Karena jihad adalah dzirwatu sanamil Islam (puncak punuk Islam), dan punuknya onta adalah yang paling tinggi padanya maka tidak ada anjuran yang menyamai jihad, dan jihad adalah jalan untuk menghapus kesalahan-kesalahan, dan beramal ketika berjihad dilipat gandakan dari pada yang lainnya; dan ketika disebutkan peperangan kepada imamnya imam Ahmad bin Hambal, beliau menangis dan mengatakan: “Tidak ada suatu amalan kebaikan pun yang lebih utama dari padanya.” Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidak ada sesuatupun yang menyamai perjumpaan dengan musuh; dan terlibat langsung dalam peperangan dengan jiwa raganya merupakan amalan yang paling afdhol; dan orang-orang yang memerangi musuh itulah orang-orang yang membela Islam dan membela sesuatu yang harus dijaga padanya, maka amalan apa yang lebih utama dari padanya?!” sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mughniy karangan Ibnu Qudamah VIII/348-349

Dan Ibnu Taimiyah berkata: “Dan begitulah para ulama’ telah bersepakat — sejauh yang saya tahu — bahwasanya tidak ada amalan tathowwu’ yang lebih afdlol dari pada jihad, maka jihad itu lebih afdlol dari pada shoum tathowwu’ dan lebih afdlol ddari pada sholat tathowwu’.” Lalu bagaimana jika jihad itu fardlu ‘ain.?!!

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Fathu `l-Bariy pada awal kitab Al-Jihad: “Berkata Ibnu Daqiiq Al-‘Ied; Qiyas menunjukkan bahwa jihad itu merupakan amalan yang paling afdlol dari pada amalan-amalan yang merupakan sarana, karena jihad itu merupakan wasilah untuk menyiarkan dan menyebarkan dien dan memadamkan dan menolak kekafiran, maka keutamaan jihad sesuai dengan keutamaan amalan itu.”

Dan berikut ini tambahan keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta siroh para tabi’ien:

Dari Al-Qur’an:

لا يستوي القاعدون من المؤمنين غيرُ أولي الضرر والمجاهدون في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم، فضَّل الله المجاهدين على القاعدين درجة…

“Tidaklah sama orang-orang beriman yang qoo’iduun selain ulidh dhoror dan mujahidin fii sabiilillaah dengan harta dan jiwa raga mereka, Alloh lebih mengutamakan derajat mujahidin diatas qoo’uduun …” Surat An-Nisa’.

Maka apakah masih ada yang lebih jelas dari pada ayat ini.?

أجعلتم سقاية الحاج وعِمارة المسجد الحرام كمن آمن بالله واليوم الآخِر وجاهَدَ في سبيل الله لا يَستوون عند الله

“Apakah kalian menjadikan memberi air minu orang haji dan memakmurkan masjidil harom itu sebagaimana orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir dan berjihad fii sabiilillaah, mereka itu tidaklah sama di sisi Alloh …” Surat At-Taubah.

Maka apakah amalanmu dinegerimu itu menyamai amalan mememberi air minum orang haji dan ..?! lalu kalau begitu bagaimana bisa menyamai perang ?

السنة:

ـ في صحيح مسلم 1878: (يا رسول الله: ما يَعدل الجهادَ في سبيل الله؟ قال r: لا تستطيعوه! فأعادوا عليه مرتين أو ثلاثاً، كل ذلك يقول: لا تستطيعونه، ثم قال: مَثَل المجاهد في سبيل الله كمثل الصائم القائم القانت بآيات الله، لا يَفْتُر من صلاة ولا صيام حتى يرجع المجاهد في سبيل الله).[الرواية هكذا: "لا تستطيعوه" وهي لغة]

Dari As-Sunnah:

Dalam Shohih Muslim 1878: (Para sahabat yang bertanya,”Wahai Rosululloh tunjukkan padaku sebuah amalan yang bisa menyamai jihad fii sabiilillaah !!”. Beliau menjawab,”Kalian tidak akan bisa melaksanakannya.” Maka mereka mengulanginya dua atau tiga kali, dan setiap kali belia ditanya beliau menjawab: “Kalian tidak akan bisa melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda:

مَثَل المجاهد في سبيل الله كمثل الصائم القائم القانت بآيات الله، لا يَفْتُر من صلاة ولا صيام حتى يرجع المجاهد في سبيل الله

“Permisalan seorang mujahid adalah sebagai mana orang yang shoum, sholat dan membaca ayat-ayat Alloh dengan khusyu’, ia tidak berhenti dari sholat dan shumnya sampai mujahid itu pulang.” Riwayatnya berbunyi begini: “Kalian tidak akan mampu melaksanakannya” dan ini adalah secara bahasa.

إن مَثَل المجاهد في سبيل الله ـ والله أعلم بمن يجاهد في سبيله ـ كمَثَل القائم الصائم الخاشع الراكع الساجد

“Sesungguhnya permisalan mujahid fii sabiilillah itu — dan Alloh Maha Mengetahui dengan orang yang berjihad di jalanNya — seperti orang yang shoum, shlolat dengan khusyu’, ruku’ dan sujud.” An-Nasaa’iy dan ini adalah hadits shohih.

ـ (إن مَثَل المجاهد في سبيل الله ـ والله أعلم بمن يجاهد في سبيله ـ كمَثَل القائم الصائم الخاشع الراكع الساجد) النَّسائي وهو صحيح، فهل تَجْرؤ أن تقولها عن نفسك يا مَن جلسْتَ في بلدك وزعمت أنك مجاهد؟! إذاً فكيف تقول عن عملك هاهنا: إنه إعداد خير من الإعداد للقتال بالسلاح…؟!

Sesungguhnya permisalan mujahid fi sabilillah –dan Allah Maha Tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya- bagaikan seorang yang berdiri (sholat), puasa, penuh khusyu’, ruku’ dan sujud (HR Nasai, shahih)

Apakah kalian berani mengatakan amalan tersebut pada dirimu wahai kamu yang duduk di negerimu dan mengaku sebagai mujahid?!. Jadi bagaimana kamu mengatakan tentang amalmu di sini bahwa amalmu tersebut merupakan bentuk I’dad yang lebih baik daripada I’dad perang dengan senjata?!

Pada Shahih bukhari “ Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku amal yang menandingi jihad beliau berkta : Saya tidak mendapatinya kemudian beliau berkata : Apakah kamu mampu jika seorang mujahid keluar kamu masuk mesjidmu lalu berdiri shalat tanpa berhenti sekaligus puasa tanpa berbuka ? orang itu berkata : Siapa yang dapat melakukan itu?

Mereka adalah para shahabat namun toh tidak mampu melakukan suatu amalan yang dapat menandingi jihad padahal mereka mempunyai semangat beramal yang tinggi dan keutamaan sebagai shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lantas bagaimana dengan kita?

Dalam riwayat Tirmidzi, Nasa’I serta hakim dan Hadits tersebut Hasan “ Maukah kalian kuberitahukan manusia terbaik kedudukannya? Kami menjawab : Mau Yaa Rasulullah, Beliau bersabda yaitu Seorang laki laki yang memegang kepala kudanya di jalan Allah hingga meninggal atau terbunuh……” Beliau tidak mengatakan: yang memegang kepala pena untuk mengarang, atau membantah syubhat syubhat serta untuk menjawab soal soal dalam ujian. Padahal ini adalah pada saat jihad FARDHU KIFAYAH lantas bagaimana pada saat FARDHU “AIN ?

Rasulullah ditanya : “Amal apa yang paling utama? Beliau menjawab : Iman kepada Allah dan RasulNya lalu ditanya lagi : Kemudian apa? Beliau bersabda : Jihad di jalan Allah” Bukhari 26 Muslim 93

Manusia Apa yang paling utama? Beliau bersabda : “ Seorang laki laki yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya” Muttafaqun ‘alaihi

Beliau ditanya : “ orang mukmin bagaimana yang paling sempurna imannya. Beliau bersabda : “yang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan seseorang laki laki …” muttafaqun’alaihi

Pada Bukhari, Aisyah Radhiallahu ‘anha bertanya : Yaa Rasulullah kami memandang jihad sebagai amalan paling utama, tidakkah kami berjihad? …

Pada Bukhari dan Muslim “ Seorang laki laki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya bertanya : “Manusia apa yang paling utama? Beliau bersabda :”Mukmin yang berjihad dengan jiwa dan hartanya diujalan Allah, Orang itu bertanya kemudian siapa? …

Pada Tirmidzi, Hakim dan Baihaqy bahwa beberapa orang Shahabat Rasulullah Shllallahu ‘alaihi wa Sallam duduk seraya berkata : “ Seandainya kita mengetahui amal apa yang paling Allah cintai mestilah kita lakukan maka Allah Azza wa Jallaa menurunkan ayat :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang – orang yang berperang di jalanNya dengan berbaris bagaikan bangunan yang kokoh (QS Shaff). Hadits ini Shahih

Ketika beberapa orang berselisih tentang amalan apa yang paling utama : memberi minum orang Haji atau memakmurkan masjidil haram ataukah jihad dijalan Allah, Maka turunlah firman Allah ta’ala :

Apakah memberi minum orang haji dan memakmurkan masjidil haram itu kalian jadikan sama dengan oraang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidaklah sama di sisi Allah dan Allah tidak menunjuki kaum yang dhalim (QS at taubah : 21) ” diriwayatkan oleh Muslim no 1879. Apakah amalmu di sini menandingi amal memakmurkan masjidil haram ?

Ketika Seorang laki laki datang di Shaf shalat seraya berdoa : “Yaa Allah berikanlah kepadaku seutama utama karunai yang engakau berikan kepada hamba hambamu yang shaleh” maka Nabi bertanya siapakah yang berbicara tadi? . . . kalau begitu kudamu akan dilukai dan kamu akan terbunuh sebagai syahid di jalan Allah . . . Riwayat Bazzar dan rijal(sanad)nya tsiqoh. Nabi tidak bersabda: “ Jadi engkau akan meraih rangking pertama atau engkau akan dibolehkan menulis suatu makalah di Koran pemerintah !

Bukankan Rasul kita bersabda : “ Berdirinya seseorang di barisan untuk berperang lebih baik dari pada berdiri (sholat) selama 60 tahun”. HR Ahmad, tirmidzi, Hakim dan Hadits Shahih. Apakah engkau memandang bahwa keberadaanmu disini di negerimu untuk study materi ujian itu lebih baik dari pada berdiri shalat selama 60 tahun? Dalam riwayat Hakim disebutkan: “ibadah” gantinya” berdiri”, hadits tersebut shahih

Ketika seorang shahabat meminta pendapat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menetap disuatu tempat untuk beribadah kepada Allah dan menyingkir dari manusia maka beliau Asshoodiqul Masduq menyarankannya:”jangan kau lakukan. Sungguh berdirinya seorang kalian dijalan Allah lebih utama dari shalatnya di rumahnya selama 70 tahun. . . Riwayat Tirmidzi dan Hakim. Hadits hasan.

“ Demi yang jiwa Muhammad berada ditanganNya, Tidaklah wajah pucat, tidak pula kaki berdebu karena amalan yang dilakukan untuk mencari derajat akhirat setelah shalat fardhu sebagaimana halnya jihad di jalan Allah. Tidak pula berat timbangan seorang hamba sebagaimana halnya hewan yang diinfaqkan dijalan Allah atau yang dijadikan tunggangan(angkutan) di jalan Allah”. Hadits Hasan Riwayat Ahmad. Lantas bagaimana halnya sedang jihad pada hari ini adalah fardu ‘ain menurut kesepakatan para fuqaha?

“ Seandainya engkau infaqkan seluruh apa yang ada dibumi niscaya engkau tidak akan dapat mencapai pahala Ghodwah (berangkat pagi pagi untuk berperang) mereka! Diriwayatkan oleh Ahmad. Hadits ini Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lontarkan kepada seorang shahabat lantaran ketinggalan berangkat dari Regu Patroli (Sariyah) demi menghadiri khotbah Jum’at Rasul Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Shahabat tersebut berkata: saya sengaja ketinggalan supaya dapat shalat Jum’at bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam kemudian saya akan menyusul mereka”. Dalam riwayat Ahmad juga, Shahabat tersebut berkata: “ Saya sengaja ketinggalan supaya dapat shalat bersama Rasul Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam kemudian menyalami Beliau dan mengucapkan perpisahan kepada Beliau sehingga Beliau mendoakan saya dengan do’a yang akan menjadi keutamaan di hari kiamat . . .” Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda kepadanya :” Tahukah kamu berapa pahala yang lebih dahulu diperoleh rekan rekanmu? . . . “Demi yang jiwaku berada ditanganNya Sungguh mereka telah lebih dulu mendahuluimu dalam keutamaan sejauh antara ujung Barat dan Ujung Timur !!! Rijal (sanad)nya Tsiqoh hanya seorang saja yang diperselisihkan. Sedang ia menurut Ibnul Mubarak termasuk Mursal Hasan

Apakah kalian hendak meninggalkan amal kalian demi untuk melihat Rasul kalian – jika beliau Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam hidup di tengah kita – ataukah tidak? Jika jawabannya : Ya, berarti amal kalian di sini di bawah tingkatan PERANG sebab berangkat keluar bersama regu patroli (sariyah) itu lebih penting dari pada sekedar melihat Rasul Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Bahkan kalian ini – sebagaimana yang tampak – seandainya ada kontrak kerja yang menggiurkan disebuah Negara teluk pastilah akan kalian tinggalkan I’dad kalian yang SEMU itu dan pandangan kalian akan tertuju pada harta. Lantas dimana JIHAD yang kalian ANGGAP itu ?!!!!

Bunyi hadits yang Sharih (gamblang) : “Maukah kamu ku (Rasul) beritahukan pokok seluruh urusan, tiangnya dan puncak tertingginya? . . . Beliau bersabda : “ Pokok urusan adalah Islam , Tiangnya adalah Shalat dan Puncak tertingginya adalah JIHAD” . Hadits hasan Shahih.Maksud jihad di sini apakah maknanya PERANG ataukah jihad dengan membagi bagi kaset, mengikuti berita terakhir, menanti nanti ceramah dan makalah? Dan Punuk sesuatu ada yang paling tinggi lantas bagaimana anda menganggap bahwa sesuatu selain jihad itu sebagai puncak sekarang ini?!! Dalam sebuah hadits yang lafalnya lemah pada Thabrani: “Puncak tertinggi Islam adalah Jihad tidak dicapai melainkan mereka yang paling utama”

“Orang yang gugur ada tiga yaitu : Seorang laki laki mukmin yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah hingga ketika ia menjumpai musuh ia perangi mereka hingga terbunuh maka itulah syahid yang Mumtahan berada di jannah Allah di bawah Arsy, tidaklah para Nabi mengunggulinya melainkan dengan derajat kenabian saja. Dan (kedua) Seorang yang mengkhawatirkan dirinya dari dosa dan kesalahan dia berjihad dengan jiwa dan hartanya di Jalan Allah hingga saat menjumpai musuh ia perangi hingga terbunuh. Syahidnya Mumashmishah menggugurkan dosa dosa dan kesalahannya. Sesungguhnya pedang itu penghapus dosa. Ia dimasukkan dari pintu pintu jannah manasaja yang ia suka. Sesungguhnya Jannah itu mempunyai 8 pintu sedangkan Jahannam mempunyai 7 pintu. Satu pintu lebih utama dari pada sebagian yang lain. Dan . . . “ Riwayat Ahmad dengan sanad Jayyid. Mumtahan maksudnya adalah benar benar lapang dada sedang Mumashmishah maksudnya yang menghapuskan.

Apakah engkau berani mendakwakan bahwa amalmu dapat menghapuskan dosa??!! Lantas bagaimana anda berani lancang menegaskan bahwa amalmu disini yang berupa study atau niaga . . . itu lebih afdhal daripada perang dengan senjata?

Cukuplah bagimu bahwa pahala mujahid disana itu dilipatgandakan sampai dalam hal tertawanya dan perbuatan-perbuatannya yang mubah. Bahkan tidurnya mujahid itu lebih utama daripada shalat malamnya orang yang selain Mujahid dan puasanya disiang hari. Dan orang yang berbuka tidak puasa dijalan Allah itu seperti orang yang berpuasa diluar kondisi jihad. Demikianlah yang dikatakan oleh Abu Hurairah sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mubarak dalam kitabul Jihad Juz I/95.

Dalam Hadits :” Perang itu ada dua macam; adapun orang yang (berjihad) mencari wajah Allah, mentaati komandan, membelanjakan harta berharga, mempermudah terhadap kawan dan menjauhi kerusakan maka tidur dan terjaganya berpahala semuanya. . . . Riwayat Abu Daud dan Nasa’I. Hadits Shahih. Lantas apakah tidur dan terjagamu disini berpahala semua??!! Apakah anda dapat menyatakannya kepada Mahasiswa Ekonomi atau Pertanian atau . . . Kenapa kalian ini?? Bagaimana kalian berpikir ???

LIHATLAH DAGANGAN DAGANGAN YANG MENGGIURKAN INI :

“ Tidaklah seseorang terluka dijalan Allah – dan Allah Maha Tahu siapa yang terluka dijalan Allah – melainkan datang pada hari kiamat dalam kondisi lukanya mengucur, warnanya warna darah sedang baunya wangi kesturi” Muttafaqun ‘alaihi. Apakah anda menyangka bahwa jika anda terluka saat anda berjihad (??!!) di negaramu di tengah kitab-kitabmu, atau di tengah daganganmu, sekolahmu atau kampusmu, Apakah kamu menyangka bahwa dirimu mencapai derajat MUQATIL (petempur) di medan peperangan ???!!!!! Padahal pahala ini saat JIHAD FARDHU KIFAYAH lantas Bagaimana saat FARDHU ‘AIN ??!!

“ Barang siapa berpuasa sehari Fii Sabilillah, akan Allah jauhkan wajahnya dari api Neraka sejauh tujuh puluh musim gugur (tahun) “ Muttafaqun ‘alaihi. Pahala ini hanyalah di MEDAN JIHAD saja. Lantas apakah anda berani LANCANG mengatakan bahwa puasamu disini mendapatkan pahala yang sama atau lebih tinggi sebab anda memandang berpangku tanganmu dari medan medan perang itu lebih bermanfaat bagi kaum muslimin dan lebih membuat ridho Rabbul ‘alamin???!!!

“. . . Barang siapa meluncurkan satu anak panah di jalan Allah maka ia sebanding pahala memerdekakan seorang budak . . . HR. Ahmad,Tirmidzi dengan sanad Shahih. Maka betapa besarnya pahala sebutir tembakan pistol sebagaimana memerdekakan seorang budak. Padahal “ Siapa yang memerdekakan seorang budak muslim maka akan Allah merdekakan dirinya dengan sejumlah anggota badan budak tersebut dari Neraka . . . “. Muttafaqun ‘alihi

“ . . . Barangsiapa meluncurkan satu anak panah Fii Sabilillah lalu mencapai musuh atau tidak maka ia mendapatkan pahala sebagaimana memerdekakan seorang budak. Dan siapa memerdekakan budak muslim maka akan menjadi tebusannya di Neraka, satu anggota tubuh dengan satu anggota tubuh”. HR Nasa’I dengan sanad Shahih. Maka sekedar meluncurkan saja mendapatkan pahala sekalipun tidak mencapai sasaran lantas apakah studimu itu mendapatkan jaminan pahala entah anda lulus atau tidak??!!!

“ . . . Sesungguhnya dengan satu anak panah Allah memasukkan tiga orang ke Jannah : Pembuatnya yang meniatkan kebaikan ketika membuat, yang meluncurkannya, dan yang menyerahkannya . . . “. Hadits Shahih riwayat Abu Daud. Apakah anda mendapati pahala seperti itu di sekolah sekolah, kampus kampus atau profesi apapun???!!!

“ Barangsiapa memelihara seekor kuda dijalan Allah karena iman kepada Allah dan membenarkan janjinya maka kenyangnya kuda itu, puasnya minum, kotoran dan kencingnya dalam timbangan kebaikan pada hari kiamat” HR Bukhari. Lantas apakah anda memandang bahwa bensin mobilmu, olienya, mesinnya itu dalam timbangan kebaikanmu padahal anda berada di sini, di negeri anda sebagaimana pahala pahala yang engkau harapkan di dalam perang??!!

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam ditanya tentang pahala Ribath beliau Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda : “ Barang siapa ribath semalam, demi menjaga kaum muslimin ia mendapatkan pahala orang orang dibelakangnya yang melakukan shoum dan Sholat”. Rijalnya tsiqah dan dengan sanad Jayyid (bagus) menurut Thabrani.

“ Ribath sehari semalam lebih baik dari puasa dan berdiri shalat selama sebulan . . . “. HR Muslim. Bahkan yang lebih utama lagi dari ini :

“ Barang siapa ribath semalam di jalan Allah mendapatkan pahala sebagaimana seribu malam yang dilalui dengan shiam dan shalat” Disyahkan oleh hakim dan disepakati oleh Dzahabi. Bahkan yang lebih utama dari ini, “ Berdiri sesat Fii Sabilillah lebih baik dari Shalat di malam lailatul Qadr di Hajar Aswad. Riwayat Ibnu Hibban, Hadits Hasan. Padahal malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari 1000 bulan lantas apakah anda masih menyangka bahwa studimu untuk ujian di malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari melakukan Ibadah pada malam tersebut? Kemudian di malam itu kemanakah anda pergi? Apakah anda berkutat di meja belajarmu ataukah anda pergi ke suatu masjid untuk menghidupkan Lailatul Qadr ???!!!

Akan tetapi Ribath semalam – tidak diragukan lagi – itu lebih baik dari malam Lailatul Qadr di Hajar Aswad, Apakah anda berani LANCANG mengatakan pahala ini dengan Ribath mu!!! Dibangku sekolah ???!!!

Maukah kalian kuberitahukan suatu malam yang lebih utama dari malam Lailatul Qadr ?? (yaitu)” seorang yang berjaga – jaga didaerah menakutkan, yang barang kali ia tidak kembali lagi kepada keluarganya”. Diriwayatkan Hakim, Baihaqy, Hadits menurut Syarat Bukhari

PENGIKUT BELIAU Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam DENGAN SETIA

8 . Kenapa mesti berperang? Karena para sahabat seluruhnya –mereka itu lebih faqih dari pada kita dan lebih rakus terhadap kebaikan dari pada kita– adalah orang orang yang sangat tamak terhadap peperangan. Bahkan mereka jika tidak mendapati sarana yang dapat menyampaikan mereka ke medan perang maka merekapun berlinangan air mata. Maka jadilah perang itu maksud utama sebelum mengumpulkan harta untuk jihad. Kita pun tidak boleh lupa bahwa jihad pada masa mereka adalah fardlu kifayah.

Para sahabat berulang ulang melantunkan,” Kami adalah orang–orang yang berbaiat kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selama hidup di kandung badan”. HR Bukhari. Adapun kita maka bahasa keadaan kita menyatakan; kami adalah orang orang yang berbaiat kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atas omongan selama hayat di kandung badan, atas kisah kisah dan periwayatan, atas masuk perkuliahan atas mencari anak perempuan selama hayat di kandung badan.

Apakah setiap orang di kalangan sahabat mendambakan mati syahid (syahadah) di jalan Allah ataukah SYAHADAH (baca IJAZAH) Ekonomi, atau Geographi atau Kedokteran ? Padahal Syahadah (mati Syahid) tidak akan datang melainkan dengan usaha mencari carinya,” Mencari terbunuh atau maut sebagaimana yang disangka”. HR Muslim. Ataukah SYAHADAH (baca IJAZAH) universitas sudah menjadi syahadah fii Sabilillah dengan makna lebih khusus?!

Lihatlah kepada Haji Wada’ ! Di sana terdapat lebih dari 10.000 shahabat dengan perkiraan minimal sedangkan yang dikubur di Baqi sekitar 250 shahabat saja atau kurang lantas di mana sisanya??!! Akan kau lihat minimal mereka berada di bumi Jihad. Silahkan buka sendiri kitab kitab Biografi. Maka yang terkubur di Baqi’ amatlah sedikit dibanding jumlah total sahabat. Akan kau lihat shahabat shahabat pilihan telah keluar menuju ROMAHORMUZ, KHAWARIZM, INDIA, CHINA, DAN AFRIKA UTARA . . .

Lihatlah pada Perang Tabuk! Ketika jihad berubah menjadi Fardhu ‘ain dengan adanya ISTINFAR (mobilisasi umum) dari imam atas seluruh manusia lihat berapa orang mukmin yang tertinggal tidak berangkat ? !! TIGA ORANG SAJA dari 30.000 pasukan. Jika anda mau rugi jadilah saja dari kelompok tiga orang itu. ! ! !

Kemudian bandingkan antara mereka dengan kita.! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berangkat keluar lantaran sekedar mendengar bahwa romawi sedang melakukan konspirasi jahat terhadap Beliau. Padahal saat itu adalah masa masa yang sangat sulit. Dan orang orang yang menangis yang tidak mendapatkan kendaraan yang mengangkut, mereka datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (supaya diberangkatkan, pent-) lantas di manakah kalian wahai orang orang yang menangis pada hari ini! ! ! ??? Di manakah orang yang bersegera mempertahankan negeri negeri kaum muslimin yang diancam oleh Amerika atau benar benar telah digempur olehnya atau negeri negeri yang diancam oleh Rusia ??

Apakah dengan mendermakan hartanya lantas menjadikan Shahabat Usman Radhiyallahu ‘anhu tidak perlu lagi untuk keluar sendiri dengan jiwanya pada perang yang sulit ini!!!??

Contoh contoh dari kehidupan para shahabat jauh untuk bisa dibilang. Percayalah pada saya

Inilah Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Muqauqis Mesir penguasa bangsa Qibthy” . . . Tiada seorangpun dari kami melainkan ia berdoa kepada Rabbnya setiap pagi dan petang untuk dikaruniai mati Syahid dan agar tidak dikembalikan ke negerinya atau kampung halamannya ataupun kepada keluarganya dan anak anaknya. Tidak ada seorangpun dari kami yang masih mempunyai OBSESI dibelakangnya. Masing masing dari kami telah menitipkan keluarga dan anak anaknya kepada Rabbnya, adapun OBSESI kami hanyalah apa yang ada di depan kami”. Dari kitab Futuh Misr wa Akhbariha.

Bahkan sebelum ini, telah terjadi pembantaian dahsyat terhadap para Qurra’ (penghafal Qur’an). Mereka adalah shahabat shahabat pilihan dan bukannya shahabat jelata – padahal memang tidak ada jelata di antara mereka – . Dan itu terjadi pada peperangan Riddah sampai sampai para Shahabat khawatir hilangnya Qur’an !!!. Jadi para shahabat pilihan semua adalah para PETEMPUR bukannya orang orang STUDY saja. Adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berpandangan dengan solusi militer untuk melumpuhkan golongan murtadin sedang mayoritas shahabat dipelopori Umar Radhiyallahu ‘anhu menginginkan langkah awal dalam bentuk solusi damai dengan menda’wahi mereka, karena berharap menjaga keuntungan da’wah dari lenyapnya. Dan sejarah membuktikan kebenaran pendapaat Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu padahal Beliau sendirian!!!

Bukankah sebagian Anshar berkata :” Yaa Rasulullah . . . !! Kami tidak akan mengatakan kepadamu sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa Alaihi sallam: “Berangkatlah engkau dengan Rabbmu sendiri dan berperanglah kalian berdua sesungguhnya kami adalah orang yang duduk disini saja” Bukankah Sa’ad bin Ubadah berkata : “ Demi yang Jiwaku berada ditanganNya !!. Seandainya engkau perintahkan kepada kami untuk mengarungi lautan pastilah kami akan mengarunginya….”. Dalam riwayat Ibnu Mardawaih :” . . . Maka sambunglah tali kepada siapa yang kau suka dan putuslah tali kepada siapa saja yang kau suka, Musuhilah siapa saja yang engkau suka dan berdamailah kepada siap saja yang engkau suka. Ambillah dari harta kami sesukamu”.

Sebelum ini, Ja’far Radhiyallahu ‘anhu mengambil dua sayap untuk berterbangan di Jannah. Apakah hal itu lantaran ia mempelajari atau mengajarkan EKONOMI lalu dapat memberikan manfaat pada kaum muslimin !!!”Aku melihat Ja’far bin Abi Thalib sebagai malaikat yang beterbangan di Jannah, mempunyai dua sayap untuk terbang ke mana ia suka yang ujung ujungnya berlumuran darah” HR Thabrani dengan dua sanad, salah satunya Hasan. Dalam satu riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Putranya :” Selamat atasmu wahai Abdullah bin Ja’far , ayahmu terbang bersama malaikat di langit” Ja’far Radhiyallahu ‘anhu dialah orang yang berkata :”Betapa indahnya Jannah dan betapa dekatnya. Ia Sangat indah lagi sejuk minumannya”

Bukankah ‘Ammar berperang pada Shiffin ketika BERUMUR 90 tahun! ! Ia berkata ;” Siapa yang senang dipeluk bidadari maka hendaklah ia maju diantara dua pasukan dengan penuh harap pahala” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih. Dan sebelumnya pada perang Yamamah, Ibnu Umar menceritakan kepada kita ;” Aku melihat Ammar pada perang Yamamah diatas sebuah batu dengan menonjolkan diri ia berteriak; Wahai segenap kaum muslimin apakah kalian hendak lari dari Jannah!!??? Aku adalah Ammar bin Yasir kemarilah kepadaku! Sedang aku melihat telinganya telah terpotong dengan tergantung sedang ia tetap bertempur dengan dahsyatnya” . HR Ibnu Saad.

Bukankah Tsabits bin Qais bertahanuth (siap-siap mati) pada perang Yamamah seraya berkata ;” Tidaklah demikian kami berbuat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Amatlah buruk kebiasaan yang kalian contohkan kepada rekan rekan kalian”. Riwayat Bukhari, lalu iapun bertempur sampai gugur.

Bukankah Abu Sofyan Radhiyallahu ‘anhu mengobarkan semangat perang padahal telah berumur 70 tahun ??!!

Bukankah sebagian besar wilayah Uni Sofyet ditaklukkan pada Zaman Umar Radhiyallahu ‘anhu dan Utsman, Gerangan apakah yang mendorong mereka?? : Perjalanan yang dekat ataukah piknik yang menyenangkan??!! Tidak, Demi Allah ia hanyalah sebuah sikap mendengar dan taat kepada Rabbul ‘alamin dan Rasulnya Al-Amin, serta kerinduan kepada Jannatun Na’im. Inilah Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu bertahan selam 7 bulan di depan Romahurmuz sedangkan salju mennutupi seluruh wilayah. Demikian pula Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu bertahan selam 2 tahun di Kabul sedangkan salju menutupi daerah tersebut pada sebagian besar musim dingin.

Bukankah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu anhu tetep bersemangat mendapat fadhilah jihad kendati dua matanya buta dengan menjaga barang-barang logistik dan memegang panji…?! Disebutkan oleh Qurthuby dalam tafsirnya 8/151

Bukankah Yaman (ayah sahabat Hudzaifah) dan Tsabit bin Qais Radhiyallahu ‘anhu bertempur di Uhud kendati keduanya telah lanjut usia, dan kendati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keduanya uzur dan menempatkan keduanya bersama wanita di barisan belakang pasukan?

Dan berapa kalikah Umar bertekad untuk turut keluar perang lalu ditahan oleh para sahabat demi khilafah padahal jihad semasa mereka adalah fardhu kifayah.

Bukankah Abu Ubaidah mengisyaratkan sikap kurang mereka (terhadap jihad) ketika ia tulis surat kepada Umar di Madinah; “Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah maian-main dan sebdau gurau…..sampai firman-Nya..kenikmatan yang semu” lantas Umar keluar membawa suratnya dan dibacakan di atas mimbar seraya berkata: “ Wahai sekalian penduduk Madinah! Abu Ubaidah menyindir kalian ataukah kepadaku? Cintailah jihad” Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarok dan sanadnya kuat.

Bukankah Khalid ibnul Walid memburu kematian terbunuh sebagaimana sangkaanya namun tidak jua terbunuh?! Lantas kenapa mesti takut?!Bukankah ia terangkan kepada dedengkot-dedengkot kekafiran, “Aku datang kepada kalian dengan membawa suatu kaum yang mencintai maut sebagaimana kalian mencintai hidup” lantas kenapa gerangan ayat telah berubah pada hari ini wahai mujahidin(!!) (di) universitas-universitas, rihlah-rihlah, seminar-seminar, pesta-pesat dan semua yang bersifat damai adem ayem yang tidak ada penumpahan darah?! Duhai kiranya kalian dapat mencapai kemenangan sekalipum dengan menggentarkan musuh?!

Inilah Amru bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu, seorang tua lanjut usia lagi pincang, ia tidak turut perang Badar karena kepincangannya. Maka tatkala perang Uhud, ia suruh anak-anaknya untuk membawanya turut keluar maka mereka memberinya alasan untuk tidak usah berperang. Lantas ia katakan pada mereka; “mustahil!! Kalian telah mencegahku dari jannah pada perang Badar dan kalian hendak mencegahku dari Uhud?!

Inilah Umeir bin Hammam memakan beberapa biji korma sebelum perang lalu berkata: “jika aku hidup hingga menghabiskan korma-korma ini sungguh merupakan kehidupan yang amat panjang! Lalu ia lemparkan korma yang ada padanya kemudian memerangi mereka hingga gugur” Diriwayatkan oleh Muslim

Imam Qurthuby mennyebutkan (8/150) bahwa Abu Tholhah membaca ayat: “Berangkatlah kalian berperang baik merasa ringan maupun berat” lalu ia katakan: “Wahai putra-putraku! Ambilkanlah persiapan perang untukku. Maka anak-anaknya mengatakan: “ Semoga Allah merahmatimu! Engkau telah berperang bersama Nabi sampai wafatnya, lalu bersama Abu Bakar sampai meninggalnya lalu bersama Umar sampai meninggalnya. Sedang kamilah yang berperang menggantimu”. Ia katakan “Tidak” berikanlah persiapan perang untukku” maka ia berperang di laut dan meninggal di lautan sehingga mereka tidak mendapati suatu pulau untuk menguburkannya melainkan setelah lewat tujuh hari maka mereka menguburkannya dengan tidak berubah kondisinya.

Dikatakan kepada Miqdad bin Aswad ketika ia siap-siap untuk perang; “Allah telah memaafkanmu” maka ia katakan; “Bahuuts telah mendorongku” yakni surat At Taubah. Sebab surat tersebut membahas kaum munafiqin dan membongkar borok mereka (disebutkan oleh Qurthuby).

Nabi Shallallahu ‘aalaihi wa sallam bertanya kepada sahabat usai salah satu peperangan: “Apakah kalian kehilangan seseorang” mereka menajwab “Tidak” maka beliau bersabda: “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib” lantas mereka mencarinya dan ternyata ia telah gugur dan di sekitarnya terbunuh 7 orang musyrik. Maka beliau bersabda: “Ia berhasil membunuh 7 orang kemudian mereka membunuhnya! Orang ini dariku dan akupun darinya” lalu beliau letakkan di atas kedua lengannya….;lihat ! beliau tidak bersabda: “Ia telah menulis 7 buku…ataupun ia punya 7 kajian (pengajian) antara waktu maghrib dan Isya’!

Sedang yang lain dengan penampilan lusuh, mendengar Abu Musa Al ‘Asy’ary Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam : “Sesungguhnya pintu-pintu jannah di baawah naungan pedang” Lantas orang itu berkata: “Wahai Abu Musa benarkah anda mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam bersabda demikian? Ia jawab: “Ya” maka orang itu kembali ke rekan-rekannya lalu mengucapkan salam kepada mereka dan ia pecahkan sarung pedangnya lalu ia buang kemudian ia berjalan ke musuh dengan membawa pedangnya. Lalu ia tebaskan ke musuh hingga gugur” Riwayat Muslim

Milik Allah-lah permata para saahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik! Betapa cepatnya mereka memenuhi seruan dan betapa semangatnya mereka terhadap jihad! Duhai amat memalukan kita ini! Kita kumpulkan ratusan alasan dalam rangka menolak puluhan ayat dan hadits dan supaya kita masih bertanya-tanya dengan nada mengingkari: “Kenapa mesti berjihad?! Sedang seorang badui tadi sekedar mendengar satu ayat atau satu hadits saja lalu langsung keluar tanpa menoleh ke seorangpun

Inilah Mak-hul dari kalangan ulama’ tabi’ien. Ia menghadap qiblat lalu bersumpah 10 kali bahwa perang wajib atas kalian wahai kaum muslimin. Kemudian ia katakan: “Jika kalian mau, akan saya tambah lagi” yakni tambah sumpah. Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq 5/174

Inilah Said bin Musayyib Rohimahullah dari kalangan 7 fuqoha Madinah, ia berangkat perang dalam kondisi salah satu matanya telah buta. Lalu ditanyakan: “Sesungguhnya anda cacat” maka ia berkata: “Allah memerintahkan berangkat secara umum baik dengan ringan maupuin berat. Jika tidak memungkinkan lagi aku berperang maka aku turut memperbanyak jumlah dan menjaga perbekalan” Disebutkan oleh Qurthuby 8/151. Adapun kita malah menyarankan untuk memperbanyak jumlah di fakultas-fakultas syariah dan Azhar !

Bahkan jika engkau melihat biografi-biografi orang-orang dahulu, niscaya engkau akan dapati pertama kali yang disebutkan adalah “ia turut dalam seluruh peperangan” atau “ia tidak pernah absen dari satu perangpun” atau…maka keikutsertaan dalam peperangan menjadi suatu yang dibanggakan sedang absen dari perang itu sebagai celaan.

Demikianlah perjalanan jihad terus berlanjut bersama pengikut shahabat yang baik seperti Ulama lagi Mujahid, Asad bin Furat, Qutaibah bin Muslim Al-Bahily, Muhammad bin Qasim sang Penakluk China dan Uqbah bin Nafi’ ketika berbicara di hadapan lautan;” Demi Allah seandainya aku tahu bahwa di sebarangmu ada negeri pastilah aku akan memeranginya Fii Sabilillah”. Ia melihat ke langit seraya berkata ;” Yaaa Rabb kalaulah bukan karena laut ini niscaya aku akan pergi ke negeri negeri untuk berjihad di JalanMu”. Rujuk Al Kamil karangan Ibnu Atsir.

Kemudian kejayaan tetap berlanjut bersama orang orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Di manakah kita dengan Shalahuddin (Penakluk Perang Salib di Al Quds), Qutuz (Penakluk Tartar di Mesir), Muhammad Fatih (penakluk Konstantin) dan Sulaiman Al Halby (pembunuh Clepper, Penjajah Inggris di Syiria). Demikianlah yang terjadi di perang Yarmuk, Qadisiyah, Khitthin, Maladzkur dan Ainu Jalut.

Lha kenapa TIDAK !!! Sedang Qudwah mereka semua adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terjun langsung dalam perang 27 atau 28 kali peperangan selama menetapnya di Madinah selama 10 tahun, Yakni dengan rata rata 3 kali perang dalam setahun. Belum lagi sariyah sariyah (Regu Patroli Militer) yang tidak disertai oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Apakah engkau dapat menulis satu buku saja dalam masa 10 tahun ??? Kemudian apakah Ensiklopedi Islam -apapun namananya- dapat menandingi efek dari seperempat perang saja di hati musuh ? ? ?!!!. Dan anda JANGAN SAMPAI LUPA kalau Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam itu tidaklah menjalankan haji melainkan hanya sekali disaat seluruh hidupnya terisi dengan Jihad dalam artian PERANG.

Dan seluruh Ghazwah (peperangan yang diterjuni oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) ini adalah setelah beliau melewati umur 50 tahun dan Beliau terjun pada perang Tabuk melewati usia 60 tahun. Duhai betapa RUGINYA engkau wahai pemuda BERUMUR 20-30 tahun! !

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-lah yang telah bersabda ;” Sunggguh sungguh aku gugur di jalan Allah lebih aku cintai dari pada aku memiliki penduduk kota dan Desa”. Sanadnya Hasan. Lantas apakah KEDUDUKAN orang yang meninggal biasa ditengah upayanya untuk unggul di FAKULTASNYA itu sama dengan orang yang meninggal karena GUGUR DI JALAN ALLAH!!!.

Beliaulah yang telah bersabda ;” Sungguh aku sangat mendambakan dapat berperang di jalan Allah lalu terbunuh kemudian berperang lalu terbunuh, kemudian berperang lalu terbunuh. . . Muttafaqun ‘alaihi

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berangan angan turut gugur sebagai Syuhada bersama shahabat shahabatnya di perang Uhud. “ Demi Allah sungguh aku mendambakan aku dibunuh dengan cara licik beserta shahabat shahabatku di pertahanan gunung”. HR Hakim. Dia mensyahkannya menurut syarat muslim, Disepakati oleh Dzahabi dan hadits hasan . Sedang engkau MALAH LARI dari dibunuh dengan alasan I’DAD UNTUK PERANG BESAR !!!??. Duhai sekiranya kamu itu betul betul melakukan persiapan untuk PERANG !!!.Namun yang terjadi engkau hanyalah melakukan PERSIAPAN UNTUK NIKAH !!! Manakah lebih berbahaya lenyapnya wahyu (dengan gugurnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pent-) Ataukah MANFAATMU YANG SEMU itu pada kaum muslimin???

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lah yang menyampaikan kabar gembira;”Perang akan terus berlanjut semenjak Allah mengutusku hingga akhir ummatku memerangi DAJJAL. Tidak dapat digugurkan oleh kelaliman orang yang lalim ataupun oleh keadilan orang yang adil”. Dalam sanadnya ada perowi Majhul (tidak dikenal). Namun maknanya disepakati oleh para Fuqaha. Ataukah engkau MENAFSIRKAN PERANG disini dengan PERANG MEDIA, dan Majalah untuk mengetahui apa yang dibicarakan musuh musuh Islam kepada kita !!!

“Diin ini akan senantisa terus tegak, sekelompok dari kaum muslimin berperang karenanya hingga datang kiamat”. HR Muslim. Dalam suatu riwayat; “ Senantiasa akan ada sekelompok dari ummatku . . . yang BERPERANG . . .”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengatakan yang BERDISKUSI, BERUNDING atau BERDAGANG atau . . .

Jika kakekmu seekor Elang lantas bukan berarti kamu hari ini sebagai elang karena pewarisan.

9. Supaya Allah ta’ala mencintai kita dan tertawa kepada kita ;”Tiga orang yang Allah mencintai mereka, tertawa kepada mereka dan gembira kepada mereka yaitu : seorang ketika pasukan kocar kacir ia berperang di belakang mereka mengorbankan jiwanya karena Allah Azza wa Jalla. Ia terbunuh atau Allah menolongnya dan melindunginya lalu berfirman :”Lihatlah kepada hambaKu ini ia sabar terhadap dirinya karenaKu . . . HR Thabrani dengan sanad jayyid

10. Karena jihad menghindarkan kita dari kegundahan dan kegelisahan yang kita hidupi “Berjihadlah kalian di Jalan Allah sebab Jihad di jalan Allah adalah pintu dari pintu pintu Jannah, dengannya Allah menghindarkan rasa gundah dan gelisah”. Hadits shohih riwayat Ahmad dan Hakim.

11. Agar kita tidak menjadi seperti wanita. Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha telah bertanya ;” Apakah wanita berkewajiban jihad? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Atas mereka kewajiban jihad namun tidak ada PERANG didalamnya, Haji dan Umrah”. Ibnu Majah dengan sanad Shahih.

Maka wanita mampu melakukan I’dad yang sifatnya ekonomi, sosialisasi dan media namun sedikit sekali yang mampu I’dad yang sifatnya perang bersenjata dan sejarah membuktikan !!!. Tidakkah kita MALU MENJADI seperti WANITA?

12. Kenapa Perang??? Agar mendapatkan penghasilan yang Thayyib. “ Sebaik baik kehidupan manusia bagi mereka adalah seorang laki-laki yang memegang kekang kudanya di Jalan Allah ia terbang diatas punggungnya setiap kali ia mendengar suara hiruk pikuk atau menakutkan ia terbang diatas kudanya mencari terbunuh atau maut yang ia sangka, atau seorang laki laki dalam Ghunaimah . . .”. HR Muslim. Dan dalam pendahuluan kitab telah berlalu hadits;” . . . dan Allah gelincirkan kepada mereka hati hati kaum dan Allah limpahkan rezki kepada mereka dari kaum itu hingga datangnya hari kiamat dan hingga tibanya janji Allah . . .”

Demikianlah para Fuqaha dan Ahli Hadits menashkan masalah ini. Dalam kitab Tamhid karangan Ibnu Abdil Bar 3/134 ;”. . . Ghanimah yang jatuh sebagai saham seseorang maka ia adalah miliknya. Dan itu Alhamdulillah temasuk pencaharian yang paling baik. Ia termasuk yang Allah halalkan untuk ummat ini dan Allah haramkan atas ummat sebelumnya”. Dalam Kitab Multaqa al Abhur karangan Halby hanafy 2/229 . “Pasal pencaharian yang paling afdhal adalah jihad kemudian niaga . . .”Semisal itu disebutkan dalam Bahrur Raiq 5/283, “ Berkata shahabat shahabat kami; pencaharian paling afdhal setelah jihad adalah niaga kemudian cocok tanam. Kemudian produksi/karya”. Dalam Hasyiah Bujairumi Syafi’I 2/166 ; “Pencaharian yang paling utama yakni setelah ghanimah adalah bercocok tanam, kemudian berkarya lalu berniaga”. Dalam Fathul Bari 6/98 ; “Dalam Hadits mengisyaratkan keutamaan tombak dan halalnya ghanimah untuk ummat ini serta bahwa rizqi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dijadikan pada ghanimah bukan pada pencaharian yang lain. Oleh karena sebagian ulama berkata : “ Sesungguhnya Ghanimah itu penghasilan yang paling Afdhal”. Namun dalam Juz 4/304 setelah menjelaskan tingkatan pencaharian yang utama ia tegaskan kembali :”Pekerjaan tangan yang diatas itu adalah penghasilan yang didapat dari harta kekayaan kuffar dengan cara Jihad dan ia merupakan penghasilan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Shahabatnya ia merupakan seutama utama penghasilan karena didalamnya ada unsur meninggikan KALIMATULLAH dan menghinakan kalimat musuh musuhNya serta manfaat akherat”. Sebelumnya Nasa’I menyatakan dalam Sunan Kubra 3/48 ;” Barangkali Allah Azza wa Jalla mengawali pembicaraan dalam Fai dan Ghanimah dengan menyebutkan diri Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena kedua hal tersebut merupakan penghasilan paling utama dan Allah tidak menisbahkan sedekah kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena sedekah merupakan sampah manusia “

Qurthuby menegaskan dalam menafsirkan surat Al Anfal (“Dan ketahuilah bahwasanya Ghanimah/rampasan perang itu….) dengan mengatakan: “;” Barangkali Allah Azza wa Jalla mengawali pembicaraan dalam Fai dan Ghanimah dengan menyebutkan diri Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena kedua hal tersebut merupakan penghasilan paling utama dan Allah tidak menisbahkan sedekah kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena sedekah merupakan sampah manusia”.

Apakah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “dijadikan RIZKIKU DI BAWAH NAUNGAN TITEL BA (BECLAURUS)KU DAN IJASAH-IJASAHKU” ataukah Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Di bawah naungan TOMBAKku” ?! Benar asalnya, Jihad itu dalam rangka meninggikan Kalimatullah kemudian datanglah Ghanimah;” Barang siapa yang berperang demi kalimatullah yang tinggi maka dialah yang di jalan Allah”. Muttafaqun ‘alaihi

13. Agar supaya kita menjamin pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam kehidupan kita dan sepeninggal kita;” Tiga orang yang atas Allah berhak untuk menolong mereka yaitu Mujahid di Jalan Allah . . . HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban sanadnya Hasan. Maka selama anda MEMANDANG POSISI anda itu LEBIH BAIK dari pada keluar berperang, Apakah anda melihat bahwa anda punya hak atas Allah untuk menolong anda, sebagaimana kewajiban Allah menolong Mujahid Fii Sabilillah!!!. “ Duta Allah ada tiga yaitu orang yang berperang, orang yang haji dan orang yang Umrah. Jika mereka memanjatkan doa kepadaNya akan Dia kabulkan dan jika minta ampun akan diampunkan”. Hadits Shahih riwayat Nasa’I dan Ibnu Majah. Padahal ini terhadap orang yang berperang lantas bagaimana dengan orang yang mempertahankan negeri dari agresor

Zubair Radhiyallahu ‘anhu berwasiyat kepada putranya untuk melunasi hutangnya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir pada perang Jamal dengan mengatakan;” Mintalah tolong kepada Maula-ku”. Namun anaknya tidak mengenal lalu ia menanyakan tentang Maula-nya kepada Bapaknya , Siapa Maula-mu? Lalu Zubair memberitahu bahwa Maulanya adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Adalah utang Zubair berjumlah 2..200.000 maka putranya berdo’a kepada Maula Zubair setiap kali mendapatkan kesulitan. Maka Allah memberi kemudahan dengan terjual kebun miliknya dan ia lunasi hutangnya bahkan harta tersebut lebih sampai sampai putri-putrinya yang lebih dari seorang. Masing masing mengambil jatah 1.200.000. Lucunya salah seorang shahabat menanyakan tentang hutang Zubair belum lama selepas wafatnya maka anaknya mengatakan;” 100.000”, Ia sembunyikan jumlah sebenarnya lantas Shahabat tadi menganggap banyak bilangan tersebut seraya mengatakan : “ Saya tidak akan mengira hutang tersebut akan terlunasi” Rujuk kisah lengkapnya pada Bukhari 3129.

Tidakkah Hal ini menjadi motivasi kita untuk maju tanpa peduli???

14. Agar Supaya kita lulus dalam ujian Ilahi!!.”Allah berfirman :”Dan sungguh akan kami uji kalian sampai nyata bagi kami siapa yang berjihad diantara kalian dan shabar serta menguji hal ikhwal kalian” Surat Qital (perang). Seandainya Allah Azza wa Jalla berkehendak pastilah Allah akan memberikan kemenangan bagi RasulNya (seketika) akan tetapi kenapa tidak ??? Rabbul ‘alamin menjawab kita :”Sekiranya Allah menghendaki pastilah Allah membinasakan mereka akan tetapi agar supaya Allah menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain. Dan orang orang yang gugur di jalan Allah maka Allah tidak akan menyianyiakan amal mereka” Artinya :”Agar nampak orang yang jujur dan taat kepada perintah perintah Rabbul ‘alamin. Dari yang . .. . ??!!

15. Kenapa berperang ? ? ? Agar kita dinaungi oleh malaikat, dan agar ktia selamat dari fitnah Kubur, pekikan Sangkakala, Goncangan dahsyat hari kiamat, dan agar kita mempunyai Nur Cahaya pada hari Kiamat. Serta supaya kita memperoleh 7 hal : Ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendengar wanita menangisi putranya karena gugur dalam peperangan Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;”kenapa anda menangis ?? Para malaikat senantiasa menaungi dengan sayap sayap mereka hingga ia diangkat naik” Muttafaqun ‘alaihi

Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kita tentang Murobith;”. . . Dan ia aman dari fitnah kubur”. HR Tirmidzi, hadits hasan. Dalam riwayat Muslim;” . . . Dan aman dari dua fitnah”.

“ Mereka (para shahabat) bertanya : “ Yaa Rasulullah kenapa orang orang mukmin mendapatkan fitnah di kuburnya kecuali orang yang syahid ? Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Cukuplah kelebatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah”. HR Nasa’I, Hadits Shahih.

Ataukah anda melihat fitnah di tengah bulan ujian di fakultasmu sudah cukup untuk menghindarkanmu dari fitnah kubur ???!!!

“Tidaklah orang syahid itu merasakan sakitnya terbunuh melainkan sebagaimana seorang kalian mendapati rasa cubitan”. Hadts Hasan Shahih riwayat Tirmidizi. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril ‘alaihi sallam tentang ayat :”Dan ditiup sangkakala lalu tersungkurlah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali yang Allah kehendaki . . . “Siapakah gerangan orang orang yang Allah berkehendak untuk tidak membuat mereka tersungkur?? Jibril ‘alaihissalam menjawab ; Mereka adalah para syuhada Allah”. HR Hakim, ia berkata sanadnya Shahih. Dan disepakati oleh Dzahabi. Lantas apakah anda menjamin dapat SELAMAT dari TERKAPAR karena tiupan sangkakala, Wahai PELAJAR, PEKERJA, PEDAGANG, atau orang yang sibuk siap siap untuk NIKAH !!!??

“Barang siapa meluncurkan satu anak panah Fii Sabilillah maka ia mendapatkan Nur Cahaya di hari kiamat”. Riwayat Bazaar, hadits Hasan

“ Sesungguhnya orang yang syahid mendapatkan 7 hal disisi Rabbnya : Diampunkan dosanya diawal tetesan darahnya, ia melihat tempat tinggalnya di Jannah, dikenakan padanya hiasan Iman, dijauhkan dari adzab kubur, aman dari kegoncangan besar, disematkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, dikawinkan dengan 72 Bidadari dan dibolehkan memberi syafaat bagi 70 orang anggota keluarganya.HR Ahmad dengan sanad Shahih.

16. Agar supaya amal kita terus mengalir sepeninggal kita sebab amal orang yang ribath tidak akan ditutup. “ Setiap mayit ditutup amalnya melainkan orang yang ribath dijalan Allah, dikembangkan terus amalnya hingga hari kiamat . . .”. HR Abu daud, Tirmidzi, Hakim, dan hadits Shahih. “ . . .Dan jika ia meninggal maka akan dialirkan amalnya yang ia kerjakan dan dilimpahkan kepadanya rizqinya . . .”. HR Muslim 1913

“ Barangsiapa meninggal dalam keadaan ribath maka ia meninggal sebagai syahid, dihindarkan dari kedua fitnah kubur, dilimpahkan rizqinya dari Jannah setiap pagi dan petang dan dialirkan amalnya” HR Ibnu Majah, Hadits Shahih.

17. Agar supaya kita tidak dihisab sebab malaikat penjaga Jannah akan menayakan mereka:” Sudahkan kalian dihisab ?? Mereka menjawab : “Dengan apalagi kita mesti dihisab padahal pedang pedang kami berada diatas pundak pundak kami di jalan Allah” lalu dibukakanlah pintu Jannah bagi mereka dan mereka tinggal di sana selama 40 tahun sebelum dimasuki manusia”. HR Hakim, Ahmad dan Abu ‘awanah, hadits Shahih.

“ Jika Seluruh hamba berdiri untuk dihisab maka datanglah sebuah kaum yang meletakkan pedang pedang mereka diatas pundak mereka dalam keadaan mengucurkan darah lalu mereka berjejal di pintu Jannah. Maka dikatakan siapakah mereka itu? Dijawab :”Para Syuhada. Mereka itu hidup lagi diberi rizqi” Berkata Mundziri sanadnya jayyid sedang sebagian yang lain menganggap lemah sanadnya.

18. Agar supaya kita dapat memberikan syafaat kerabat kita dan kita dapat memberikan manfaat kepada kedua orang tua saat mereka menghajatkan bantuan kita. “. . . Dan ia dibolehkan memberi syafaaat kepada 70 orang anggota kerabatnya”. Sanadnya Shahih.

19. Agar supaya selamat dari api neraka, mencapai jannah yang paling tinggi lagi indah secepat mungkin sebelum manusia selain kita. Sebab jihad adalah JALAN TOL tercepat untuk mencapai itu. Bukankah Rabb kita berfirman :”Sesungguhnya Allah membeli dari orang orang beriman jiwa dan harta mereka dengan diganti jannah bagi mereka, mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh”??? Jadi jannah itu sebagai imbalan YUQAATILUUN –mereka berperang- mereka membunuh atau terbunuh dan bukannya Jannah itu imbalan dari “MEREKA BELAJAR SEMALAMAN untuk menjadi RANGKING PERTAMA di fakultasnya”.

“ Tidaklah hati seorang terhinggapi rasa takut di Jalan Allah melainkan Allah haramkan api Neraka atasnya” Rijal Sanadnya Tsiqah, dan Hadits Hasan. Ataukah engkau berpandangan bahwa rasa takutmu di hari hari ujian karena sulitnya soal soal dapat menjamin DIHARAMKANNYA api Neraka atasmu?

“Allah menjamin siapa yang keluar di jalanNya, tiada yang mendorongnya selain untuk berjihad di jalanKu, Iman kepadaKu, dan membenarkan Rasul-rasulKu maka AKU jamin memasukkannya ke Jannah”. HR Muslim. Dalam suatu riwayat :”. . . maka siapa melakukan hal itu Allah jamin baginya Jannah jika terbunuh atau meninggal karena tenggelam atau terbakar atau dimangsa hewan buas”. Hadits Shahih.

“ . . . Tidaklah kalian suka Allah mengampuni kalian dan memasukkan kalian ke Jannah? Berperanglah di Jalan Allah . . . siapa berperang di Jalan Allah selama memerah susu onta wajib baginya jannah. HR Tirmidzi, Hadits hasan.

“ Apakah anda masih menyangka bahwa siapa yang BELAJAR selama memerah susu onta . . . !!!??? Lantas bagaimana anda mengatakan bahwa posisi anda sekarang ini LEBIH BAIK dari pada berperang ???!!! Suatu kali Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada shahabat shahabatnya “ bangkitlah dan berperanglah”, lalu seorang laki laki meluncurkan satu anak panah maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “telah wajib orang ini (mendapatkan Jannah) “. HR Ahmad dengan sanad hasan

Ketika seorang shahabat berbaiat kepada Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas segala perkara kecuali jihad dan zakat karena dia mengkhawatirkan dirinya akan lari dari medan perang maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :”Wahai Basyir ! TANPA JIHAD DAN SEDEKAH LANTAS DENGAN APA KAMU MAU MASUK JANNAH?”. Hadits Hassan.” Sesungguhnya pintu pintu Jannah di bawah naungan pedang”. HR Muslim dan Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan DI BAWAH NAUNGAN MEJA ARSITEK atau poliklinik atau ijazah dunia apapun ! Dan telah berlalu bahwa orang syahid mendapatkan 7 perkara :”. . . ia melihat tempat tinggalnya di Jannah . . . Mahkota kemuliaan . . . dikawinkan 72 bidadari . . . “ Sanadnya Shahih. Adapun PELAJAR disini lalu ia mati dan hidup -sebagaimana yang mereka katakan- hingga ia mampu mendapatkan satu HUURUNTHIIN (bidadari tanah)!! Bahkan Mujahidin memasuki Jannah sebelum yang lain dengan pasti dan tanpa dihisab sebagaimana yang lalu

“ Tidak ada suatu jiwa meninggal yang mendapatkan pahala di sisi Allah ia masih senang untuk kembali ke dunia, sekalipun ia mempunyai kekayaan dunia seisinya kecuali orang Syahid. Ia berangan angan kembali untuk terbunuh di dunia karena melihat keutamaan mati Syahid yang ia lihat”. HR Muslim. Maka tidak ada mahasiswa, pedagang, ahli ekonomi atau petani yang berangan angan untuk kembali ke dunia sebagaimana dhahirnya hadits. Lantas Bagaimana kita berani LANCANG mengatakan bahwa sesuatu selain jihad (perang) lebih baik darinya ???!!!

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menceritakan kepada para shahabat tentang para syuhada Mu’tah ;”Dan kedua matanya mencucurkan air mata”. Dalam suatu riwayat ;” Dan tidaklah mereka lebih senang untuk berada di tengah kita”. HR Bukhari. “Ketika ummu Haritsah khawatir kalau kalau putranya tidak berada di Jannah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apakah kamu sudah lupa? Apakah hanya ada satu Jannah? Sesungguhnya ia adalah Jannah yang banyak dan anakmu benar benar berada di Firdausil a’la”. HR Muslim.

Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda “Ketika saudara saudara kalian gugur, Allah menjadikan arwah mereka di leher burung hijau mendatangi sungai sungai Jannah, memakan buah buahannya dan bertengger di pelita pelita dari emas yang tergantung di Naungan Arsy. Ketika mereka mendapati makanan, minuman dan tempat tinggal mereka yang baik mereka mengatakan:”Siapakah yang menyampaikan berita kita kepada saudara saudara kita bahwa kita hidup di Jannah dengan limpahan rizqi, agar supaya mereka tidak menjauhi Jihad dan tidak meninggalkan perang?” Maka Allah berfirman :”Aku menyampaikan kepada mereka berita kalian”. Maka Allah menurunkan firmanNya :” Dan Janganlah engkau mengira orang yang gugur di jalan Allah itu mati namun mereka hidup di sisi Rabbnya, dengan limpahan rizqi”. HR Abu Daud, hadits Shahih.

“. . . Sesungguhnya di Jannah terdapat 100 tingkatan yang Allah siapkan untuk mujahidin di JalanNya, jarak antara dua tingkatan bagaikan jarak antara langit dan bumi . . . “. HR. Bukhari. Apakah anda BERANI mengatakan:” Bahwa orang orang sepertimu dari kalangan MAHASISWA EKONOMI, POLITIK, ATAU MEDIA (KOMUNIKASI) sama kedudukannya ??? Jadi bagaimana anda bisa mengatakan bahwa I’DAD SEMU yang ada pada anda sekarang itu lebih utama dari pada PERANG, TERBUNUH DAN MATI SYAHID ???!!!

“. . . Aku menjamin bagi orang yang beriman kepadaku (Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), masuk Islam dan berjihad di Jalan Allah dengan satu rumah di tepi Jannah, satu rumah di tengah jannah dan satu rumah lagi di kamar kamar Jannah yang paling tinggi. Barang siapa yang melakukan hal itu ia tidak meninggalkan kebaikan sedikitpun tidak pula kejahatan silahkan ia meninggal dalam kondisi bagaimanapun”. HR Nasa’I, Ibnu Hibban, hadits Shahih.

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda ;” Semalam aku melihat 2 orang membawaku, ia naik ke pohon lalu memasukkanku ke sebuah tempat tinggal yang sangat indah lagi elok belum pernah aku melihat tempat tinggal seindah itu, kedua orang itu berkata kepadaku:” Adapun ini adalah tempat tinggal para Syuhada”. HR Bukhari. “ Para Syuhada berada di atas tepi sungai di pinggir Jannah di dalam kubah hijau, keluar kepada mereka rizqi dari Jannah setiap pagi dan petang”. HR Ahmad dan Hakim, Hadits Hasan.

“ Sungguh berangkat pagi pagi di Jalan Allah atau sore hari lebih baik dari Dunia dan seisinya . . . dan seandainya wanita penghuni Jannah menampakkan diri kepada penduduk bumi niscaya akan menerangi dengan cahaya antara keduanya dan memenuhinya dengan wewangian. Sungguh kain di atas kepalanya lebih baik dari pada dunia seisinya”. Muttafaqun ‘alahi

Setelah semua ini, apakah kamu masih memandang bahwa AMALMU apapun bentuknya itu LEBIH UTAMA dari pada Jihad (perang) ??? Jika engkau mengatakan YA. Ia lebih utama dari pada Jihad maka TUNJUKKAN DALILnya? Jika engkau mengatakan TIDAK maka apakah engkau melihat seorang berakal MENINGGALKAN sesuatu yang LEBIH UTAMA dengan memilih yang kurang utama??? Itu tidak lain hanyalah tipu daya Syaitan menjadikan nafilah sebagai faridhah dan menghiasi kebathilan sehingga ia menjadikan amal amalan ini sekalipun penting sederajat dengan perang dan mustahil terjadi!!!

Dan anda JANGAN LUPA bahwa di hadapan kita ada 2 persoalan, pertama : Hukum Jihad sekarang ini, kedua : Menjalankannya. Anda menjumpai Allah dengan tetap mengakui Faridhah yang telah diwajibkan atasmu namun engkau menyadari kekuranganmu dalam menerapkannya itu sungguh lebih RINGAN dari pada engkau menjumpai Allah dengan MENGINGKARI Faridhah yang telah diwajibkanNya, dibarengi tidak ada prakteknya sama sekali !!! Maka anda jangan mengumpulkan 2 KEBURUKAN yang kedua duanya PAHIT !!!

Catatan Penting :

Waspadalah dirimu dari dipermainkan oleh orang yang sedikit ilmu dengan mengatakan :” Adakalanya pada amal yang kurang utama ada kelebihan yang tidak didapati pada amal yang lebih Utama!! Bisa jadi tetap tinggal disini (dalam kondisi meninggalkan Jihad) lebih utama, hanya saja Mujahid tetap mendapatkan kebaikan kebaikan tersebut dari Allah Ta’ala”. Perhatikan ia mengawali percakapannya dengan kata kata ADAKALANYA yang sifatnya memberi kemungkinan ada. Kemudian seandainya anda cermati fadhilah fadhilah Jihad seluruhnya pastilah anda memastikan – jika anda memang obyektif – bahwa amalan kurang utama ini dalam pandangannya telah dikalahkan oleh Jihad dengan segala keutamaannya. Namun semoga Allah membinasakan hawa nafsu.

SYUBHAT: I’DAD IMANY SERTA MENYIBUKKAN DIRI DENGAN ILMU DAN MENGAJARKANNYA ITU LEBIH UTAMA ! ! !

Terhadap mereka yang beralasan dengan I’dad Imany, Tarbiyah, Pembinaan syar’I kaum muslimin supaya mereka dapat meninggalkan perang maka katakan kepada mereka :

Tidak ada satu peperanganpun yang dijalani kaum muslimin dahulu melainkan selalunya mereka lebih sedikit baik jumlah personal maupun peralatannya kecuali sekali saja yangmana mereka malah dikalahkan di sana, yaitu Perang HUNAIN!!!

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berangkat menuju Tabuk melawan Negara Adi Daya saat itu dengan membawa kekuatan sebanding dengan kekuatan musuhnya ataukah ia curahkan harta semampunya kemudian keluar berangkat seluruhnya tanpa kecuali ???

Siapakah Amerika itu ? Dan Siapakah Rusia ? Manakah yang lebih besar, mereka ataukah Allah? Manakah yang lebih tinggi, pesawat pesawat mereka ataukah Allah? Bukankah Amerika dihinakan di hadapan Vietnam dan Somalia?? Bukankah Rusia dibuat gila di depan bangsa Afghan dan Chechnya? Pada hari dimana kita menggunakan minyak sebagai senjata bukankah itu membuat mereka menyungkurkan batang hidungnya ke tanah ? Akan tetapi kita –sangat disayangkan- terlalu berlebih lebihan dalam membesar-besarkan kekuatan musuh karena kita telah terjangkiti penyakit kangker ‘kalah mental’?!

Kita “tidaklah berperang karena mengandalkan peralatan, kekuatan maupun banyaknya jumlah personal. Kita tidaklah memerangi mereka melainkan dengan din ini yang Allah telah memulyakan kita dengannya” sebagaimana diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.

Bukankah mereka (kaum muslimin) zaman Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : kita tidak mampu menghadapi kaum murtaddin? Namun demikian toh tetap beliau kirim balatentara sebab memerangi mereka adalah fardhu ‘ain yang harus disegerakan dan tidak bisa diundur-undur atau dibuat santai. Dan Abu Bakar itulah, yang telah menulis surat kepada Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu sang komandan umum pasukan “Salam sejahtera atasmu, amma ba’du; Telah datang suratmu yang menyebutkan bala pasukan yang dihimpun oleh romawi. Sesungguhnya Allah ta’ala tidaklah menolong kita bersama NabiNya lantaran lengkapnya persenjataan maupun banyaknya jumlah personal pasukan. Dahulu kami pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang kami tidak disertai melainkan dua kuda saja dan kami hanyalah saling bergantian mengendarai onta dan kami pada perang Uhud bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang tidak ada bersama kami melainkan seekor kuda saja yang dikendarai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menolong kami dalam menghadapi orang orang yang menyelisihi kami. Ketahuilah manusia yang paling taat kepada Allah, adalah yang paling benci terhadap maksiat maka taatilah Allah dan perintahkan rekan rekanmu untuk taat kepadaNya. Sunnatullah tidak akan mengenal pada seorangpun, “Bukanlah dengan angan angan kalian dan tidak pula dengan angan angan ahlul kitab (namun) siapa yang berbuat kejahatan ia akan dibalas dengannya . . .”.

Ya, akan kembali terulang desas desus orang munafiqin dan tipu daya mereka. Mereka akan mengatakan dengan nada memperolok olok, “Apakah kamu akan memberi peluang Amerika untuk menyerang kita, kalian adalah orang orang tertipu” dan akan terulang pula jawaban dari partai Allah ;”Ingatlah ketika orang orang munafiqin dan yang dihatinya terdapat penyakit mengatakan :”Mereka telah tertipu oleh agamanya”. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ya, Mereka mengatakan; orang orang itu telah tertipu oleh agamanya, mereka lontarkan ucapan itu pada perang Ahzab di saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjanjikan kepada para shahabat harta perbendaharaan Kisra dan Kaisar. Mereka memperolok dengan mengatakan Muhammad memberikan kepada kalian janji padahal salah seorang kita saja tidak mampu lagi buang hajat (dikarenakan takutnya). “Maka katakan kepada mereka :”Akan kalian lihat di hari kami akan mengatakan Allahu Akbar runtuhlah Khaibar, Sesungguhnya jika kami telah tiba di pelataran suatu kaum maka amat buruklah pagi hari orang orang yang diberikan peringatan”.

Seandainya kita memang benar benar tidak mampu dan lemah memerangi musuh serta mengusirnya maka kewajiban kita berubah kepada I’dad melakukan persiapan dalam rangka mengusir musuh dan memeranginya sebab sarana yang kewajiban tidak akan sempurna kecuali mesti dengan sarana tersebut maka SARANA TERSEBUT MENJADI WAJIB PULA. Air itu jika tidak ada maka diharuskan tayamum, maka dari itu KOBARKANLAH semangat untuk perang sebab kelemahan dari perang tidak lantas MEMBOLEHKAN untuk MENINGGALKANNYA dengan pindah kepada ketaatan ketaatan lain.”Seandainya mereka ingin berangkat pastilah mereka akan melakukan persiapan . . .”.(QS At taubah) Jadi MENINGGALKAN I’DAD TERMASUK SIFAT ORANG MUNAFIQIN dan Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda :”Perangilah orang Musyrikin dengan harta dan jiwa kalian”. HR Abu Daud dengan sanad Shahih.

Amatlah jauh dan jauuh dari terwujud, Iman thok dapat berhadapan dengan bom bom ATOM selama kalian tidak mau mengambil sebab. Ya, IMAN dapat berdiri KOKOH lagi TEGAR tidak akan lembek jika kalian mengambil sarana bantuan dengan “dan PERSIAPKANLAH untuk MENGHADAPI mereka kekuatan apa saja yang kalian mampui . . .”(Al Anfal : 60). Bahkan termasuk bagian iman kepada Allah adalah engkau melaksanakan perintahnya lalu engkau ambil sebab sebab materi setelah itu engkau tawakal kepadaNya. Jika tidak maka engkau berdusta dalam dakwaanmu.

Amat sangat mustahil sebuah TARBIYAH SAJA –SEKALIPUN MEMANG SANGAT PENTING- DAPAT MEMBEBASKAN SEJENGKAL TANAH. Maka itu, tegakkanlah daulah Islam di hati kalian lalu ambillah sebab-sebab materi yang di situ akan tegak Daulah Islam di atas bumi kalian. Ini merupakan dua syarat yang mesti tidak bisa salah satu lepas dari yang lain. Dan “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah diri mereka sendiri” (QS Ar Ro’d). Dan langkah perubahan pertama kali adalah MENINGGALKAN KEMAKSIATAN dan kemaksiatan PERTAMA kali kaum muslimin HARI INI yang mereka sangat remehkan adalah FARDHU ‘AINNYA JIHAD berperang. Tidaklah perkataan orang yang menyatakan :”TARBIYAH DULU SEBELUM JIHAD”, melainkan seperti perkataan orang yang menyatakan :”TARBIYAH DULU SEBELUM SHALAT”. Sedang jawabannya adalah satu :”Sesungguhnya SHALAT itu sendiri merupakan TARBIYAH, dan setiap perkara Diin masing masing mempunyai efeknya. Maka efek shalat tidaklah sebagaimana efek shiam, efek dzikir berbeda dengan efek zakat, demikian seterusnya. Sedangkan JIHAD termasuk JALAN TARBIYAH YANG PALING AGUNG dan TARBIYAH ITU bukanlah merupakan MARHALAH (fase) temporal yang ada titik finalnya yang di situ barulah PERANG DIMULAI. Tidak ada seorang berakalpun yang mengatakan hal ini. Sejarah membuktikan. Jadi TARBIYAH ITU SEBELUM, SEUSAI DAN DITENGAH PERANG. Ia akan terus ada sampai mati di tengah engkau mempraktekkan seluruh Fardhu-fardhu ‘ain.

Bukankah Abu Bakar As Shidiq Radhiyallahu ‘anhu mengarahkan bala tentara dari mantan kaum murtaddin selepas mereka kembali ke pangkuan Islam menuju Qadisiyah dan Yarmuk? sebab Perang akan melelehkan noda noda tersebut !!! ?? Ataukah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu kurang cerdas dan lemah pengalaman??? Apakah orang-orang itu benar benar telah ter-TASHFIYAH (pemurnian jiwa) dan ter-TARBIYAH ???!!! Benar, Abu Bakar melarang orang yang dikhawatirkan akan berkhianat namun kemudian mereka diijinkan oleh Umar Radhiyallahu ‘anhu pada masa kekhilafahannya.

Janganlah kalian mengatakan bahwa Masyarakat umum di atas hidayah (petunjuk) sebab para Fuqaha meNashkan berperang bersama setiap orang yang baik dan yang jahat. Jihad itu tetap berlangsung hingga hari Kiamat. Dan THOIFAH MANSHURAH (kelompok yang ditolong Allah) benar benar ada maka carilah mereka.

Janganlah kalian mengatakan KAMI MENGIKUTI petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dimana Beliau tinggal di Makkah selama 13 tahun melakukan TARBIYAH DAN PEMBINAAN kemudian barulah memulai perang. JANGANLAH KALIAN MENGATAKAN HAL ITU karena kami telah bosan dengannya. Apakah orang yang masih berakal akan mengatakan :”Oh tidak mengapa hari ini orang meninggalkan shiyam, haji, hijab wanita dan semua faridhah/kewajiban-kewajiban era Madinah sebab semua itu belum diwajibkan di Makkah sebagaimana perang juga belum diwajibkan di Mekah!! ataukah yang benar dikatakan bahwa kita diperintah berubudiyah dengan syareat yang ditinggal wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan bukannya dengan apa yang diawali oleh beliau. Misalkanlah kita ambil sikap mengalah; namun bukankah telah berlalu pada kalian masa 13 tahun yang kalian gemborkan slogan TARBIYAH DAN TASHFIYYAH ataukah kalian sudah rubah gelombang kalian kepada ketegangan “40 tahun berputar-putar kebingungan di muka bumi”?! bahkan jadilah kita semenjak jatuhnya Andalusia, terus saja men-TARBIYAH, men-TASHFIYAH dan terus saja mengikuti kebosanan! Lantas kapan lagi kita akan berperang??! Allahu a’lam

Betapa kenyangnya mereka dari hadits yang mereka riwayatkan, yang tidak shahih sama sekali baik sanad maupun maknanya :”Kami kembali dari Jihad kecil menuju Jihad besar”, yang mereka maksudkan jihad melawan hawa nafsu atau dzikir dan semisalnya. Cukuplah sebagai kebathilannya bahwa Pengucapnya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mereka nisbahkah hadits tersebut kepada Beliau sama sekali tidak pernah duduk berpangku tangan dari perang, bahkan terjun langsung berperang selama menetapnya di Madinah dengan rata rata tiga kali perang setiap tahun, belum lagi sariyah sariyah. Demikianlah murid muridnya yang mulia seperti itu pula, mereka ter-Tarbiyah di atas Jihad berkelanjutan. Seandainya benar apa yang mereka ucapkan maka orang yang berakal akan memulai memikul beban ringan dahulu baru kemudian menginjak yang lebih besar lalu lebih besar lagi sehingga ia naik dari bawah ke atas. Jadi, mulailah kalian dengan jihad kecil –menurut pandangan kalian- baru kemudian yang lebih besar. Akan tetapi kita katakan bahwa Jihad pedang dan jihad Nafsu tidaklah saling menTarbiyah satu sama lain karena masing masing dari Islam dan tidak boleh yang ini ditinggalkan lantaran beralasan sibuk dengan yang itu, sebagaimana mempelajari ilmu ilmu yang fardhu ‘ain tidak boleh ditinggalkan karena alasan sedang melakukan Tarbiyatun Nafs.

Sekiranya kita ingin mengajari manusia tentang semua perkara-perkara agama yang kecil dan yang besar niscaya pikiran kita tak akan pernah diam dan tidak akan seorang kita dapat tidur sepenuh kedua matanya ataupun bersantai-santai dengan obrolan sore atau majlis di pagi hari saling mengkaji sesuatu yang hukumnya tak lebih dari mandub misalnya. Kemudian, mengajar itu tugas sekelompok yang berangkat dari setiap golongan untuk tafaquh fiddiin, Sekiranya taklim-mu itu fardhu ‘ain niscaya anda tidak boleh membuang buang waktu panjang hanya sekedar untuk mengetahui bagaiman tatacara mengalihkan selendang dalam shalat istisqa’, misalnya. Karena semisal ini masuk perkara nomor 2 di depan persoalan persoalan penting lagi besar. Apakah Rabb kita berfirman : “Mengapakah tidak berangkat seluruh kaum muslimin untuk Tafaquh Fiddiin” Ataukah Dia berfirman:”Mengapa tidak berangkat dari setiap kelompok, segolongan saja. . . “ Jadi pada asalnya MANUSIA SELURUHNYA BERANGKAT PERANG DAN TETAPLAH TINGGAL SEKELOMPOK SAJA. Seluruh kaum muslimin keluar untuk satu TUGAS POKOK yaitu JIHAD – padahal jihad waktu itu adalah Fardhu kifayah- akan tetapi tetaplah ada yang tinggal sekelompok bertafaquh Fiddiin. Adapun hari ini semua timbangan telah TERBALIK. Dan jadilah alasan terpenting orang orang yang suka MENGGEMBOSI “ Kami sedang MENUNTUT ILMU UNTUK DISEBARKAN” entah ilmu duniawi ataupun akherat. Bandingkan ini dengan hadits ;”Akan senantiasa terus ada sekelompok dari ummat ku . . . yang berperang hingga yang paling akhir memerangi Dajjal. . . “. YAITU KELOMPOK SEDIKIT ITULAH YANG BERJIHAD. Maka jadilah kamu dari kelompok ini.

Tidakkah ilmu dhorury (yang penting) pada kaum salaf melainkan beberapa kalimat sedang di era kita jadilah ilmu sampai berjilid-jilid yang orang faqih saja hingga dibuatnya bingung. Dan Allah ta’ala tidaklah mewajibkan atas kita untuk menguasai seluruh kitab berjilid-jilid ini secara fardhu ‘ain (atas setiap individu). Akan tetapi ulama’-ulama’ kita –semoga Allah membalas kebaikan kepada mereka- telah membuat kaidah-kaidah dan meletakkan dasar-dasar agar supaya kita dapat penerangan dan tidak sesat. Maka termasuk kedunguan, manakala kita tersibukkan dengan tiang-tiang penerangan dan cahaya daripada berlalu di jalan, yaitu jalan Islam yang puncaknya adalah jihad perang. Berapa kali terjadi hal menyedihkan dimana masing-masing kita yang dipandang sebagai seorang ‘alim , dambaan umat ini namun -sangat disayangkan- ia sebagai faktor kepedihan lantaran tindakannya menggembosi mujahidin yang keluar berjihad di jalan Allah.

Berapa kali terjadi hal yang menyedihkan, salah seorang mereka yang tersohor dan mempunyai banyak kajian dalam sepekan, jika engkau bertanya kepadanya: apa hukum jihad pada hari ini? Ia akan mengerutkan muka! Seakan engkau menanyakan kepadanya tentang persoalan pelik yang dipertentangkan banyak dalil-dalil dan pendapat-pendapat para ulama’. Jikalau ia memang benar-benar tidak tahu hukumnya, maka silahkan bahas! Dan jikalau ia benar-benar takut untuk menyampaikan fatwa maka semoga Allah merahmati ulama’-ulama’ kita dahulu yang berani menerangkan al haq yang tidak takut karena Allah celaan orang yang mencela!

Kemudian manakah antara keduanya yang lebih urgen dalam pandanganmu? Ilmumu, tulisan-tulisanmu, kitab-kitabmu, makalah-makalahmu, khutbah-khutbahmu dan ceramah-ceramahmu …ataukah wahyu?! Inilah dia orang yang diturunkan wahyu kepadannya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendambakan untuk terbunuh berkali-kali! Dan sendainya beliau terbunuh niscaya akan lenyaplah wahyu, jadi mana antara keduanya yang lebih membahayakan lenyapnya?! “Sungguh aku mendambakan dapat berperang di jalan Allah lalu terbunuh kemudian berperang lalu terbunuh kemudian berperang lalu terbunuh….”muttafaq ‘alaih. Okelah misalkan saja anda meninggal sekarang, apakah kaum muslimin lantas merasa kerugian sebagaimana ruginya kaum muslimin lantaran terbunuhnya orang yang mendapatkan wahyu?!

Janganlah engkau tergelincirkan oleh syaithan lalu engkau mengatakan: Apakah kita mendorong manusia untuk jihad? Sedang mereka tidak tahu bagaimana mereka sholat? Bukankah Rasulmu Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah teladanmu? Ayo jawablah aku: “ketika seorang laki-laki mendatangi beliau untuk masuk Islam. Apakah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan padanya: “Pergilah ke Madinah dan belajarlah ilmu yang bermanfaat…pelajarilah urusan-urusan agamamu…belajarlah syarat-syarat dan rukun-rukun sholat..? Tidak! Akan tetapi mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian berperang. Bahkan orang itu sendiri yang bertanya-tanya: “sekalipun saya belum melakukan sholat untuk Allah satu kalipun?!! Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya”. Maka tatkala orang itu gugur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ia beramal sedikit namun diganjari yang banyak” Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan hadits tersebut Hasan. Adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beritahukan kepadaku tentang seseorang yang masuk jannah padahal belum sholat sekalipun?! Kemudian ia berkata: “Dia adalah Amru bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad shahih menurut Ibnu Ishaq. Maka apakah orang ini dan semisalnya telah ter-TARBIYAH dan ter-TASHFIYYAH dalam artian yang kalian anggap itu ataukah ‘Hukum-hukum telah berubah dengan perubahan zaman’?

Hal ini jelas disebutkan dalam kitab-kitab fiqih; bahwa orang-orang kuffar jika menyerbu suatu wilayah kota yang terdapat di sana orang-orang yang masih jahil tak berilmu, mereka tidak tahu (tata cara) sholat, manakah yang lebih penting dahulu, berjihad memerangi kuffar ataukah ta’lim mengajari orang-orang itu? Dan selama di sana bumi-bumi Islam diduduki oleh Kuffar maka jihad adalah fardhu ‘ain atas setiap orang yang mampu. Dan jika tidak mampu maka mesti I’dad (training) militer. Apakah anda mendengar tentang seseorang yang dikatakan padanya: “Kemarilah! Jannah berada antara kamu dengan tengkuk lehermu kemudian anda akan rehat bersenang-senang”. Lalu orang itu mengatakan: “Tidak mau! Saya ingin jalan ‘belajar ilmu syar’I yang panjang lagi terjal! Kemudian seusai ini, ia tidak tahu apakah ilmunya diterima ataukah ia dicampakkan bersama-sama ilmunya di neraka lantaran riya’nya misalkan….Apakah orang ini jujur? Jawablah kalian! Lantas apa artinya kita meninggalkan jalan yang dekat dengan memilih jalan yang panjang melainkan karena riya’ dan dusta semata?!

Semoga Allah merahmati Umair ibnu Hammam Radhiyallahu ‘anhu di hari ia mencampakkan kormanya seraya berkata: “sesungguhnya itu merupakan kehidupan yang panjang!….”Riwayat Muslim. Ataukah anda lebih bijak darinya dan lebih bersemangat terhadap dinullah serta lebih tahu maslahat ummat?! Ataukah tetapnya hidupmu itu lebih bermanfaat bagi ummat daripada hidupnya dia?!!!

Bagaimanapun jua yang mereka katakan: “Duduklah kamu, belilah kitab-kitab dan senanglah berada di pustaka ilmu”, maka katakan kepada mereka: “Akan tetapi Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan diberikan jannah kepada mereka”

SYUBHAT: TIDAK BERANGKATNYA ULAMA SEDANG KAMU DI MEDAN SENDIRIAN!

Katakan kepada mereka: “Cukuplah bagi kita bahwa Allah ta’ala berfirman kepada makhluq pilihanNya: “Maka berperanglah kamu di jalan Allah. Tidaklah engkau dibebani melainkan kepada dirimu sendiri” Demikian inilah para Ghuroba’ (orang-orang terasing). Berkata imam Qurthuby dalam menjelaskan ayat ini: “Sebagai perintah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpaling dari orang-orang munafiq dan bersungguh-sungguh dalam berperang di jalan Alah jikalau tidak ada satupun orang yang menolongnya untuk itu”

Okelah misalkan salah seorang yang engkau sebut mereka sebagai ulama’ tidak berangkat ….dan tidaklah mungkin hal itu! Lantas apakah engkau akan meninggalkan sholat dan puasa jika mereka meninggalkannya?! Bukankah tidak mendatangi jama’ah sholat Shubuh termasuk tanda-tanda kemunafikan? Lihatlah pada hari ini berapa banyak di antara mereka –di negeri kita sendiri-mempunyai sifat tersebut! Ataukah engkau juga akan meninggalkan jam’ah sholat Shubuh lantaran mereka meninggalkannya?

Mereka-mereka yang terpengaruh dengan sikap berpangku tangannya sebagian ulama besar dan menyangka bahwa ulama’-ulama’ besar yang tersohor tersebut tidaklah duduk berpangku tangan melainkan karena mereka tahu kemaslahatan. Seandainya mereka mencermati perkara yang sebenarnya pastilah mereka akan dapati ulama’ tersebut sama sekali berbeda dengan yang disangka. Mereka itu, kami katakan kepada mereka: “ Tidaklah menjadi kemestian sikap berpangku tangannya ulama terrsohor itu dari jihad akibat pengetahuannya terhadap kemaslahatan. Ketika merenungi Kitabullah ta’ala, kita dapati bahwa diantara orang-orang pilihan (para sahabat) –semoga Allah meridhoi mereka dan menjadikan mereka ridho- ada saja yang mendapat teguran Allah karena lambannya dari berjihad. Maka jika dari kalangan orang-orang pilihan, baik-baik lagi suci itu saja ada yang terjangkiti penyakit ini, yaitu penyakit lamban dari memenuhi seruan jihad, lantas bagaimana kita menyangka orang-orang pilihan kita hari ini bahwa mereka berpangku tangan dari jihad adalah lantaran maslahat? Allah ta’ala dalam surat Al Anfal berfirman yang ditujukan kepada NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peserta perang Badar dimana mereka itu manusia-manusia pilihan Radhiyallahu ‘anhum: “Sebagaimana Robbmu mengeluarkanmu dari rumahmu dengan benar. Dan sungguh sekelompok orang-orang beriman benar-benar tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang al Haq setelah sebelumnya jelas seakan-akan mereka digiring menuju kematian sedang mereka melihatnya” Sifat ini datang kepada manusia pilihan –Radhiyallahu ‘anhum- yakni pasukan Badar. Maka bukan hal yang tidak mungkin penyakit tersebut menimpa kita. Inilah Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu –haditsnya terdapat pada Bukhari Muslim- mengatakan pada perang Tabuk : “Aku tidak turut berangkat padahal belum pernah kondisi saya semudah daripada hari itu. Tidaklah saya mempunyai dua kendaraan tunggangan melainkan pada perang itu saja. Saya katakan: “Hari ini akau akan siap-siap lalu berlalulah hari itu sedang aku belumlah mempersiapkan apapun”. Jadi manusia itu ya manusia yang ditarik-tarik oleh rasa berat ke bumi. Orang tadi siapakah dia?!! Dia adalah dari golongan pertama masuk Islam! Bahkan salah satu yang turut menyatakan bai’at Aqobah Kubro pernuh berkah yang darinyalah Daulah Islam di Madinah Munawwaroh beranjak. Ia tertinggal tanpa ada udzur.

Diantara yang disebutkan pada haditsnya yang panjang bahwa mereka berjumlah tiga orang sebagaimana dalam Kitabullah “ Dan atas tiga orang yang tidak berangkat”. Riwayat-riwayat dalam siroh menyebutkan bahwa pasukan yang keluar ke Tabuk berjumlah 30.000 personil. Berapa sih bilangan tiga dari 30.000? sebuah angka yang tidak akan disebut hari ini. Seandainya kita bertanya kepada orang militer siapapun atau komandan pasukan. Kita katakan kepadanya: “Jika ada tiga pesonilmu dari 30.000 tidak turut berangkat?” sebuah angka yang tidak akan dihitung. Akan tetapi karena besarnya dosa, Allah Azza wa Jalla turunkan dari atas tujuh langit Al Qur’an yang akan dibaca hingga hari Kiamat berkenaan hisab mereka. Yang menguatkan pernyataan kami adalah bahwa jihad pada hari ini wajib secara fardhu ‘ain atas umat dan bisa jadi gugur karena kelemahan. Ketika seorang membaca Al Qur’an, ia akan terheran-heran terjadap sikap berpangku tangannya kebanyakan manusia. Apakah mereka tidak membaca Al Qur’an ataukah mereka membaca namun tidak mentadabburinya?!

Jika telah nyata bagimu akan wajibnya perang maka tidak ada jalan menghindarinya! Kembalilah ke alinea “Kenapa berperang?”, niscaya kamu dapati bahwa para ulama’ itu sedikit dan yang mau beramal nyata diantara mereka lebih sedikit dan yang berjihad lebih sedikit lagi serta yang bersabar lebih sedikit lagi. Jadi mujahidin itu sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit.

Seakan-akan kita lupa wasiat Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah kalian menjadi orang-orang yang suka mengekor…” Hadits Hasan Gharib sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi. Dan kita lupa prinsip, “Kenalilah kebenaran engkau akan mengenal orang-orangnya”. Maka jam’aah itu bersama kebenaran sekalipun engkau sendiri. Hukum syar’ie telah jelas. Jauh dan jauh berbeda antara kita dengan para saaahabat. Engkau lihat seorang mereka segera saja memecahkan pelindung pedangnya dan tidak lagi memakai kata-kata ‘semoga, barangkali’ dan berikutnya !dari kata-kata yang melemahkan dari jihad. Engkau lihat mereka langsung berlomba-lomba menuju pertempuran.

Apakah Allah memasang kita sebagai hakim manusia. Barangkali belum terwujud pada mereka manaath (standar terkena hukum) yang berupa kelonggaran atau…atau…. Apakah anda dapat memastikan bahwa ulama’ tersebut mendapatkan kemudahan jalan keluar namun mereka tidak mau keluar? Sesungguhnya jumhur (mayoritas) ulama berpendapat jika saling bertentangan fatwa sahabat dengan riwayatnya maka lebih didahulukan riwayatnya daripada fatwaanya berbeda dengan kalangan Hanafy. Lantas bagaimana jika saling bertentangan fatwa seorang ‘alim dengan perbuatannya? Kemudian apakah kamu telah meminta fatwa kepada mereka lalu engkau lihat mereka berpendapat tidak wajibnya jihad ataukah engkau lihat perbuatan mereka. Yang barangkali saja seorang mereka dilarang dari memiliki pasport atau barangkali dia dari kalangan yang “Tidaklah berdosa atas orang buta, pincang, orang sakit….”

Apakah terputusnya Abu Hamid Al Ghozali dari peperangan salib (karena menyendiri beribadah di Baitul Maqdis, pent) merupakan sifat baik dalam kehidupannya ataukah yang ada adalah sebuah tanda tanya??!!

Ketika sebagian orang mengingkari orang yang terjun menyerang ke tengah barisan pasukan sendirian dan berhujjah dengan ayat; “Dan janganlah kalian campakkan diri kalian kepada kebinasaan” maka bangkitlah Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu. Ia luruskan pemahaman mereka dan ia bimbing mereka bahwa maksud kebinasaan tersebut adalah tidak mau berinfaq di jalan Allah dan bukannya dalam berjihad. Ia bantah mereka: “Maka berperanglah di jalan Allah. Tidaklah dibebankan melainkan kewajiban dirimu sendiri”.

Apakah bangsa Tartar mau hengkang kalaulah bukan lantaran (ba’dallah) para ulama yang mengobarkan semangat jihad. Demikian pula pasukan salib dan ‘Ubaiidiyyun (perintis dinasti fathimiyyah yang difatwakan kafir oleh para ulama’ Mesir)

Bukankah keluar berjihad para Fuqoha sahabat dan tabi’in? Semoga Allah meramati Sa’id bin Musayyib, Asad bin Furat, Ibnul Mubarok, Bukhari. Mereka adalah para ulama sekaligus mujahidin di saat jihad hukumnya fardhu kifayah. Semoga Allah merahmati Umar Mukhtar, Qossam dan…..Jadi ilmu itu dengan dipraktekkan bukan hanya sekedar dihapal. Kalaulah tidak niscaya iblis itu ulama’ besar.

Dusta kalian! Tidak, sekali-kali ucapan itu tidak akan dilontarkan oleh seorang ulama’! Seorang ‘alim tidak akan dapat menggugurkan faridhah jihad yang akan langgeng hingga hari Kiamat berdasarkan nash hadits. Adapun orang yang mencampakkan senjata dengan alasan politik itu mengeraskan hati, maka ingatkan orang itu bahwa kebanyakan sahabat telah berpendapat supaya pasukan Usamah bin Zaid (yang dikirim Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafatnya, pent) agar dibubarkan dulu saja dan supaya terkonsentrasi pada persoalan kaum murtaddin. Dan ternyata tidak ada yang teguh selain Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan dialah yang benar sendirian. Kemudian seluruh sahabat beralih kepada pendapatnya yang benar itu. Janganlah kalian mengatakan: “Kami tidak ada kemampuan”! sebab kewajiban kalian saat lemah adalah I’dad. Lantas kenapa kalian terus saja melancarkan perang mulut saja. Sedang orang baik di kalangan kita sekedar menulis tentang ‘fadhilah-fadhilah jihad’ atau maenulis sebuah makalah atau menyampaikan sebuah ceramah.

Seakan-akan lantaran banyaknya talbis (pengkaburan) syetan-syetan manusia dan jin sehingga manusia pada zuhud terhadap jihad berperang. Namun demikian “Senantiasa akan terus ada sekelompok dari umatku yang menang….MEREKA BERPERANG…” maka jadilah anda dari kelompok tersebut. Dan jika anda tidak menjadi bagian mereka maka janganlah anda menggembosi mereka sehingga anda akan menghimpun dua keburukan!. Dan jangan lupa bahwa dosa itu ketika tidak ada udzur. Sedang kita menghukumi dhohirnya dan Allah yang akan mengurusi batin. Yang jelas, bagaimanapun juga sebuah masyarakat itu tidak akan pernah kosong dari adanya ulama su’ (jahat).

Jika Mereka Mengatakan : Bayangkan Jika Semua Keluar Berperang, Siapakah Yang Akan Tinggal di Sini. Hal ini Tidak lain Kecuali Tindakan Ngawur! Maka Katakan Pada Mereka :

Jalan para Nabi tidak ada yang istilah ngawur!! Apakah para sahabat itu disebut orang-orang yang bertindak ngawur dan gegabah?! Seandainya anda keluar, saya keluar, Fulan keluar,….seterusnya niscaya akan tercapai kecukupan dan kita kan menang. Akan tetapi kita bertingkah seperti orang-orang munafiq yang suka menyampaikan alasan-alasan; “Dan datang orang-orang badui yang minta uzur supaya diizinkan untuk tidak berangkat”

Syubhatmu tidak lain seperti syubhat orang yang menentang hukuman had pencurian. “Bayangkan kalau hukuman had diterapkan pasti kamu akan melihat manusia berjalan tanpa tangan semua”!? Jika hukuman had diterapkan maka apakah masih akan ada pencuri satupun? Demikianlah seandainya keluar orang-orang sampai batas-batas kecukupan dan menutupi kebutuhan niscaya kita tak butuh lagi manusia lainya. Dan jangan sampai lupa bahwa kebinasaan itu pada sikap tidak mau berinfaq untuk jihad dan bukannya pada tindakan berjihad.

Jika adzan Maghrib dikumandangkan lalu kita bersegera menuju sholat apakah kita lantas sebagai orang-orang yang tergesa-gesa atau bertindak ngawur?! Lha bagaimana sedangkan Kitab, Sunnah dan nash-nash ulama’ menyeru semenjak jatuhnya Andalusia: “Hayyya ‘Alal Jihaad”? akan tetapi di manakah gerangan ‘Pahlawan Thoriq’ yang menyambut seruan?!

Demikianlah sikap para ulama jahat mencampakkan dalil-dalil, menghapusnya dengan satu atau dua kalimat dari alasan-alasan buruk, tuli lagi bisu. Sehingga membuka kelonggaran bagi orang-orang yang gampang memperolok-olok hukum-hukum syari’at, yakni kelonggaran bagi mereka untuk menggambarkan mujahidin sebagai sekelompok anak jalanan yang dikatakan pada mereka : “Ayoo anak-anak muda!! …lalu semua langsung menyambut dengan segera: “Okk, kita jalan!” seperti team sepak bola anak-anak. Padahal gambaran ini sama persis dengan bunyi hadits “..setiap kali mendengar suara menakutkan atau hiruk pikuk ia langsung terbang ke sana….” HR Muslim . lantas pernahkah kalian terbang –sekalipun hanya sekali- ke satu pertempuran diantara pertempuran-pertempuran yang ada.

Jika mereka mengatakan: Akan tetapi jihad dengan harta pada hari ini lebih penting daripada jihad dengan jiwa, maka cukuplah kita berjihad dengan harta kita saja ! Maka katakan pada mereka :

Bahkan jihad dengan jiwa lah yang lebih penting dengan dalil “ Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan digantikan jannah bagi mereka” Allah memulai dulu dengan jiwa dalam pembelian ini dimana ayat-ayat lain dimulai dengan harta sebelum jiwa. Sebab harta mendahului jihad dengan jiwa sekedar temporal sesaat. Maka anda tidak akan dapat sampai ke bumi jihad tanpa harta (pesawat, kendaraan, onta….)dan tidak ragu bahwa sebaik-baik jihad adalah orang yang berangkat jihad dengan harta dan jiwanya lalu tidak ada yang kembali pulang sebagimana dalam sebuah hadits.

Realita berbicara; bahwasanya kita tetap butuh personal lelaki. Seandainya jihad fardhu kifayah niscaya anda bolehlah mencukupkan dengan harta. Adapun ketika jihad fardhu ‘ain maka, “Berangkatlah kalian berperang dengan rasa ringan maupun berat” dan “Jika kalian tidak mau juga berangkat berperang pastilah Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan pedih”. Ketika jihad telah fardhu ‘ain maka boleh didahulukan daripada sholat menurut tiga madzhab kecuali kalangan Hanbali. Jadi menyerahkan harta tidak mencukupi dari menjalankan kewajiban jihad dengan jiwa sebagaimana membayar sejumlah harta supaya mewakilkan puasanya itu tidak dapat melepaskannya dari tanggungan puasa sendiri ataupun untuk menggantikan sholat fulan. Sebab jihad jika telah fardhu ‘ain maka sudah tidak ada lagi perbedaan sama sekali dengan faridhoh-faridhoh lainya seperti sholat dan shiyam…serta lainnya.

Kendati mereka berkutat dengan segala ‘macam jihad’ selain jihad perang. Namun apakah anda melihat mereka bersedekah dengan seluruh hartanya atau setengahnya. Ataukah mereka mengharap-harapkan pahala yang lebih banyak kepada Allah dengan 1/10 dari gaji mereka (yang diinfaqkan). Namun untuk 9/10 mereka simpan dan belanjakan kepada keluarganya serta untuk bagian begadang mereka tak terlupakan kemudian mereka mengatakan: “Kami wahai manusia adalah juga mujahidin..mujahidin..mujahidin!!!.

Jika mereka mengatakan kepadamu: “Akan tetapi kami telah banyak memberi manfaat dengan kerja kami disini . Orang ini mendapat hidayah, yang ini telah beriltizam, sedang itu memanjangkan jenggotnya, adapun perempuan telah berhijab. Kebaikan datang dan kaum muslimin senantiasa masih baik dan masih banyak kebaikan di tengah mereka!!!?? Lantas APA FAEDAH YANG KALIAN AMBIL dari PERANG SEKARANG INI??? Kalian ini, apakah yang telah kalian ambil faedahnya?? Melainkan hanya BENCANA DEMI BENCANA dan KETERPURUKAN BEBERAPA TAHUN KE BELAKANG?? Mana HASIL HASIL PERANG?

Katakan kepada mereka CUKUPLAH BAGI KAMI bahwa kami mengambil faedah dari PERANG adalah RIDHO ALLAH kepada kami. Cukuplah bagi kami bahwa kami MENTAATI RABB KAMI dalam hal yang telah DITITAHKAN kepada kami!!! Demikianlah kaum munafiqin dahulu mengatakan. Mereka mengatakan setelah perang Raji’ : “ Duhai celakalah mereka (para Shahabat yang terbantai di Raji’) terfitnah yang binasa begitu saja!! Tidaklah mereka tinggal di tengah keluarganya tidak pula mereka dapat menunaikan misi teman mereka (Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).

Mereka akan mengatakan: “Tidaklah meraka (mujahidin) selamat tidak pula mereka dapat MELENYAPKAN KEKUFURAN yang mereka perangi dan tidak pula mereka DAPAT MENEGAKKAN DAULAH ISLAM. . . !!! “ Dan diantara manusia ada saja yang perkataannya membuat kamu terkagum kagum . … “ (QS Al Baqoroh)

Cukuplah bahwa Mujahidin dimana saja mereka berada senantiasa menumbuhkan pada ummat perasaan IZZAH setelah sebelumnya TERTIMPA KALAH MENTAL !!! Bagaimana tidak ? ? Sedangkan Beruang Rusia TIDAK MAMPU MENGALAHKAN BANGSA AFGHAN padahal prosentase kemiskinan mencapai 90 %. Adakah sebuah PARLEMEN –apapun parlemen itu- dengan kekuatannya dapat MENGUSIR RUSIA dari negeri negeri kaum muslimin???

Apakah boleh diUCAPKAN : “ Apasih FAEDAH yang diambil ALI Radhiyallahu ‘anhu dalam MEMERANGI Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu ? Bolehkah diucapkan: Apa faedah yang mereka ambil dari UHUD dan dari BILAATHUSSYUHADA ??? Bolehkah diucapkan: “Apa faedah yang kita ambil dari perintahMu Yaaa Rabbanaa??”

Berapa banyak orang bodoh, yang mengatakan seperti burung BEO ; “ Tidaklah Jihad Afghan usai hingga Mujahidin saling berperang sendiri antar mereka”. Berapa banyak mereka orang bodoh itu !!! Jika engkau mau, katakan saja sekalian: mereka adalah para AGEN yang BUSUK!! Seandainya engkau mengeluarkan zakat hartamu kepada Fulan lalu orang itu MURTAD dan memerangi Islam dengan harta tersebut. Apakah lantas kamu total TIDAK MAU BERZAKAT ? Ataukah yang kamu CELA orang orang yang menyelewengkan???

Yang terjadi itu tidak lain hanyalah bagian dari sunnah kauniyah Allah Ta’ala sebab ketika tangan mereka satu Allah kalahkan lewat tangan mereka pasukan Rusia. Maka ketika mereka telah berselisih maka lemah dan hilanglah kekuatan mereka. Jadi dengan bersatu kita akan MENANG dan dengan perpecahan kita akan DIKALAHKAN. Mustahil namanya JIHAD dapat mengakibatkan perselisihan kaum muslimin!!! Orang yang Obyektif lagi adil akan mencela perselisihan mereka sekarang ini dan ia tidak akan mencela JIHAD yang berjalan selama 13 TAHUN.

Kemudian bukankah telah murtad salah seorang penulis wahyu; ABDULLAH BIN ABI SARRAH? Apakah lantas Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dicela lantaran Beliau menjadikan orang tersebut sebagai penulis wahyu sebelumnya!!?? Kemudian wahai kalian dan kalian !! Apa yang telah kalian persembahkan untuk DIIN ini ?? Tidakkah yang dipersembahkan oleh mereka yang tetap tinggal di Makkah setelah hijrahnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selain malah menyakiti diri mereka sendiri dan ; “ Jihad Utama adalah kalimat Haq dihadapan penguasa LALIM”. HR Ahmad, Hadits Shahih.

Berapa banyak mereka, orang orang PERMUKAAN itu yang mencukupkan diri dengan adanya pemuda yang bisa menjauhi wanita atau yang lain telah memelihara jenggot atau seorang pemudi yang telah berhijab atau permainan islami yang mengganti permainan yang tidak islami atau CD Permainan anak anak islami sebagai ganti yang tidak islami atau dengan adanya majalah dinding di Masjid atau Ma’had Tahfidul Qur’an sebagai ganti kafe kafe malam yang tersebar atau media rusak yang menyebarkan kebobrokan yang merata di seluruh negeri .

Berapa banyak mereka orang-orang PERMUKAAN yang sibuk melakukan ISHLAH (perbaikan) parsial namun LALAI dari yang LEBIH besar dan lebih penting !!!?? Bahkan betapa ‘dalamnya ‘PERMUKAAN orang yang bahagia lantaran dapat memberi makan seorang yang tidak makan selama 2 pekan padahal disampingnya ada orang tenggelam yang teriak minta-minta tolong kepada manusia :”Selamatkan aku , selamatkan aku”. Duhai betapa bagusnya Keberhasilan karya yang diciptakannya. Betapa DALAMNYA permukaan orang yang gembira lantaran sekedar dapat membangun sebuah masjid atau dapat menyampaikan sebuah ceramah di radio atau diperkenankan baginya menulis suatu makalah di pojok Koran pemerintah?! Namun tidak pernah terpikir olehnya persoalan-persoalan besar.

Janganlah kau putus ekor ular lalu engkau lepaskan, jika engkau seorang pemberani maka ikutkan kepala setelah ekornya

Adapun orang yang tidak mampu memotong kepala maka ia berkewajiban melakukan I’dad persiapan untuk dapat memotong kepala bukan malah ter-SIBUK-kan dengan memotong ekor. Lantas bagaiman halnya dengan orang yang MALAH sibuk melakukan I’DAD UNTUK SEKEDAR MEMOTONG EKOR !!! Kemudian setelah semua I’dad ini ia merasa cukup dengan ekornya saja, “ Dan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik baiknya”(QS Al Kahfi).

Katakan kepadaku, lantas bagaimana halnya dengan orang yang tidak pernah berpikir sekalipun dalam hal I’dad untuk memotong ekor, sedangkan orientasinya hanya I’dad untuk ZUWAJ (nikah) dengan HUURUN THIIN (bidadari tanah) daripada HURUN’IN (bidadari Jannah) – kalo misalkan ungkapan ini boleh-!!

Apakah buku buku agama yang menyerbu pasaran itu bertambah atau berkurang ? Apakah orang orang yang disebut sebagai para Da’I semakin bertambah atau berkurang ? Apakah ceramah ceramah, khotbah khotbah, seminar seminar dengan kaset kasetnya itu bertambah ataukah berkurang ?? Sebaliknya, kerusakan dan perusakan apakah semakin bertambah ataukah berkurang? Lebih detailnya, Manakah yang lebih besar prosentasenya : semakin mendekatnya manusia kepada Diin ataukah semakin menjauh ?? Lantas apalah artinya kalau begitu, berada diatas satu manhaj yang mana realita menyeru! “Wahai Manhaj, Sesungguhnya engkau tidak akan menyampaikan kepada target sasaran??” Sedangkan kitabullah menyerunya ;” Berangkatlah kalian untuk berperang baik merasa ringan maupun berat . . . “ Jadi apakah obat kalian itu MUJARAB menyembuhkan ataukah malah MEMBIUS orang???

Berapa banyak sudah orang orang yang kami tidak dapat lagi mengendalikan sepak terjang mereka kendati mereka telah aktif di Masjid semenjak kecilnya. Kami kehilangan kendali mereka lantaran dahsyatnya kekuatan kebobrokan dan kurangnya atau lemahnya daya kebaikan, yakni sikap kurangnya dalam mengambil puncak tertinggi perkara Diin ini.!!! Benaar ! kami telah kehilangan kendali mereka sedang contohnya banyak sekali maka tanyakanlah orang yang berpengalaman :

Jika telah berada diatas yang haram maka tidak ada lagi artinya panjangnya shalat malam

Dan bukan hal yang tersembunyi bahwa pemerintah yang paling toleran saja telah meletakkan garis merah. Mereka (pemerintah) ijinkan rakyat jelata untuk bergerak sesukanya sebelum mencapai batas garis merah tersebut sampai jika mereka telah mendekatinya mereka akan menelan pukulan pemerintah sebelum mereka sampai. Subhanallah ! Memang beberapa kaum (harokah yang tidak berjihad,pent) belum mau mengambil Ibrah dari sejarah sehingga engkau lihat mereka bersikeras ingin mengulang kembali putaran Zaman hingga mereka menelan pukulan yang bisa jadi sebagai babak akhir kebinasaan !!

Tinggal satu pertanyaan yang terlontar ;” Apakah tindakan bijaksana, kita berusaha mencurahkan sekuat tenaga untuk sekedar mencapai ke Garis Merah saja ATAUKAH MEMBEDOL TOTAL garis merah tersebut sampai akar akarnya ??! Apakah kalian benar-benar percaya bahwa “arsitek bangunan” itu dapat melenyapkannya??? Atau kisah kisah dan riwayat riwayat dapat memupuskannya ??? Lantas bagaimana kalian ini memutuskan ?!! bagaimanapun kamu berbuat lalu berbuat maka toh generasi awal mereka telah mendahului semenjak puluhan tahun lalu. Mereka angkat syiar AL-JIHAD SABILUNA (Jihad adalah jalan kami). Namun tidak pernah mempraktekkannya melainkan hanya sedikit. Jika engkau mau, katakan saja ; “memang generasi awal mereka telah banyak mempraktekkannya, namun lihat di manakah mereka sekarang ??!!” Terpenjara, terusir atau diblokade, semoga Allah membebaskan mereka dan menunjukkan kita dan mereka kepada jalan yang lurus.

Permisalanmu sekarang ini -betapapun kamu telah menTARBIYAH, mendidik, mengajar, mengarang dan melakukan amar ma’ruf nahi Munkar serta mengadakan proyek proyek sosial-. Permisalanmu tidak lain hanyalah seperti seorang dokter yang pandai lagi Juru Da’wah, Aktifis lagi di dengar kata katanya yang dijebloskan ke penjara secara Dholim. Lalu ia melihat di dalam penjara seorang buta huruf yang tidak tahu apa apa lalu ia ajari orang tersebut–sebab inilah yang dapat ia lakukan sekarang- maka setelah lewat 10 tahun dikatakan padanya, silahkan anda keluar ! ia mengatakan ;” Tidak, Saya masih melakukan I’dad. Telah ku ajari orang ini sampai ia menjadi dokter yang juga Da’I dan esok akan datang kepada kami lebih banyak lagi para pesakitan yang akan kita ajari hingga kita sampai pada tingkatan standar I’dad lalu kitapun dapat mengeluarkan seluruh pesakitan dari penjara???!!!

Yaa! Siasat omongan kita seperti orang dungu ini -padahal ia seorang DOKTER-. Seandainya ia benar benar jujur mestilah dia akan mengajarkan mereka bagaimana perang atau sarana sarana yang tercurah ke persoalan perang. Bukan bagaimana Tajwidul Qur’an atau bahasa Arab sebagai bahasa pengantar – dengan tetap menyadari akan pentingnya Tajwid dan Bahasa Arab-. Namun ketika telah usai dari I’dad ini. Lantas ‘kemarilah kalian menguasai seluruh Ilmu-ilmu syar’I yang hanya setingkat fardhu kifayah’. Silahkan buka Sirah para Salaf !!! Mereka dulu mengajarkan peperangan peperangan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan sariyah sariyahnya sebagaimana mereka mengajarkan surat Al-Qur’an. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Zainal Abidin, Ali bin Husain Rahimahullah (seperti tersebut dalam AlJami’ Li Akhlaaqi rawi karangan Khatib Baghdadi II/195).

Benar, inilah kondisi aktifis baik mereka. Tidak henti-hentinya mengulang-ulang: “Kami tidak punya job (beramal islami, pent) selain apa yang ada pada kami sekarang ini! Kepada orang-orang itu, katakanlah tanpa segan-segan lagi : “Benar kalian. Kalian lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak punya orientasi baik di tempatnya maupun kepada soal perang yang memang sama sekali tidak beramal untuk Islam. Akan tetapi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahukan kepada kita tentang THOIFAH MANSHUROH (kelompok yang akan ditolong Allah) bahwa sifatnya dalah YUQOOTILUUN (mereka berperang). Sudahkah engkau cari mereka?. Betapapun lapangan-lapangan yang kalian beramal di dalamnya, maka lihatlah, apakah tercurah ke lapangan ‘YUQOTILUUN’ atau benar-benar ‘YU’IDDUUN’ (mereka I’dad) untuk perang dan bukannya untuk nikah, pesta ataupun …..

Sesungguhnya kaum muslimin yang berdosa lantaran mereka tidak mau hijrah dari Mekkah sebelum ditaklukkan dari tangan kesyirikan. Mereka-mereka itu mampu untuk berdakwah secara lemah lembut dan pelan-pelan lewat penyebaran buku-buku, kaset-kaset, ceramah-seramah persis seperti yang diperbuat oleh madrasah (baca: harokah dan jama’ah) “Menahan Diri” pada hari ini!!! Kendati ulama sepakat –tak ada perselisihan sama sekali- bahwa jihad perang hari ini paling tidak beralih menjadi fardhu ‘ain lantaran belum sampai kecukupan.

Okelah anda boleh mengatakan : “Sesungguhnya saya di sini dapat memberi faedah dan beramal untuk Islam” seandainya hasilnya selevel dengan berbagai kejadian. Anda berhak lah mengklaim hal itu selama Robbmu yang telah engkau pasrahkan dirimu kepada-Nya tidak mewajibkan kepadamu selainnya. Dan anda tidak boleh mengatakan : “Saya berkewajiban untuk berbuat dan saya tidak akan melihat hasilnya”, sebab orang yang memerangi musuhnya yang dipersenjatai lengkap hanya dengan pisaunya kemudian mengatakan : “Saya akan berbuat dan tidak akan peduli dengan hasil yang buruk”. Tidak ragu lagi orang ini tidak paham Islam karena ia tidak mau mengambil sebab sebab yang diperintahkan Allah kepadanya. Berbeda dengan MUQOTIL (petempur) di jalan Allah yang menjalankan apa yang Allah ta’ala perintahkan dengan mengambil sebab sebab semampu dia “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampui”, Kemudian ia maju berperang lalu terbunuh atau tidak memperoleh hasil yang ia harapkan, maka orang ini meraih pahalanya sekalipun tidak menuai hasilnya di Dunia –disertai adanya keikhlasan- sebagai mana yang terjadi pada pasukan pemanah gunung Uhud yang tetap bertahan akan tetapi mereka tidak sempat melihat hasil amal mereka dan terbunuh. Beberapa banyak orang yang perlu dikasihani, yang mengatakan : “ Berperanglah dengan pedang di Era bom atom dan jangan menanti nanti atau melihat hasil !!!, kecuali JIKA MEMANG SAMA SEKALI TIDAK MAMPU melainkan dengan WASILAH itu”.

Maka selama kita diperintahkan untuk hijrah dan berJIHAD maka tidak ada artinya perkataanmu, “ Saya dapat memberi faedah kepada negaraku di sini”. Baca : “ APAKAH MEMBERI MINUM ORANG HAJI dan memakmurkan MASJIDIL HARAM kalian samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berjihad di jalanNya. TIDAK SAMA mereka DI SISI Allah dan Allah tidak menunjuki kaum yang Dhalim”. Kemudian amal islami yang engkau lakukan di sini dapat engkau lakukan di negeri Islami tersebut –kalao memang ada_baik belajar maupun mengajar. Bahkan Negeri Islam tersebut –jika ada – ungguh sangat membutuhkan kepada orang orang sepertimu entah kamu berprofesi sebagai dokter atau Farmasi atau ahli kimia . . .. Sangat lebih menghajatkan dari pada negerimu sendiri. Jika “MEKKAH” KERING kerontang maka kamu harus beralih ke Madinah dan Realita menguatkan hal itu.

Allah Rabb kita menuntut kita ber-Ubudiyah dengan Syare’at yang ditinggal wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukan dengan Syare’at awal kali Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus sebagai Rasul. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dalam kondisi mendorong pengiriman pasukan Usamah !!! Lihatlah pula Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bertekad menuju Thaif (diawal da’wah) ketika telah tidak ada lagi harapan dengan Makkah, kemudian beralih lagi ke Madinah sedang kamu MASIH SAJA BERADA DI KOTAMU !!!

Jika kita menjalankan apa yang Allah ta’ala perintahkan kepada kita lantas kita tidak mendapatkan hasil di sana maka kita katakan : “Janganlah kalian putus asa selama kalian tetap mempraktekkan perintah Allah untuk berangkat perang. Sungguh peperangan salib telah berlangsung selama 90 tahun sedangkan Al-Aqsha terkunci tiada Shalat DIDALAMNYA. Kaum Qaramithah (sekte agama syiah) mencabut hajar aswad dari tempatnya selama 41 tahun sampai sampai seorang Qaramithah mengatakan : “Dimanakah BURUNG ABABIL ?”. Demikian pula pada masa kita, para ahli meyakinkan bahwa perang di Chechnya tidak lebih dari tiga hari. Dan sebelum mereka, telah bersikap tegar penduduk BOSNIA yang terkucilkan . Mereka berhadapan bukan didepan SERBIA namun dihadapan KONSPIRASI seluruh dunia atasnya. Sebelum mereka dan mereka, telah wafat HAMZAH Radhiyallahu anhu sedang ia belum melihat Daulah Islamiyah. Telah meninggal Waraqah bin Naufal sedang ia belum melihat kejayaan Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Telah meninggal mereka yang meninggal di Najasy dan mereka belum melihat tersebarnya Islam. Akan tetapi mereka semua tidaklah goncang sebab mereka menjalankan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Adapun “Aku akan berperang dengan pisau saja di Era Atom kemudian aku mengatakan : Tidak usah menunggu hasil” Maka jangan seperti itu sebab ini hanyalah kedustaan dan talbis (tipuan) !!!.

Jika mereka mengatakan : “Saya tidak mau keluar kalau harus meninggalkan negeri Syam karena keutamaan negeri Syam, keutamaan ribath disana, dan berita gembira Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang terjaganya Syam dari Fitnah. Dan beramal untuk Palestina lebih baik dan lebih utama dari pada selain Palestina !!!

Maka katakan kepada mereka : “Akan tetapi para Shahabat mau meninggalkan Makkah dan Madinah -apalagi sekedar Negeri Syam- untuk ber Perang di Jalan Allah. Dan Ibnu Umar Radhiyallahu anhu mengepung Romahormuz selama 4 bulan dalam sesaljuan. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk SALAFUSSHALIH. “Setiap kali mendengar suara menakutkan atau hiruk pikuk (adanya musuh) ia terbang kesana . . .” HR Muslim. Kemudian bahwa sifat THOIFAH MANSHUROH adalah “ . . . YUQAATILUUN (mereka berperang) . . .” lantas apakah kalian ini BERPERANG?, bahkan apakah kalian dengan kerja yang kalian lakukan di sini SEDANG BERRIBATH ??? dan apakah RIBATH itu ??!!! Apakah kalian sekarang ini benar benar di BAITUL MAQDIS ataukah di daerah-daerah sekelilingnya saja !!?? kalau begitu tidak mustahil Turki juga termasuk sekeliling BAITUL MAQDIS?! Dan saya hampir dapat memastikan, seandainya salah seorang kalian dapat kemudahan kontrak kerja di sebuah negara kaya pastilah ia akan TALAQ negeri Syam 3 KALI. Dan alasan kalian –saat itu- bahwa kalian akan mengumpulkan harta untuk PERSIAPAN DI JALAN ALLAH. . . !. Cobalah RENUNGKAN.

Kamu BENAR, bahwa Palestina lebih baik dan lebih utama dari yang lain !!! Bahwa memerangi yahudi lebih utama daripada memerangi Rusia, misalnya. Akan tetapi yang Allah kehendaki dari kita adalah MEMERANGI MEREKA, sedang kalian menghendaki MENGARANG BUKU YANG MENJELASKAN SEJARAH PALESTINA !!! Allah menginginkan kita untuk berangkat PERANG sedangkan kalian ingin MERASA BERAT TINGGAL DI BUMI !!!. Dan supaya kalian menipu masyarakat jelata, kalian mengatakan : “Kami bekerja untuk Palestina !”

Wahai para pengabdi PALESTINA, beritahukanlah kepadaku !!! Seandainya musuh menyerbu suatu negeri bukankah wajib menurut Ijma’ untuk bangkit memerangi mereka dan mengusirnya ??!!! Jadi KEWAJIBAN adalah ber PERANG. Jika kita lemah maka WAJIBLAH I’DAD untuk kewajiban (perang) ini.

Ketika Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah ditanya : “Bagaimana anda meninggalkan Palestina sedangkan anda adalah putra PALESTINA dan anda malah berperang di Afghanistan? Beliau menjawab : “Masjidmu jika roboh, Apakah kamu lantas meninggalkan shalat sampai masjidmu itu dibangun dulu ataukah kamu pergi dan shalat di Masjid lain ???” Bosnia, Chechnya, Kashmir . . …(Iraq, Moro, Indonesia dan mana saja terhadap Kuffar dan Thoghut,pent) Kapan saja masjidmu diperbaiki atau kapan saja kamu mampu memperbaikinya sendiri maka saat itu kamu silahkan kembali. Apakah perang di Palestina lancar ??? Sesungguhnya pemerintahan pemerintahan yang ada berusaha keras untuk mencegahnya. Seandainya betul-betul telah dibuka front peperangan yang sebenarnya terhadap Yahudi PASTILAH akan kami katakan kepada mereka : “Benar kalian ! Demi Allah, di sini lebih utama daripada di tempat lain. Akan tetapi apakah pedang dapat ditandingi dengan tongkat ? Apakah kita akan menandingi RPG (senjata peluncur roket) hanya dengan batu ???!!

Ya, seandainya memang sama sekali tidak ada Front Islam apapun di suatu tempat di muka bumi dan kita ingin membuka beberapa Jabhah (front-front perang) di beberapa negri terjajah maka yang paling utama –tak ragu lagi- adalah Baitul Maqdis. Akan tetapi jika kita mampu (perang) di tempat lain, apakah lantas kita meninggalkan perang (di tempat lain) dengan alasan I’dad (bersiap) membuka Front Islam di Batul Maqdis? Bagaimanakah?! Dengan sekedar menulis buku-buku dan meluncurkan CD yang menerangkan sejarah Palestina?! DEMIKIANKAH PALESTINA AKAN DIBEBASKAN? Ataukah pergi ke “Madinah” untuk melakukan I’dad kemudian kembali lagi ke “Mekkah” untuk menaklukkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul mulia kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?!

Apakah Robb kita berfirman : “Janganlah kalian berperang di belahan bumi manapun sampai terbebaskannya Palestina? Apakah saudara perempuanmu Yordania atau Palestina itu lebih penting (!!) daripada perempuan Bosnia atau Tajikistan atau Afghanistan? Kalian ini –kendati ada jeritan muslimah-muslimah- menggembar-gemborkan –minimal dengan bahasa keadaan kalian-: “Kami bekerja untuk Palestina”! Bahkan saya hampir memastikan bahwa kalian wahai para pengabdi Palestina : Hingga seandainya di buka Front peperangan Islam yang jelas Benderanya di Palestina pastilah kalian akan tetap tinggal di negeri-negri kalian dan ALASAN KALIAN MASING-MASING : “Kami mendukung Front perang dalam bidang media dan harta (saja!!, pent). Saya katakan : “Beritahukan pada kami ! Kalian…kalian sendiri, apa yang kalian kerjakan sebelum ada kemudahan “jihad omongan dan kecapekan” menurut ungkapan kalian di hari-hari ini? Kalian di manakah kalian sebelum ada kemudahan menyokong Intifadhoh melalui jalur-jalur (resmi) pemerintah? Tak diragukan, kalian berada dipelukan istri-istri kalian? Atau sedang ‘I’dad’ siap-siap untuk duduk dipelukan istri kalian! Maaf saja, Kebenaran lebih berhak untuk dinyatakan!!

Saat pecahnya perang aku tak mau mencoba (keberanian) diriku, dan saat kekalahan akupun seperti menjangan

Aku Kobarkan semangat perang pada kesatria-kesatria kaumku, dan saat pertempuran aku berlindung di balik punggung mereka (saja)

Bagiku tekad yang dapat membelah air dan memecahkan dua butir telur berturut-turut

Itulah kelebihan para kesatria, orang sepertiku musuhnya lari duluan sebelum pertempuran??!!

Jika kalian benar-benar jujur niscaya kalian akan ridho dengan dunia sedikit ala kadarnya lalu kalian infaqkan selebihnya ke pintu-pintu jihad yang kalian sangka itu. Barangkali kalian memandang diri kalian sebagai orang-orang bijak, yang bekerja untuk jangka panjang, jadi tak mengapa kalian begadangan, jalan-jalan ke perkebunan dan club-club untuk bersantai-santai dan mencari hiburan dari penatnya “JIHAD”. Adapun Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, maka mereka adalah orang-orang sedikit gegabah/tergesa-gesa ataukah “ZAMAN MEREKA LAIN DENGAN ZAMAN KITA”!!!

Sebagian mereka menganggap dirinya seperti ‘Sholahuddin’ yang melakukan persiapan untuk memerangi kaum salibis. Dan tahukah kamu bahwa I’dadnya Sholahudin semuanya tercurah di medan-medan perang : belajar memanah, (kalo sekarang) tank-tank, pesawat-pesawat….sedang I’DAD KALIAN TERCURAH DI SAKU-SAKU BAJU DAN ‘KURS UANG’! Bandingkan saja antara kehidupannya dengan kehidupan kalian. (Perjuangan) Palestina kalian dengan omongan, begadangan dan fhoto-fhoto sedangkan (perjuangan) Palestina dia dengan luka-luka dan kerja keras siang dan malam !!

Rujuk ulang tema “Zaman mereka beda dengan zaman kita” supaya engkau dapat melihat apakah I’dadmu di negrimu yang kamu sangka demi Palestina itu dibenarkan Syari’at ataukah kamu benar-benar tertipu!. Rujuk ulang tema “Perbaikan-perbaikan parsial” dan “Kenapa Jihad”??

Jika mereka mengatakan : “Barangkali mereka (mujahidin) adalah para agent ! jadi kita tidak lagi dapat membedakan mana yang benar-benar mujahid dengan agent. Maka yang terbaik bagi kita adalah Uzlah (mengucilkan diri) daripada hijrah?! Dan tidak ada jihad tanpa ijin seorang Amir yang menghimpun kaum muslimin!

Maka katakan kepada mereka : “Tuduhan-tuduhan selama kalian tak mengadakan bukti-bukti maka orang-orang yang melontarkan hanyalah pendakwa saja”.

Dengan ucapan kalian ini, kalian telah meruntuhkan ilmu jarh wa ta’dil semuanya. Kemudian banyak di kalangan orang-orang yang suka menggembosi dari para ulama’-ulama’ penguasa –sekaligus penghalang dakwah-, mereka menjejali (istana) penguasa yang dzalim dan mencari-carikan udzur untuknya. Padahal kesesatannya jelas. Lantas kenapakah kalian tidak menimbang (baca:menilai) dengan neraca sama terhadap orang yang lahiriyahnya baik dari kalangan mereka yang berperang sedang mereka jelas-jelas di atas haq.

Sebaliknya engkau lihat mereka jika ada seorang yang mengkafirkan penguasa maka mereka membelanya, mempertahankannya dengan kata-kata dan menyatakannya sebagai PENGUASA YANG BUDIMAN?!. Lantas jika sebuah jama’ah Islam yang berperang di suatu tempat dianggap baik-bersih, engkau lihat mereka menyebarkan kedustaan-kedustaan radio kafir dan mereka besar-besarkan (kesalahan) sebiji supaya menjadi satu kubah. Apakah seperti ini pantas bagi orang-orang yang bersikap OBYEKTIF?!

Sesuai ungkapan mereka :

Ia sebagai singa terhadapku Namun dalam peperangan ia burung unta

Amat menjijikkanlah meraka itu.

Jika engkau meragukan sebuah Front maka silahkan mencari Front lain untuk berperang dan ia ada berdasarkan Nash Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jadi CARILAH BENDERA YANG BENAR dan jangan engkau BOLEHKAN dirimu DUDUK BERPANGKU TANGAN di rumahmu MENYEBARKAN KERAGU-RAGUAN seperti orang MUNAFIQIN. Engkau berkata : “Mereka telah tertipu oleh agamanya”.

Sudahkah engkau benar benar berusaha –sekalipun dengan bertanya- untuk mengetahui berita berita mujahidin dan tempat mereka ataukah engkau mencukupkan diri dengan berita yang disebarkan oleh KANTOR KANTOR berita KAFIR atau agen agennya??? Apakah sikap ini pantas bagi ORANG ISLAM ??!! Dimanakah anda dengan situs situs mereka sekalipun lewaat INTERNET ??

Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallamlah yang menyampaikan berita gembira kepada kita :”Diin ini akan senantiasa tegak. Yang akan berperang diatasnya sekelompok dari kaum muslimin hingga tibanya hari kiamat”. HR Muslim. Dalam suatu riwayat :”Senantiasa ada sekelompok dari Ummatku . . . YUQOOTILUUN (mereka berperang) . ..”. Sudahkah engkau mencari TAHU sebagaimana engkau mencari tahu peluang kerja yang akan mengumpulkan harta di suatu negara teluk atau sebagaimana engkau mencari tahu perdagangan menguntungkan yang ditawarkan kepadamu di suatu majalah atau mencari tahu tentang orang yang meminang anak perempuanmu??? Percayalah kepadaku, Saya tidak melihat kebanyakan dari kita yang peduli dengan hal ini kecuali yang dirahmati Allah. Barangkali demi hal itu semua engkau tanya berhari hari dan berbulan bulan sampai engkau condong kepada salah satunya.

Kemudian sudah maklum bahwa perang dahsyat antara Romawi dan Persia selalu terjadi. Lantas apakah mungkin bagi seorang berakal mengatakan : “Bahwasanya kaum muslimin tatkala mendahului menyerang Romawi pada perang Mu’tah, mereka adalah agen agen Persia. Sedangkan yang ada hanyalah bertemunya kepentingan sama. Jadi peperanganmu terhadap Romawi –yang itu wajb atas ummat- adalah memang MENGGEMBIRAKAN Persia. Akan tetapi setelah melewati berbagai peperangan yang mereka usai dengan Romawi maka mulailah mereka memerangi Persia. Jadi bertemunya kepentingan kepentingan sama tanpa adanya kesepakatan bukan berarti menjalin hubungan atau agen. Persoalan ini jelas tidak ada samarnya. Saya pernah tantang orang yang menyangka Mujahidin sebagai agen, supaya dia mendatangkan satu dalilpun melainkan hanya beraikan dakwaan omong kosong yang berlaku pada orang jelata”. !!

Dan seakan akan saya melihat mereka akan menuduh Shalahuddin sebagai agen pada hari hari PERANG SALIB kendati telah jelas benderanya dan alasannya itu-itu juga; “Hari hari ini adalah masa penuh Fitnah. Kebenaran tidak diketahui. Siapa tahu barangkali Shalahuddin agen yang bekerja bagi Timur atau bagi kaum Salibis sendiri dan dari mana anda dapat memastikan pengobaran semangat perangnya dan peperangannya bukan demi pangkat, jabatan dan kekuasaan!!!?? Khususnya usahanya memecah kesatuan kaum musimin dan mencerai beraikan upaya mereka dengan tindakannya menghabisi Bani Fathimiyah yang muslim itu !!! (padahal fatwa seluruh ulama’ Sunnah mereka adalah Murtaddin, pent-)

Beritakanlah kepadaku, Wahai orang orang berakal dengan apa kalian akan MENJAWAB ??? apakah kalian akan minta menyingkir ataukah kalian akan mengangkat suara kalian untuk mendukung Shalahuddin dan mencela bani Fathimiyah yang mendakwa-kan kezindiqan yang dianggap sebagai kaum muslimin dikalangan orang orang AWAM atau agen !!!

Silahkan anda baca perkataan para Ulama tentang Hijrah supaya anda TAHU bahwa hijrah itu sebagai fase yang mendahului Uzlah yang disangka itu -sedang saya tidak melihatnya melainkan hanyalah UZLAH (menyingkir) dari KEBENARAN dan menolongnya-

1. Fathul Bari VI/308 Daarul Ma’rifah : “Maka tidak wajib Hijrah dari suatu negri yang ditaklukkan kaum muslimin. Adapun sebelum ditaklukkan negeri maka kaum muslimin yang ada di situ pada salah satu dari tiga kondisi; yaitu pertama, mampu hijrah darinya. Ia tidak mampu Id-haruddin dan tidak pula mampu MENJALANKAN KEWAJIBAN kewajibannya maka hijrah darinya wajib. Kedua; mampu namun ia dapat Id-haruddin dan menjalankan kewajiban kewajibannya maka hukumnya Mustahab (dianjurkan) demi memperbanyak dan menolong kaum muslimin di sana serta memerangi orang kuffar dan aman dari penghianatan mereka. Juga terhindar dari melihat kemungkaran ditengah mereka. Ketiga, lemah lantaran ada udzur karena tertawan, sakit, atau lainnya maka ia boleh menetap dan jika ia memaksakan diri keluar maka ia diganjar pahala “. Pada juz VII/229 :” Ibnu Umar telah menerangkan secara jelas maksud hadits yang diriwayatkan oleh Isma’ily dengan lafadz : hijrah kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terputus setelah fathul Makkah dan Hijrah tidak terputus selama ada orang Kuffar yang diperangi. Yakni selama didunia ada kekufuran, Jadi Hijrah wajib darinya atas siapa yang masuk Islam dan khawatir terfitnah pada agamnya. Dipahami bahwa seandainya ditakdirkan di dunia akan tetep ada negeri KAFIR maka HIJRAH tidak akan PUTUS , Lantaran terputus yang mewajibkannya. Wallahu a’lam”.

2. Fathul Bari juz VI/122 Daarul Fikri : “Berkata Khitoby dan yang lain; Dahulunya Hijrah wajib pada awal Islam atas orang yang masuk Islam karena sedikitnya kaum muslimin di Madinah dan perlunya mereka untuk berkumpul maka ketika Allah taklukkan Makkah, manusia masuk ke Diinullah secara bergelombang maka gugurlah kewajiban Hijrah ke Madinah dan tetaplah kewajiban Jihad dan niat atas orang yang menjalankannya atau datang khusus kepadanya.” Selesai perkataan beliau.

Dan juga hikmah wajibnya hijrah bagi orang yang masuk Islam supaya selamat dari siksaan (gangguan) keluarganya yang kafir. Mereka menyiksa orang yang masuk Islam sampai mau keluar dari Diinnya. Tentang mereka turunlah ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan mendholimi diri mereka sendiri, Malaikat berkata : “Dalam keadaan apa kalian ini? Mereka berkata : Kami adalah orang yang tertindas di bumi , Malaikat berkata : Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian bisa hijrah ke sana ?”. Hijrah ini hukumnya tetap berlaku bagi siapa yang masuk Islam di negara kafir dan mampu keluar darinya. Nasa’I telah meriwayatkan : “Allah tidak menerima amalan dari seorang Musyrik setelah ia masuk islam atau ia memisahkan diri dari kaum Musyrikin” Ini dipahami atas orang yang tidak aman terhadap Diinnya.

Pada Juz VII/631: “. . . Kami mengunjungi ‘Aisyah . .. lalu kami menanyakan kepadanya tentang Hijrah ? Ia berkata : “Tidak ada hijrah pada hari ini. Dulu kaum mukminin salah seorang mereka lari menyelamatkan Diinnya kepada Allah ta’ala dan RasulNya karena takut terfitnah atasnya. Adapun pada hari ini Allah telah memenangkan Islam. Dan pada hari ini orang menyembah Allah dimana saja ia suka akan tetapi tetap jihad dan Niat”.

Mengenai Hadits :”Hijrah tidak terputus selama Kuffar diperangi” Rijal sanadnya Tsiqah, Berkata Ibnu Nuhas dalam Tahdzib Masyariqul Aswaq hal 83 :” Hadits tersebut menunjukkan wajibnya Jihad dan bukan wajibnya Hijrah. Maknanya setiap yang beriman dan berjihad memerangi Kuffar maka ia tergolongkan kepada kaum Muhajirin dalam keutamaan sekalipun ia tidak hijrah meninggalkan negerinya “!!

Dalam Nasa’I dan Ibnu Hibban :” . . . selama musuh diperangi” Pada Thabrani : “ Sesungguhya hijrah tidak terputus selama ada jihad”. Rijal sanadnya Tsiqah sebagaimana dikatakan Haytsami. Terang sekali jawaban Shoodiqul Masduq Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ditanya salah seorang Shahabat :”. . Hijrah apa yang paling utama ? Beliau jawab : “Jihad” , Shahabat itu bertanya : “Apa itu Jihad? Beliau menjawab : “engkau memerangi orang kafir jika menjumpai mereka”. Shahabat tadi bertanya :”Lantas jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab : “Siapa yang terlukai kudanya dan tertumpahkan darahnya “. HR Ahmad, hadits shahih

3. Fathul Bari XIV/ 535 Daarul Fikry , Bab Siapa benci dari turut memperbanyak jumlah . . . no 7085 : “. . . bahwa beberapa orang kaum muslimin mereka bersama orang Musyrikin memperbanyak jumlah kaum musyrikin dalam menghadapi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam . . . lalu Allah menurunkan ayat :“Sesungguhnya orangorang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan mendholimi diri mereka sendiri, Malaikat berkata : “Dalam keadaan apa kalian ini? Mereka berkata : Kami adalah orang yang tertindas di Bumi , Malaikat berkata : Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian bisa hijrah kesana ? Mereka tempat tinggalnya Jahannam dan ia seburuk buruk tempat kembali”

Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah :”Didalamnya terdapat penyalahan terhadap orang yang menetap ditengah ahli maksiat dengan pilihannya sendiri bukan karena maksud yang dibenarkan seperti mengingkari mereka misalnya atau harapan menyelematkan muslim dari binasa. Orang yang mampu beralih meninggalkan mereka tidak mendapatkan udzur. Sebagaimana yang terjadi pada mereka yang masuk islam dan dicegah dari hijrah oleh keluarganya yang musyrik kemudian mereka keluar bersama kaum musyrikin bukan untuk maksud memerangi kaum muslimin Namun untuk menampakkan jumlah mereka yang banyak di mata kaum muslimin. Maka terjadilah hukuman bagi mereka lantaran itu”.

Pada juz IX/141 no 4596 seputar turunnya ayat diatas :”Said bin Jubair menyimpulkan dari ayat ini WAJIBNYA HIJRAH dari negeri yang dilakukan kemaksiatan padanya”. Sebab disana ada unsur memperbanyak Jumlah. Pada Juz XIV/500 DaarulFikri kitab Fitan :”Dari hadits ini diambil anjuran hijrah dari negeri yang terjadi penampakan fitnah disana sebab ia merupakan sebab terjadinya fitnah . . . Berkata Ibnu Wahb : “Dari Malik, ditingglkan negeri yang dilakukan kemungkaran secara terang terangan di dalamnya dan hal itu telah dilakukan oleh sekelompok kaum salaf”. Pada Juz XIV/563 , Kitabul Fitan : “Telah disaksikan . . .Negeri diantara negeri kaum muslimin yang diserbu oleh orang kuffar lalu mereka membabatkan pedang kepada penduduknya. Hal itu pernah terjadi dari Khawarij dulu kemudian QARAMITHAH kemudian TARTAR akhir akhir ini dan Allahlah tempat minta tolong . . . Adapun siapa yang memerintah (kebajikan) dan melarang (kemungkaran) maka mereka adalah orang mukmin sebenarnya. Allah tidak akan mengirim adzab atas mereka bahkan Allah akan menolak adzab dari mereka. Hal itu dikuatkan oleh firman Allah ta’ala : “ dan tidaklah Kami membinasakan negeri negeri melainkan penduduknya dholim . . “ MENUNJUKKAN ATAS PERATAAN ADZAB BAGI SIAPA YANG TIDAK MENCEGAH KEMUNGKARAN SEKALIPUN DIA TIDAK MELAKUKANNYA. Firman Alah ta’ala : Maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka mengalihkan pembicaraan kepada yang lain. (jika tidak mau) berarti kalian seperti mereka” . dari ayat ini dapat diambil pelajaran disyareatkannya lari dari orang kafir dan orang orang dholim sebab tetap tinggal bersama mereka termasuk tindakan mencampakan diri pada kebinasan. Ini jika dia tidak menyokong mereka dan tidak pula ridho terhadap perbuatan mereka. Jika ia menyokong atau ridha maka ia termasuk mereka. Ini dikuatkan oleh perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk seger a keluar meninggalkan negeri Tsamud . . . Dengan hadits terdapat peringatan dan ancaman keras bagi siapa yang DIAM DARI MENCEGAH (KEMUNGKARAN) lantas bagaimana halnya dengan ORANG YANG BASA BASI CARI MUKA ??? Bagaimana dengan orang yang RIDHO ?? dan bagaimana dengan ORANG YANG MENYOKONG ??? Kita memohon keselamatan pada Allah “. Saya katakan : “ini hanyalah lantaran sekedar nampaknya kemaksiatan, lantas bagaimana jika hukum-hukum Allah dilenyapkan? Bahkan engkau dipaksa bermaksiat kepada Allah dari yang kecil hingga yang besar”. Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu telah meninggalkan Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu di Syam ketika ia menyelisihi satu satu hadits. Disebutkan ia tidak tinggal bersamanya.

4. Dalam Mughnil Muhtaj karangan Syarbiny ;: “….Muslim yang tinggal di Darul Harby jika ia dapat idh-haruddin disebabkan posisinya sebagai orang yang ditaati kaumnya atau karena marganya yang melindunginya sedang dia tidak khawatir fitnah terhadap dinnya, maka dia dianjurkan hijrah ke Darul Islam supaya ia tidak turut memperbanyak jumlah mereka….sedang tidak wajibnya dikarenakan ia mampu idh-haruddin”.

Berikut ini silahkan anda simak perkataan para ulama’ BERKENAAN IJIN AMIR :

1. Dalam Mughni IX/166 : “Persoalan jihad dipasrahkan kepada Imam (Kholifah) dan ijtihadnya dan wajib atas rakyat menaatinya dalam kebijakannya tentang hal itu…Masing-masing kaum memerangi orang-orang disekitarnya melainkan jika pada sebagian tempat belum memenuhi orangnya maka dialihkan satu kaum lain kepada mereka…JIKA IMAM (KHOLIFAH) TIADA MAKA JIHAD TIDAK BOLEH DITUNDA SEBAB MASLAHAT JIHAD AKAN LENYAP DENGAN MENGUNDURKANNYA….jika Imam mengirim pasukan dan mengangkat atas mereka seorang komandan lalu ia meninggal atau terbunuh maka pasukan boleh mengangkat salah seorang dari mereka sebagai amir sebagaimana yang dilakukan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pasukan Mu’tah….”

Dalam juz IX/174 : “Jika musuh datang maka jihad berubah menjadi fardhu ‘ain atas mereka. Maka wajib atas seluruh manusia sehingga tidak boleh seorangpun meninggalkannya. Jika telah tetap persoalan ini maka mereka tidak boleh keluar melainkan dengan ijin Amir. Sebab persoalan persang dipasrahkan kepadanya dan dailah yang lebih tahu tentang banyak sedikitnya jumlah personal musuh….maka selayaknya dikembalikan kepada pendapatnya sebab itu lebih hati-hati bagi kaum muslimin. Kecuali jika berhalangan minta ijin disebabkan SERANGAN SURPRISE dari musuh sehingga tidak wajib minta ijin kepadanya sebab maslahat…oleh karenanya kuffar menyerang gembalaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepergok oleh Salamah bin Akwa’..lalu ia perangi mereka..maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya seraya bersabda: “Sebaik-baik pasukan infantri kita adalah Salamah bin Akwa’” jadi jika tidak ada Imam (Kholifah) di sana dan sekelompok beraksi seperti perbuatan Salamah rodhiyallahu ‘anhu tersebut maka itu lebih boleh lagi . wallahu a’lam

2. Dalam Kasyful Qina’ karangan Buhuti III/73 : “Dan tidak boleh berperang melainkan seijin Amir sebab ia lebih tahu perang dan persoalan perang dipasrahkan kepadanya…kecuali jika datang tiba-tiba kepada mereka musuh menyerang yang dikhawatirkan maka berhenti ijin sebab hajat membutuhkan kepadanya disebabkan mengundurkannya akan ada madhorot. DAN SAAT ITU TIDAK BOLEH SEORANGPUN UNTUK BERPANGKU TANGAN TIDAK TURUT PERANG kecuali orang yang dibutuhkan tidak berangkat demi menjaga tempat, keluarga dan harta serta siapa yang tidak ada kekuatan untuk keluar, orang yang dicegah imam dan siapa yang tidak mendapatkan peluang yang mereka khawatirkan akan lenyap jika dibiarkan saja peluang tersebut supaya minta ijin dulu kepada amir maka mereka boleh keluar tanpa ijinnya supaya kesempatan tersebut tidak hilang begitu saja. Dan dikarenakan jika musuh tiba maka jihad menjadi fardhu ‘ain sehingga tidak seorangpun yang boleh untuk tidak berangkat” beliau mengambil dalil dengan kisah Salamah bin Akwa’ rodhiyallahu ’anh.

3. Dalam Mughni Muhtaj IV/220 : “Makhruh berperang tanpa ijin Imam (Kholifah) atau wakilnya demi kesopanan kepadanya dan karena ia lebih tahu daripada yang lain tentang kemaslahatan jihad…catatan: Bulqiny mengecualikan dari hukum makhruh dengan beberapa kondisi: PERTAMA, maksud (yang ditarget) akan hilang lantaran pergi untuk minta ijin dulu, KEDUA; jika Imam menggugurkan perang. Dia beserta tentaranya lebih perhatian kepada urusan-urusan dunia sebagaimana yang disaksikan. KETIGA; jika berprediksi kuat seandainya harus minta ijin dulu, ia bakal tidak dijinkan…” saya katakan: hukum ini saat jihad fadhu kifayah sebab ia berupa serangan invansi lantas bagaimana saat fardhu ‘ain? Coba anda renungkan.

4. Berkata Ibnu Nuhhas dalam ringkasan tahdzib Masyari’ul Asy-waq Fie Fadho-ilil Jihad hal; 367 “Dikecualikan dari hukum makhruh (yakni jihad tanpa ijin Kholifah, pent) beberapa kondisi sebagai berikut: PERTAMA jika seseorang atau sekelompok orang minta ijin untuk berjihad lantas maksud yang ditarget lenyap. Sebab jihad adalah kondisi mendesak yang tidak menunggu-nunggu untuk diundur atau proses minta ijin. KEDUA ; jika Imam menggugurkan jihad dan ia beserta tentaranya lebih perhatian kepada dunia seperti yang dilihat di masa-masa ini dan di semua tempat. Maka tidak makhruh jihad tanpa ijin Imam sebab Imam menggugurkan jihad sedang mujahidin menjalankan kewajiban yang digugurkan. KETIGA; jika ada orang yang ingin berjihad, ia tak kuasa minta ijin sebab ia tahu sekiranya minta ijin bakalan tidak dijinkan. Berkata Ibnu Qudamah: “Jika Imam tiada maka jihad tidak boleh diundurkan sebab maslahat jihad akan lenyap dengan mengundurkannya”.

5. Syaukani dalam Nailul Author VIII/31 : “Sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam; Jihad akan tetep berlangsung ……sampai akhir bunyi hadits; sebagai dalil bahwa jihad akan senantiasa berlaku selama eksisnya Islam dan kaum muslimin hingga munculnya Dajjal”

Ibnu Hajar dalam Fathul Baary VI/144: “Bab “Jihad terus berlangsung bersama orang baik dan fajir (pendosa)” berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kuda tertulis kebaikan di ubun-ubunnya hingga hari kiamat”…dalam hadits tersebut terdapat motivasi/dorongan mencintai perang di atas kuda, juga terdapat berita gembira dengan tetap eksisnya Islam dan pemeluknya hingga hari kiamat. Sebab dari konsekwensi eksisnya jihad adalah eksisnya mujahidin, sedangkan mereka adalah kaum muslimin. Ia seperti bunyi hadits yang lain; “Senantiasa ada Thoifah (kelompok) dari umatku yang berperang di atas alHaq”….”

6. Dalam Bada-I’ Shonaa-I’ karangan Kasany VII/98 ; “Adapun jika Nafiir (seruan perang/mobilisasi secara umum) merata seperti musuh menyerang suatu negri maka jihad fardhu ‘ain atas tiap-tiap individu dari kaum muslimin yang mampu berdasarkan firman Allah ta’ala : “Berangkatlah kalian berperang dengan merasa ringan maupun berat”….keluar… tanpa ijin orang tua sebab hak kedua orang tua kalah dalam persoalan-persoalan fardhu ‘ain seperti shoum, sholat….” Apakah Amir perlu dimintai ijin dalam fardhu sholat, maka dipahami pula bahwa jika jihad telah FARDHU ‘AIN maka hukumnya seperti itu pula.

Dan seandainya seorang khalifah Abbasiyyah tidak memberikan ijin bagi Shalahuddin ( disaat terjadi serbuan kaum Shalibis, pent-), Apakah lantas secara syar’I ia wajib mendengar ??? Ini terhadap Khalifah yang lemah kekuasaannya lantas bagaimana jika kholifah memang tidak ada wujudnya seperti keadaan kita ini ??? Jadi, bedakan antara adanya Khalifah dan mau jihadnya sehingga harus mengambil pendapatnya dan antara adanya khalifah dengan tidak mau jihadnya serta antara kondisi sama sekali tidak ada khalifah. Dua kondisi ini kembali kepada masing masing keduanya sebagaimana yang telah jelas. Dan anda jangan sampai lupa dengan Thaifah Manshurah yang berperang. Carilah kelompok tersebut sebab ia eksis setiap zaman, sebagaimana Nash hadits.

Jika mereka mengatakan : “ Akan tetapi jika kami keluar ke suatu tempat ini untuk I’dad, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelah itu. Kami tidak tahu kemana kami akan pergi dan siapa yang akan kami perangi. Barangkali kami keluar untuk perang namun kami tidak memperoleh Mati Syahid. Jadi siapa yang menjamin kami hal itu. Dan boleh jadi setelah itu kami tidak bisa kembali ke negeri kami ??

Maka katakanlah; tempat tempat yang selayaknya dibebaskan amatlah banyak sedang JABHAH (front perang) tidak akan dibuka kecuali dengan orang orang yang telah berI’dad dan terlatih. Dan anda tidak pergi untuk I’dad dan berlatih sampai dibukanya dulu suatu Front. Jadi kita jatuh pada saatu masalah berputar putar : “sekali kali kami tidak akan keluar sampai dibukanya sebuah front dan FRONT tidak akan DIBUKA sampai keluarnya orang orang semisalmu dan terlatih, Lantas KAPAN JABHAH ITU AKAN DIBUKA ???!!

Apakah Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan jaminan kepada Shahabatnya sampai mereka mau keluar ataukah mereka adalah orang orang yang : “Setiap kali mendengar suara hiruk pikuk atau menakutkan ia terbang kesana . . .”. HR Muslim . Perhatikan kata : “MENDENGAR” dan bukannya bersabda : “Memeriksa dulu, meneliti, mengkaji secara cermat, memasukkan kemusykilan kemusykilan atau mengambil sumpah tegas . . . “.

Cukuplah bagimu engkau hidup di suatu negeri yang menerapkan Syari’at Islam secara total kendati engkau mesti makan batu dengan mereka !! Pokoknya, anda jangan buru buru, tanya dan mencari tahulah JANGAN SAMPAI SYAITHAN MEMPERMAINKANMU. Jika engkau jujur pada Allah maka Allahpun akan membenarkan kejujuranmu. Sejarah membuktikan.

Cukuplah bagimu bahwa : “ Barangsiapa melangkahkan kaki dijalan Allah lalu meninggal atau terbunuh atau dilemparkan oleh kudanya atau untanya ataupun disengat binatang berbisa atau meninggal di atas kasurnya, meninggal dengan cara apapun yang Allah kehendaki maka ia Syahid dan ia mendapatkan Jannah” HR Abu daud, Hakim. Hadits Hasan. “Siapa memohon kepada Allah Mati syahid dengan jujur maka Allah akan sampaikan ia kepada kedudukan para Syuhada sekalipun meninggal di atas kasurnya”. HR Muslim . Pada satu riwayat Muslim :” Barang siapa minta Mati Syahid dengan jujur akan diberikannya sekalipun ia tidak mendapatkannya” Maka jangan sampai engkau diperdaya oleh orang yang mengatakan kepadamu :” Apakah kamu dapat menjamin akan gugur di sana dalam keadaan Ribath atau mati Syahid !!?? Allah telah menjamin Jannah bagi Mujahid “jika terbunuh ataupun meninggal lantaran tenggelam atau terbakar atau dimangsa binatang buas”. HR Nasa’I dan Ahmad, hadits shahih.

“ Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla . . . lalu tersungkur dari binatang tunggangannya dan meninggal maka telah tetap pahalanya di sisi Allah ataupun ia tersengat oleh binatang maka telah tetap pahalanya di sisi Allah. Atau ia meninggal biasa maka telah tetap pahalanya disisi Allah . . . “ Hadits dinyatakan shahih oleh Hakim dan disepakati oleh Dzahaby . Khalid Radhiyallahu ‘anhu telah berusaha ke arah itu namun toh juga tidak mendapatkannya.

Jika mereka mengatakan : “ akan tetapi kami melihat ditengah barisan Mujahidin terdapat bermacam macam kesalahan ?? !!!

Maka nyatakan kepada mereka : “Pada asalnya jihad itu wajib bagi ummaat secara keseluruhan bukan hanya orang khususnya saja. Sedangkan kesalahan itu, tidak ada satu masyarakatpun yang lepas darinya, sekalipun itu dalam barisan orang orang yang rajin Shalat jama’ah di masjid. Apakah anda lantas mengahapuskan shalat jama’ah lantaran adanya suatu kesalahan di sebagian Jama’ah Shalat. Apakah boleh dinyatakan : “ Tinggalkanlah amal shaleh dulu sebelum engkau bersih dari keburukan yang ada pada dirimu. Ataukah dikatakan “Tetapkanlah Al-haq yang sudah ada dan lepaskanlah yang bathil ?

Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa manusia terkadang menghimpun keimanan dan kesesatan pada satu masa bersamaan. Maka kita mencintainya lantaran kebaikan yang ada padanya dan membencinya jika didapati pada dirinya kemaksiatan. Ingatlah peristiwa di mana Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari mencerca peminum khamr tatkala dihadapkan untuk dijilid dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi alas an :” Jangan kalian melaknatnya !! Demi Allah saya tidak mengetahui selain ia mencintai Allah dan RasulNya. HR Bukhari. Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berlepas diri dari tindakan Khalid Radhiyallahu ‘anhu tatkala membunuh beberapa kaum yang tidak dapat mengungkapkan keislamannya secara baik lalu mereka berkata : Soba’na “(yang maksudnya; kami telah masuk Islam) lalu Khalid Radhiyallahu ‘anhu membunuh mereka. Maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Yaa Allah sesungguhnya aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang diperbuat Khalid (HR Bukhari). Namun demikian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas mengucilkannya.

Bukankah demikian ini petunjuk Islam dalam berinteraksi terhadap orang-orang, lantas mengapakah kita menakar dengan dua timbangan.

Jika mereka mengatakan : “Sesungguhnya ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami tidak memperbolehkan kami dan istri-istri kami akan tinggal sendirian?

Maka nyatakan kepada mereka: “Tidak, demi Allah. Tidak boleh seorangpun dimintai ijin dalam menjalankan salah satu kewajiban fardhu ‘ain. Adakah engkau minta ijin kepada istri atau ayah atau ibu untuk sholat atau puasa? Maka jika jihad beralih menjadi fardhu ‘ain, tinggalkan untuk mereka bekalan secukupnya lalu kamu berangkat pergi, sebab perkaranya lebih penting dan berbahaya.

Inilah Nabimu Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabari kita tentang tipudaya syaithon dalam perkara fardhu kifayah: “Sesungguhnya syaithon duduk menghalangi anak Adam di jalan Islam. Syaithon katakan kepadanya: Engkau masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama leluhurmu?! Lalu orang tersebut menyelesihinya dan masuk Islam maka diampuni baginya. Lalu syaithon duduk menghalanginya di jalan hijrah seraya mengatakan : engkau hijrah dan meninggalkan bumi dan langitmu?! Maka orang tersebut menyelesihinya dan iapun hijrah. Lalu syaithon duduk menghalanginya di jalan jihad dengan mengatakan padanya: Engkau berjihad yaitu mengorbankan jiwa dan harta lalu engkau berperang dan terbunuh lalu istrimu dinikahi oleh orang dan hartamu dibagi-bagi?! Maka orang tersebut mendurhakainya dan iapun berjihad. Lantas Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan itu semua lalu meninggal maka wajib atas Allah memasukkannya ke jannah atau ia terbunuh maka wajib atas Allah memasukkannya ke jannah. Jika tenggelam maka wajib atas Allah memasukkannya ke jannah” Hadits Shohih.

Jadi kemenangan Islam adalah sesuatu termahal yang kita cita-citakan dan bukannya istri sebagai cita-cita yang paling mahal supaya kita tidak termasuk orang-orang yang mengatakan : “Kami tersibukkan oleh harta dan keluarga kami…”. Jika mereka mengatakan : “Apa yang engkau tinggalkan untuk mereka?” Maka cukuplah bagimu mengatakan : “Saya tinggalkan untuk mereka Allah da Rasul-Nya” dan ingatlah kisah Zubair Radhiyallahu ‘anhu dan pelunasan hutangnya.

Silahkan anda simak perkataan-perkataan ulama berikut ini TENTANG IJIN KEDUA ORANG TUA:

1. Al Mughni IX/171 : “Masalah:…dan jika ia terkena perintah jihad maka tiada ijin bagi keduanya. Demikian pula semua faridhoh tiada ketaatan pada kedua orang tua untuk meninggalkannya. Yakni, jika wajib atas dirinya berjihad maka ijin kedua orang tua tidak dianggap. Sebab jihad menjadi fardhu ‘ain dan meninggalkannya maksiyat. Tidak ada ketaatan bagi seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah. Demikian pula setiap yang wajib seperti haji, sholat berjama’ah, menghadiri sholat jum’ah, safar untuk mencari ilmu yang wajib. Berkata Auza’y : “Tiada ketaatan bagi kedua orang tua dalam meninggalkan faridhoh-faridhoh, sholat jum’ah, haji dan perang sebab semua adalah ibadah yang telah wajib secara individu kepadanya maka tidak dianggap ijin kedua orang tua di situ seperti halnya sholat”

2. Dalam Bada-I’ Shona-I’ VII/98 : “Adapun jika nafiir (seruan jihad secara umum) merata seperti musuh menyerang suatu negri maka jihad fardhu ‘ain yang ditetapkan atas tiap-tiap individu dari kaum muslimin yang mampu berdasarkan firma Allah ta’ala: “Berangkatlah berperang dengan merasa ringan dan berat”…boleh keluar….tanpa ijin…sebab hak orangtua kalah dalam persoalan fardhu-fardhu ‘ain seperti shoum dan sholat….” Sedangkan negri-negri kaum muslimin itu satu sebagaimana yang dikenal.

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimyyah : “Jika musuh masuk negri Islam maka tidak diragukan lagi wajib menolak musuh tersebut atas yang terdekat dan terdekatnya lagi. Sebab negri-negri kaum muslimin semuanya seperti satu negri. Bahwa wajib berangkat perang ke sana tanpa ijin orangtua atau orang yang menghutangi”.

Jika mereka mengatakan : “Ibumu menangisimu! Maka katakan pada ibumu :

“Ibunda…ananda telah terpanggil oleh agamaku untuk berjihad dan berkorban

Ibunda, sesungguhnya ananda pergi demi keabadian, sekali kali ananda tak kan bimbang dan ragu-ragu lagi

Ibunda, janganlah tangisi ananda jika ananda gugur dalam keadaan membujur

Katakanlah pada ibumu :

Ibunda, jika basah linangan air matamu atau teringat kembali perjumpaan

Terekam kembali kenangan-kenangan indah dan isak tangismu tak tertahankan lagi

Maka tegarlah ibunda dengan kesabaran sesaat kemudian panjatkanlah do’a…

“Katakanlah : jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya serta tempat tinggal yang kamu senangi lebih kamu cintai daripada Allah, RasulNya dan jihad di jalanNya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak menunjuki kaum yang zalim” (QS At Taubah : 24)

Penutup :

Jika mereka mengatakan kepadamu : “Setelah semua ini, kami tetap juga belum terpuaskan dan yakin”. Maka katakan pada mereka : “Tidaklah engkau dapat menunjuki orang buta dari kesesatannya”(Ayat). Tidak dengan Al Kitab kalian mendapat penerangan, tidak pula dengan Sunnah kalian mendapat petunjuk, tidak pula kepada aqwal para ulama’ kalian condong dan tidak pula dengan sejarah kalian ambil ibrah, lantas dengan ucapan apa lagi kalian akan beriman?…”Maka tinggalkanlah mereka tenggelam dalam permainannya” (ayat). Ataukah setelah semua keterangan yang gamblang ini kalian mengatakan –sekalipun dengan bahasa keadaan kalian : Akidah kalian ada kerusakan!!?

Maaf, sekali lagi mohon maaf dan tambahkanlah 1000 maaf…maafkalah aku yaa Akhi fillah, wahai kekasihku. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintai kebaikan untukmu. Aku suka kamu mendapatkan jannah bahkan jannah yang paling tinggi. Saya cinta umat kita kembali sebagaimana dulu pada zaman Khulafa’ Rasyidin. Aku mengkhawatirkan dirimu dari syubhat-syubhat orang-orang yang suka menyelewengkan. Saya ingin engkau realistis bukan berkhayal, seperti Sa’ad, Sa’id, Ubadah, Abu Ubaidaah, Salman, Ammar –semoga Allah meridhoi mereka dan mereka ridho kepadaNya-…engkau adalah keturunan mereka sedang mereka adalah leluhurmu.

Kemarilah kita terang-terangan : Jika ada seorang dokter terpercaya memberitahukanmu adanya penyakit kangker di tubuhmu. Apakah kamu bersegera meluncurkan CD yang menerangkan tentang Palestina ataukah engkau rajin mengkaji suatu ilmu ataukah menyelesaikan studimu untuk meraih ijazah farmasi ataukah engkau segera bangkit untuk meraih syahadah (Ijasah) Akhirat?

Dimanakah fiqhul Aulawiyaat (prioritas amal) yang kita hafal? Dimanakah fiqhul muwazanat (perbandingan) yang kita teriakan? Ada dua orang, salah seorangnya ; ketika mendengar jihad fardhu ‘ain, ia pergi memastikannya di kitab-kitab dan kepada masyayikh dan…sedang satunya lagi; pada waktu yang sama ia telah berjanji dengan kenalan-kenalannya untuk main sepak bola pagi-pagi hari sebagai dzikir shobah hingga terbitnya matahari lalu mereka sholat dhuha akan tetapi di atas bola. Seandainya engkau ingatkan, niscaya akan mengatakan: masing-masing kita berada di Tsughur (tapal pertahanan)!! Padahal ia sendiri masih bingung dengan hukum jihad hari ini. Jika ia berkata : “Sesungguhnya saya yakin jihad itu fardhu” maka katakan padanya : “Apakah demikian ini I’dad itu?

Yang membuat geli sekaligus nangis bahwa orang-orang tadi yang bermain bola sama-sama dari satu waktu ke waktu tidaklah mereka bertambah dekat kepada Allah –berdasar yang nampak- dan kita diperintah untuk melihat lahirnya sedang Allah yang mengurusi batin.

Jika para penyeleweng nash tiada kuasa lagi setelah semua penjelasan ini, lalu mulailah mereka membisikkan was-was mereka supaya dapat menggembosimu dari perang. Maka bacakanlah kepada mereka dengan tartil surat Al Anfal kemudian surat Taubah lalu PERANG

“Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka maka Allah melemahkan semangat mereka dan dikatakan : duduklah kalian bersama orang-orang yang duduk tinggal berpangku tangan”

“Sesungguhnya pada itu terdapat peringatan bagi siapa yang masih punya hati atau mendengar dengan seksama sedang dia menyaksikan”

“Dan barangsiapa tidak Allah jadikan baginya cahaya maka sekali-kali ia tidak akan punya cahaya”

DITERJEMAHKAN DARI KITAB QOOLUU FA QUL ‘ANIL JIHAD

Ditulis oleh

Harits Abdus Salam Al Mishry

FATWA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH TENTANG KEHARUSAN MEMBUNUH PENDETA

Beliau ditanya tentang para rahib (pendeta) yang terlibat urusan duniawi dengan manusia. Mereka berniaga, bercocok tanam…serta perkara-perkara lainnya yang dilakukan oleh manusia yanga ada pada mereka saat ini. …

Jawaban :

Alhamdulillah, para rahib (pendeta) yang dipertentangankan oleh para ulama’ perihal membunuh mereka dan mengambil jizyah dari mereka adalah mereka yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Kholifah Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Ash Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Yazid bin Abi Sofyan tatkala mengutusnya sebagai Amir dalam penaklukan Syam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan kepadanya : “Dan engkau akan dapati beberapa kaum yang telah mengucilkan diri mereka di biara-biara, maka biarkanlah mereka…dan akan engkau dapati pula beberapa kaum yang membelah dari tengah kepala mereka, maka pancunglah mereka dengan pedang”. Hal itu sebab Allah Ta’ala berfirman : “Maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya agar mereka berhenti” (QS At Taubah : )

Akan tetapi DILARANGnya membunuh mereka, sebab mereka adalah kaum yang telah MEMUTUSKAN DIRI DARI MANUSIA, MEMENJARAKAN DIRI MEREKA DI BIARA-BIARA. Seorang mereka disebut Habiis (orang yang memenjara diri). Mereka sama sekali tidak menyokong pemeluk agamanya dalam perkara yang menimbulkan madhorot atas kaum muslimin dan tidak pula membaur dengan dunia mereka. Akan tetapi salah seorang mereka mencukupkan diri dengan bekalan hidup ala kadarnya. Maka para ulama’ berselisih perihal membunuh mereka sebagaimana perselisihan mereka perihal membunuh orang yang tidak dapat membahayakan kaum muslimin baik dengan tangan maupun lisannya, seperti orang buta, sakit menahun, lanjut usia dan semisalnya seperti wanita dan anak-anak.

Jumhur menyatakan : TIDAK BOLEH dibunuh kecuali yang termasuk menyokong mereka dalam perang secara umum. Kalau tidak (termasuk yang menyokong, pent-) berarti seperti wanita dan anak-anak. Diantara ulama ada yang menyatakan : bahkan sekedar kekufuran sudah membolehkan untuk dibunuh. Adapun dikecualikannya wanita dan anak-anak hanyalah lantaran mereka sebagai harta. Berdasar ini terbangun perkara pengambilan jizyah.

Adapun rahib yang menyokong pemeluk agamanya dengan tangan dan lisannya seperti ia punya ide yang mereka jadikan rujukan dalam perang, atau semacam provokator maka orang ini diBUNUH menurut kesepakatan ULAMA jika dapat dikuasai, dan diambil Jizyah darinya sekalipun dia mengucilkan diri di tempat ibadahnya. Lantas bagaimana halnya dengan mereka (PARA PENDETA) yang telah SAMA DENGAN ORANG ORANG NASHARA UMUMNYA DALAM CARA HIDUP, MEMBAUR DENGAN MANUSIA, MENGUMPULKAN KEKAYAAN DENGAN PERNIAGAAN, COCOK TANAM, PRODUKSI, MENGAMBIL BIARAWATI UNTUK BERHUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN. Para rahib/pendeta itu punya perbedaan dengan selain mereka lantaran kekufuran mereka yang lebih keras yang menjadikan mereka sebagai AIMMATUL KUFRI (pemimpin-pemimpin kekufuran) seperti melakukan ritual ibadah dengan barang-barang najis, meninggalkan nikah, daging dan pakaian yang itu merupakan syiar kafir. Apalagi merekalah yang menegakkan agama Nasrani dengan tipu daya-tipu daya bathil mereka yang dibuat kitab-kitab karangan dengan ritual-ritual peribadatan rusak, menerima nadzar dan wakaf mereka.

Rahib menurut mereka syaratnya hanyalah meninggalkan NIKAH. Meskipun demikian ini orang orang Nashrani membolehkan mereka (rahib) untuk menjadi Pastor, pendeta, dan bentuk pemimpin pemimpin kekufuran lainnya yang dapat menyodorkan perintah dan larangan. Mereka juga berhak mencari kekayaan sebagaimana orang Nashrani lain seperti itu. Maka pendeta pendeta itu TIDAK DIPERSELISIHKAN oleh para Ulama bahwa merekalah kalangan Nashrani yang LEBIH DAHULU BERHAK UNTUK DIBUNUH ketika berlaku hukum Harby. Dan diambil Jizyah ketika ia menyerahkan diri (kepada Daulah Islamiyah). Mereka termasuk dari jenis DEDENGKOT dedengkot kafir yang dinyatakan oleh Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu dengan menyertir Firman Allah ta’ala: “ Maka perangilah dedengkot dedengkot kafir”. Hal itu lebih dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firmanNya : “Sesungguhnya kebanyakan dari orang alim dan rahib rahib memakan harta manusia dengan cara bathil dan MENGHALANGI DARI JALAN ALLAH”. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka mengambil orang orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah dan juga Masih bin Maryam. Mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah satu Ilah. Tidak ada Ilah berhak disembah selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan”.

Maka adakah seorang Ulama yang berkata : “Sesungguhnya Dedengkot dedengkot kafir yang menghalangi kalangan awamnya dari Jalan Allah, memakan harta manusia dengan cara Bathil dan rela dijadikan tuhan selain Allah bahwa mereka tidak boleh dibunuh dan tidak boleh diambil Jizyah dari mereka. Padahal Jizyah tersebut diambil dari kalangan awam yang relatif lebih sedikit bahayanya terhadap Diin dibanding mereka dan relatif lebih sedikit hartanya”. PERKATAAN INI TIDAK MUNGKIN DILONTARKAN OLEH ORANG YANG MASIH SADAR APA YANG DIKATAKANNYA.

Hanyasanya memang terjadi Syubhat disebabkan keumuman dan maksud ganda pada lafal “rahib”. Dan telah kami jelaskan bahwa atsar yang tersebut statusnya MUQAYYAD (terikat dengan syarat) lagi terkhususkan. Yang itu menjelaskan hukum marfu’ padanya. Para Ulama bersepakat bahwa alasan larangan (membunuh rahib) adalah sebagaimana yang kami jelaskan.

Diterjemahkan dari : MAJMU’ FATAWA JUZ XXVIII/659-662


[1]- HR.Ahmad 4/114 dengan sanad shohih no:17152 hal:1225, mempunyai syawahid dan dishahihkan syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits al Shahihah no. 551 jilid 2/92.

[2] – Shoum secara bahasa artinya menahan diri. Pent.

Bendera Islam

Bendera Islam
Laa Ilaha Illalah Muhammadur Rasulullah

Mari bersulang, "ROSO - ROSO!!"

Mari bersulang, "ROSO - ROSO!!"
"minuman" kebanggaan dan favorit kami di dunia! Allahu Akbar! ,Sungai Api dari Dajjal Laknatullah, Saya melihatnya - saya melihatnya, saya ingin berenang kedalamnya OOOOOh indah sekali , Ya Allah! Aku berlindung dengan-Mu dari bencana Dajjal.

Doa Hidayah

Ya Allah, anugerahilah kami hidayah dari hidayah al-Qur’an. Tunjukkan dan terangilah kami melalui cahaya al-Furqân, dan janganlah masukkan kami dalam kelompok orang-orang yang sesat dan durhaka. Wahai Tuhan Yang Memberi petunjuk semua makhluk, antarlah kami dengan hidayah-Mu menuju ash-shirâth al Mustaqîm [jalan lebar yang lurus]; jalan orang yang Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai, bukan juga jalan orang-orang yang sesat, sehingga kami dapat bersama para nabi, shiddîqîn, syuhada, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman-teman terbaik. Semoga Engkau limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya dan sahabatnya, dan semoga Engkau limpahkan pula keselamatan.

Foto Kekejaman Israel

Foto Kekejaman Israel

Gambar kekejaman terhadap Umat Islam

Gambar kekejaman terhadap Umat Islam
“Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250) “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201)

ALLAH CINTA PARA MUJAHID, ALLAHU AKBAR!!

ALLAH CINTA PARA MUJAHID, ALLAHU AKBAR!!

Lima Prinsip Untuk Meraih Kemenangan

Yaitu :

Pertama ; Sesungguhnya kemenangan itu hanya di Tangan Alloh saja.

Kedua ; Sesungguhnya Alloh menjanjikan kemenangan kepada hamba-hambaNya yang beriman terhadap musuh-musuh mereka di dunia.

Yang ketiga ; Sesungguhnya janji ini diberikan kepada mereka yang sempurna imannya, dan setiap orang mendapatkan bagian dari janji ini sesuai dengan kadar imannya masing-masing.

Yang keempat ; Sesungguhnya tidak terrealisasinya janji ini menunjukkan tidak terpenuhinya syarat keimanan (untuk meraih kemenangan-pent.).

Yang kelima adalah ; Jika janji ini tidak terealisasi maka seseorang tidak akan berhak mendapatkannya kecuali jika dia menyempurnakan syarat-syarat untuk mendapatkan janji ini. Penjabaran dari prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut :

Yang pertama : Sesungguhnya kemenangan itu hanya di Tangan Alloh saja, hal berdasarkan firman Alloh :
وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ali Imron:126 dan Surat Al-Anfal: 10)

Dalam ayat ini terdapat aqwaa asaaliibi an-hashri (uslub pembatasan yang paling kuat) yaitu an-nafyu (kalimat negatif / peniadaan) yaitu(ما) yang diikuti setelahnya dengan pengecualian yaitu (إلا) . Pemahaman semacam ini juga dapat disimpulkan dari firman Alloh:
إِنْ يَنْصُرْكُمْ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu . (QS. Ali Imron:160)

Ketika pemahaman semacam ini hilang dari benak para sahabat rodliyallohu ‘anhum pada waktu perang Hunain, dan mereka merasa bangga dengan jumlah mereka yang banyak, maka mereka ditimpa kekalahan sehingga mereka memahami kembali bahwasanya jumlah dan sarana itu tidak bermanfaat sama sekali kecuali atas izin Alloh. Alloh berfirman:
لَقَدْ نَصَرَكُمْ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمْ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ ثُمَّ أَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ



Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu,maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada oang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasas kepada orang-orang yang kafir. (QS. At-TAubah: 25-26)

Maka Alloh mengingatkan mereka bahwasanya kemenangan mereka pada banyak medan perang itu bukanlah karena jumlah mereka yang banyak yang mereka banggakan, dan bahwasanya ketika mereka berbangga dan mengandalkan jumlah yang banyak, jumlah itu tidak bermanfaat bagi mereka dan merekapun ditimpa kekalahan. Kemudian Alloh memenangkan mereka setelah mereka mengalami kekalahan karena Alloh hendak menjelaskan kepada mereka bahwa kemenangan itu dari sisi Alloh bukan karena jumlah yang banyak yang tidak ada manfaatnya. Maka dengan kekalahan itu Alloh dapat mengembalikan mereka kepada pemahaman yang hilang dari sebagian orang ketika itu. Yaitu pemahaman
وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah.

Prinsip yang kedua: Sesungguhnya Alloh menjanjikan kemenangan kepada hamba-hambaNya yang beriman terhadap musuh-musuh mereka di dunia. Sebuah janji yang benar yang tidak ada keraguan padanya, dan ini merupakan sunnah qodariyah yang tidak akan luput.

Alloh berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانتَقَمْنَا مِنْ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan sesungguhnya kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa.Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30: 47)

Dan Alloh berfirman:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (QS. Al-An’am: 34)
لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّه


Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah

Maksudnya adalah kalimat-kalimat qodariyah Nya yang pasti terjadi dengan firman Alloh:
كُنْ فيكون

“Jadilah, maka jadilah ia.”

Dan di antara kalimat-kalimat qodariyah ini adalah janji Alloh untuk menolong orang-orang beriman:
حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

Sampai datang pertolongan kami kepada mereka.

Dan janji kemenangan ini adalah di dunia bukan hanya pada hari qiyamat, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat terdahulu. Dan berdasarkan firman Alloh:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

Dan berdasarkan firman Alloh:
فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS. Ash-Shoff:14)

Dan konsekuansi dari janji qodariy untuk meraih kemenangan ini adalah berupa kokohnya kedudukan di muka bumi — kokohnya kedudukan ini adalah kekuasaan — hal ini berdasarkan firman Alloh:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. (QS. An-Nur:55)

Dan berdasarkan firman Alloh:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ وَلَنُسْكِنَنَّكُمْ الأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka:”Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”.Maka Rabb mereka mewahyukan kepada mereka:”Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zhalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kamu dinegeri-negeri itu sesudah mereka.Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”. (QS. Ibrohim: 13-14)

Ayat ini dan ayat dalam surat An-Nur sebelumnya merupakan nash tentang sunnatul istikhlaf al-qodariyah (hukum yang berlaku tentang kekuasaan-pent.), dan yang menjelaskan syarat-syarat agar berhak atas janji itu adalah:
الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal sholih.

Dan:
ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku

Sedangkan firman Alloh dalam surat An-Nur yang berbunyi:
كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Sebagaimana kamijadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka.

Merupakan penguat dan penjelas tentang sunnah qodariyah yang tidak akan pernah meleset ini. Artinya sebagaimana sunnah qodariyah ini berlaku pada orang-orang sebelum kalian, sunnah qodariyah tersebut akan berlaku pula atas kalian jika terpenuhi syarat-syaratnya.

Yang ketiga ; Sesungguhnya janji ini diberikan kepada orang yang sempurna imannya, berdasarkan firman Alloh :
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30:47)

Dan seorang hamba mendapatkan bagian dari kemenangan itu sesuai dengan kadar imannya. Semakin bertambah iman seseorang semakin banyak ia mendapatkan bagian dari kemenangan yang merupakan al-wa’du al-qodariy ini, dan apabila imannya berkurang akan berkurang pula kemenangan yang ia dapatkan.

Prinsip ini berdasarkan kaidah yang menyatakan bahwa iman itu berbilang, dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Dan ini merupakan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
الإيمان بضع وستون أو بضع وسبعون شعبة، فأعلاها شهادة أن لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق

Iman itu ada 60 lebih beberapa atau 70 lebih beberapa cabang. Yang paling tinggi adalah syahadat laa ilaaha illallooh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Huroiroh)

Dan Rosululloh shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَا أنا نائم رأيت الناسَ يُعْرَضون عَلَيَّ وعليهم قُمُصٌ، منها ما يبلغ الثُّدِيَّ، ومنها ما دون ذلك. وعُرِضَ عَلَيَّ عمر بن الخطاب وعليه قميص يَجُرُّه، قالوا فما أَوَّلت ذلك يا رسول الله؟ قال: الدينَ

“Ketika saya tidur saya melihat manusia dinampakkan kepadaku sedangkan mereka mengenakan pakaian. Di antara mereka ada yang mengenakan pakaian sampai dada dan ada yang lebih rendah lagi. Dan Umar Ibnul Khothob dinampakkan kepadaku dengan mengenakan pakaian yang menutupi tubuhnya.” Para sahabat bertanya: “Engkau takwilkan apa hal itu wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Dien.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori dari Abu Sa’iid).

Al-Bukhori mengatakan pada awal Kitabul Iman dalam kitab Shohihnya: “Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.” Dan Ibnu Hajar berkata: “Dan begitulah yang dinukil oleh Abu Al-Qosim Al-Lalika’iy dalam kitab As-Sunnah dari Asy-Syafi’iy, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohawaih, Abu ‘Ubaid dan imam-imam yang lainnya. Dan diriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwasanya Al-Bukhori berkata: ‘Saya telah bertemu dengan lebih dari seribu ulama’ dari berbagai daerah dan tidak saya dapati satu orangpun yang menyelisihi pendapat bahwa iman itu mencakup perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.’ “ (Fat-hul Bariy I/47)

Saya katakan: Apabila bertambah iman seorang hamba maka akan bertambah kemenangan yang ia dapatkan dari al-wa’du al-qodary, dan begitu sebaliknya. Dalam kaitannya dengan jihad kami katakan bahwa kemenangan itu tergantung dengan dua syarat: Syarat umum dan syarat khusus.

Adapun syarat umum adalah; I’dad imaniy yaitu dengan cara terus menambah cabang iman baik berupa amalan hati maupun amalah dzohir, baik secara ilmiyah maupun amaliyah supaya ia menjadi orang yang layak untuk mendapatkan janji yang tersebut dalam firman Alloh:
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan kami berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. 30:47)

Sedangkan syarat khususnya adalah I’dad maddiy dengan cara mengumpulkan senjata, mengobarkan semangat kaum muslimin untuk berperang dan berinfaq, dan juga mencakup semua bentuk tadrib askari (latihan militer). Alloh berfirman:
وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لا يُعْجِزُونَ وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. Al-Anfal:59-60)

Dalam ayat ini Alloh menjelaskan bahwa Dia itu mencakupi (kekuasaannya-pent.) orang-orang kafir dan berkuasa atas mereka. Mereka tidak dapat lolos dariNya. Namun demikian Alloh memerintahkan kita — meskipun ia Maha kuasa —– agar melaksanakan i’dadul quwwah dalam berbagai bentuknya dan agar kita bersungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan dalam melaksanakan i’dad ini yang merupakan syarat untuk mendapatkan janji ilahiy untuk memenangkan orang-orang beriman. Karena dunia ini merupakan tempat ujian dan karena segala urusan di dunia ini berjalan sesuai dengan hukum sebab-musabbab. Alloh menguji orang beriman dengan orang kafir untuk membuktikan kejujuran imannya, apakah dia akan memerangi orang kafir tersebut dan mengadakan persiapan untuk memeranginya sesuai dengan perintah Alloh atau tidak? Dan Alloh menguji orang kafir dengan orang beriman, apakah dia akan menyambut dakwah untuk beriman atau dia menolak sehingga memeranginya? Tentang ujian kedua belah fihak ini Alloh berfirman:
ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. (QS. Muhammad: 4)

Dan di antara cakupan i’dad maddiy adalah menyatukan barisan kaum muslimin untuk menghadapi musuh mereka. Alloh berfirman:
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. (QS. Al-Anfal:46)

Alloh dalam ayat ini menjadikan pertikaian antara kaum muslimin itu merupakan penyebab kegagalan, bahkan merupakan penyebab kegagalan yang paling besar. Hal itu dinyatakan Alloh melalui nash Al-Qur’an, sebagaimana Alloh menjadikan kemenangan itu sebagai buah dari sikap kaum muslimin yang saling memberikan wala’nya antara satu dengan yang lainnya dalam firmanNya:
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maidah:56)

Dan tidak diragukan lagibahwa I’dad maddiy itu merupakan cabang iman karena ia merupakan salah satu bentuk sambutan terhadap perintah Alloh dalam ayat;
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka dengan segala kekuatan semampu kalian.



Namun permasalahan ini akan kami bahas secara tersendiri karena pentingnya masalah ini. Dengan demikian hubungan i’dad maddiy dengan i’dad imaniy adalah hubungan permasalahan khusus dengan permasalahan umum.

Prinsip yang keempat ; Sesungguhnya tidak terrealisasinya janji qodariy yang berupa pertolongan Alloh untuk orang-orang yang beriman ini menunjukkan tidak terpenuhinya syarat syarat-syaratnya. Yaitu karena hamba tersebut kurang maksimal dalam melaksanakan dua bentuk i’dad tersebut yaitu i’dad imaniy dan i’dad maddiy atau salah satu di antara keduanya.

Dan tidak terrealisasinya janji ini artinya adalah orang-orang kafir menang atas kaum muslimin, dan negaranya dikuasai oleh orang-orang kafir. Semua ini disebabkan oleh lemahnya iman dan disebabkan maksiyat serta dosa. Alloh berfirman :
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (QS. An-Nisa’:79)

Dan Alloh berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syuro: 30)

Dan Alloh berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada diri mereka sendiri, (QS. Al-Anfal: 53)

Ibnu Katsir berkata: “Alloh memberitahukan tentang sempunanya keadilanNya dalam hukumnya dengan (menjelaskan) bahwa Ia tidak akan merubah sebuah nikmat yang Ia anugrahkan kepada seseorang kecuali jika dia melakukan dosa.” Dan Alloh berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44)



Sunnah qodariyah ini tidak pilih kasih kepada seorangpun, meskipun terhadap orang yang paling baik sekalipun. Di antara contohnya adalah kekalahan, luka-luka dan pembunuhan yang menimpa para sahabat ketika perang Uhud yang diakibatkan oleh maksiat sebagian dari mereka terhadap perintah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dari peristiwa ini dapat dipahami bahwa kemaksiyatan yang dilakukan oleh sebagian orang dalam sebuah amal jama’iy akan membahayakan semua anggota. Alloh berfirman tetang apa yang menimpa para sahabat pada perang Uhud;

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata:”Dari mana datangnya (kekalahan) ini” Katakanlah:”Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS. Ali Imron:165)



(Lihat tafsir Adlwaa’ul Bayan karangan Asy-Syinqiithiy III/152-156)

Maka sesungguhnya berkuasanya musuh terhadap kaum muslimin itu merupakan ‘uqubah qodariyah (hukuman secara taqdir) terhadap kaum muslimin lantaran kemaksiyatan yang mereka lakukan. Ini kaitannya dengan musuh yang berasal dari daerah setempat, dan begitu pula kaitannya dengan musuh yang asing, sebagaimana firman Alloh:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَانِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf: 36)



Maka seorang hamba itu dengan kemaksiyatan yang ia lakukan ia telah membuka peluang kepada syetan yang mengakibatkan dia kalah dalam menghadapi musuhnya dari kalangan manusia, sebagaimana firman Alloh:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمْ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau). (QS. Ali Imron:155)



Dengan kata lain dapat kita katakan bahwa sesungguhnya penyebab kekalahan kaum muslimin itu adalah penyebab intern (yang berasal dari diri mereka sendiri). Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Tsauban rodliyallohu ‘anhu; Sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الأَحْمَرَ وَالأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لأُمَّتِي أَنْ لا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Sesungguhnya Alloh menciutkan bumi untukku sehingga aku dapat melihat dari belahan timur sampai barat, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan meliputi semua yang diciutkan kepadaku. Dan aku diberi dua harta pusaka, merah dan putih. Dan aku memohon kepada Robbku agar umatku tidak dimusnahkan dengan lanrtaran paceklik yang menyeluruh dan agar mereka tidak dikuasai oleh musuh dari golongan selain mereka sehingga mereka menjarah wilayah mereka. Dan sesungguhnya Robbku mengatakan kepadaku; Wahai Muhammad Sesungguhnya Aku telah menetapkan suatu ketetapan yang tidak bisa ditolak, dan Aku telah berikan kepada umatmu yaitu Aku tidak akan memusnahkan mereka dengan lantaran paceklik yang meluas dan Aku tidak akan menguasakan musuh yang berasal dari luar golongan mereka terhadap mereka yang akan menjarah wilayah mereka meskipun semua bangsa dari berbagai penjuru dunia berkumpul mengeroyok mereka, sampai ummatmu sebagiannya menghancurkan dan menawan sebagian yang lainnya.”



Hadits ini menerangkan bahwa musuh yang kafir (dari luar golongan mereka) tidak akan dapat menguasai kaum muslimin kecuali jika mereka telah melakukan kerusakan sampai pada batas-batas tertentu. Hadits ini merupakan nash yang nyata yang menunjukkan bahwa sebenarnya sebab kekalahan kaum muslimin itu adalah intern (sebab yang berasal dari diri mereka sendiri).

Dari sini dapat kita fahami kesalahan orang yang mengatakan bahwa kekalahan dan kelemahan kaum muslimin itu disebabkan oleh makar dan konspirasi orang-orang kafir. Sebagaimana pendapat beberapa penulis yang menggambarkan kehebatan orang-orang Yahudi dan konspirasi syetan mereka dan menganggap semua kerusakan itu terpulang kepada mereka. Padahal sebenarnya hakekat yang harus difahami setiap muslim adalah sesungguhnya segala musibah yang menimpa kaum muslimin itu yang paling bertanggung jawab adalah kaum muslimin itu sendiri, berdasarkan firman Alloh:

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. An-Nisa’: 79)

Dan karena Alloh telah memberitakan kepada kita sesungguhnya makar orang-orang kafir itu lemah di hadapah orang-orang yang beriman yang sempurna imannya, Alloh berfirman:

لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمْ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ

Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari adzaa (gangguan-gangguan celaan) saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan. (QS. Ali Imron:111)



Yang dimaksud dengan adzaa (gangguan) adalah bahaya yang ringan. Hal ini dijelaskan dengan dikecualikannya dari bahaya secara umum. Kemudian kemenangan akhir itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa, dan Alloh berfirman:

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. An-Nisa’:76)



Ayat ini merupakan nash yang menetapkan atas lemahnya konspirasi dan kekuasaan mereka. Dan Alloh berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لا مَوْلَى لَهُمْ

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung” (QS. Muhammad: 11)



Dengan demikian maka kekalahan kaum muslimin itu pada awalnya berasal dari diri mereka sendiri sebelum berasal dari musuh mereka. Dan kaum muslimin dengan kemaksiatan mereka telah membukakan peluang kepada musuh mereka untuk berkuasa. Prinsip yang keempat ini hendaknya dijadikan tolok ukur untuk introspeksi oleh setiap individu, dan perkumpulan Islam. Dan hendaknya mereka mengembalikan semua permasalahan mereka atas dasar bahwa segala apa yang menimpa mereka itu merupakan akibat dari dosa mereka. Introspeksi ini wajib dilakukan berdasarkan firman Alloh:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30:41)



Dan juga berdasarkan firman Alloh:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ الْعَذَابِ الأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. As-Sajdah: 21)



Perhatikanlah perkataan para pengikut Nabi terdahulu, agar engkau memahami bahwa prinsip ini merupakan ketetapan pada seluruh syari’at, karena mereka ketika terkena musibah di jalan Alloh mereka memahami bahwa musibah itu akibat dosa-dosa mereka. Maka bereka bersegera untuk istighfar dan taubah. Alloh berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلاَّ أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan:”Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imron: 146-147)



Dan itulah yang dilakukan oleh ash-haabul jannah (para pemilik kebun yang dihancurkan kebun mereka). Ketika kebun mereka hancur mereka mengerti bahwa hal itu akibat dari dosa-dosa mereka, maka mereka bertaubat. Alloh berfirman:

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلا تُسَبِّحُونَ قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ قَالُوا يَاوَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ عَسَى رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka:”Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)” Mereka mengucapkan:”Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim”. Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata:”Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampui batas”. Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita. (QS. Al-Qolam: 28-32)

Dan yang kelima adalah ; Jika janji ini tidak terrealisai maka seseorang tidak akan berhak mendapatkannya kecuali jika dia merubah keadaannya untuk menyempurnakan syarat-syarat untuk mendapatkan janji ini. Alloh berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ro’du: 11)



Ini merupakan sunnah qodariyah yang tidak akan pernah berubah. Hal ini menuntut seorang hamba harus segera memperbaiki dirinya supaya Alloh mengentaskannya dari bencana kemudian menggantikannya dengan kenikmatan. Apabila dia tetap saja bermaksiyat kemudian dia berharap bencana itu sirna maka harapannya itu tidak akan pernah terwujud. Kalau pada prinsip yang keempat diterangkan bahwa penyebab utama kegagalan kaum muslimin adalah berasal dari dirinya sendiri, maka prinsip yang kelima ini menjelaskan bahwa untuk merubah kegagalan ini juga harus daimulai dari dirinya sendiri.

حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka.



Lima prinsip tentang kemenangan dan kekalahan ini seharusnya tidak dilupakan oleh kaum muslimin khususnya para ‘amilin (para pejuang) di medan dakwah dan jihad.

Ibnul Qoyyim menjelaskan prinsip ini secara panjang lebar — meskipun beliau tidak menyatakan secara tegas — dalam kitabnya Al-Jawaabu Al-Kafiy Liman Sa’ala ‘An Ad-Dawaa’ Asy-Syafiy, beliau dalam kitab tersebut menjelaskan dampak yang ditimbulkan oleh dosa terhadap individu dan bangsa. Dan dalam kitabnya yang berjudul Ighoysatu Al-Lahfaan Min Mashooyidi Asy-Syaithon beliau meletakkan beberapa pasal yang bagus. (II/188-208 cet. Darul Kutub Al- ‘Ilmiyah 1407 H.) Pasal-psal tersebut menerangkan syarat-syarat terrealisasinya sunnah qodariyah supaya kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan kenapa kemenangan itu tidak didapatkan dan apa hikmah dibalik itu semua? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga membahas dalam kitabnya yang berjudul Al-Hasanah Wa As-Sayyi’ah. Di sana beliau menjelaskan permasalahan ini di sela-sela beliau menafsirkan firman Alloh:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنْ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. An-Nisa’: 79)



Dan saya serukan kepada setiap muslim khususnya para ‘amilin (pejuang) untuk Islam agar membaca dan merenungkan kitab-kitab tersebut. Karena kitab-kitab tersebut menjelaskan prinsip-prinsip yang telah saya sebutkan di atas yang mana setiap muslim harus mengetahui dan mengamalkannya.

Ibnul Qoyyim mengatakan (Ighotsatu Al-Lahfaan hal. II/193-195): “Sesungguhnya Alloh subhanahu wa ta’ala menjamin akan menolong dienNya, golonganNya dan para waliNya hanyalah untuk orang-orang yang melaksanakan dienNya baik secara ilmu maupun secara amal. Dan Alloh tidak menjamin akan menolong kebatilan meskipun pelakunya berkeyakinan bahwa dia berhak untuk mendapatkan pertolongan Alloh. Begitu pula dengan al-‘izzah (kemuliaan) dan al-‘uluw (ketinggian derajat) sesungguhnya keduanya hanya dapat diraih oleh orang yang beriman sesuai dengan ajaran yang diajarkan para Rosul yang diutus oleh Alloh dan kitab yang diturunkanNya, yang mencakup ilmu, amal dan haal (kondisi). Alloh berfirman:

وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imron: 139)



Maka seorang itu mendapatkan ketinggian sesuai dengan imannya. Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Dan kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min. (QS. Al-Munafiqun: 8)



Maka seorang hamba itu mendapatkan jatah izzah sesuai dengan kadar iman yang ada padanya. Dan apabila ia tidak mendapatkan jatah al-‘uluw dan al-‘izzah maka itu disebabkan oleh imannya yang kurang, yang mencakup ilmu dan amal, lahir dan batin.

Dan begitu pula pembelaan Alloh terhadap seorang hamba itu diberikan sesuai dengan imannya. Alloh berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنْ الَّذِينَ آمَنُوا

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. (QS. Al-Hajj: 38)



Apabila pembelaan itu melemah maka hal itu disebabkan oleh berkurangnya imannya.

Dan begitu pula al-kifayah (mencukupi kebutuhan) dan al-hasbu (jaminan) yang diberikan Alloh itu sesuai dengan kadar iman yang ada pada nya. Alloh berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنْ اتَّبَعَكَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ

Hai Nabi, cukuplah Allah menjadi hasbu bagimu dan bagi orang-orang mu’min yang mengikutimu. (QS. Al-Anfal: 64)



Yang dimaksud dengan sebagai hasbu bagimu dan bagi para pengikutmu adalah sebagai yang mencukupi kebutuhanmu dan mencukupi kebutuhan mereka. Dengan demikian maka jaminan yang diberikan Alloh itu sesuai dengan kadar mereka dalam mengikuti dan mentaati RosulNya, dan apabila imannya berkurang berkurang pula jaminanNya.

Dan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah iman itu bertambah dan berkurang.

Begitu pula al-walaayah (pertolongan, perlindungan-pent.) yang diberikan Alloh kepada seorang hamba itu sesuai dengan keimanan padanya. Alloh berfirman:

وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Allah adalah Wali semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imron:68)



Dan Alloh berfirman:

اللَّهُ وَلِيّ&#